Pertama Kali Jalan Bersama Di Waktu Sore

1170 Words
Setelah menyelesaikan praktek di rumah sakit, Dokter Diana tinggal sendiri di dalam ruangan ya sambil terus berfikir tentang gadis remaja bernama Aliza itu.. Pilihan apa yang akhirnya gadis itu ambil? Semoga Aliza membuat pilihan yang tepat dengan memberitahu kedua orang tua dan keluarga teman lelaki nya itu untuk bertanggung jawab. Ataukah dia malah memilih untuk menghilangkan janin yang ada di dalam kandungan nya? Aliza, sudah pernah mencoba membunuh diri. Bagaimana kalau dia kembali mengulangi nya? Jika kali ini dia berhasil, bukan kah janin di dalam kandungannya akan ikut meninggal? Apa bedanya dia digugurkan oleh kematian ibu nya atau oleh tangan seorang Dokter? Tetapi.. Berhakkah diri ini menghilangkan nyawa seorang manusia? Meskipun dengan tindakan itu aku menyelamatkan nyawa manusia lain nya? Alangkah sulitnya menjadi seorang Dokter… Keluh Dokter Diana.. Terkadang aku tidak tahu apa yang harus di lakukan. Seorang Suster masuk ke dalam ruangan Dokter Diana. “Dok, belum pulang? Bukan kah jam praktek di rumah sakit sudah sedari tadi selesai?” Dokter Diana lalu tersenyum. “Bentar lagi." “Jangan suka ngelamun, Dok. Bahaya! Apa lagi yang masih jumblo ha..ha. Canda, Dok. Jangan marah.” Dokter Diana hanya tertawa lalu berdiri mengambil tas nya di bawah meja. “Iyah-iyah. Ini juga baru saja mau pulang. Sampai bertemu besok, Sus. Assalamualaikum." “Waalaikumsalam, Dok. Hati-hati." Satu rumah sakit tau jika Dokter Diana adalah seorang wanita Jumblo. Tidak pernahnya wanita itu terlihat dekat dengan pria sehingga jika ada pasien lelaki yang bertanya, teman sejawatnya sering sekali mengolok nya. Tapi hari ini semua kembali menjadi heboh saat seorang pria berkaca mata, tinggi, putih, ganteng dan sedang bersandar di body mobilnya. Seperti lagi menunggu pasangan nya yang akan segera pulang bersama. Dokter Diana yang melihat para Suster lagi mengintip melihat tempat parkiran mobil ikut merasa heran. “Ayo.. Pada ngintip apaan sih? Kok pada heboh?" Salah satu Suster menujukkan kepada Dokter wanita itu objek penyebab mereka berkumpul. “Itu, Dok. Coba lihat pria yang bersandar di body mobil. Bukan kah dia terlihat sangat ganteng?" Dokter Diana menajam kan penglihatannya dan seketika dia tersenyum. “Oh itu.. Biasa saja. Sudah-sudah. Bubar semua! Ntar di liat perawat senior kalian akan kena marah loh." Semua Suster tertawa mendengar perkataan Diana. Bagi mereka sudah bisa jika Dokter wanita itu mempermainkan mereka. Dan tidak mungkin juga dia akan mengadu kepada atasan ataupun ke perawat senior. “Dokter, kok tega sih? Pekerjaan kami sudah selesai loh, Dok. Ini juga mau pulang kok. Dokter duluan saja. Hati-hati." Dokter Diana lalu menggeleng pelan lalu tertawa kecil melihat kelakuan para perawat itu. Dia terus berjalan turun dan berhenti dihadapan pria itu. “Apa sudah selesai bekerja nya, Bu Dokter?" Seketika Rahmad membuka kacamata hitam nya. “Alhamdulillah, sudah." Baru saja Dokter Diana ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara meneriakinya di susul teriakan lainnya. “Dok, kenalin dong?" “Dok, pacar nya ganteng banget!" “Dok, namanya siapa tuh?” “Ternyata Dokter sudah ada calon nya, pantes selama ini diam saja jika ada yang godain ha..ha." Dan masih banyak lagi ucapan mereka. Ternyata para Suster tadi. Mereka langsung riuh melihat dirinya berbicara dengan pria yang menjadi objek kekaguman para perawat itu. Dokter Diana hanya membalas nya dengan lambaian tangan. “Silakan naik. Saya akan membawa kamu melihat suatu pemandangan yang sangat cantik sore ini.” Rahmad membukakan pintu mobil untuk Dokter Diana. “Tapi maaf saya tidak bisa lama-lama. Karena harus.. " “Saya tahu, Bu Dokter. Kita akan pulang sebelum waktunya kamu membuka praktek malam ini." Mobil lalu mulai berjalan menuju arah yang ingin di kunjungi Rahmad sore ini. Dan tidak sampai satu jam, mereka tiba di tempat tujuannya. Yaitu, Pantai Amal. Yang hanya ada di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. “Ayo turun, Bu Dokter." Rahmad membukakan pintu mobil dan mempersilakan wanita itu keluar dan melihat pemandangan pantai di saat sore hari. Dan hal itu membuat Dokter Diana yang memegang jas Dokternya terpaksa meninggalnya di dalam mobil. Tidak menyangka lelaki ini membawanya ke tempat ini. “Kita duduk di salah satu tempat duduk itu, Dok." Rahmad mengarahkan mereka terus berjalan menuju tempat duduk yang ada mejanya di pinggir pantai. “Pasti capek kan seharian bekerja. Lihat pemandangan laut terus mendengar deburan ombak bisa membuat tenang loh, Dok. Saya kalau lagi suntuk pasti ke sini. Biasanya melihat pemandangan sore hari." Ujar Rahmad. Lalu pria itu tersenyum memandang wanita yang ada duduk di sebelahnya. Walaupun mereka duduk berjarak, tapi membawa Dokter Diana keluar berjalan, menghabiskan waktu di sore ini sudah sangat membuat dia bahagia. “Saat suntuk atau bersama pacar nya?" Bukan tanpa alasan Dokter Diana bertanya begitu. Melihat banyak nya pasangan muda-mudi menghabiskan waktu bersama di sore hari, membuat wanita itu berfikir. Jika tempat ini memang bagus di jadikan tempat berlibur, bersama keluarga ataupun menghabiskan waktu berdua dengan pacar. “Saya mana pernah membawa wanita selain Dokter ke sini. Ah.. Pernah, yaitu bersama Ibu saya dan para ponakan saja. Kalau pacar belum pernah. Saya jawab jujur loh. Jangan mengira saya berbicara bohong.” Ujar Rahmad tersenyum memandang Dokter Diana. Ternyata wanita ini sangat cantik apalagi saat rambutnya tertiup angin. “Iyah, saya percaya deh ha..ha." Masyaallah.. Cantiknya wanita ini. “Dokter tahu gak, selain turun ke laut menangkap ikan. Nelayan dan separuh penduduk di sini bekerja mengumpulkan rumput laut loh." “Oh yah? Hebat dong kalau begitu." Dokter Diana merasa tertarik mendengar cerita itu. Biasanya pria mengajak jalan wanita akan bertanya seputar hal pribadi. Tapi lelaki ini malah menceritakan tempat yang mereka datangi sekarang ini. “iyah dong.. Yang lebih hebatnya lagi kebanyakan yang mengerjakan itu adalah para wanita. Mereka sangat kuat membantu mengeringkan dan memilih rumput laut yang bagus dan jelek untuk di masukkan ke dalam karung." Dokter Diana lalu menyimak cerita yang di sampaikan oleh Rahmad. Perlahan ia tersenyum. “Makanya jangan meremehkan kekuatan seorang wanita. Mereka juga bisa melakukan pekerjaan seorang pria, tapi apa seorang pria bisa melakukan pekerjaan seorang wanita? Pasti tidak bisa dong. Ha..ha." Rahmad makin terpana melihat Dokter Diana tertawa. Lalu mengalirlah cerita demi cerita di antara meraka berdua di sore hari itu. Dan saat matahari akan tenggelam. Tiba-tiba Dokter Diana mengadahkan kedua tangan nya ke atas dan mulai berdoa. “Bissmillahirrahmannirrahim… Allohumma ma amsa minka min ni’matin fa minka wahdaka la syarika laka fa lakal hamdu wa lakasy syukru.” Seketika Rahmad kaget, bingung dengan apa yang wanita itu lakukan. Karena selama ini tidak pernah ada gadis yang jalan bersama nya mengucapkan doa seperti yang di lakukan Dokter Diana tadi. “Doa apa tadi itu?" Dokter Diana hanya tersenyum lalu. “Oh.. Itu doa bersyukur yang di baca pada saat sore hari. Artinya: Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku di waktu pagi, semuanya hanya dari -Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur.” Rahmad terpaku.. Benar-benar baru kali ini ada wanita yang mengajarkan dia tentang berdoa. Ke mana saja dia selama ini sehingga lupa jika dia adalah seorang pria muslim. Kapan terakhir kali dia ke masjid? Melaksakan shalat berjamaah? Sedangkan shalat wajib lima waktu saja sudah tidak pernah dia lakukan. Dia benar-benar merasa malu berada di hadapan Dokter Wanita ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD