Aileen dan Vano pergi ke salah satu restoran yang berada tak jauh dari kantor Vano. Setelah memarkirkan mobil, keduanya beriringan masuk ke restoran dan langsung di sambut oleh pramusaji berseragam gelap. Pelayan perempuan itu mengantar keduanya ke meja kosong yang tersedia dan menyerahkan dua buah buku menu pada keduanya dan membiarkan keduanya memilih- milih.
Selama beberapa saat, Vano dan Aileen terlihat membolak balik menu hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada tenderloin steak dengan pilihan daging dari US. Aileen memilih kematangan medium well sedangkan Vano well done. Minumannya, Aileen memilih lychee tea sedangkan laki- laki di depannya menjatuhkan pilihan pada lemon tea. Setelah mencatat pesanan keduanya, pelayan perempuan itu mengulang apa yang baru saja ia tulis dan setelah memastikan semuanya sesuai, ia meminta keduanya menunggu sementara ia pergi menjauhi meja.
“Hari ini nggak ketemu Kak Lula?” Vano membuka pembicaraan. Ia tahu bahwa pekerjaan lepas Lula membuatnya bisa bekerja di mana saja. Termasuk di kantor Aileen. Di hari- hari tertentu keduanya bisa terlihat menghabiskan banyak waktu bersama- sama. Lula akan melakukan pekerjaan di ruangan Aileen. Ia bisa fokus pada gambar- gambarnya sementara Aileen sibuk dengan berkas- berkas yang harus ia cek. Setelah bosan, jika Aileen tak punya hal yang penting lagi di kantor, keduanya akan pergi berjalan- jalan. Nongkrong di kafe selama berjam- jam hingga akhirnya pulang saat larut malam.
“Nggak. Dia habis begadang semalam, kan? Gue sengaja gak ke rumah. Takut ganggu waktunya.” Kata Aileen. “nanti sore kita janjian, sih, mau ke supermarket.” Lanjutnya. Ia tahu saat melihat last sent kontak wanita itu tadi pagi.
Pembicaraan mereka terpecah oleh dering ponsel yang terdengar. Vano merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih dari sana. Ia menatap Aileen dan mengisyaratkan untuk mengangkat panggilan itu. Aileen mengangguk lalu memilih mengambil ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk.
Melepas pandangan dari ponselnya, ia memidai sekeliling. Restoran itu tampak sepi. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Restoran itu memang lebih ramai saat menjelang malam. Restoran steak dengan rasa yang tak pernah mengecewakan. Selain restoran, tempat itu menyediakan ruangan untuk meeting dan acara- acara khusus lainnya.
Minuman pesanan keduanya disajikan terlebih dahulu. Aileen menyesap minumannya pelan lalu menatap Vano yang masih dalam panggilan. Tak lama seorang pelayan kembali mendekati meja keduanya dan menyajikan pesanan keduanya sekaligus.
Setelah mengucapkan terima kasih, pelayan itu menjauhi meja. Vano memutus panggilan dan mengembalikan fokusnya pada Aileen dan makanan pesanannya.
“Risa?” tanya Aileen. Seharusnya ia tak bertanya karena dari raut wajah laki- laki itu saat menerima panggilan, ia sudah tahu kalau itu dari pacar laki- laki itu.
“Iya. Dia mendadak mau ngajak makan siang bareng.” Kata Vano. Ia mulai mengambil pisau dan garpunya dan memotong steaknya sebelum memasukannya ke dalam mulut.
“Suruh nyusul ke sini aja.” Kata Aileen. Menawarkan karena merasa tidak enak.
“Nggak mau dia. Vano udah janji nanti mau nemenin dia dinner aja.” Kata laki- laki itu.
“So sweet banget, sih, kalian berdua. Langgeng- langgeng, ya.” Kata Aileen. “nanti kalau nikah gue kasih diskon pakai EO gue.” Kata wanita itu lagi yang langsung membuat Vano tertawa.
“Masih lama, Kak. Mama mana bolehin ngelangkahin Kak Lula.” Jelas Vano.
“Gitu, ya. Kalau gitu kamu kenalin aja Lula sama teman- teman kamu, siapa tahu ada yang nyangkut.” Aileen memberi solusi jika laki- laki itu ingin segera menikah.
“Kak Lula mana mau. Bisa mencak- mencak dia. Yang ada Vano nanti yang diusir dari rumah.” Jawaban Vano tak urung membuat Aileen tertawa. Ia masih mengunyah dagingnya dan mendengarkan cerita laki- laki di depanya mengenai betapa galaknya kakanya.
Aileen tak heran. Ia sudah tahu bagaimana watak sahabatnya itu. Banyak menghabiskan waktu dengan wanita itu membuat Aileen cukup tahu bagaimana Lula luar dalam. Mereka terlibat obrolan menarik sambil menghabiskan steak dalam plate masing- masing.
“By the way, Mama sama papa gimana kabarnya? Sehat?” tanya Aileen. Ia baru ingat belum sempat menanyakan kabar kedua orangtua laki- laki itu sejak melihat kedatangannya kemarin.
“Alhamdulillah sehat.” Jawab Vano. “oia, Mama titip salam buat Kak Aileen pas Vano mau berangkat.” Lanjutnya.
Sebaik ia mengenal Lula dan Revano, Aileen juga sudah cukup dekat dengan orangtua keduanya. Bersahabat sejak kuliah dengan Lula membuatnya cukup mengenal keluarga sahabatnya. Ibu Lula adalah seorang dosen di salah satu universitas negeri di kota tempat tinggalnya sementara ayahnya adalah seorang pegawai negeri sipil. Setiap Lula pulang untuk mengunjungi kedua orangtuanya, Aileen hampir dipastikan selalu ikut. Ia bisa menghabiskan waktu berhari- hari di sana hingga akhirnya cukup mengenal keluarga wanita itu dan memiliki hubungan yang erat.
Setelah menyelesaikan makan dan gelas keduanya hampis habis, sebelah tangan Aileen terangkat untuk memanggil pelayan dan meminta bon. Tak lama seorang pelayan perempuan mendekatinya dan menyerahkan bill atas pesanannya.
Vano sudah mengambil dompetnya dari dalam saku celananya saat sebelah tangan Aileen terangkat dan memberi isyarat agar Vano menahan gerakannya. “Uangnya buat dinner sama Risa aja. It is on me.” Kata wanita itu sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan memberikannya pada pelayan beserta billnya.
Vano tak menolak. Ia kembali memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya. Ia tahu bagaimana murah hatinya Aileen. Tak hanya dengannya, saat makan bersama Lula, Aileen akan selalu membayar untuk keduanya dan tak pernah bisa dibantah. Wanita itu tak pernah sayang mengeluarkan uang banyak untuk sahabat- sahabatnya. Mungkin karena wanita itu sudah punya terlalu banyak uang dan bingung harus ia ke manakan uang- uang itu.
“Makasih, ya, Kak.” Kata Vano saat pelayan menjauh. “nggak ngebayangin enaknya jadi pacara Kak Aileen.” Kata Vano sambil tertawa.
“Gue nyari pacar juga milih- milih, kali. Kalau modal dengkul doang gue nggak mau lah.” Kata wanita itu. Ikut tertawa bersama laki- laki di depannya.
***
Lula turun dari ojek yang ia tumpangi. Ia merogoh saku untuk mengambil ongkos yang sudah ia persiapkan dan menyerahkannya pada supir transportasi online itu setelah sebelumnya mengembalikan helmnya. Laki- laki itu mengucapkan terima kasih saat Lula menyuruh laki- laki itu menyimpan kembaliannya. Lula tersenyum kecil lalu berjalan mendekati pintu besar mall yang berada tak jauh dari komplek perumahannya.
Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mengirim pesan pada Aileen bahwa ia sudah sampai di mall dan akan langsung menuju supermarket. Setelah memastikan pesan itu terkirim, ia kembali menaruh ponsel di tasnya lalu berjalan mendekati eskalator menuju lantai bawah.
Mall ramai sore itu, mungkin karena saat itu akhir bulan, orang- orang kantoran yang sudah gajian menghabiskan banyak uangnya di tempat itu. Matanya menatap kakinya yang berbalut sneakers berwarna putih. Jeans hitam panjangnya ia padukan dengan sweater abu- abu. Ia menggulung rambut panjangnya, anak- anak rambutnya telihat menjuntai di berbagai sisi.
Ia malewati akses pintu masuk supermarket dan langsung mendekati troli dan menariknya satu hingga terpisah dengan deretan troli lainnya. Ia mendorong troli lalu mulai berkeliling. Ia mulai dari rak beras yang berada di sebelah kiri. Ia menatap merk- merk beras dalam rak itu lalu memilih satu yang biasa ia beli dan memasukkannya ke dalam troli. Ia melanjutkan perjalanan ke rak minuman. Ia mengambil dua kotak teh, juga kopi dan satu kemasan gula pasir. Ia berbelok menuju rak mie instan dan mengambil tiga rasa mie instan masing- masing lima. Ia melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di tempat sayuran. Ia menatap rak pendingin itu dan memilah sayuran apa saja yang perlu ia beli. Sebelah tangannya akhirnya mengambil beberapa sayuran hijau lalu wortel dan sebagainya. Setelah merasa bahwa sayuran itu bisa memenuhi isi kulkasnya, ia berjalan ke rak buah dan memilih beberapa buah apel, memasukkannya ke dalam plastik. Juga buah jambu kristal dan pear, lalu menimbangnya dan manaruhnya di troli. Di lantai itu, ia mengakhiri perjalanan di area yang menjual daging. Ia memilih udang, beberapa potong ayam, daging sapi juga cumi dan ikan.
Ia hendak mencuci tangan di westafel yang ada di sana saat tiba- tiba tangannya bersentuhan dengan seseorang yang juga hendak mencuci tangan. Tangan keduanya berada di bawah keran air secara bersamaan.
Lula menoleh dan melihat laki- laki itu tersenyum ramah padanya. Matanya memicing, ia menatap laki- laki itu baik- baik dan menyadari bahwa laki- laki itu adalah laki- laki yang ia temui di coworking spaces beberapa hari yang lalu.
“Silahkan duluan.” Suara itu membuat Lula kembali tersadar. Ia kembali mengulurkan tangannya dan memutar kepala keran hingga air keluar dan membasuh tangannya. Ia menekan dispenser berisi sabun dan memggosok- gosok kedua tangannya hingga berbusa dan kembali membilasnya.
Dalam rentang waktu itu, laki- laki itu tak melepas pandangannya dari wanita di depannya. Ia melihat wanita itu dari samping. Anak- anak rambut jatuh mengenai telinganya. Kulit wajahnya yang kuning langsat. Bulu mata lentik yang membingkai mata bulatnya. Hidungnya tak terlalu mancung, namun kecil dan terlihat pas. Pandangan laki- laki itu lalu jatuh ke bibirnya saat wanita itu selesai mencuci tangannya. Wanita itu menoleh dan tersenyum kecil padanya sebelum berbalik dan kembali mendorong trolinya yang hampir penuh dan bergerak menjauhinya. Ia masih menatap bagian belakang tubuh wanita itu hingga menghilang dari padangannya.
Lula menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya berpikir, “gue harusnya bilang makasih untuk kopinya yang kemarin.” Tiba- tiba ia berdecak sendiri. Menyesali karena tak mengucap sepatah katapun padahal laki- laki itu sudah tersenyum ramah padanya.
Ia mendekati elevator dan memilih yang ke arah turun. Di ujung elevator ia melihat Aileen yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Aileen mengurungkan niatnya untuk menaiki elevator itu saat melihat sahabatnya sudah berada di elevator yang menujunya.
“Gue WA nggak di balas- balas.” Keluh wanita itu saat Lula dan trolinya sampai di depannya.
“Oya? Sorry nggak tahu.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Lula. Ia kembali berjalan sambil mendorong trolinya.
Aileen mengikuti di sebelahnya dan melihat isi troli Lula yang hampir penuh. “La, lo mau hajatan?” katanya. “tumben belanjaan banyak banget.” Katanya lagi. Ia tahu bahwa sahabatnya jarang berbelanja banyak. Biasanya wanita itu hanya memenuhi kulkasnya dengan buah, roti atau telur ataupun makanan instan lainnya karena wanita itu tak hobi memasak. Wanita itu lebih memilih makan di luar atau memesan melalui layanan pesan antar daripada harus sibuk berkutat di dapur yang ia tahu bahwa hasilnya belum tentu enak.
“Buat pajangan di kulkas.” Jawab Lula enteng saat ia baru saja mengambil satu pounch detergen cair.
“Bilang aja lo mau mengurangi biaya makan mumpung ada Vano.” Kata Aileen yang langsung membuat Lula mengangguk sambil terawa kecil.
“Betul sekali. Kan lumayan kalau Vano sesekali masak. Gue bisa mengurangi pengeluaran gue buat makan.” Kata Lula terus terang.
“Licik.” Kata Aileen yang sedang melihat- lihat deretan sabun cuci muka yang ada di depannya.
“Pintar.” Lula meralat ucapan Aileen dan mengambil satu merk facial wash yang biasa ia pakai. “lo mau nyari apa?” tanya Lula saat menyadari bahwa wanita itu tak membawa keranjang ataupun troli. Ia hanya melihat- lihat tanpa memilih.
“Nggak beli apa- apa.” Jawab Aileen sambil membuntuti Lula yang sedang berjalan menuju kasir.
“Terus lo ngapain nyusul ke sini?” tanya Lula saat ia berhenti di belakang seseorang yang juga sedang mengantre di kasir.
“Mau ketemu lo, lah.” Jawab Aileen singkat sambil merangkul sahabatnya yang mengernyitkan dahi. “eh, tadi gue maksi sama Vano.” Aileen memberitahu.
“Kok bisa?” Lula melepas rangkulan Aileen di lehernya. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik.
“Ketemu di kantornya. Gue ke bank karena ada satu bilyet giro yang lupa gue tanda tanganin. Ketemu Vano di sana.” Aileen bercerita.
Lula mendorong trolinya sedikit saat satu pengunjung menyelesaikan transaksinya di kasir. “Oh. Dia nggak ada janji sama Risa?”
“Nah itu dia, pas gue udah sampai di resto, Risa telepon. Kayaknya sih ngambek karena Vano sama gue, padahal dia mau ngajak Vano maksi bareng.”
“Nggak heran. Risa tuh sering banget ngambek, egois, sifatnya jelek banget deh. Gue kadang sampai kesal sendiri kalau Vano curhat.” Kata Lula, “disuruh putus nggak mau. Katanya cinta dan mau serius.” Lanjut Lula.
“Tapi kan Risa cantik.” Kata Aileen.
“Ish. Memang kalau nikah, Risa cuma mau buat pajangan? Cantik doang mah buat apa.” Lagi, Lula mendorong trolinya hingga berada tepat di depan meja kasir. Ia mengambil satu persatu barang belanjaannya dan menaruhnya di meja kasir sementara kasir mulai menscan barcode yang tertera dalam setiap produk.
“Ya kalau Vano bisa nerima Risa apa adanya ya nggak apa- apa, lah. Kok jadi lo yang sewot.” Ujar Aileen sambil tertawa. Ia hampir hapal raut wajah Lula setiap kali membicarakan calon adik iparnya itu. Wanita itu sejak dulu kurang begitu dengan Risa karena merasa Risa terlalu dominan pada adiknya.
“Gue bukan sewot. Gue cuma kesal.”
“Kesal karena takut dilangkahin mereka, ya?” kata Aileen dengan nada menggoda.
“Sial4n.”
TBC
LalunaKia