Dokter Diana melakukan pemeriksaan dengan teliti. Dari tekanan darah, nadi sampai refleks-refleks yang di anggap penting..
“Tidak ada refleks patologis.”
Kata Dokter Diana kepada perawat yang mendampingi nya..
“Tetapi sebaiknya di rawat sampai besok. Observasi Comcer. Minta foto tengkorak, Sus. CIto.”
Comcer adalah singkatan yang biasa di pakai mereka untuk Commotio Cerebri, gegar otak. Sedang CITO merupakan istilah uantuk menyatukan permintaan dengan segera.
“Coba hubungi keluarganya."
“Baik, Dok.”
DOkter Diana lalu berjalan ke luar, melihat Rahmad ada duduk menunggu di depan ruang UGD.. Perlahan dia mendekati pria yang sedang duduk menunduk, dan terlihat bingung itu..
“Syok?"
Rahmad seketika mengangkat wajah dan melihat Dokter Diana yang duduk di samping nya. Perlahan pria itu mengangguk pelan.
“Hmm.. Yah, nggak nyangka pagi saya bisa seperti ini.”
“Apa anda mengenalnya?”
“Tidak. Saya saja kaget saat dia berlari ke depan mobil. Syukur saat itu saya mengendarai dengan kecepatan pelan. Jika tidak, saya bisa jadi pembunuh pagi ini.”
“Sebaiknya anda bersiap, untuk memberikan pernyataan jika ada keluarga gadis itu datang. Atau saat polisi bertanya nanti. Buat jaga-jaga saja. Oia, pasien sudah siuman dari pingsan nya. Saya juga sudah memeriksa, dan tidak ada luka serius yang di alami saat kecelakaan itu terjadi."
Seketika Rahmad kembali menarik nafas panjang dan perlahan menghembuskan nya.
“Alhamdulillah.. Syukurlah kalau begitu.”
Rahmad merasa lega sekali. Jika sampai dia melukai, apalagi membunuh. Apa yang akan terjadi kepada Ibu nya? Dia pasti akan membuat malu wanita yang telah melahirkan dan membesarkan diri nya itu.
“Saya akan memberi kan pernyataan bahkan membawa saksi. Agar tidak ada kesalahpahaman, yang akan terjadi saat keluarga gadis itu datang nanti.”
“Baguslah kalau begitu. Anda bisa langsung memberikan pernyataan ke salah satu suster yang bertugas."
“Dok, apa gadis itu mengatakan tinggal di mana?"
Dokter Diana menggeleng.
“Dia belum mengatakan apa-apa. Dan saat ini, kita juga tidak bisa memaksa bicara melihat kondisi nya yang down. Tapi jika nanti keluarganya datang, pihak rumah sakit pasti akan segera menelfon anda.”
“Terima kasih, Dok. Tapi aneh, hari ini seperti takdir yah mempertemukan kita di sini. Saya benar tidak menyangka loh, ternyata Dokter juga bertugas di UGD.”
Iyah benar juga, padahal hari ini dia cuma membantu temannya mengantikan shift tapi kok bisa bertemu pria ini di UGD rumah sakit. Apa ini hanya kebetulan saja atau takdir?
Tidak mau berandai-andai, apalagi termakan rayuan Rahmad. Dokter Diana segera menguasi diri dan perlahan menjawab nya.
“Saya hanya menggantikan teman bertugas jaga di UGD. Tapi sebenarnya di manapun itu asalkan rumah sakit, semua dokter pasti sama saja. Kerena sebelum mengambil spesialis kami hanya lah Dokter UMUM.”
“Setelah shift Dokter selesai, apa kita bisa keluar ngopi bareng?"
Pantang menyerah, itu yang Rahmad lakukan..
“Tergantung situasi. Jika pasien masih banyak. Saya tidak bisa. Apalagi langsung pergi meninggalkan pekerjaan hanya karena segelas kopi.”
“Baiklah, tapi jika Dokter bisa, tolong hubungi saya.”
Setelah mengatakan begitu. Rahmad pamit pergi. Sementara Dokter Diana kembali ke ruang jaga UGD.
“Dok, ganteng yah?"
Para perawat yang bertugas jaga di UGD melempar candaan, saat Dokter Diana masuk ke ruang UGD. Mereka tidak menyangka, jika Dokter wanita yang biasanya tidak pernah menegur pria mendatangi lelaki itu tadi.
“Kenal di mana, Dok? Ganteng amat, uyy."
“Apaan sih kalian. Biasa aja."
“Mau dong di kenalin juga he..he."
Di sela tawa para perawat UGD, perlahan ada satu perawat yang menghampiri Dokter Diana.
“Dok, pasien yang bernama Aliza menolak untuk di rawat.”
Lapor Suster Anita dengan dahi berkerut.
Dokter Diana menghela nafas panjang. Pasien remaja memang sulit di tangani. Perlu pendekatan, kadang-kadang ancaman.
“Orang tua nya sudah di hubungi?”
“Dia menolak memberitahu alamatnya, Dok.”
“Wah.. Betul-betul sulit kalau begitu. Apa sih maunya?”
“Orang-orang bilang dia memang sengaja ingin bunuh diri, Dok. Para saksi mata melaporkan, kalau dialah yang sengaja menubrukkan diri pada mobil pria tadi.”
Berarti benar apa yang pria bernama Rahmad tadi katakan kepadanya.
“Mengapa tidak pada truk saja sekalian?”
Gerutu Dokter Diana mendahului menuju ranjang gadis itu.
“Kepalang tanggung.”
*
Aliza sedang duduk di tepi pembaringan sambil memegangi kepalanya saat Dokter Diana menyibak tirai yang membatasi ranjangnya dengan tempat tidur pasien lainnya.
“Kenapa Aliza? Apa kepala mu sakit?”
Ujar Dokter Diana seramah mungkin.
“Sekarang kamu tau kan mengapa harus di rawat di rumah sakit malam ini? Karena, Aliza harus berbaring terus untuk menghilangkan rasa pusing mu.”
“Tapi saya mau pulang!”
“Kamu tidak bisa pulang, Aliza. Jangankan sampai dirumah. Baru sampai di depan rumah sakit ini saja, pasti kamu sudah jatuh lagi.”
Dokter Diana mencoba menjelaskn agar pasiennya ini mau mengerti untuk segera di rawat. Tapi seperti nya gadis ini bersikeras untuk pulang.
“Biar saja!"
“Tapi jika tidak ada yang melihat, kamu tau apa yang akan terjadi?”
“Saya tidak peduli!”
“Bagaimana jika saat kamu berjalan, ada mobil atau truk yang lewat dan tidak melihat kamu yang jatuh?"
“Biar saya mati!”
Ujar Aliza menahan tangis..
“Mengapa kamu begitu merindukan kematian?”
Tak ada jawaban. Aliza hanya menggigit-gigit ujung saputangan nya sambil menangis.
"Sekarang begini saja. Saya anjurkan kamu tinggal dan di rawat malam ini. Tetapi kalau ingin pulang juga, terserah kamu. Tapi harus tandatangani dulu formulir pulang paksa yang di sodorkan perawat. Supaya kalau ada apa-apa terjadi dengan dirimu nanti, kami tidak akan di salahkan."
Dokter Diana terus menatap ke arah pasien remaja nya itu. Benar-benar harus menahan kesabaran.
“Orang tua saya jangan d beritahu.”
Ujar Aliza ragu-ragu.
"Itu hak mu. Kecuali kalau mereka yang datang mencari.”
“Mereka tidak peduli.”
Aliza mendengus sambil membuang muka.
“Kalau begitu beristirahatlah. Jangan fikirkan apa-apa lagi. Biaya perawatan mu malam ini sudah di tanggung si pengemudi mobil yang menabrak mu.. Eh salah..Yang kamu tubruk. Jadi kamu bisa nginap gratis di sini.”
“Tapi saya tidak mau di periksa!”
“Mengapa.”
Aliza tidak menjawab. Dia cuma menunduk sambil mengigit bibir nya.
“ Dengar, Aliza."
Kata Dokter Diana sabar.
“Saya tidak ingin melihat mu kembali ke sini. Di tabrak motor apalagi mobil. Kalau kamu punya prolem, datang lah pada saya. Insyaallah, saya pasti akan menolong mu, Oke?”
Dokter Diana memberi seuntai senyum persahabatan pada gadis yang sedang menatap nya dengan pandangan kosong itu. Hanya Dokter Diana yang bisa tersenyum dengan sepolos itu dan Aliza terkesan melihatnya.
“Tidak semua orang memusuhi mu, Aliza."
Sambung Dokter Diana ketika di temukannya setitik perhatian di mata Aliza.
“Banyak yang ingin menolong mu. Ingin menjadi temanmu. Asalkan kamu mau membuka isi hati pada seseorang. Mungkin orang itu bisa membantu. Tak ada persoalan yang dapat kamu pecahkan seorang diri. Dan, ingat! Bunuh diri bukanlah jalan keluar dari suatu masalah. Selalu saja ada kemungkinan selamat, tapi.. Cacat! Nah, fikirkan saja sendiri resiko nya."
Aliza diam sesekali menunduk mendengarkan ucapan Dokter Diana.
"Kamu tidak mati tapi cacat! Saat itu menyesal pun tidak ada gunanya lagi. Jadi mengapa tidak mencari jalan lain? Jalan yang tidak dapat kamu lihat, tapi dapat di lihat dengan orang lain?”