Penyebab Aliza Ingin Bunuh Diri

1075 Words
Dokter Diana tidak merasa heran ketika tiga hari kemudian, Aliza muncul di tempat praktek nya. Gadis remaja itu datang sesaat sebelum Suster Liliana menutup pintu. “Masih ada satu pasien lagi, Dok.” Ucap Suster Liliana sambil menyilakan masuk seorang gadis yang berdiri bimbang di ambang pintu. Terlihat jelas di wajah nya ada keraguan hendak masuk ataupun tidak. Dokter Diana menoleh. Dan tatapan nya beradu dengan pandangan yang cemas itu. “Ayoo, mari masuk, Aliza.” Ucap Dokter Diana ramah. “Kebetulan kamu pasien terakhir. Kita punya banyak waktu untuk mengobrol, bercerita dan mungkin bisa saling bertukar pendapat yang ada di fikiran kita saat ini." Aliza masuk dengan ragu-ragu. Duduk dengan penuh kewaspadaan di depan meja tulis Dokter Diana. Dan tatapan nya yang gelisah berkeliaran ke seluruh ruangan seakan-akan hendak memastikan tak ada orang lain di sana. Dan, Dokter Diana sudah bisa menebak arti tatapan menelisik itu. “Suster Liliana.. Tolong tunggu di luar saja yah.” Pinta Dokter Diana bijaksana. “Kami cuma mengobrol sebentar saja kok.” Dokter Diana memberi isyarat kepada Suster Liliana, jika semua baik-baik saja. Lalu dengan patuh Suster Liliana melangkah keluar, tak lupa menutup pintu kamar ruang praktek itu. "Nah, Aliza. Kita aman sekarang." Dokter Diana tersenyum sambil bergurau agar pasien nya ini bisa lebih santai saat bercerita dengan nya nanti. “Duduklah yang santai, Aliza. Kamu mau minum?” Aliza menggeleng pelan. “Kebetulan, di sini tidak ada minuman.” Dokter Diana tertawa kecil. “Cuma ada obat suntik dan pil obat-obatan.” Untuk pertama kali nya Aliza terseyum walau hanya sedikit. Dan Dokter Diana merasa, dia akan berhasil. “Oke.. Apa yang ingin kamu tanyakan kepada saya?” “Dokter berjanji tidak akan menceritakan pertemuan ini kepada kedua orang tua saya?” “Harus kah saya cerita kepada mereka?” “Dokter tidak akan menceritakan apa yang akan saya katakan malam ini kepada siapapun? “Dengar, Aliza." Dokter Diana menatap gadis remaja itu dengan sabar. Dia lalu bersandar dengan santai ke kursinya. “Di sini kamu pasien saya. Dan setiap pasien punya hak untuk merahasiakan penyakitnya. Sebagai seorang Dokter, kami tidak boleh menceritakan tanpa seizin pasien nya. Supaya para Dokter tidak di tuduh melanggar kode etik. Jelas?” Sejenak Aliza memandang Dokter Diana dengan lebih cermat. Seolah-olah dia sedang menimbang-nimbang, pantas di percaya kah Dokter ini? “Jika kamu kamu tidak percaya pada saya, itu hak mu. Tidak seorang pun berhak memaksa jika kamu lebih memilih merahasiakannya.” Sekarang Dokter Diana melihat tatapan gadis remaja itu berubah. Seakan-akan dia hendak berkata. Baru kamu yang bicara soal hak! Orang tua dan guru-guru saya selalu bicara tentang kewajiban ! “Dokter." Tanya Aliza dengan suara perlahan. Lebih tepatnya seperti berbisik. “Benar kah seorang gadis yang sudah tidak suci lagi dapat terlihat dari cara berjalan nya?” Seketika Dokter Diana di buat melongo mendengar pertanyaan pasiennya ini. Untuk sesaat dia tertegun seperti mendengar berita jika aka nada meteor yang akan jatuh ke bumi. Jadi itulah persoalannya. Penyebab gadis ini mencoba bunuh diri. Hampir saja lidah nya tergerak untuk bertanya, Siapa yang melakukan nya, Aliza? Tetapi sesaat sebelum mengucapkan nya, dia sempat menahan rasa ingin tahu nya. Kalau ia ingin mengetahui semuanya, Dokter Diana harus pandai menahan diri. Jangan terjebak untuk buru-buru bertanya. “Siapa yang mengatakannya, Aliza?” Tanya nya santai seperti semula. “Alangkah pintar nya dia. Dokter pun tidak dapat menyatakan seseorang masih gadis atau tidak tanpa melakukan pemeriksaan selaput dara! Coba kamu berikan alamat nya pada saya! Saya ingin berguru lagi pada nya. Supaya saya tidak susah-susah memeriksa pasien. Cukup menyuruhnya mondar mandir di hadapan saya saja." Dokter Diana tertawa cerah. Dan bertambah lebar tertawa saat melihat Aliza juga ikut tersenyum. “Jadi benar orang-orang tidak tau, Dok? Suami saya juga tidak tau.” “Suami mu?” Dokter Diana menyerigai geli. “Kamu sudah punya suami?” “Maksud nya calon suami saya nanti, Dok.” Gumam Aliza tersipu malu di hadapan Dokter Diana Saat melihat Aliza seperti itu, harus Dokter Diana akui gadis remaja itu terlihat sangat cantik. Ibarat bunga, dia laksana kuntum yang telah separuh merekah.. Segar dan menarik.. “Dari cara jalannya tentu saja tidak. Kecuali jika dia punya ilmu. Barangkali seperti itu.” “Dari cara lain?” Kecemasan kembali membayang di wajah Aliza. “Dia bisa tahu?” Dokter Diana menghela nafas panjang. "Aliza, pernah dengar apa yang di sebut selaput dara?” Aliza mengangguk pelan. “Seseorang yang sudah tidak gadis lagi, biasa nya selaput dara nya sudah tidak utuh lagi.” “Dokter bisa memperbaikinya?" “Tentu saja bisa. Melalui operasi selaput dara. Tetapi operasi ini tidak selalu berhasil, Aliza. Terkadang, karena peredaran darah pada selaput itu buruk sehingga operasinya gagal.” "Mahal kah biaya nya, Dokter? Di mana saya dapat memperoleh keterangan tentang operasi itu? Apa, Dokter Diana bisa melakukan nya?” “Aliza, dengarkan lah nasihat saya ini." Ucap Dokter Diana sabar kepada gadis remaja itu. “JIka kamu masih suci, pertahankan lah kesucian itu sampai kamu menikah nanti. Persembahkan lah kehormatan itu kepada lelaki yang berhak atas diri mu. Tetapi jika kamu sudah kehilangan kehormatan sebelum menikah, jangan putus asa. Tidak semua laki-laki punya fikiran sepicik itu. Langsung menceraikan istri nya saat tau jika wanita yang di nikahi tidak suci lagi. Masih banyak yang menerima gadis yang di kasihi nya itu seperti apa ada nya. Sekarang, jawab lah pertanyaan yang lebih penting ini, Aliza. Apakah kamu hamil?” Seperti tanggul yang jebol, pertahanan Aliza langsung ambruk begitu mendengar pertanyaan Dokter Diana. Air mata langsung mengalir deras membasahi kedua pipi nya yang putih bersih. Dokter Diana harus menunggu sejenak sampai gadis remaja itu dapat kembali menguasai diri nya kembali. Tetapi sesudah isak tangis nya mereda, gadis remaja itu belum mampu untuk membuka mulut nya. Digigit-gigit nya ujung sapu tangan sambil sebentar-sebentar menghapus air mata nya. “Saya yakin orang tua mu belum tau.” Desah Dokter Diana seraya menghela nafas nya. “Teman sekolah mu?” Aliza mengangguk sedikit. Kedua mata nya yang merah berair menatap Dokter Diana dengan raut wajah ketakutan. “Beritahu apa yang harus saya lakukan, Dok? “Ajak teman mu itu menemui, menghadap kedua orang tua kalian. Berterus teranglah.” “Dia tidak mau!” “Dia harus mau! Lelaki itu harus bertangungjawab atas semua perbuatannya kepada kamu!" Dokter Diana terus memberi pengertian kepada Aliza. “Dia bilang tidak mungkin saya hamil." “Mengapa dia begitu yakin?” “Karena katanya.. Katanya.." Wajah Aliza seketika memerah. Dia lalu menunduk dengan tersipu malu-malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD