“Yakin bisa jalan?” “Hm.” “Masih pusing?” “Dikit.” Rahmad terus memegang tangan Diana. “Malam ini istirahat saja. Praktek malamnya diliburkan dulu. Wajahmu masih pucat.” “Aku baik-baik saja, Mad. Setelah makan dan minum jus. Rasanya tenagaku kembali lagi.” Rahmad menggeleng dan menghela nafas kasar. “Dengarkan apa yang aku katakan, Di. Jangan terlalu memaksakan diri.” “Ta..” “Tidak ada bantahan! Pulang dan istirahat.” Diana hanya diam lalu dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. “Baiklah.” “Nah, gitu dong.. Anak pintar.” Ucap Rahmad tertawa sambil mengelus pelan rambut di kepala Diana. “Tadi katanya, kamu tidak bisa datang menjemput? Kok tiba-tiba ada di sini?” “Ohh.. meeting dan sidak mendadaknya diundur. Soalnya tadi aku ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnis. Besok s

