Pantang Menyerah

1538 Words
“Wuih.. Bro, ada apa? aku dengar kau dan Aulia bertengkar, dan dia mengatakan di grup sekolah kalau dirimu seorang pria b******k! Pecundang!" Bayu yang baru datang tanpa mengetuk pintu kantor langsung nyelonong masuk ke ruangan Rahmad. “Apa iyah?" “Lah ini nih, suka buka hp hanya buat telfonan cewek saja. Yang lain di cuekin! Rahmad..Rahmad.. Mau sampai kapan kamu begini terus? Pindah dari satu hati ke hati yang lain nya. Usia kita nih bukan muda lagi Men? Umur tidak ada yang tau, ntar di panggil yang maha Kuasa tapi ga punya keturunan bagaimana? Apa tidak ada penyesalan nanti nya?" Bayu tidak ada henti-hentinya menasihati sahabatnya itu. Sedari dulu dia sudah sering mengingatkan tapi selalu di tanggapi dengan senyuman saja oleh Rahmad. “Udah selesai ngomel-ngomel nya? Hidup itu harus di nikmati, apalagi hanya sekali dalam menjalaninya. Mencari wanita apalagi pasangan hidup tuh harus yang cocok dan pas di hati kita dan juga orang tua. Ntar seperti orang-orang kebanyakan tuh, nikah sebentar terus cerai. Nah kalau sudah begitu bagaimana? Pasti menyesal kan?" Ucapan Rahmad seketika membuat Bayu yang sebagai temannya hanya bisa menggeleng heran menatap pria itu. “Itulah pentingnya dalam suatu hubungan wajib adanya sebuah komitmen b**o! Kejujuran, menjaga kepercayaan itu semua patut di jadikan pondasi dalam pernikahan. Harus menjaga hati dan juga perasaan pasangan kita. BUkan hanya untuk di pajang apalagi di jadikan pembantu rumah tangga. Kata cerai adalah sebuah pilihan, mereka memilih pilihan itu karena merasa pasangan sudah tidak setia dalam menjalani hubungan suami istri." Rahmat mendengarkan dengan sangat serius ucapan sahabatnya itu, benar juga selama ini sudah banyak waktu yang terbuang begitu saja. “Jadi bagaimana? Ayolah, masak nunggu anak-anak ku gede terus melihat Om Rahmad mereka menjadi bujang lapuk!" “Kurang ajar lo!" Seketika dua sahabat itu tertawa bersama. Dari zaman sekolah, hanya Bayu lah kawan di saat susah ataupun senang yang selalu memberi semangat dan nasihat kepada nya. “Sebenarnya aku sudah menemukan seseorang yang insyaallah cocok dengan semua persyaratan menjadi istri, Cuma cara mendekatinya ini yang masih membuat aku bingung.” “Lah bagus dong kalau begitu, apalagi yang di tunggu? gas lah sudah! Seorang Rahmad yang banyak di gandrungi cewek-cewek malah bingung atur strategi mendekati seorang gadis. Itu pembohongan publik Men!” Rahmad seketika menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.. Dia menjadi bingung jika wanita itu mulai di perbincangkan. Karena jujur baru kali ini ada wanita yang susah untuk diri nya dekati. “Aku sudah pernah coba. Tapi belum membuka pembicaraan panjang, dia sudah pamit pulang dan meninggalkan aku sendiri di meja cafe." Seketika Bayu tertawa ngakak mendengar kata dan ucapan Rahmad. “Syukurin! Rasakan lo! Biasanya kamu yang begitu, sekarang bagaimana rasanya di gitukan wanita? Enak?” “s****n Lo! Wanita ini sangat berbeda, dia sangat istimewa Men.” Bayu mengerutkan kedua keningnya. “Hmmm.. Tumben kau mengatakan wanita istimewa? Seberapa special sehingga julukan itu kau berikan kepadanya?” “Ibu ku menyukainya! Lebih tepatnya memuja dan mengidolakan wanita itu. Dan baru kali ini, ada gadis yang membuat dia seperti itu.” "Maksud nya Tante Rita? Ibu Lo?" Rahmad seketika melemparkan ballpoint ke wajah Bayu. “Ya iyahlah, memangnya Ibu ku bernama siapa lagi!" “Sorry.. Sorry.. Aku hanya kaget saja. Wow.. Berarti wanita ini orang yang sangat hebat dong. Siapa sih? Kok sampai tante Rita segitu mengidolakan nya.” Bayu terus menunggu jawaban Rahmad sambil menaik turunkan kedua kening nya. “Wanita itu di bilang cantik sih ga juga, rata-rata seperti pada umumnya. Cuma memang dari segi perilaku, gesture tubuhnya saat berbicara menandakan jika dia adalah orang yang sangat tepat di jadikan pendamping hidup. Bersikap baik apa adanya dan tidak pernah berpura-pura membuat banyak orang mengidolakan dirinya." Bayu semakin penasaran, siapa sih wanita yang di bicarakan sahabatnya ini. Memangnya seperti apa sih wujudnya sehingga pria seperti Rahmad sampai memuji dirinya seperti itu. “Siapa sih? Pekerjaannya apa? kalau orang asli Kalimantan mah pasti kita taulah.. Apalagi kalau jajaran pengusaha saja semua pada tau. Atau dia seorang ASN?” “Dia Dokter pendatang yang bertugas di Kota Kalimantan Utara ini.” Ucap Rahmad dengan santainya, sambil wajah nya senyum-senyum saat mengingat wajah Dokter Diana. “Dokter! Seriously?" Belalak Bayu kaget. Matanya membeliak bingung. Dan air mukanya benar-benar terperanjat. Asli tidak di buat-buat. “Ya iyahlah, buat apa bohong?" Sahut Rahmad acuh tak acuh. “Memangnya sudah habis cewek-cewek di luar sampai nyasar ke rumah sakit?" Rahmad hanya tertawa mendengan komentar Bayu. “Nggak takut di suntik mati?” “Tidak selama aku setia.” “Muhammad Rahmad bisa setia? Yakin?" “Yakinlah!" Memang tidak ada yang percaya, termasuk diri Rahmad sendiri.. Tapi semua bisa terjadi jika bertemu dengan wanita yang tepat kan? Sudah berbagai cara Rahmad lakukan untuk mendekati Dokter Diana. Tapi wanita itu selalu bisa menolak dan menghindari segala jurus pendekatan yang dia buat. Seakan-akan Dokter itu takut untuk menjalin hubungan dengan yang namanya pria. “Maaf saya sibuk!” “Maaf saya tidak ada waktu!” “Maaf bisa hubungi saya lain kali!” Dia tidak bisa di tolak wanita. Memang nya siapa wanita ini sampai dapat menolaknya? Menolak ajakan Muhammad Rahmad, yang benar saja. Selama ini tidak ada wanita yang memperlakukan diri nya seperti ini. “Kenapa Dokter selalu menolak ajakan saya?" Desis Rahmad tidak sabar. “Kenapa saya selalu menolak? Simpel, Karena saya tidak ingin pergi dengan anda!” Sahut Dokter Diana sabar. “Kenapa? Apa saya kurang ganteng? Pakaian saya kurang rapi? Sehingga kurang pantas pergi dengan seorang Dokter yang hebat seperti anda?" Terdengar helaan nafas di telfon saat pertanyaan itu Rahmad pertanyaan kan kepada Dokter wanita itu. “Itu karena anda membuat saya tidak yakin dengan apa yang saya inginkan.” Dalam sekejap Rahmad tertegun. Jawaban yang sangat jujur tapi tidak disangka-sangka. Ucapan dan kata wanita itu seketika membuatnya terdiam. Tapi tidak membuat nya jera. Muhammad Rahmad adalah tipikal pria pemburu. Makin keras wanita menolak, berlari menjauhinya, Semakin semangat dia mengejarnya. “Bagaimana Mad? Sudah bisa mendapatkan hati nya?" Ucap Bayu di suatu sore saat Rahmad berkunjung ke rumah nya. “Belum.” Seketika Bayu tertawa. “Astagfirullah.. Rasain lo! Makanya jangan suka permainkan hati wanita. Kan sudah dapat balasannya!” “Kurang ajar lo. Sahabat lagi susah malah di ketawain.” Semakin tertawalah Bayu saat melihat wajah Rahmad yang cermberut dan terlihat melemas. “Yang bikin susah itu diri lo sendiri. Selama ini sudah sering mainin hati perempuan. Sekarang kena batunya kan. Tau ga, sampai tidak terhitung berapa banyak wanita sudah yang nyumpahin biar kamu itu kena karma akibat semua perbuatan mu kepada mereka. Sekarang menyesal kan?" Rahmad hanya diam sambil meminum kopi yang di buatkan oleh istrinya Bayu.. “Taruhan, kamu tidak bakal bisa memilikinya Mad.” Bayu tertawa terbahak-bahak. “Dia bukan tipe cewek mainan mu! Sudahlah, panjat saja gunung yang bisa kamu daki. Jangan mimpi bisa menggapai Mount Everest!” “Siapkan saja uang mu! Jangan panggil nama ku jika tidak bisa menaklukkannya!” Ujar Rahmad tersenyum santai.. “Apa yang akan kau lakukan untuk meluluhkan hati wanita yang tidak bisa kau gapai?" “Bukan tidak bisa ku gapai, hanya belum. Bedakan itu!” Dan Rahmad menempuh segala cara untuk menaklukan Dokter Diana. Termasuk berpura-pura menjadi pasiennya. Iyah hanya cara itu yang akan dia lakukan untuk membuat wanita itu melihat kesungguhan yang ada di mata dan diri nya. Sore itu, sepulang bekerja Rahmad segera bersiap dan akan segera meluncur ke tempat praktek wanita itu sebelum Ibunya menegur anaknya itu. “Mau ke mana Mad? Kok kamu sudah rapi betul? Ini masih sore loh? Biasa nya masih sibuk di kantor?" “Mau mengejar gadis untuk di jadikan pendamping hidup bu. Kan katanya Ibu pengen mantu. Lagian pekerjaan di kantor sudah selesai semua kok.” Bu Rita memicingkan matanya melihat penampilan putra nya itu. “Kamu jangan aneh-aneh Mad. Ingat jangan sembarang bawa wanita pulang ke rumah ini. Ibu ga suka, apalagi yang penampilan baju kurang bahan begitu. Bikin sakit mata dan malu di lihat tetangga.” “Tenang Bu. Wanita kali ini tuh sangat spesial. Ibu pasti akan sangat menyukai dirinya jika sampai Rahmad menjadikan dia pendamping di hidup anakmu ini. Doakan saja semua aku bisa menaklukkan hatinya yang keras itu.” “Terserah kamu, asal ingat! Jangan bawa wanita yang aneh-aneh.” “Baik Ibuku sayang.” Rahmad perlahan melangkah keluar dari pintu rumahnya, tidak lupa mencium tangan kanan Ibunya. ‘Rahmad jalan dulu Bu. Assalamualaikum." “Waalaikumsalam. Hati-hati Mad, bawa mobilnya.” “Baik Bu.” Setelah kepergian anaknya itu, Ibu Rita masih berdiri memandang mobil Rahmad yang semakin menjauh. ‘JIka bapakmu masih ada, mungkin sifat mu tidak akan menjadi seperti ini.' Ujar Bu Rita seorang diri. Tapi semua sudah terjadi. Takdir sudah tergaris untuk setiap manusia di muka bumi ini. Tidak mungkin bisa kita lari atau bersembunyi. Menjalani dan selalu berdoa itulah yang harus di lakukan. Sebagai Ibu, hanya bisa terus berdoa. Semoga anak bungsu nya itu segera mendapatkan seorang pendamping hidup yang baik dan bisa mengurus keluarga mereka bersama nanti. Karena Rita tau, tidak selamanya dia akan hidup menemani anaknya itu. Tidak ada yang tau berapa umur kita saat di panggil yang Maha Kuasa. Seorang Ibu bisa Bahagia saat melihat senyum dan tawa bahagia yang ada di wajah anak mereka. Begitu juga diri ku ini. .. Semoga wanita kali ini bisa membuat Rahmad berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD