Berpura-pura Menjadi Pasien

1086 Words
Di dalam perjalan, Rahmad sudah tersenyum memikirkan kata-kata yang akan dia ucapkan kepada Dokter wanita itu. ‘Aku pasti bisa mendapatkan mu. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Rahmad. Dari zaman sekolah lagi, sudah banyak gadis yang antri ingin menjadi pacar . Apalagi sekarang, bukankah wajah ku terlihat makin ganteng.” Rahmad terus tersenyum. Sehingga dia tiba di depan praktek Dokter Diana. Pria itu bergegas mendaftar dan menunggu giliran dirinya di panggil. Waktu terus berputar, tak terasa sudah satu jam dia menunggu. Banyaknya pasien malam ini membuat Rahmad mendapat nomor antrian empat puluh. 'Banyak juga pasien dokter ini. Apa semua hanya berobat penyakit dalam? Atau sakit yang lain juga bisa? Karena sedari tadi dia melihat ada wanita hamil yang masuk ke ruang praktek itu. “Sus, apa Dokter Diana hanya melayani konsultasi spesialis penyakit dalam atau umum? Kok saya lihat ada wanita hamil yang masuk tadi?" Dengan penuh kesabaran dan wajah yang tersenyum, suster yang bertugas di praktek Dokter Diana menjelaskan kepada pria itu. “Kalau di rumah sakit besar, tempat Dokter Diana bertugas memang khusus penyakit Dalam Pak. Tapi kalau di prakteknya ini juga melayani pasien dari penyakit Umum . Bu Dokter, tidak tega menolak pasien yang sudah jauh-jauh datang kemari untuk berobat. Jika sudah memeriksa penyakit mereka, dan harus di tangani dengan serius. Baru Dokter Diana, memberikan surat rujukan kepada ahlinya. Memangnya kenapa, Pak?" Rahmad seketika merasa takjub dengan penjelasan Suster tadi. “Tidak apa-apa Sus. Saya cuma bertanya saja. Apa giliran saya masih lama?' “Sebentar yah pak. Nunggu giliran antrian dulu." Setelah mengatakan itu, sang Suster segera masuk kedalam ruang praktek Dokter Diana. “Apa pasiennya masih banyak, Sus?" “Tidak Dok, sisa tiga orang. Dua orang wanita dan seorang pria." Di tengah capeknya bertugas. Dokter Diana kaget saat melihat nama pria yang berobat malam ini. Muhammad Rahmad? Bukankah nama lelaki itu juga sama? Apa dia yang datang konsultasi? Tidak mau berandai-andai, Dokter Diana segera menyuruh Suster Liliana memanggil pasien berikutnya. Dan ternyata praduga nya ternyata benar, Pria itu benar seperti yang dia pikirkan. Dengan tenang dia menatap pasiennya yang masuk ke dalam ruang prakteknya. “Apa yang bisa di bantu?" Sapa Dokter Diana sabar. Karena dia tau jika pria yang kini duduk di depan meja tulis di kamar pakteknya ini tidaklah sakit apa-apa. “Apa boleh mengundang Dokter ke acara ulang tahun kantor saya nanti? Kebetulan banyak kok relasi saya orang Nakes juga.” Sesaat Dokter Diana tertegun. Gila kah pria ini? Dia dengan berani mengajak dirinya untuk ikut acara ulang tahun kantor nya? Tetapi hanya sekejap dia terpana. Di detik berikutnya, Dokter Diana sudah dapat kembali menguasai diri nya. “Terima kasih." Sahutnya sambil tersenyum tenang. “Dokter benar-benar sibuk atau hanya tidak menyukai berjalan bersama saya?" Astaga, keluh Dokter Diana dalam hati. Pria yang satu ini benar-benar tangguh! Tidak berputus asa dalam mengejar target wanita yang dia ingin kan. Tetapi.. Bukankah memang hanya tipe lelaki seperti ini yang mampu mencairkan kebekuan hatinya? Hati yang sudah lama tak tersentuh kelembutan. “Kalau anda tidak ada keluhan." “Jantung saya sering berdebar-debar, Dok.” Sela Rahmad cepat. “Itu namanya keluhan kan?" Rahmad bertanya lagi. “Kapan gejala itu anda rasakan?” Tanya Dokter Diana sabar. “Waktu tidur atau saat anda berjalan cepat lebih dari seratus meter?” “Datang nya tidak tentu, Dok. Bisa kapan saja.” Terutama kalau saya melihat wanita cantik. Ucap Rahmad menyimpan bagian terakhir itu untuk diri nya sendiri. Dan tentu saja Dokter Diana tau jika pasien yang satu ini berdusta. Tapi sikapnya tetap ramah. Tidak ada perubahan pada air mukanya. “Kalau begitu anda akan saya konsultasikan ke Dokter spesialis jantung.” “Tapi perut saya juga sakit, Dok.” Sergah Rahmad gigih. Dia pura-pura menyeringai sambil memegangi perutnya. “Di kanan bawah sini. Bukan usus buntu yah, Dok?” Dokter Diana menghela nafas panjang. Pria yang satu ini memang sulit di tolak. Seribu satu jurus alasan yang dia buat agar dirinya sibuk memeriksanya sebagai pasien. Tetapi mengapa dia justru merasa senang melayani lelaki itu dan mengikuti segala permainannya. “Silakan naik ke tempat tidur?" Ucap Dokter Diana dengan sabar. “Saya periksa.” Bergegas Rahmad naik ke atas tempat tidur di samping meja tulis. “Saya harus buka baju, Dok?” “Tidak usah. Buka kancing nya saja." “Bagaimana Dokter bisa memeriksa perut kalau saya tidak membuka celana?" Rahmad berusaha menahan tawa melihat wajah Dokter Diana yang menatap dirinya dengan kening berkerut. “Saya akan memeriksa bagian atas dulu.” Seperti tidak mendengarkan ucapan dan kata Dokter Diana. Rahmad dengan cepat melepas kemeja nya. Bahkan membuka kait dan ritsleting celana nya sambil menurunkan nya sedikit. Seolah-olah dia sengaja memamerkan dengan bangga d**a yang bidang dan perutnya yang sixpack. Dia bisa memamerkan yang lebih menakjubkan lagi. Tetapi takut di cap sebagai pria yang kurang ajar dan di usir keluar dari dari tempat praktek itu. Tidak sengaja nafas Dokter Diana tertahan sesaat ketika menatap pasien pria yang terbujur menantang di atas ranjang periksa nya. Dalam kariernya sebagai seorang Dokter, entah sudah berapa ribu pasien pria yang terbujur pasrah di hadapan nya. Bahkan yang pose lebih polos dari ini pun tidak kurang. Memang lebih banyak yang kelas tiga. Tapi bukan berarti tidak ada yang kelas satu maupun kelas utama. Mengapa justru baru yang satu ini mampu membuatnya menahan nafas? Dokter Diana harus berjuang keras untuk cepat-cepat membuang sorot kekaguman di mata nya. Berusaha mengusir rona merah yang kurang ajar sekali sudah meronai kedua pipi nya. Dia tau pasiennya ini sangat pandai sekali menilai perasaan wanita. Dan dia tidak boleh tahu perasaan apa yang sekarang sedang mengaduk hati Dokternya! Dokter Diana harus berusaha menampilkan sikap profesional nya. Memeriksa dengan tenang dan penuh percaya diri. Dan selama dia memriksa, mata pasien itu selalu mengawasi dengan tajam. Seolah-olah dia sedang mencari celah kelemahan Dokter nya. “Tidak ada kelainan apa-apa.” Suster LIlina heran dengan dengan hasil pemeriksaan Dokter Diana yang kali ini terbilang sangat cepat saat memeriksa pasiennya. “Anda sehat.” “Tidak perlu USG, Dok? Rontgen? Laboratorium darah?" Rahmad berusaha menahan tawa. “Anda tidak perlu datang lagi ke sini.” Saat melihat Suster Lilina berjalan keluar ke kamar sebelah. Rahmad mendekati Dokter Diana. “Ini sebuah undangan untuk datang ke rumah anda?” Bisik Rahmad sambil memamerkan senyum paten nya kepada Dokter Diana. Entah mengapa Dokter Diana tidak bisa marah. Dia malah balas tersenyum.. “Saya tidak di beri resep, Dok?” Rahmad mengikuti Dokter Diana ke meja tulisnya. “Anda tidak perlu obat.” “Tapi saya perlu Dokter membalas perasaan saya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD