CHAPTER SEMBILAN

1994 Words
Pagi Revano sama seperti pagi- pagi sebelumnya. Setelah selesai membersihkan diri, ia berpakaian dan pergi ke dapur. Masih berbalut kaos berwarna putih, pria itu sibuk dengan kompor dan bahan makanan yang sudah Lula beli beberapa hari yang lalu. Hari ini, Vano memasak tumis kangkung, sambal cumi lalu menggoreng ayam yang kemarin ia ungkep dan ia taruh di kulkas. Aileen mengucek- ucek matanya sambil berdiri di ambang pintu dapur. Ia menarik napas, mencium wangi ayam goreng yang menguar di udara. Kedua matanya menatap meja makan yang tampak tak seperti bisanya. Biasanya meja makan itu kosong, tak peduli pagi, siang atau malam. Biasanya hanya ada di teko berisi air putih dan gelas di atasnya. Kali ini meja makan itu tampak hidup. Seperti cerita Lula selama beberapa hari terakhir ini. Wanita itu merasa pagi harinya tampak lebih baik karena Vano selalu memasak sarapan. Lula tak lagi kelaparan saat bangun dari tidurnya, dan tak perlu menahan lapar karena harus menunggu makanan yang ia pesan melalui sebuah aplikasi. “Enak banget jadi Lula.” Kata Aileen akhirnya. Ia memutuskan untuk melangkah mendekati Vano yang baru saja mengangkat beberapa potong ayam goreng dari penggorengan dan menaruhnya di saringan minyak untuk meniriskannya. Vano tersenyum lalu membalik badan dan melihat Aileen mendekat dan duduk di kursi tak jauh dari tempatnya. Laki- laki itu menaruh ayam goreng di piring yang baru saja ia ambil dari salah satu lemari yang ada di sana dan menaruhnya di atas meja. Vano membersihkan meja dapur dengan lap basah lalu membuka apronnya dan duduk di depan Aileen. “Kak Lula belum bangun, ya?” tanya laki- laki itu. Ia mengambil dua buah piring. Satu ia letakkan di depannya dan satunya lagi di depan Aileen. “Dia mah ada bom molotov di kamarnya juga belum tentu bangun.” Kata Aileen. Vano tertawa lalu berkata, “semalam Kak Lula bilang, Kak Aileen kalau tidur udah kayak orang pingsan. Sekarang Kak Aileen bilang gitu.” “Jangan heran. Kita udah biasa saling menjelekkan satu sama lain.” Kata Aileen sambil tertawa. Ia menerima sendok nasi yang diulurkan Vano dan mengambil nasi dari tempatnya dan menaruhnya di piringnya secukupnya. Setelah menaruh sayur dan lauk untuk menemani nasi di piringnya, keduanya memulai suapan pertama nyaris bersamaan. “Kak, kata kak Lula mau glamping akhir bulan ini, ya?” tanya Vano di sela- sela makanya. “Iya, lo mau ikut? Ikut aja. Ajak Risa sekalian.” Kata Aileen setelah berhasil mengosongkan isi mulutnya. “Beneran Kak, nggak apa- apa?” sekali lagi Vano bertanya untuk meyakinkan. Ia melihat wanita di depannya mengangguk mantap sambil mengunyah. “Oke deh. Nanti Vano coba tanya dulu sama Risa.” Aileen mengganguk. Keduanya melanjutkan makan hingga piring keduanya habis. Aileen yang pertama kali berdiri dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil piring bekas makan Vano saat piring itu tertahan. “Biar Vano aja yang nyuci.” Kata laki- laki itu. “Ish… udah sini gue aja. Takut banget pecah.” Kata Aileen. Sedikit menarik piring itu hingga pegangan Vano terlepas. “Bukan begitu…” kata Vano. Aileen tertawa lalu membawa piring kotor itu ke bak sink. “Terus apa? Nggak enak?” tanya Aileen, masih terkikik geli. “Jangan kaku. Gue aja nggak tahu malu, udah nginep, bangun- bangun udah disediain makan.” Aileen mencuci piring bekas pakai itu lalu menaruhnya di rak di samping dan meniriskannya. Vano tersenyum. Ia berdiri lalu menaruh piring yang masih berisi sayur dan lauk itu di rak makanan lima susun berwarna putih. Vano pergi ke ruang tamu saat Aileen menuju taman kecil di samping dapur. Wanita itu mengambil satu linting nikotin dari bungkusnya dan menyulut ujungnya dengan bantuan korek api dan menghisap ujung lainnya lalu mengeluarkan asapnya melalui mulutnya. Ia menatap tanaman- tanaman yang ada di taman kecil itu. Lula menanam beberapa bunga juga pohon cabai yang sudah berbuah. Rumputnya tampak segar dan terawat. Vano kembali ke dapur untuk berpamitan saat melihat Aileen tengah asik merok0k. Ia masih berdiri di ambang pintu. Tampak gelisah melihat Aileen sangat menikmati lintingan nikotin itu. “Mau berangkat?” tanya Aileen saat melihat laki- laki itu berdiri diambang pintu. “Eh, iya, Kak.” Jawab Vano. Ia sebenarnya ingin menegur wanita itu untuk tak terlalu sering merokok. Ia tahu seberapa kuat wanita itu merokok dan minum- minuman beralkohol. Sama seperti kakaknya, ia mengkhawatirkan kesehatan wanita itu. Bagaimanapun, ia sudah menganggap wanita itu seperti kakaknya sendiri. “Punya ongkos nggak?” tanya Aileen saat Vano mendekat dan mencium punggung telapak tangannya. “Kayak anak SMP aja, Kak, ditanyain punya ongkos apa nggak.” Kata Vano sambil terkekeh ringan. Aileen tertawa lalu mengambil dompetnya yang ada di atas meja dan membukanya. “Nih, gue kasih uang jajan.” Kata Aileen. Tangannya mengambil lima lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada Vano yang langsung menolaknya. “Nggak apa- apa ini ambil aja.” Aileen menarik tangan Vano dan menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di telapak tangannya. “Nggak mau, ah, Kak.” Tolak laki- laki itu. Jelas ia merasa tak enak. Nominal yang diberikan wanita itu bukan nominal yang sedikit. Dan wanita itu memberikannya secara cuma- cuma. “Udah ambil aja. Duit gue masih banyak di rumah, belum gue gunting- guntingin.” Jawab wanita itu sambil tertawa. “ambil aja.” Wanita itu melotot pada Vano yang masih terdiam di depannya. “Yaudah. Makasih, ya, Kak.” Kata Vano akhirnya. Ia melihat wanita itu mengangguk lalu kembali menghisap rok0knya. “Oia, Van.” Panggil Aileen kembali saat Vano hampir saja menghilang dari pandangannya. Laki- laki itu berhenti dan kembali menatap wanita itu. “Di lemari kamar lo kan ada baju- baju gue. Nanti gue masuk ke kamar lo nggak apa- apa, ya. Kalau udah senggang nanti gue beresin dan balikin lagi ke apartemen.” Kata wanita itu. Sebelum Vano tinggal di rumah itu, Aileen memang cukup sering menempati kamar itu. Karena sering menginap, Aileen mengisi salah satu lemari di kamar itu dengan baju- bajunya. “Iya, Kak. Bajunya biarin aja di lemari. Vano juga cuma pakai satu lemari, kok.” Kata Vano. Setelah melihat wanita itu mengangguk. Ia kembali berjalan dan keluar dari rumah. *** Malik keluar kamarnya sudah dalam keadaan rapi. Seperti biasa, sepotong kemeja pendek dan celana bahan berwarna hitam melekat di tubuhnya. Ia pergi menuju dapur dan melihat ibunya sudah ada di meja makan. Wanita itu tengah mengaduk cangkir berisi teh dan tersenyum saat anak semata wayangnya masuk ke dapur dan mendekatinya. “Kamu tuh nggak bosen apa pakai kemeja sama celana bahan terus?” tanya Indah saat anak laki- lakinya duduk di depannya. “kamu tuh kan bukan pekerja kantoran. Kenapa nggak pakai baju santai aja, sih? Stlye kamu kelihatan tua, tahu, nggak.” Indah mengomentari. Malik tertawa ringan. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar ibunya mengomentari gaya berpaiannya yang menurutnya terlalu rapi baginya. Ibunya selalu bilang bahwa Malik sesekali harus berpakaian santai agar tampak muda. “Malik suka begini.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Malik, dan selalu itu. Indah mendorong cangkir yang baru saja ia aduk ke hadapan Malik yang kini tengah mennyendokkan nasi ke piring bersamaan dengan sayur dan lauk yang baru saja ia masak. “Ibu mau ke mana hari ini?” tanya Malik. Hal yang selalu ia tanyakan setiap pagi. Ia tahu bahwa ibunya kerap merasa bosan menghabiskan waktu di rumah seorang diri. Malik sudah sering meminta ibunya untuk pergi berjalan- jalan agar tak merasa bosan. Namun ibunya selalu bilang bahwa tak enak jalan- jalan sendiri. Malik sadar bahwa ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak memiliki banyak waktu untuk menemani ibunya berjalan- jalan. “Ibu mau ikut Malik ke kantor?” tanya laki- laki itu pada ibunya saat ibunya tak juga menjawab pertanyaannya. “Nggak, ah. Ibu tambah bosan yang ada kalau nemenin kamu kerja.” Kata Indah. “Ibu mau bikin kue hari ini. Ada pesanan dari Bu Mariam buat acara pengajian nanti malam.” Jawab Indah. Malik mengangguk. Ia tahu bahwa itu satu- satunya yang bisa ibunya lakukan untuk memecah kebosanan. Ibunya kerap menerima pesanan kue dari tetangga sekitaran komplek yang akan melangsungkan acara. “Ada bahan yang perlu dibeli? Biar Malik anterin Ibu ke toko kue dulu.” Kata laki- laki itu. “Nggak ada. Semua bahannya masih lengkap.” Jawab wanita itu. Ia melihat anak laki- lakinya makan dengan lahap hingga isi piring laki- laki itu kosong. Malik menyesap teh tawarnya lalu berpamitan pada ibunya. Ia keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju Daily. *** Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi saat Lula bangun dari tidurnya. Matanya langsung menangkap cahaya dari celah tirai yang terbuka sesaat setelah membuka kedua matanya. Ia melirik ke sisi sebelahnya yang kosong. Ia menatap jam dinding dan menyadari Aileen pasti sudah berada di kantornya. Ia bangun dari ranjang dan menyesap air dalam gelas yang ada di atas nakas lalu mendekati jendela dan membuka tirai. Ia mengenyit saat merasakan sinar matahari sudah sangat terik padahal belum mencapai tengah hari. Ia kembali menutup tirainya lalu pergi keluar kamar. Langkah kaki membawanya ke dapur. Meja makan itu sepi, namun ia tahu bahwa adiknya meninggalkan makanan di dalam rak makanan susun yang ada di tengah meja makan. Ia mendekati majic jar dan mengambil nasi lalu menaruhnya di atas piring yang baru ia ambil dari rak piring. Ia membawa piringnya yang sudah berisi nasi ke meja makan lalu mengeluarkan sayur dan lauk yang ada dalam rak makanan dan menikmati sarapannya seorang diri. Lula memindai sekeliling. Suasana sepi menyelimutinya. Kehadiran Vano tak merubah paginya selain kini selalu ada makanan yang langsung bisa ia makan saat bangun tidur. Suasana meja makan itu tetap sepi seperti hari- hari sebelum kehadiran adiknya. Seharusnya ia meluangkan sedikit waktunya untuk sarapan bersama adiknya. Hal yang jarang sekali terjadi karena ia kerap bangun siang karena tidur terlalu malam. Ia tahu bahwa ia telah kehilangan banyak waktu dengan adiknya saat dirinya memilih tinggal di Jakarta daripada bersama laki- laki itu dan kedua orangtuanya. Ia harusnya banyak menghabiskan banyak waktu dengan adiknya selagi punya kesempatan. Benar kata adiknya, ia mulai harus memperbaiki pola tidurnya. Ia berpikir mungkin kebersamaan mereka tak akan lama lagi. Jika suatu saat laki- laki itu meminta izin untuk menikahi pacarnya, ia jelas tak akan melarang meski ia masih sendiri. Ia sebenarnya tak pernah keberatan jika kelak laki- laki itu melangkahinya. Ia tidak begitu egois hingga membiarkan laki- laki itu menunggunya saat laki- laki itu sudah yakin dan mapan. Hal itu bisa tiba- tiba terjadi. Mungkin beberapa bulan lagi, atau beberapa minggu lagi. Ia tahu bagaimana Vano mencintai Risa. Laki- laki itu tak peduli jika ia kurang menyukai gadis itu. Baginya, gadis itu sempurna di matanya. Laki- laki itu selalu berpikir bahwa ia yang tak mengenal Risa dengan baik sehingga memiliki pendapat kurang baik mengenai gadis itu. Sebelumnya, ia tak pernah mencampuri urusan percintaan adiknya. Ia selalu menganggap bahwa jodoh itu cerminan diri. Ia percaya laki- laki sebaik Vano kelak akan mendapatkan gadis yang hebat sebagai pasangannya. Ia tidak menganggap Risa gadis yang buruk. Seperti kata Aileen, gadis itu cantik. Dengan kulit putih, mata bulat dan senyum yang bisa membuat semua orang menatapnya dua kali saat berpapasan. Wajar jika adiknya tergila- gila pada gadis itu. Mungkin Vano benar, mungkin ia belum mengenal gadis itu lebih dekat. Atau mungkin Aileen juga benar, semua kejelekan itu seharusnya tak membuatnya resah jika adiknya bisa menerimanya. Umur adiknya sudah menginjak dua puluh lima tahun. Umur dewasa dan matang. Ia seharusnya tak ikut campur dengan masalah percintaannya dan tak perlu khawatir. Ia yakin adiknya bisa mengambil keputusan yang tepat nantinya. Ia tersenyum. Adiknya sudah dua puluh lima tahun dan ia masih merasa bahwa laki- laki itu adik kecilnya yang setiap hari ia gandeng dan ajak main bersama teman- temannya. Time flies so fast. Rasanya baru kemarin ia mendengar rengekan adiknya saat meminta uang padanya. Kini laki- laki itu sudah mapan secara finansial dan jelas terlihat lebih dewasa darinya. Revano punya tujuan jelas di hidupnya, tak seperti dirinya yang hanya berpikir akan ke mana ia esok, atau apa yang ingin ia makan esok hari. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD