CHAPTER DELAPAN

1900 Words
            Malik duduk di depan meja di kamarnya. Lampu kecil dengan tiang bewarna putih itu menyala. Memberikan penerangn lebih pada Malik yang sedang fokus pada laptopnya. Kamar itu luas. Dengan cat dinding berwarna abu- abu tanpa cela. Kasur ukuran king size itu di lapisi oleh seprei berwarna putih lalu selimut berwarna abu- abu dengan garis- garis putih. Tak jauh dari ranjang, ada lemari yang tingginya hampir menyentuh langit- langit kamar. Di arah bersebarangan, sebuah rak buku terlihat penuh oleh berbagai macam buku koleksinya.             Di samping ranjang, ada nakas dengan lampu tidur di atasnya. Jam dinding vintage menempel di salah satu bagian dinding di kamar itu. Ada sofa yang letaknya menempel pada dinding di depan jendela kamar. Semua yang ada di kamar itu tertata rapi. Kamar itu sangat rapi untuk ukuran seorang laki- laki yang selalu membereskan kamarnya seorang diri.              Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam saat laki- laki itu menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ia menakan ikon disket sebelum menekan tombol shut down. Ia menunggu sebentar hingga layar komputer jinjing itu mati lalu menutupnya dan menaruhnya di sudut meja kerjanya.             Ia mengambil ponselnya di atas meja lalu teringat sesuatu. Ia berdiri dan mengambil dompet dari tas yang ia taruh di rak. Ia membawa dompet itu kembali ke meja kerja dan mengeluarkan dua buah kartu nama yang ada di dalamnya, kartu nama yang diberikan oleh Aileen.             Ia membaca dua buah nama dalam dua kartu mana itu. Aileen Mahika Radea Widjaja. CEO AMRA Organizer. Dalam kartu nama itu terdapat informasi umum seperti alamat kantor, nomor telepon dan alamat email. Kartu nama warna putih dengan tinta emas dan tulisan timbul pada nama perusahan itu tampak mewah.             Malik menaruh kartu nama itu di atas meja lalu menatap kartu nama satunya yang terlihat lebih sederhana. Greesa Design. Lula Aruna Greesa. Grapich designer. Ada alamat email dan nomor ponsel wanita itu di sana. Kartu yang ada di tangannya memang tak semewah kartu milik Aileen, namun desain kartu mana itu tampak kratif dengan warna dominan hitam dan biru muda.             Ia membaca nama itu pelan- pelan. Lula Aruna Greesa. Nama yang indah dan cantik, seperti pemiliknya. Ia mengambil benda pipih di dekatnya dengan satu tangannya lalu membuka menu pencarian dan mengetikkan nama wanita itu.             Tak lama, muncul semua halaman yang berhubungan dengan nama itu. Ia membuka halaman paling partama. Blog wanita itu. Dengan desain menarik menampilkan semua portofolio wanita itu. Semua desain yang pernah ia buat ditampilkan di sana. Kolom komentarnya pun dibanjiri oleh komentar orang- orang yang puas akan hasil kerja wanita itu.             Pesonal branding wanita itu sangat baik. Ia tahu saat melihat sendiri bagaimana cara kerja wanita itu. Wanita itu memiliki fokus yang sangat bagus dan tak mudah terdistraksi. Wanita itu mungkin bisa bekerja dalam tempat seramai apapun. Keluar dari mesin pencarian, ia menekan ikon i********: di layar dan langsung mencari nama gadis itu di kolom pencarian.             Ia membuka pencarian teratas. Foto profilnya adalah sunset yang tampak indah. Dalam keterangan tertulis informasi grapich designer, lalu sisipan akun Gree_Design yang ia tahu isinya tak jauh beda dengan blog yang baru saja ia buka.              Isi feed i********: wanita itu tak banyak potret pribadi. Beberapa postingannya didomnasi oleh foto- foto tempat, minuman dan makanan yang terlihat begitu astethic. Malik memukan berapa potret wanita itu saat tangannya terus menscroll ke bawah. Aileen tampak ada di beberapa postingan. Ada beberapa postingan wanita itu yang juga bersama seorang laki- laki.             Pacarnya kah? Pikir Malik. Ia tak mau langusng mengambil kesimpulan. Ia melihat tanggal postingan itu di posting. Satu tahun yang lalu dan tak ada yang terbaru. Mungkin saja mereka sudah putus, pikirnya lagi.             Suara pintu yang diketuk pelan membuat fokus Malik memecah. Ia mengarahkan pandangannya pada pintu kamarnya yang perlahan terbuka pelan. Wajah ibunya muncul dibaliknya.             “Kamu belum tidur?” wanita berdaster batik dengan dominan warna merah itu berjalan masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang. Rambutnya yang panjang di gulung ke atas dengan asal. Sebelah tanganya terangkat untuk menutup mulutnya saat ia menguap.             “Belum, Bu. Ibu kebangun?” tanya Malik. Saat ia kembali ke rumah tadi, ia menengok ke kamar ibunya dan melihat wanita itu sudah pulas di atas ranjang empuknya. Malik tak ingin menganggu sehingga ia langsung masuk ke kamarnya.             “Iya, tadi ibu tidurnya ke sorean.” Jawabnya. “kamu udah makan?” tanyanya. Ia melihat anak semata wayangnya mengangguk pelan.             “Kamu akhir pekan ini ada acara nggak?” Indah, ibu Malik bertanya lagi.             “Malik lagi agak sibuk akhir- akhir ini, Bu.” Laki- laki itu berkata jujur. “memangnya kenapa?”             “Ibu mau kenalin sama anaknya bu Husna.” Indah memberitahu anaknya maksud perkataannya. Ia sadar bawah anaknya terlalu fokus bekerja. Laki- laki itu nyaris tak pernah terlihat dekat dengan perempuan. Ia ingin laki- laki itu sedikit menikmati hidupnya. Jika punya satu teman wanita yang bisa dekat dengannya, ia pikir hidup anaknya akan lebih berwarna. Laki- laki itu selalu berangkat pagi- pagi dan pulang larut malam. Ia ingin anaknya tak lupa untuk bersenang- senang dan memanjakan diri. Ia tak ingin masa muda anaknya terampas oleh pekerjaannya yang selalu mengambil fokusnya sepenuhnya. Ia tentu tak ingin meminta anaknya buru- buru menikah. Ia tidak akan membebani hal itu. Ia hanya ingin anaknya mulai mengenal wanita dengan baik.             Malik tampak berpikir. Bingung mencari kata- kata yang tepat. Ia tahu ia tak suka dikenalkan oleh anak- anak teman ibunya. Namun ia tak juga ingin menyakiti ibunya. Ia mengigit bibir bawahnya hingga akhirnya mengangguk pelan.             “Cuma kenalan, kan, Bu?” tanyanya seraya meyakinkan. Ia tidak ingin setuju jika ibunya mengharapkan lebih. Jika ibunya meminta ia untuk cepat- cepat serius dengan perempuan, ia akan langsung menolak.             Ia tak bisa mengindahkan rasa penasarannya dari sosok Lula. Wanita yang entah kenapa langsung menarik perhatiannya sejak melihatnya pertama kali. Sosok Aileen dan Lula memang sudah mencuri perhatian karyawan dan orang- orang yang ada di Daily.               Aileen selalu datang dengan mobil mewahnya yang beberapa limited edition dan hanya dimiliki beberapa orang di Indonesia. Lula selalu ada di sampingnya. Keduanya nyaris tak terpisahkan. Stlye keduanya tak kalah menarik. Mereka bisa terlihat sangat fashionable di satu kesempatan, namun begitu serampangan di kesempatan lain. Keramahan keduanya juga membuat keduanya cepat dikenal oleh orang- orang yang sering berada di Daily.   ***               Lampu di ruangan itu menyala, begitu juga layar televisi. Sebuah serial barat berputar. Beberapa bungkus bekas cemilan berserak di atas meja, juga minuman- minuman kaleng.             Lula duduk di lantai, menatap fokus pada layar komputernya. Tangannya memegang pen dan mengerakkannya di atas drawing pad. Wanita itu tampak fokus meski suara dialog dari televisi terdengar sangat keras.             Di belakangnya, di atas sofa, Vano dan Aileen tampak menatap fokus yang sama. Layar televisi. Keduanya sesekali tertawa. Sebelah tangan Vano memegang snack. Dengan sebelah tangan lainnya, ia mengambil snack dan memasukkannya ke dalam mulut. Tangan Aileen terulur untuk mengambil snack di tangan laki- laki di sebelahnya. Keduanya duduk berdekatan hingga bahu dan lengan mereka sesekali bersentuhan.             Jam dinding di ruangan itu terus berputar hingga akhirnya menunjukkan pukul setengah satu malam. Vano melirik ke sebelahnya dan melihat kedua mata Aileen sudah terpejam. Ia menarik tengkuk wanita itu hingga besandar pada bahunya. Tatapannya lalu beralih pada kakaknya yang masih sibuk dengan gambar di komputer jinjingnya. Ia kembali mengarahkan pandanganya pada layar di depannya. Memutuskan untuk menyelesaikan satu episode lagi baru beranjak tidur.             Lula menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi- tinggi. Merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Ia menoleh ke belakang dan melihat Aileen sudah tertidur pulas di bahu adiknya.             “Kok lo biarin Aileen tidur, sih?” katanya pada Vano yang menatapnya dengan tatapan bingung.             “Lah, masa orang tidur di larang- larang.” Ucap Vano.             “Lo tahu sendiri dia kalau tidur udah kayak orang pingsan.” Kata Lula. “yaudah lo gotong ke kamar gue sana.”             “Serius susah dibanguninnya?” tanya Vano.             “Iya, dia kalau baru tidur susah dibanguninnya, daripada capek bangunin dia, mending langsung lo gendong aja ke kamar.” Perintah Lula yang langsung membuat Vano kebingungan.             “Nggak enak gue, Kak. Kalau dia tahu gue yang gotong, gimana? Nanti dia marah lagi.” Kata Vano yang langsung membuata Lula terkikik geli.             “Bagi dia, lo tuh cuma anak kecil. Nggak usah mikir yang macam- macam. Udah buruan angkat ke kamar.” Perintah Lula sambil membereskan peralatannya dan menaruhnya di dalam laci di samping sofa.             Vano menurut. Ia menatap Aileen yang sudah mengganti pekaiannya dengan sepotong kaos dan celana pendek. Perlahan ia mengembalikan kepala Aileen ke sandaran sofa lalu menaruh kedua tangannya di leher dan belakang lutut wanita itu. Tangannya bersentuhan dengan kulit wanita itu yang halus.             Perlahan ia mengangkat tubuh itu dan membawanya ke kamar kakaknya. Masih dengan gerakan pelan, ia merebahkan sosok itu di atas ranjang. Ia menatap sosok Aileen yang pulas lalu tersenyum. Ia menarik selimut hingga menutupi sebgaian tubuh wanita itu lalu keluar dari kamar itu.             Vano keluar dari kamar dan melihat kakaknya tak ada di ruang tamu. Ia melangkan ke dapur dan melihat pintu dapur yang mengarah ke taman kecil di rumah itu terbuka. Ia mendekat dan melihat kakaknya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Dengan satu lintingan nikotin di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.             Ia berdecak, lalu mendekat dan menarik lintingan nikotin yang terselip di bibir Lula.             “Usil, deh.” Keluh Lula. Ia mendesis saat melihat laki- laki itu mematikan rok0knya dengan menekan ujung yang menyala ke dalam asbak di atas meja.             “Bukannya gue udah suruh berhenti, ya.” Kata Vano sambil duduk di samping kakaknya.             “Udah ngurangin kok gue. Tenang aja.” Jawabnya. Selama beberapa detik keduanya terdiam. Fokus menghirup udara dingin dan suasana tenang malam itu. Angin malam itu menyapu kulit keduanya.             “Suntuk, nih, gue. Butuh liburan.” Kata Lula. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan memeluk lututnya.             “Liburan, lah, jangan nyari duit mulu.” Kata Vano.             “Akhir bulan ini. Nunggu Aileen agak senggang dulu.” Jawab wanita itu.             “Ke mana?” tanya Vano dengan nada penasaran.             “Glamping di Bogor doang. Aileen lagi banyak event jadi belum bisa ambil libur lama.” Jawab Lula.             “Ikut dong.” Kata Vano.             “Ish. Kalau lo ikut, pasti Risa ikut juga kan?” tanya Lula yang langsung membuat Vano meringis sambil mengangguk. “Nggak apa- apa, sih, Kak. Kali aja kakak bisa lebih kenal sama Risa. Kakak nggak suka sama Risa karena belum kenal dia aja.” Jelas Vano yang langsung membuat Lula mengerucutkan bibirnya kesal.             “Risa senang banget kemarin pas ketemu kakak lagi. Dia pasti excited banget kalau tahu kita mau liburan bareng.” Kata Vano lgi. Mencoba merayu kakaknya agar diizinkan ikut pergi dengan mereka berdua.             “Bilang sama Aileen, deh. Kalau dia oke, gue juga oke.” Kata wanita itu akhirnya. Vano tersenyum senang. Ia tahu bahwa Aileen tak akan keberatan jika ia dan Risa ikut. Wanita itu pasti lebih senang karena liburan mereka akan ramai.             “Yaudah ayo tidur.” ajak Vano. Ia sudah berdiri dan berjalan hingga sebelah tangannya tertahan di depan Lula.             “Gendong.” Kata Lula. Mirip rengekan anak kecil pada orangtuanya.             Vano mendesis lalu berjongkok di depan wanita itu. Lula tersenyum lalu naik ke punggung adiknya. Vano berdiri dan kembali masuk. Ia mengunci pintu dapur lalu membawa Lula dalam gendongannya ke dalam kamar wanita itu.             Lula langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut sesaat setelah adiknya mengempaskan tubuhnya di atas ranjang.             “Vano menyalakan lampu tidur di atas nakas lalu mematikan lampu utama sebelum keluar dari kamar.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD