Saat aku menyiapkan sarapan pagi untuk Fadli, anak bujangku itu melangkah malas keluar dari kamarnya.
Helaan napasku terdengar saat melihatnya belum bersiap untuk pergi ke sekolah.
Rambutnya masih kusut, belum disisir. Wajahnya kusam sepertinya belum mandi. Apalagi pakaian tidur yang masih menggantung di tubuhnya, padahal sekarang sudah pukul tujuh pagi.
“Sayang,” panggilku sambil mendekatinya.
Fadli melirikku tidak suka, lalu menghindar saat hampir kupeluk.
“Kenapa belum bersiap? Nanti telat, loh Dli.”
“Fadli nggak mau ke sekolah.”
Alasannya membuatku terkejut. Tidak biasanya Fadli seperti ini. Dia adalah anak yang rajin dan berprestasi. Apa karena kehadiran Mas Eli semalam, membuatnya sekesal ini padaku?
“Kenapa?” Kutanyai lembut sambil mengusap pipi merahnya.
“Dli mau nemanin Mama di rumah dan tempat kerja, biar nggak digangguin Papa lagi.”
Jawaban Fadli membuat tubuhku lemas. Kugelengkan kepala sambil menyisiri rambut lebatnya.
"Kamu harus sekolah," paksaku.
“Katanya mau banggain Mama? Kalau nggak sekolah, cita-cita Dli nggak akan bisa tercapai.”
Meninggalkannya, aku masuk ke dalam kamar Fadli. Membuka lemari kecilnya dan mengambilkan seragam sekolah.
“Ma!” Fadli masuk dan merengek. Anak bujangku tersebut menahan tanganku, lalu memeluk pinggangku.
“Dli bolos aja, ya hari ini? Kalau Dli ke sekolah, siapa yang jagain Mama dari Papa?”
Kepalaku menggeleng. "Nggak, Dli. Kamu harus sekolah. Pokoknya harus, titik.”
Kuurai kungkungan kedua lengan kecilnya dari pinggangku lalu menggosokkan seragam untuknya agar rapi.
Kusuruh Fadli mandi dan bersiap. Dengan helaan napas berat, akhirnya anak bujangku itu menurut.
Tak lama, dia terlihat bersih seusai membersihkan diri. Langsung kuberikan dalaman dan seragamnya yang sudah kusiapkan. Setelah itu, kuajak ke meja makan untuk menyantap sarapan agar perutnya berisi sebelum berangkat ke sekolah.
“Semalam, Mama nggak dijahatin sama Papa ‘kan?” Fadli bertanya khawatir setelah berhenti mengunyah. Setelah beberapa suapan, anak bujangku terlihat tidak berselera.
Aku menghembuskan napas, lalu menggeleng. “Nggak, Dli.”
“Nggak mungkin,” Fadli menyahut ketus. Memang seminim itu rasa percayanya kepada Mas Eli.
“Pasti Papa ngapa-ngapain Mama semalam? Iya ‘kan?” Fadli mendesakku, membuatku tersudut. “Mama bilang aja ke Dli, biar Dli yang jagain Mama dari Papa.”
“Tidak perlu." Kutepuk pelan dahinya yang berpeluh.
“Habiskan makananmu,” suruhku, melirik piringnya yang setengahnya masih utuh.
Fadli terlihat kesal. Sifat lembutnya pudar dan membanting sendok.
Aku sedikit terkejut karena perubahan sikapnya yang mendadak. Bocah kecil itu merenggut tasnya begitu saja lalu meninggalkanku tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Aku hanya menghela napas pasrah, saat pintu apartemen kecil kami dibanting.
Memang begitulah Fadli … mirip ayahnya. Meski, dia lebih lembut dan pengertian, Fadli tetaplah duplikat Mas Eli. Mudah terpancing emosi, pemarah dan sedikit kasar.
Aku menghabiskan sisa makanan di piring Fadli, daripada mubazir lalu membersihkan meja.
Sebelum mandi dan bersiap ke tempat kerja, kudekati jendela dan mengintip jalanan luar.
Fadli berdiri kesal di depan tiang listrik, dari gerak bibirnya, sepertinya anak lelakiku sudah pandai mengumpat.
Kakinya menendangi kaleng kosong dan benda-benda yang terjangkau oleh tubuhnya. Lalu mendongak ke arahku, kami bersitatap sejenak.
Fadli akhirnya membuang muka dan pergi meninggalkan halaman depan menggunakan sepedanya menuju sekolah.
Memastikan Fadli benar-benar berangkat ke sekolah, akhirnya aku lega.
Segera kubersihkan tubuh dan bersiap untuk mencari pekerjaan baru.
Semalam, adalah hari terakhirku menekuni pekerjaan tersebut. Mulai sekarang, karena kondisi fisik dan kesehatan Fadli sudah baik-baik saja, aku bisa mencari pekerjaan halal meski penghasilannya tidak seberapa. Setidaknya cukup untuk biaya makan kami dan sekolah Fadli.
Sepeserpun, kuusahakan tidak akan menggunakan uang pemberian Mas Eli.
Meski lelaki itu tulus untuk itu. Kartu yang diberikannya masih kusimpan, tapi takkan kusentuh, kecuali benar-benar mendesak. Seperti penyakit Fadli mendadak kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit atau semacamnya.
Setelah memasukkan ijazah ke dalam tas yang kusandang, kunaiki sepeda motorku dan melajukannya.
Pekerjaan apapun yang kudapat nanti, akan kuambil. Asal aku tidak perlu merasa bersalah dan berdosa saat menekuninya.
Pelayan kafe, kasir minimarket atau tukang bersih-bersih, semuanya masih terdengar lebih mulia dari apa yang kukerjakan selama ini.
Membayangkannya kembali dan ternyata usahaku selama ini sia-sia, membuatku meringis. Di tengah jalan sambil berkendara aku menangis tanpa suara.
Entah siapa yang salah di sini. Aku atau Mas Eli. Tapi mengingat tangisannya semalam, sepertinya aku yang salah, karena terlalu cepat mengambil tindakan, padahal Mas Eli masih mengingat tanggungjawabnya.
Setelah puas melamar di banyak tempat kerja dan akhirnya ditolak, aku menyerah. Memang tidak akan semudah seperti apa yang kupikirkan.
Setelah singgah ke salahsatu restoran dan makan siang yang tertunda di sore hari, aku berangkat pulang.
Dari kaca spion, aku melirik curiga kendaraan yang mengikutiku dari belakang. Sebuah mobil mahal, dengan plat asing tapi wajah pengemudinya tidak bisa kulihat karena jarak yang tidak memungkinkan.
Aku berusaha untuk tidak perduli. Tapi dugaanku semakin jelas, karena mobil tersebut menuju ke gang yang sama denganku.
Aku berusaha menajamkan penglihatan di kaca spion motorku saat mobil tersebut mendadak berhenti.
M-Mas Eli? Lelaki itu menatapku dari kejauhan dengan raut wajah tak terbaca, lalu memundurkan kendaraannya, membelok mobilnya sembarangan dan pergi meninggalkan gang.
Tubuhku gemetar di atas motor. Untung keseimbangan bisa kujaga dan tidak jatuh.
Apapun alasannya mengikutiku, aku berusaha untuk tidak perduli. Langsung pulang, karena hampir Maghrib.
Ternyata Fadli menungguiku di tangga lantai satu apartemen. Anak bujangku tersebut mendongak saat menyadari kehadiranku, lalu membuang muka. Sepertinya sejak siang menungguiku, seragam SMP-nya yang basah oleh peluh belum diganti.
“Kamu nungguin Mama, sayang?” Aku mendekat dan bertanya haru.
Fadli menggeleng, meski kutahu dia hanya mengelak.
Sejak dulu, Fadli memang selalu menungguiku pulang, entah di dalam apartemen atau di tangga. Akhir-akhir ini aku sering pulang telat, Fadli sampai tidak tidur semalaman hanya karena ingin kucium sebelum tidur.
Kucium pipi basah Fadli lalu membawanya masuk ke dalam apartemen.
Langsung kupanaskan gulai yang tadinya kubeli di restoran untuk menu makan malam, meski Fadli yang menunggu di meja makan terlihat tidak berselera.
“Habisin, ya,” pintaku sambil mendorong piring ke hadapannya.
Fadli hanya bergumam malas, lalu menurut. Dengan lambat, disuapnya makanan yang kusiapkan.
Tatapanku tidak terlepas dari wajah lucu bocah ini, yang masih terlihat kesal.
Kuusap wajahnya, menyisiri rambut halusnya dan sesekali mencuri cium di dahinya, sambil menahan tangis.
Ini caraku membujuknya agar berhenti jengkel dan memaafkanku. Hampir sama dengan caraku membujuk Mas Eli dahulu, jika aku membuat lelaki itu marah.
“Dli capek, pengen tidur.” Setelah menghabiskan isi piringnya, Fadli bangkit berdiri dan berjalan meninggalkanku menuju kamar.
Aku menyusul langkahnya. Masuk ke kamar Fadli tanpa izin, langsung berbaring di sebelahnya yang memejamkan mata rapat-rapat.
“PR udah dikerjain?” Saat aku bertanya Fadli diam.
“Nggak salat dulu sekalian, Dli biar jadi anak yang saleh?”
“Fadli haid.”
Aku hanya tertawa pelan, saat Fadli menarik selimutnya dan menyembunyikan diri di dalamnya.
Fadli benar-benar terlelap.
Entah kenapa aku tidak bisa menyusulnya untuk tidur. Yang kulakukan hanyalah bersih-bersih kamarnya yang cukup berantakan; mulai dari tumpukan pakaiannya yang tidak terlipat di lemari, meja belajarnya dan lantai yang penuh oleh gumpalan kertas.
Entah apa yang dia lakukan sebelumnya saat aku pergi, sehingga kamar yang tadi pagi rapi seperti biasa, malah sangat berantakan seperti ini?
Tuk! Tuk!
Suara gedoran pelan di pintu membuatku bingung. Dari dekat pintu langsung kusahut. "Siapa?”
Tak ada jawaban, membuatku sedikit panik. “Jika tidak ada keperluan, sebaiknya kamu pergi. Aku akan menghubungi polisi.”
Lelaki itu masih menggedor pelan pintu tanpa menjawabi ancamanku.
Kuintip dalangnya dari jendela yang tertutupi tirai, lalu terkejut.
“Mas Eli?” Langsung kubuka kunci pintu dan mendapati lelaki itu berdiri di depan ambang pintu.
Mas Eli tersenyum. Kali ini sebelum masuk dengan santun lelaki itu melepaskan sepatunya dan melangkah melewati pintu.
“Kenapa kamu di sini, Mas?”
Mas Eli melirikku, lalu menyentuh pipiku. “Aku hanya tidak bisa menahan rinduku untuk bertemu denganmu, Aini.”
Tubuhku bergidik saat lelaki itu mencium ujung bahuku, memelukku erat dan menciumiku setelah mendorong pintu apartemen yang tidak sempat kututup.
Tubuhku terhimpit ke sofa, yang semakin ditindih oleh Mas Eli.
Aku melirik cemas, pintu kamar Fadli yang sedikit terbuka. Takut Fadli bangun dan keluar.