#3 Lelaki Yang Tidak Tahu Diri

1268 Words
Wajahnya gelap, tiada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kepala Mas Eli menggeleng pelan, dialihkannya pembicaraan dan mengecup bibirku. “Bersihkanlah dirimu. Kuantar pulang.” Lelaki itu mengusap bahuku lalu mencium sela leherku. Aku bergidik takut lalu mengangguk. Mengambil alih handuk dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dari cermin kamar mandi hotel kuperhatikan tubuhku yang penuh oleh tanda keunguan hasil kerja keras bibirnya. Melihat pemandangan yang telah lama pudar bersama ingatanku membuatku meringis. Kuguyur pelan tubuhku yang sedikit sakit, bermain di bawah shower dan menggosok tubuhku dengan busa sabun. Mas Eli menunggu di luar. Dia mandi lebih awal lama sebelum aku bangun. Ketukan pelannya di pintu kamarku membuatku kaget, lelaki itu memanggil pelan. “Boleh aku masuk?” “Tidak, n-ngapain?” Aku terbatah. “Aku tidak pakai baju.” “Tentu saja di dalam sana kamu tidak pakai baju. Jadi, aku tidak boleh masuk?” “Tidak boleh,” tandasku dengan suara lirih. “Aku pernah melihatnya tapi tidak boleh melihatnya lagi?” “Tentu saja. Di sini terlalu terang, yang barusan lampu sengaja kita matikan.” Lap! Dari luar lelaki itu mematikan lampunya. Aku panik sesaat, lalu gedoran lelaki itu semakin keras. “Buka, Aini.” “B-baiklah.” Aku benar-benar membukanya, di dalam kegelapan membiarkannya masuk. Yang kutahu lelaki itu memelukku, menciumi rambut dan dahiku, tidak melakukan hal lebih yang kutakutkan. “Jika kamu berdiri di bawah sini bersamaku, pakaianmu akan basah.” Shower di atas masih menghamburkan tiap tetes air bening untuk membasahi tubuhku yang dipeluk erat olehnya. Lelaki yang memasukkan kepalanya ke ceruk leherku hanya menggeleng, tidak perduli basah atau kedinginan, lelaki itu seperti lem yang tidak akan melepaskan diri. Helaan napasku terdengar pasrah. Segera kuselesaikan mandi dan mencari handuk untuk membalut tubuh. Sampai aku keluar dari kamar, dia masih lengket dari belakang. “Aku tidak bisa memakai pakaianku jika kamu menempeliku seperti ini.” Kuperingati dia yang akhirnya mengurai pelukan. Lelaki itu membeku di tempat. Ruangan ini masih gelap. Sebelum berpakaian aku tidak akan menyalakannya dan membiarkannya melihat apa yang masih terbuka di ruangan yang terang-benderang. Aku hanya menggunakan insting untuk memungut semua pakaianku yang ada di lantai, ranjang atau kepala ranjang. Memakainya asal-asalan entah rapi atau sebaliknya aku tidak perduli. Lap! Bertepatan dengan aku yang sudah selesai berpakaian lelaki itu menghidupkan kembali pencahayaan di kamar hotel ini. Di dekat tombol yang tadi dirinya tekan Mas Eli berdiri tegap, matanya menyorotku dalam diam, membuatku salah tingkah. “Sudah selesai?” Suaranya bertanya pelan. Aku menganggukkan kepala. “Kalau begitu kuantar pulang. Sekalian aku ingin bertemu dengan Fadli.” “Baiklah ...." Setelah mengangguk perlahan kuhunus wajahnya dengan tatapan tajam. “Tapi kamu sudah berjanji padaku, Mas. Untuk tidak mengatakan apapun kepada Fadli.” “Ya.” Mas Eli mengangguk. “Aku tidak akan mengingkarinya.” Dari kamar hotel kami meninggalkannya menuju parkiran mobil. Aku langsung masuk tanpa dipersilahkan, lelaki itu tidak bicara apa-apa saat menyalakan mobilnya. “Perlu kuberitahu alamat rumahku, Mas?” Mas Eli menggeleng. "Tidak perlu. Aku sudah tahu.” “Jika yang kamu maksud alamat rumah lamaku, maaf aku sudah lama pindah ke apartemen kecil.” “Sudah kubilang aku tahu.” Mas Eli melajukan kendaraannya begitu saja. Sifatnya begitu dingin, masih lebih baik dari sifat angkuhnya yang sebelumnya. Satu hal yang kusuka dari Mas Eli adalah sifat dingin dan diamnya. Bukan karena aku tidak butuh kehangatannya, tapi aku benci mulut tajam dan sifat sombongnya sehingga itulah daripada mendengar kalimat menyakitkannya dan direndahkan oleh sifat mendewanya lebih baik aku didiami dan tidak diperdulikan. Saat mobilnya membelah jalanan malam yang sepi, tubuhnya kuperhatikan dari atas. Seperti biasa, segala yang ada di tubuhnya meneriakkan UANG. Jika kuhitung dari atas sampai bawah, semua barang yang dia pakai, jam tangan, setelan kemeja, cincin pernikahan—eh tunggu, ternyata dia masih memakai cincin itu? Bahkan dua-duanya dia pakai! Cincin untuknya dan cincin milikku yang kutinggalkan di rumahnya sebelum aku pergi. Kenyataan itu membuatku takut dan menelan ludah. Demi mengontrol perasaan kulempar tatapan ke luar jendela mobil, menikmati jalanan yang seperti mengejarku dari luar mobil. “Sampai. Katakan jika ternyata aku salah dan sok tahu.” Mas Eli memberhentikan mobilnya di depan gedung apartemen yang kutempati. Kepalaku mengangguk. "Benar. Terimakasih.” Saat aku turun Mas Eli ikut turun. Lelaki itu mengikutiku dari belakang naik ke gedung itu menuju petakan yang kusewa. Kubuka pintu dan benar saja meskipun sudah malam Fadli menungguiku. Anak bujangku itu berlari menghamburkan diri ke pelukanku dan menciumi kedua pipiku. “Akhirnya Mama pulang.” Aku merunduk, membiarkan Fadli menjijitkan kakinya untuk mencium keningku. “Kok belum tidur, sayang?” Sepertinya Fadli belum menyadari kehadiran papanya. Andai iya, raut ceria di hadapanku pasti langsung redup dan sedih. “Dli nungguin Mama. Nggak bisa tidur sebelum cium Mama.” Sebelum Fadli menarikku masuk, suara bariton Mas Eli berdeham untuk menyadarkannya. Akhirnya Fadli menoleh, lelaki itu terlihat terkejut dan kecewa. Diliriknya wajahku untuk menuntut penjelasan, aku mengucapkan kata maaf tanpa suara. Fadli ingin mengabaikan kehadiran papanya. Tanpa menarikku ikut serta, lelaki kecil itu berlari ke dalam. Aku menghela napas. Kutatap wajah Mas Eli yang terlihat tersinggung sang anak tidak mau menyapanya. “Masuk, Mas.” Sebelum aku pergi Mas Eli menahan pinggangku. Dipeluknya aku dari belakang, lelaki itu menghembuskan napas hangatnya ke leher jenjangku yang bergidik kedinginan. “Fadli tidak akan senang melihat ini, Mas.” “Anakmu aneh. Kenapa tidak senang melihat ayahnya memeluk ibunya?” Mas Eli mencium pipiku. "Lalu mencium ibunya?” Lalu mencium bibirku dan menarik wajahnya menjauh. “Apa salahnya jika mama dan papanya berpelukan dan berciuman?” Aku melepas kedua tangannya lalu masuk duluan. Lelaki itu menyusul tanpa melepaskan sepatu mahalnya, membuatku kesal karena sifat angkuhnya tidak berubah tapi hanya bisa pasrah. Aku mencari Fadli dan memanggil-manggil namanya. Ternyata duplikat Mas Eli itu duduk di sofa, melamun dan terlihat sedih. Aku duduk di sebelahnya, menyentuh bahunya pelan, berusaha membujuknya agar tidak membenciku. “Maafin Mama, ya?” “Kenapa lelaki itu ada di sini?” “Bukan ‘lelaki itu’, sayang. Tapi Papa.” “Ya itu maksudku ….” Fadli terdengar tidak suka saat aku menegurnya. Meskipun dia anak yang lembut, ternyata masih ada beberapa sifat dari ayahnya yang menurun padanya. Keras kepala dan tidak mau dinasehati. Tapi itu masih lebih baik daripada harus mengambil sifat ayahnya yang lain; angkuh, sombong, bermulut tajam, suka menyakiti lewat perkataannya. “Ini kamarmu?” Suara Mas Eli terdengar dari kamarku. Aku membuang napas. Kenapa lelaki itu begitu lancang masuk? Belum dipersilahkan bebas saja sudah berkelana kemana-mana, tanpa sungkan memasuki kamarku yang sempit. Entah ingin mengejek atau menaruh bom di sana. Aku menyusulnya ke sana. Argh, lihatlah lelaki ini ya Tuhan! Dia tanpa merasa bersalah membuka lemariku, mengecek pakaian-pakaianku, mengamati satu-persatu benda-benda di sana bahkan pakaian dalamku tidak luput dari pengamatannya. “Tutup pintunya.” Mas Eli memerintahku begitu saja, membuatku terperangah tidak percaya. Dia bukan Tuan di sini! Aku enggan mematuhinya. Mas Eli berdecak kesal dan menutupnya sendiri bahkan menguncinya! “Mas!" Aku menjerit pelan. Lelaki itu terlihat tidak perduli. “Kamu bilang tidak mau Fadli melihat kita berpelukan dan berciuman ‘kan? Kalau begitu tutup saja pintunya.” Benar saja lelaki itu langsung memaksa untuk memelukku, mendaratkan tubuhku ke punggung pintu dan menciumku sepuas mungkin. Aku harap Fadli tidak curiga apa yang tengah kami lakukan. Anak itu sudah sebenci itu pada ayahnya, jika ibunya ternyata semurah ini depan papa yang sudah menelantarkannya entah bagaimana perasaannya. Mas Eli menyingkirkan tubuhku dari pintu dan keluar. Diliriknya Fadli yang menatapnya tajam lalu berlalu pergi begitu saja. "Aku pulang.” Lelaki itu berderap menuju pintu depan semakin membuatku membelalak tidak percaya. Ya Tuhan, apa-apaan lelaki ini? Jelas sekali mempermainkan kami!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD