CHAPTER DUA

2224 Words
Vano keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan rapi. Ia memakai kemeja bewarna biru muda lengan panjang dan celana bahan berwarna gelap. Sebuah dasi warna navy dengan garis menyempurnakan penampilannya. Ia menaruh tasnya di sofa ruang tamu lalu mendekati jendela dan membukanya, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya dan masuk ke dalam rumah. Langkah kaki membawanya pergi ke dapur. Ia mengambil cangkir dari salah satu lemari yang ada di sana lalu menaruh gula dan satu kantong teh yang ia dapat dari lemari lainnya ke dalam cangkir. Ia lalu membawa cangkir mendekati dispenser dan menaruhnya di bawah kran dispenser lalu menekan salah satu tombol hingga akhirnya air panas keluar dan hampir memenuhi isi gelas. Ia lalu memenuhi cangkir dengan air biasa. Ia membawa cangkir itu ke meja makan dan mengaduknya dengan sendok. Ia lalu mendekati kulkas dan mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk sarapan. Namun kulkas itu nyaris kosong. Tak ada bahan makan, buah ataupun yang lainnya. Ia hanya menemukan satu pak roti tawar dan beberapa selai dalam toples- toples kecil. Ia akhirnya mengambil roti tawar dalam bungkus itu dan mengecek expired datenya terlebih dahulu sebelum mengeluarkannya dari mesin pendingin itu. Saat melihat bahwa tanggal expirate date masih beberapa hari lagi, ia mengeluarkannya bersama dengan selai cokelat dan blueberry. Ia mengoles beberapa roti tawar dengan selai cokelat, blueberry dan keduanya dan mengakup dengan roti yang lainnya dan menaruhnya di atas piring. Ia membawa piring berisi roti itu dan teh manisnya ke ruang tamu. Sebelum duduk di ruang tamu, ia menoleh dan melihat kamar kakaknya yang masih tertutup rapat. Ia memutuskan untuk mendekati pintu itu dan mengetuk pintunya pelan. Ia tahu bahwa pekerjaan kakaknya yang tak terikat jam kerja membuat waktu tidur wanita itu berantakan. Wanita itu bisa bekerja sepanjang malam, lalu tidur pagi hingga siang dan begitu seterusnya. Wanita itu bilang bahwa otaknya dapat bekerja lebih baik saat malam hari. Juga inspirasi yang lebih lancar saat malam. Laki- laki itu mendengar deheman dari dalam kamar. Ia menekan handle pintu dan membukanya. Matanya menangkap kakaknya yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. “Tumben udah bangun.” Vano masih di ambang pintu. Sama sekali tak ada niatan untuk masuk. Ia hanya memastikan kakaknya ada di kamarnya. Selain jam tidur wanita itu yang berantakan, hidup wanita itu juga tak kalah berantakannya. Vano tahu bahwa kakaknya kerap pergi ke bar- bar dan menghabiskan malam di tempat- tempat itu bersama sahabatnya, Aileen. Saat ia dipindahtugaskan ke kota ini. Ibunya berpesan padanya agar menjaga kakaknya baik- baik. Padahal ibunya seharusnya bilang pada kakaknya untuk menjaganya, bukan malah sebaliknya. Itu jelas karena ibunya tahu bahwa Vano lebih dewasa dan dapat dipercaya meskipun umurnya lima tahun lebih muda dari Lula. Vano adalah laki- laki yang suka kerapihan dan keteraturan, berbeda dengan Lula yang terkesan serampangan. Mereka seperti saudara yang tertukar jiwanya. “Gue baru mau tidur, kali.” Jawab Lula. Wanita dengan sepotong kaos dan celana pendek itu menoleh dan tertawa melihat adiknya berdecak. Ia berjalan mendekati laki- laki yang masih berada di ambang pintu itu dan mengernyit mencium sesuatu yang tak biasa. “Lo ganti parfum?” tanya Lula. Mendorong pelan bahu adiknya untuk keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Sebelah tangannya mengambil sepotong roti berisi selai cokelat dan mengigitnya. “Parfum dari Risa.” Jawab Vano. Ia mengikuti Lula dan duduk di sofa di depan wanita itu. “Ish… pantesan aja. Wanginya bukan lo banget.” Lula memberikan pendapatanya. Masih mengigit rotinya hingga tersisa setengah di tangannya. “Iya… ya… memang strong banget, sih.” “Ganti… ganti… sumpah nggak enak banget.” Kata Lula yang lagi- lagi membuat Vano berdecak. “Ini karena baru pakai makanya masih srong banget wanginya. Nanti lama- lama juga nggak nyengat banget kok.” Jelas Vano. Lula mengibaskan sebelah tangannya. Tak ingin berdebat lagi dengan Vano yang selalu nurut apa kata pacaranya, Risa. “Gue manasin mobil, ya?” tanya Vano dengan senyum manis pada Lula yang langsung mencibir. “Manasih? Bilang aja mau lo pakai.” Kata wanita itu. “Ya daripada mobilnya di garasi doang nggak lo pakai- pakai. Mending gue yang pakai.” Kata Vano dengan tawa kecil. “lagian ke mana- mana juga sama Kak Aileen.” Kata Vano lagi. “Iya udah pakai aja sana.” Kata Lula akhirnya yang langsung membuat Vano kegirangan. Vano menyelesaikan sarapannya. Ia menyesap teh dalam cangkirnya hingga hampir tandas. “Lo udah telepon Mama, Kak?” tanya Vano pada kakaknya yang baru saja menyalakan televisi layar datar di depannya. “Udah tadi malam.” Jawabnya. “Mama bilang apa aja?” tanya Vano lagi. “Mama bilang jangan sampai kulkas kosong. Jangan sampai biarin kamu kelaparan.” Jawab Lula yang langsung membuat laki- laki di depannya mencibir. “Bohong banget.” Cetus laki- laki itu. Lula terkekeh pelan. “Mama bilang katanya gue disuruh berubah biar bisa jadi contoh yang baik buat lo.” Jawab Lula. “Mama takut lo jadi suka dugem kayak gue.” Lula tak bisa menyembunyikan nada geli dalam kalimatnya. “Tuh. Sampai kapan coba hidup lo mau berantakan gini.” Ujar Vano. “Berantakan dari mana? Gue kerja sama kayak yang lain. Gue normal. Nggak ada yang salah sama hidup gue.” Wanita itu mengangkat kedua kakinya ke atas sofa lalu memecet tombol remote televisi dengan asal. “Iya, gue tahu. Tapi ya paling nggak jangan jadi a night owl lah. Kurangin ngopi, ngerokok sama dugem. Mama tuh khawatir banget sama kesehatan lo.” Jelas Vano yang mambuat Lula tiba- tiba terenyuh. Ia tahu seberapa khawatirnya ibunya padanya. Melajang diusia hampir tiga puluh tahun, memilih bekerja secara mandiri, jam tidur yang tidak teratur. Benar kata Vano. Pola hidupnya memang berantakan. Ia telah berusaha untuk memutar kembali jam istirahatnya, namun terkadang itu hanya bertahan beberapa hari. Selebihnya, ia akan kembali terjaga saat malam. Apalagi jika ia mendapat klien dari luar negeri yang memiliki perbedaan jam yang cukup signifikan dengannya. Ia tak mau kelihangan klien karena ia telat membalas. Selain itu, ia juga tak memungkiri bahwa inspirasi mengalir deras saat malam. Saat suasana kamarnya tenang dan sunyi. Saat- saat itu, ia merasa lebih produktif dibanding jam- jam siang. Lula tak menjawab. Ia melihat adiknya yang sedang memakai pantofelnya lalu menyantelkan ranselnya di sebelah bahunya. “Gue berangkat dulu.” Kata Vano sambil mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Lula. “Hati- hati. Kuncinya ada di laci itu.” Lula menunjuk lemari kecil di samping sofa dengan jeri telunjunya. Laki- laki itu mendekati lemari kecil dan membuka laci yang atas. Ia menyingkirkan beberapa barang dengan sebelah tangannya hingga akhirnya bisa menemukan kunci mobil milik kakaknya di sana. Lula mengekori adiknya keluar rumah. Ia berdiri diambang pintu sementara Vano terlihat masuk ke mobilnya. Tak la terdengar suara mesin mobil menyala. Laki- laki itu melambai pada Lula yang mengulas senyum tipis. Lula kembali masuk ke rumahnya setelah melihat mobil itu menghilang dari padangannya. Seperti katanya. Ia baru akan tidur saat Vano mengetuk pintu kamarnya. Ia semalam tidur lebih cepat sehingga terbangun jam setengah dua belas malam. Saat itulah ia memutuskan unuk melanjutkan beberapa pekerjaannya hingga pagi. Ia mengambil piring dan cangkir bekas lalu membawanya ke dapur dan mencucinya di bak sink. Setelah itu kembali ke kamarnya. Ia sudah naik di atas ranjang saat melihat lampu indikator ponselnya berkedip. Tanda ada pesan masuk. Dengan sebelah tangannya, ia menyambar benda pipih di atas nakas lalu membuka pesan yang masuk. Aileen : Punya rencana apa hari ini?” Lula tersenyum membaca pesan yang masuk. Ia mengetik- ngetikkan kedua ibu jarinya di layar ponselnya untuk memebalas pesan wanita itu. Lula : Ke supermarket nanti sore. Pesan itu langsung terbaca sehingga Lula memunggu sebentar saat melihat Aileen sedang mengetik pesan balasan. Aileen : I am in. Gue susul setelah meeting Aileen : Berangkat jam berapa? Lula : I’ill text you later. Lula kembali menaruh ponselnya di atas nakas lalu mengempaskan tubuhnya ke ranjang dengan seprei motif kotak- kotak berwarna cokelat muda. Ia menarik selimut hingga ke pinggangnya lalu memakai penutup mata motif pandanya. Tak butuh waktu lama untuk wanita itu terlelap dalam tidurnya. *** Ailee mematikkan mesin mobilnya saat berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran khusus. Ia menyampirkan tasnya ke sebelah punggungnya dan keluar dari mobil. Ia melangkah menuju pintu kantornya. Pintu itu langsung terbuka dari dalam saat Aileen mendekati pintu transparan itu. Seorang pertugas keamanan berseragam yang baru saja membukakan pintu untuknya menyapanya ramah, begitu juga dengan resepsionis di balik meja yang hari ini memakai blouse putih dengan motif bunga cokelat. Aileen tersenyum ramah lalu berjalan mendekati lift, memecet tombol naik dan menunggu sebentar hingga pintu besi di depannya terbuka lebar. Ia masuk lalu menekan tombol lima di mana ruangannya berada. Ia menatap potret dirinya melalui dinding lift yang bisa memantulkan bayangan dirinya dengan sempurna. Hari ini ia memadukkan A line skirt di atas lututnya dengan sebuah kaos berwarna putih, ia lalu memilih kemeja oversize sebagai outer. Rambut cokelat sebahunya ia biarkan tergerai tanpa aksesoris apapun. Kedua kakinya terbalut sneakers berwarna putih yang menyempurnakan penampilannya. Dibanding memilih kemeja dan celana bahan untuk pergi ke kantornya, Aileen lebih suka berbusana santai, seperti saat ini. Stylenya yang tampak muda dan trendy selalu membuat orang yang tak mengenalnya mengira ia adalah seorang mahasiswi. Dan mereka akan terkejut bahwa ia adalah CEO Event Organizer itu dan sudah akan memasuki kepala tiga. Wanita itu keluar dari lift dan berbelok menuju ruangannya. Sekretarisnya, seorang gadis berumur dua puluh limaan berdiri di depannya sata ia melewati meja gadis itu. Aileen membalas dengan senyum lalu masuk ke ruangannya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi tinggi di belakang meja besar kotak dengan komputer, alat tulis dan segala macam dokumen yang tertata rapi di atasnya. Sebelah tangannya terulur untuk menekan tombo CPU agar komputer di atas meja itu menyala. Sambil menunggu sebentar, ia mengambil gelas berisi air di mejanya lalu menyesapnya pelan. Aileen memulai pekerjaannya dengan membuka emailnya. Membaca pesan- pesan yang masuk dan membuka lampiran dalam pesan itu. Ia mengecek persiapan- persiapan acara dari beberapa tim. Mengecek pendanaan dan membuat tim baru untuk kontrak yang baru mereka dapatkan. Sesekali telepon di meja wanita itu berbunyi. Suara sekretarisnya ada di ujung sambungan. Gadis itu menghubungkan telepon yang masuk untuknya jika sambungan berasal dari luar kantor. Wanita itu bisa berada dalam sambungan telepon bermenit- menit. Novi, sekretarisnya keluar masuk ruangannya setelah mengetuk pintu dua kali. Wanita itu membawa dokumen yang harus di tanda tangani lalu membawa keluar dokumen yang sudah ia tandatangani dan mengembalikan ke bagian yang seharusnya. Aileen bisa berjam- jam duduk di kursinya, menatap layar komputer, memeriksa dan menadatangani setumpuk dokumen dan bilyet giro. Hal yang sebenarnya membuatnya bosan, namun ia tidak punya pilihan lain selain mengerjakan pekerjaannya. Ada puluhan karyawannya yang harus di gaji. Jam menunjukkan pukul dua belas lewat saat Aillen menyelesaikan tanda tandangannya pada setumpuk dokumen. Ia berdiri lalu merenggangkan otot- ototnya yang terasa kaku. Ia berdiri di depan jendela besar ruangannya. Dari kotak dengan kaca transparan gelap itu, ia bisa melihat hiruk pikuk jalanan di luar kantor. Ia melirik jam di pergelangan tangannya lalu mengambil dokumen yang baru saja selesai ia tandatangani dan berjalan keluar dari ruangannya. Ia menaruh dokumen itu di atas meja serkretarisnya yang baru saja menutup telepon. Gadis itu baru akan memulai makan siangnya. Satu boks makanan terlihat di atas meja bersama piring dan sendok. “Mau makan siang, ya, Mbak?” tanya gadis itu. “Iya.” Jawab Aileen. Ia masih berada di depan meja sekretarisnya. “Mbak Gea, lagi di bank buat cairin giro, cuma katanya ada satu giro yang belum di tanda tangan. Dia mau balik ke kantor lagi minta tanda tangan.” Gadis itu memberitahu. “Dia di bank mana? Biar saya yang nyusul dia. Saya sekalian mau cari makan siang di luar.” Kata Aileen. “Di Bank biasa yang di ujung jalan dekat perempatan, Mbak.” Novi memberitahu. “Oke, saya ke sana. Minta Gea tunggu di sana aja.” Kata Aileen sambil berjalan menjauh. Novi mengangguk lalu mengambil ponselnya di atas meja. Mencarik kontak Gea dan menghubungi wanita itu. Aileen langsung menuju mobilnya. Ia melesak di belakang kemudi, menyalakan mesin mobilnya lalu menekan pedal gas hingga roda mobilnya berputar. Ia keluar dari area kantornya dan masuk ke jalan raya. Membaur dengan kendaraan lainnya. Ia mengemudi lurus hingga akhirnya berbelok ke sebuah gedung dengan plang sebuah bank swasta di depannya sebelum mencapai perempatan di depannya. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan lalu keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam lembaga keuangan itu. Gea, salah satu karyawan bagian keuangan langsung menghampirinya saat security bertanya apa keperluannya. Aileen sempat memindai sekeliling hingga tatapannya terpaku pada seorang laki- laki yang juga tengah menatapnya sambal mengulas senyum tipis. Aileen ikut mengulas senyum dan melihat laki- laki itu membuat isyarat yang memintanya menunggu sebentar. “Di sini, Mbak.” Suara itu mengembalikan fokus Aileen. Ia kembali menatap Gea yang sudah mengulurkan sebuah pulpen ke arahnya lalu menunjuk selembar bilyet giro di depannya. Aileen membubuhkan sebuah tanda tangan di tempat yang seharusnya dan mendengar Gea mengucapkan terima kasih. Aileen mengangguk, lalu melihat Gea yang menghampiri salah satu loket teller yang ada di sana, sementara di sisi yang lain, ia melihat seorang laki- laki menghampirinya. “Anak ABG dari mana, nih?” goda Vano yang langsung membuat Aileen terkekeh. “Sial4n.” Runtuknya dengan nada bercanda. “udah makan siang belum? Makan siang, yuk.” Ajak Aileen. “Yuk.” Keduanya keluar dari bank swasta itu dan menghampiri mobil Aileen di parkiran. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD