Menjauh Dari Masa Lalu

1931 Words
Diana melayangkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya. Di sinilah dia menghabiskan waktu setiap malam sepulang praktek. Kamar itu adalah dunia kecilnya. Dia punya lazyboy yang nyaman di depan seperangkat home theatre dan tv 52 inci yang megah. Dia juga memiliki seperangkat komputer yang menyimpan seluruh data pekerjaan nya. Di balik meja tulisnya. Bersusun rak buku yang membentuk sebuah perpustakaan kecil. Ya, di sinilah dia menghabiskan waktu. Walau terkadang keluar ngopi. Tapi tak menutup kemungkinan, kebanyakan jangka di habiskan di rumah saja. Siang ke rumah sakit, sore membuka praktek. Begitulah kesehariannya. “Tidak bosan Di?" Terngiang lagi di telinga nya pertanyaan Risti, sahabatnya sejak semester satu. “Tidak mau mengakhiri masa lajang mu? Apa kamu tidak kesepian sendirian terus?" Jika ada yang bertanya seperti itu. Seketika membuat dia malas untuk menjawab. Siapa bilang dia tidak kesepian? Tapi menikah? Dengan siapa? Sedangkan orang yang dia harapkan saja sudah mengecewakan dirinya. Hampir tak dapat di percaya, di awal 27 belum ada yang mengajak dirinya serius untuk menjalin hubungan.. Berfikir apa sebaiknya dia hidup melajang seumur hidup? Membaktikan seluruh waktu untuk pasien-pasien nya. Mengapa tidak? Itu pilihan yang tidak memalukan. Di abad modern ini, wanita dapat menentukan pilihan hidup nya sama seperti pria. Dan memilih mengabdi kepada pasien, bukanlah hal yang memalukan, justru malah sesuatu yang membanggakan. Semenjak pernah di kecewakan oleh seorang pria, dia tidak pernah sudah memikirkan menjalin sebuah hubungan apalagi yang namanya sebuah pernikahan. Termenung mengenang kisah lalu yang membuat luka di dalam hati nya. Pria itu bernama Firdaus, mantan dosen internisnya. Mereka sudah lama berpacaran. Sehingga sore itu, saat dia mendapat kabar. Jika lelaki yang menjalin hubungan dengannya telah menikah dengan wanita pilihan kedua orang tua nya. Firdaus berjanji akan menceraikan istri yang tidak di cintai nya itu, dan berjanji akan segera menikahi Diana saat gadis itu lulus menjadi seorang dokter. Tetapi tahun demi tahun berlalu, janji itu tetap tinggal janji belaka. Firdaus tidak kunjung menceraikan istri nya. Malah sekarang istrinya hamil dan akan segera melahirkan. Ketika Diana menagih janji yang pernah Firdaus ucapkan, pria itu malah mengatakan. “Apa guna nya selembar surat nikah Diana? Menikah atau tidak, aku tidak ada beda nya kan? Kebahagian ini tetap milik kita meskipun aku sudah punya keluarga!" Tetapi bagi Diana pacaran dengan suami orang tetap ada beda nya. Dia seperti mencuri milik wanita lain. “Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan suami orang Fir! Itu sudah sangat salah! Ada hati yang akan terluka jika hubungan ini di teruskan! Wanita itu adalah istri mu!" “Tapi aku tidak mencintai nya Di! Kamu tau sendiri kan jawabannya!" Diana sebisa mungkin menahan emosinya waktu itu. “Jika kau tidak mencintainya, kenapa istri mu bisa hamil? Tanpa ilmu kedokteran pun orang pasti tau ada hubungan di antara kalian berdua! Dan itu adalah ikatan pernikahan suami istri yang sah! Dan aku tidak memiliki hal itu dan tidak akan pernah!" “Aku mencintai mu, Di." Firdaus maju dan memeluk tubuh ku. “Kita akan mulai dari awal, bagaimana jika kita pergi berlibur ke Bali? Mungkin sepulangnya aku dari sana akan punya keberanian untuk menceraikan istri ku.” Tidak mungkin perceraian itu di setujui, mengingat wanita itu sudah hamil dan bentar lagi melahirkan, sanggup kah dia berbuat kejam antara sesama wanita. Jika dia mengikuti kemauan pria itu untuk pergi berlibur, Diana takut akan ada hal yang merugikan dirinya yang akan terjadi di liburan mereka nanti. Karena selama berpacaran sudah banyak kali Firdaus mengajaknya berhubungan di tempat tidur. Selama ini wanita itu masih bisa menolaknya, tapi tiada siapa yang tau. Kejadian apa akan terjadi nanti. Lebih baik mereka berpisah baik-baik. Sebelum ada yang di rugi kan. Dan yang lebih utama adalah, dia tidak ingin dirinya sampai ternoda. Sebelum timbul skandal yang akan memalukan dan merugikan nama baik mereka berdua. Hubungan ini harus segera di putuskan. “Tidak akan pernah ada liburan bersama di antara kita! Karena kamu harus kembali pada istri yang sudah menunggu di rumah, bukan di sini atau di Bali! Kita putus saja! Hubungan ini sudah tidak pantas di pertahan kan lagi! Kamu sudah menjadi milik wanita lain dan tidak mungkin aku mencuri apalagi merampas!" “Aku mencintai mu Diana. Bagaimana kamu bisa segampang itu memutuskan hubungan kita? Dan mencegah ku untuk tidak menemui mu lagi? Apa kamu tidak ingat kebersamaan kita selama bertahun-tahun?" “Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Jodoh tidak bisa di paksakan! Lebih baik kita berpisah sebelum saling menyakiti.” Ucap Diana pahit. “Ini yang kamu sebut tidak menyakiti? Kamu mencabut jantung ku Diana! Hati ini sangat terluka mendengar ucapan dan kata-katamu! Kamu mungkin memotong umur ku 10 tahun!" 'Keliru, kalau kamu fikir cuma kamu yang menderita.' Keluh Diana di dalam hati. Sebelum dia melangkah meninggalkan Firdaus dan kota tempat mereka pernah bersama. Diana pergi menjauh, menerima pekerjaan yang di tugaskan ke kota Kalimantan Utara yang penuh dengan seribu keajaiban alamnya. Memang hanya Tuhan yang tau betapa besar penderitaan Diana. Sudah lama mereka bersama. Terlalu banyak kenangan di antara diri nya dan Firdaus dan melupakan dalam sekejap itu ga mungkin. Betapa besar kerinduannya kepada pria itu. Lebih-lebih jika ponselnya berbunyi dan si pemanggil adalah Firdaus. Betapa sulit mencegah tangan nya agar tidak meraih telfon. Betapa sulit merendam kerinduannya untuk mendengar suara lelaki itu. Masih teringat jelas kata terakhir Firdaus sebelum dia melangkah menjauh. “Kamu akan kembali, Diana! Aku sangat yakin akan hal itu! Suatu hari nanti kamu akan menyesali keputusan mu ini! Karena tempatmu itu adalah di dalam pelukan ku!" Tidak! Aku sudah berjanji kepada diri ku sendiri. Berusaha menjauh dan mencari kesibukan yang menghabiskan seluruh waktu nya. Tak ada waktu untuk melamun, apalagi memikirkan cinta. Di manapun dia berada asalkan jauh dari pria itu, semua sudah cukup bagi dirinya.. Perlahan melupakan dan lebih memikirkan pasien-pasiennya. Diana yakin, di sinilah tempatnya. Tempat seorang Dokter adalah di samping pasien nya. Itulah moto diri nya. Tempat seorang Dokter adalah di mana dia di butuhkan oleh orang sakit yang membutuhkan pertolongan nya. Itulah prinsip yang selalu dianutnya. Di jadikan pegangan seumur hidupnya. Dan tak akan pernah berubah sampai kapan pun. *** Muhammad Rahmad, Anak kedua dari Bapak Agus dan Ibu Rita. Mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah menikah dan tinggal di Kota Medan. Seorang pengusaha yang gemar berganti-ganti pacar. Bagi nya, manusia itu harus menemukan yang cocok, bukan hanya enak di pandang mata tapi hati juga harus bisa merasakan nyaman dan cocok. Begitu juga dengan menemukan pasangan hidup, dia masih terus mencoba menjalin dengan tiap gadis yang mendekatinya, dan jujur. Dia bukanlah pria yang munafik jika ada yang menawarkan tubuh langsung di tolak, malah dengan senyuman yang lebar dia menerimanya dan mereka akan berakhir di penginapan, melewatkan malam dengan hubungan one night stand. Yah kalian mengertilah, yang namanya pria lajang. Apalagi belum terikat hubungan apa-apa. Tampan, Sukses, tidak sulit dalam pergaulan bersama teman membuat pria ini banyak di sukai lawan jenis nya. Tapi meskipun gemar berganti-ganti pacar, cowok favorit yang di kagumi wanita ini masih takut pada Ibu nya.. Sangat patuh walaupun di depan nya sering pura-pura membangkang. TIdak heran, itu karena Rita sudah menjadi orang tua tunggal sejak suami nya meninggal. Rahmad, sangat mengerti sekali pengorbanan Ibu nya dalam mendidik, membesarkan dia dan kakaknya. Karena itu sejak kecil dia sudah berusaha agar tidak pernah mengecewakan wanita yang telah melahirkan diri nya itu. Bapak pergi meninggalkan warisan yang cukup untuk keluarga dalam bentuk deposito, perhiasan dan rumah. Karena Ibu sangat pandai mengelola semua sampai dia bisa membesarkan dan menyekolahkan kedua anaknya. Dan sekarang, dia yang meneruskan, mengurus usaha sehingga lebih berkembang dan banyak di kenal orang dari luar pulau. Saat ini Rahmad mencoba menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Aulia. Sebenarnya mereka sudah lama saling kenal. Itu karena gadis itu dulu nya adalah teman sekolah sewaktu SMA. Bertemu kembali dan melihat perubahan gadis itu membuat Rahmad tertarik untuk mengenalkan kepada ibu nya. Dan seperti sudah bisa menebak, Ibunya itu tidak menyukai gadis itu. Apalagi saat melihat penampilan Aulia yang berpakaian kurang tertutup. Terlalu mengumbar tubuh. Apa wanita itu tidak tau yang namanya menutup aurat? itulah kata Ibu nya. “Kenapa? Apa Ibu mu tidak menyukai ku?" “Bukan tidak menyukai, tapi hati nya belum bisa menerima dirimu yang berpakaian terlalu mengumbar tubuh.” “Apa?? mengumbar tubuh? Pakaian ku biasa saja. Ibu mu lah itu yang terlalu berfikiran kolot. Tidak bisa mengerti tentang tren masa kini anak muda.” Seketika emosi Rahmad naik dan menatap tajam wanita yang duduk di hadapannya ini. “Jaga bicara mu Aulia! Dia itu Ibu ku! orang yang sangat aku hormati. JIka kau masih berbicara kasar seperti itu, lebih baik kita sudahi saja hubungan ini!" “Setelah banyak yang terjadi dalam hubungan kita, kau ingin memutuskan aku? Apa kau lupa, aku sudah memberikan segalanya pada mu? Apa harus aku ingatkan lagi?" Rahmad berdiri lalu mendekat memegang kedua pegangan tempat duduk yang di duduki Aulia. “Satu hal yang kau lupa Aulia. Aku bukanlah pria pertama yang mengambil kehormatan mu! Kau kira aku tidak tau, jika selama ini kau sering bergonta ganti pria sebelum menjalin hubungan dengan diri ku!" Bisik Rahmad di telinga Aulia, yang membuat wanita itu seketika membesarkan kedua bola mata nya. “Walaupun kau menawarkan kehangatan di ranjang jujur aku menyukai nya, tapi jangan melewati batas. Karena sejak awal, kita tidak pernah menjalin hubungan lebih dari teman. Apalagi sampai membuat komitmen hidup bersama!" Aulia dengan segala kekuatan yang dia punya, mendorong Rahmad agar segera menjauhi nya. “Dasar pria b******k! Ternyata dari zaman sekolah hingga saat ini kau hanyalah lelaki mata keranjang! Kau suka sekali memanfaat kan para wanita yang akhirnya jatuh ke dalam pelukan dan berakhir di ranjang mu! Ingat, aku akan pastikan membalas perbuatan mu ini! Camkan itu!" Rahmad seketika tertawa mendengar kata ancaman dari mulut Aulia. “Kau fikir aku takut? Apa aku pernah memaksa untuk kita tidur bersama? Tidak pernah kan? yang benar itu, sedari awal kau lah yang merayu, bukan aku!" “Oke aku merayu mu, tapi jika kau tidak pernah menyukai ku harusnya kau menolak nya! Bukan malah menikmati malam panjang kita bersama!" Rahmad menyandar di tembok sambil terus memandang ke arah Aulia. “Aku pria normal Aulia! Wajar jika aku tergoda apalagi melihat tubuh mu yang sangat seksi terus menggoda iman ku.” “Dasar pria b******n! b******k! Munafik! Kau pasti akan terima balasan di suatu hari nanti. Dan jika saat itu datang, aku akan tertawa melihat segala penderitaan mu!" Setelah mengatakan itu, Aulia melangkah keluar dari ruang kantor tidak lupa membanting pintu dengan sangat kencang! Rahmad hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan wanita itu. Aulia.. Aulia.. Dari zaman sekolah aku berfikir wajahmu sudah berubah begitu juga sifat mu.. Ternyata aku salah dalam menilai mu! Kau masih saja menjadi wanita yang menghalalkan segala cara agar mendapatkan uang untuk memenuhi segala hidup glamor mu. Berdiri lalu memandang keluar melihat jalanan di luar, Rahmat terus berfikir.. Di umur sudah menginjak 35 tahun, dia belum menemukan pendamping hidup. Itu karena semua wanita yang di kenalkan tidak pernah mendapat respon yang baik apalagi restu dari Ibunya. Sebrengsek apapun sifat seorang pria. Kalau ibunya sudah berbicara apalagi melarang. Pasti akan di dengarkan oleh sang anak. Dan bagi Rahmat, pilihan wanita yang sudah melahirkan dirinya itu tidak akan pernah salah. Tapi pertanyaannya, di mana dia bisa mencari wanita sesuai dengan kriteria Ibu nya itu?? Masak iyah, dia akan melajang seumur hidup. Menarik nafas panjang dan perlahan menghembuskan. Di tengah keputusaan memikirkan tentang masa depan nya, tiba-tiba sekelebat gambaran, ingatan tentang seorang wanita lewat di pikirannya. Dokter Diana! Yah, Hanya wanita itu yang mendapat nilai baik di mata Ibu nya.. Gadis pertama yang bisa membuat Ibu dan dirinya kagum akan kepiawaian dalam bekerja membantu, mengobati pasien-pasiennya. Walau agak sulit, tapi aku akan terus mencoba mendekati Ibu Dokter itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD