Memberi pengertian Ke Aliza

1117 Words
“Berapa bulan?” Aliza mengeleng ketakutan. “Itulah sebab nya kamu selalu menolak kalau diperiksa?” ”Saya takut, Dok.” “Hmm.. Itu wajar.” Dokter Diana seketika menghela nafas panjang dan lebih berat. “Orang yang bersalah memang selalu ketakutan. Hm.. Sekarang begini saja. Saya periksa dulu jasmanimu. Baru setelah itu kita lakukan pemeriksaan air seni di labotorium. Kamu ingin didampingi perawat selama pemeriksaan kah?" Aliza menggeleng pelan, tapi sangat jelas terlihat di wajah gadis remaja itu jika saat ini dia sangat terlihat resah. “Oke itu hak mu. Naiklah ke atas tempat tidur. Lepaskan pakaianmu. Tidak usah semua. Yang bagian bawah saja. Nah, ngomong-ngomong, kapan haid mu yang terakhir? Apa kamu ingat?" Aliza memandang Dokter Diana dengan sangat gugup. “Tiga belas Mei.” Desahnya gelisah. “Itu berarti baru bulan ini kamu tidak mendapat haid kan? Nah, kamu tenang dulu. Naiklah ke atas tempat tidur saya periksa.” Baru setelah berkali-kali gagal mencoba memeriksa Aliza. Dokter Diana menyesal, mengapa saat itu dia tidak memanggil Suster Liliana saja. Kalau ada dia, barangkali lebih mudah memeriksa gadis remaja ini. Dan ternyata kesulitan yang ditimbulkan gadis ini tidak berakhir sampai disana. Setelah menjalani semua pemeriksaan dan dinyatakan positif hamil. Aliza tidak henti-henti nya mengejar Dokter Diana dengan semua permohonannya. “Tolong lah saya, Dokter Diana!” “Bagaimana saya ingin menolong kamu? Sedangkan jawaban atas pertanyaan itu diri kamu sendiri sudah tau dan apa yang seharusnya dilakukan!” “Tidak ada kah cara lain?" Dokter Diana seketika menarik nafas pelan. “Bawa lelaki itu bertemu orang tuamu Aliza! Itu adalah tangung jawabnya! Dan anak ini adalah hasil dari perbuatannya." “Tapi dia tidak mau!" “Dia harus mau. Saya sudah pernah katakan, Aliza. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab." Gadis remaja itu hanya tertunduk “ Bagaimana bisa hamil? Sedangkan kami tidak melepaskan baju.” Ya Allah inilah perlunya kita memberi pemahaman kepada anak sejak dini tentang hal yang berhubungan dengan s**s. Bukan bertujuan buruk, tapi lebih kepada memberi pemahaman akan berbahaya melakukan suatu hubungan selagi belum menikah bersama pasangan yang halal. Memberitahu, melarang mereka melepaskan pakaian dihadapan siapapun entah itu bagian atas ataupun bawah.. “Tapi kalian melepaskan celana kan?" Dokter Diana tersenyum bijak. “Lebih baik kamu bicara dengan kedua orangtuamu. Biar mereka yang menyelesaikan permasalahan yang terjadi ini.” “Jangan! Ayah, bisa membunuh saya!” “Mengapa kamu takut begitu? Bukankah katanya kamu ingin mati?” “Saya tidak berani." Aliza mulai menangis lagi. “Ayah saya sangat galak sekali!” “Kalau begitu cobalah berbicara dengan Ibumu. Atau dengan gurumu.” Aliza menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Saya tidak mau ada yang tau jika saya hamil." “Jadi harus bagaimana lagi kamu ingin menyelesaikan maslah ini? Ini tentang masa depan kamu Aliza! Kamu suruh teman lelaki kamu bertangung jawab dan kalian menikah. Atau jangan-jangan kamu ingin menggugurkan kandungan mu?” Dokter Diana memicingkan mata nya memandang Aliza. “Tolonglah saya, Dokter Diana. Saya tidak tahu sama siapa lagi harus meminta bantuan.” Kali ini Aliza benar-benar meratap. “Jadi benaran kamu mau menggugurkan kandunganmu? Tidak, saya tidak akan sanggup melakukannya! Itu suatu dosa besar, Aliza. Kamu berhubungan suami istri sebelum halal saja sudah perbuatan yang di larang dalam agama. Ditambah ini lagi, menghilangkan nyawa anak yang ada didalam kandungan. Apa kamu tau, berapa banyak kesalahan yang telah dilakukan?" Makin bertambahlah tangisan Aliza saat mendengar kata-kata yang di ucapkan Dokter Diana. “Tolonglah saya, Dokter." Segitu putus asanya gadis ini. “Dokter pasti tau kemana saya harus pergi mencari pertolongan. Dokter dapat membuatkan surat pengantar." “ Maksud kamu, surat pengantar untuk menggugurkan kandungan mu?” Dokter Diana lalu menggelengkan kepala nya pelan, wajahnya terlihat murung manatap gadis remaja yang tengah menangis tertunduk di hadapan nya itu. “Apa kamu tau, Aliza.. Abortus hanya diperbolehkan bila kehamilan dianggap membahayakan jiwa Ibu yang mengandung nya.” Dengan sabar Dokter Diana memberikan pengertian, semoga saja gadis ini bisa berubah fikiran. “Apakah kehamilan ini tidak membahayakan jiwa saya, Dokter?” Tapi lagi-lagi Aliza tetap pada pendirian nya. “Bukan seperti itu, Aliza. Bunuh diri tidak termasuk indikasi." “Bukan kah lebih baik saya ke seorang Dokter daripada melakukan nya di tempat-tempat sembarangan yang dapat membahayakan jiwa saya. Benar kan, Dok?” “Tentu saja benar. Tetapi tidak ada Dokter yang mau melakukannya. Kalaupun ada, saya tidak bersedia menunjukkan tempatnya padamu. Tidak sesuai dengan hati nurani saya.” “Jadi Dokter tidak bisa menolong saya?" Aliza lalu melihat Dokter Diana. Wajah gadis itu basah karena air mata yang terus mengalir keluar. “Maafkan saya Aliza. Jika permintaan tolong menginginkan abortus saya tidak bisa membantumu. Tapi, jika kamu ingin bantuan menyelesaikan dengan cara mempertemukan dua keluarga, Insyaallah saya akan mencoba.” Dengan tertunduk lesu, mengelap air mata nya. Aliza keluar dari ruang praktek dengan wajah yang sangat muram, lesu dan lemes.. Suster Liliana yang melihatnya ikut merasa heran dengan pasien Dokter Diana yang satu itu. Sudah lama bekerja dengan Dokter Diana, membuat Suster Liliana banyak mengenal sifat, tingkah laku pasien-pasien yang datang berobat ke tempat ini. “Dok, apa semua nya baik-baik saja?" Ujar Suster Liliana saat masuk ke dalam ruang prakterk Dokter Diana malam ini. “Iyah, semuanya baik-baik saja. Apa sudah tidak ada pasien?" “Tidak ada, Dok. Sekarang Dokter bisa langsung pulang.” Dokter Diana lalu berdiri dan tiba-tiba suatu pesan Chat masuk di hp nya. Perlahan tangannya membuka dan membaca isi pesan nya. “Apa sudah selesai prakteknya, Dok?” Dokter Diana lalu menyunggingkan senyuman di ujung bibir nya. “Alhamdulillah, baru saja selesai. Kenapa? Apa Pak Rahmad sakit dan ingin segera berobat? Apa saya harus menunggu anda datang?" “Hati saya yang sakit, Dok! Berulang kali mengajak keluar tapi di tolak terus. Apa saya ini sangat jelek sehingga Dokter malu untuk berjalan bersama-sama?” “Kamu tidak jelek. Cuma waktu saya yang belum ada untuk keluar bersama kamu. Maaf." Dokter Diana lalu menahan tawa melihat isi chat pria tersebut “Jadi kapan bisa nya, Dok? Sudah seribu kali loh saya ajakin, dan seribu kali juga di tolak. Betapa mengenaskan hidup saya ini. Apa Ibu Dokter tidak merasa kasihan?” 'Dasar pria perayu ulung. Ada saja akalnya dalam mengajak ku keluar.' Ucap Dokter Diana di dalam hati. “ Hmm.. Baiklah. Insyaallah, besok saya akan menerima ajakan anda untuk keluar. Tapi tidak bisa lama-lama. Karena malam nya saya harus kembali membuka praktek.” Rahmad yang mendengar Dokter Diana akhirnya menerima ajakan nya untuk keluar bersama seketika melompat gembira. Dan hal itu membuat asisten nya merasa heran dengan kelakuan Bos nya itu. Seperti anak kecil yang mendapat uandian berhadiah. Tapi di fikiran pria itu adalah.. Akhirnya.. Aku bisa mengajaknya berjalan berdua. Tidak mengapa hanya sebentar, yang penting bisa menghabiskan waktu bersama. Kira-kira bagusnya kemana yah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD