#2 Harga Diri Elios Ed

1071 Words
“Bukan begitu caranya merendah kepada seorang suami, Aini ….” Kedua tangannya menahan tubuhku yang baru saja hendak membenamkan wajah ke kakinya. kedua tangan besarnya menangkup kepalaku, menatapku lekat. “Kamu tahu hal apa yang dapat menyenangkan seorang suami?” “Mana aku tahu,” kujawab pelan. “Aku bukan istrimu lagi.” Matanya terlihat tersinggung, tapi seringaiannya muncul. “Harga diri suami terletak pada istrinya. Aku tubuh dan kamu pakaianku. Aku pemilik harga diri dan kamu harga diriku. Wajar jika aku marah dan tersinggung, saat kamu menodai diri sendiri sebagai harga diriku ‘kan?” “Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Kita sudah bercerai.” “Kamu hanya pergi dari rumahku, wahai istri sirih. Angkat kaki dan diusir bukan berarti diceraikan.” “Bagiku sebaliknya, kamu adalah mantan suami. Aku bekas harga dirimu, bekas pakaianmu. Tak usah merasa memilikiku.” “Aku hanya ingin mengajarkanmu ini, wanita. Bagaimana caranya membujuk seorang suami, seorang suami tidak akan senang melihatmu mencium kakinya, tapi dia akan senang jika kamu mencium bibir, tubuh dan wajahnya.” Jempolnya mengusap lembut bibirku yang bergetar ketakutan. Mulutnya berbisik membuatku merinding. "Kuharamkan kakiku atasmu. Merendahlah dengan mencium bibir suamimu.” Aku terpaksa menuruti maunya. Kukecup sejenak bibirnya lalu menjauhkan wajah. Rasanya tidak pantas melakukan ini, tapi jika kupikirkan kembali apa bedanya? Aku sudah melayani banyak lelaki. Mantan suamiku tidak menjadi pengeculian ‘kan? Lelaki itu balas menciumku. Aku pasrah saat tengkukku ditahan, lelaki itu dengan perlahan membawa kepalaku ke ceruk lehernya. Kedua lengannya memelukku erat. Dia memintaku menciumi wajahnya, membawa tanganku ke leher dan bahunya. Aku patuh dan mengiakan, lelaki itu berdesis dan menyembunyikan wajahnya yang merah. Entah siapa yang paling berani di sini. Aku hanya mematuhi perintahnya. Lelaki itu melepaskan kemeja yang ada di tubuhnya, lalu memelukku lebih erat. Kuletakkan tangan ke pipinya, memainkan jempolku untuk mengusap dagunya. Tangisannya terdengar, membuatku ikut menangis. Kenapa lelaki sombong ini terisak? Di dalam dekapan memohon maaf dengan intonasi suara sangat pelan hampir tidak terdengar. “Jika kamu melukai dan menodai dirimu sendiri, kamu sama saja melukai dan menodai harga diriku, wanita.” Bisikannya terdengar berat. “Padahal kupikir kamu akan berusaha keras—” “Aku sudah berusaha keras.” Kujawab dengan lantang, “andai Fadli mati kamu juga akan menyalahkanku ‘kan?” “Saat kamu membawa Fadli ke rumah sakit aku datang untuk membayar pengobatannya, tapi kata Arga, sepupuku, kamu datang padanya dan menjual diri hanya untuk uang lima belas juta?! Andai kamu bimbang satu jam saja setelah dari rumahku, Aini … setidaknya kamu tidak mengotori harga matiku yang kubiarkan kamu bawa dariku dengan tidak memperjelas hubungan kita.” Kecupannya melayang bertubi-tubi di pipiku. Mendengar kalimatnya membuatku menyesali semua keputusan dan pengorbananku demi Fadli. Ya Tuhan, apakah aku salah langkah? Jadi siapa yang bersalah di sini? Aku atau lelaki ini? Aku hanya ketakutan saat itu. Terpaksa menemui Arga dan menawarkan tubuh. Dia menerimanya dan memberikan uang secara cuma-cuma. Andai aku tahu, aku tidak akan kehilangan Fadli meski tidak harus menjual diri. “Ini salahmu!” Kupukul kepalanya. Menangis kencang karena puluhan pasang tangan pernah menjamah tubuh ini. “Ini semua salahmu!” Kutonjok dadanya. Lelaki itu tidak membalas, biasanya bibirnya cuma memaki sekarang tidak henti menciumi wajahku yang bertahun-tahun tidak pernah tersentuh oleh bibirnya. “Kamu ingin menyalahkanku, hah?” Aku menyalahkannya. “Aku hanya berusaha menjaga apa yang kamu titipkan dan kamu biarkan aku bawa pergi. Anak kita. Fadli yang katamu sangat mirip denganmu. Yang katamu dirimu versi mini. Yang katamu, manusia pengganti untukku jika aku merindukanmu.” Aku menubrukkan keningku ke keningnya, menghantamnya beberapa kali agar wajahnya luka dan retak. Meskipun tenagaku tidak akan memadai khayalanku. Aku mencekram kerongkongannya. Tidak sengaja menunjukkan keahlianku melayani lelaki selama menggeluti profesi kotorku selama ini. Lelaki ini tidak menolak untuk terlena. Aku sudah merebahkannya di lantai, lalu tubuhnya bangkit dan menggendongku. “Aku benci lantai,” bisiknya tajam. Lalu membawaku naik ke atas ranjang. Aku menelan ludah. Jadi yang ‘kan terjadi malam haram atau hanyalah malam indah sepasang suami-istri yang pisah ranjang terlalu lama? >><< “Aku membuang seratus juta untuk memesanmu agar kita bisa bicara berdua. Dan benar saja, tawaran yang besar, kamu langsung ada di kamar hotel ini.” Lelaki itu tersenyum sinis. Punggung tegapnya kupandangi, semua yang kulihat terlihat rabun. Lelaki itu memakai kembali pakaiannya, wajahnya datar, rautnya terlihat tertekan, diambilnya sebatang rokok yang dilalap api ujungnya untuk diisap agar bisa meredakan emosi. “Aku hanya mengamati dan melihat semua perkembanganmu selama ini. Kukira kamu tidak akan berhasil membuktikan apa yang kamu katakan. Aku salah, kamu di luar prediksiku. Cara yang kamu pakai juga tidak terduga.” Seringaian liciknya terlihat, meskipun satu tetes air matanya menetes. “Maaf jika terlambat, Aini. Ambillah ini. Untuk Fadli, kamu boleh menggunakannya jika kamu mau sebagai ganti merawat versi kecil Elios Ed.” Lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu keemasan. Aku menghindar dan menggeleng, menolak apa yang dia berikan membuatnya menatapku tajam. “Tak perlu.” “Kamu ingin terus menafkahi Fadli dengan uang haram?” Lelaki itu bertanya sinis. “Buang saja semua uang yang kamu peroleh di dunia gelap.” “Karena Fadli sudah sehat dan tidak perlu biaya besar aku akan mencari pekerjaan lain.” Aku bersikeras ingin melangkah sendiri, membuktikan perkataanku sebelumnya. Sekalipun sebenarnya sebagai ibu dan ‘harga diri’-nya Elios Ed aku sudah gagal. “Simpan saja. Agar saat terdesak kamu tidak perlu mengangkang di depan lelaki asing atau mencari Arga lagi.” Lelaki itu memaksaku untuk menerimanya. Aku terpaksa menerimanya. Tapi sampai benar-benar terdesak, seperti Fadli kambuh atau semacamnya, aku tidak akan memakainya. Mendapati aku yang penurut lelaki itu mengusap lembut kepalaku. Menatapku sayang, membuatku membuang muka tidak tahan. “Segitunya kamu takut dibenci oleh Fadli?” Mas Eli bertanya. Aku hanya meliriknya dan mengangguk. “Apakah kamu hanya takut dibenci oleh Fadli?” Kecupannya di pipiku membuatku bergidik. Rasanya seperti sengatan listrik yang membuatku tidak bisa bergerak dengan benar karena disentrum. “Kamu tidak takut dibenci olehku?” Matanya menatapku selekat mungkin dengan ekpsresi wajah yang susah terbaca tapi air matanya luruh. “Kamu tidak sedih aku membencimu?” “Sedih tak sedih, kamu tetap membenciku ‘kan?” Aku menghindar, seerat mungkin membungkuskan selimut ke tubuhku. Elios Ed terdiam. Lelaki itu tidak mengalihkan tatapannya dari wajahku. “Hubungan kita tidak jelas, Mas.” Aku ingin membahas status pernikahanku dengannya, lelaki itu terlihat masam karena firasatnya akan benar. “Bagaimana jika kamu talak saja aku malam ini, agar semuanya jelas?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD