Lula sedang menikmati sarapan yang dibeli Aileen saat mendengar ponselnya berdenting. Ia mengambil benda pipih di atas meja makan itu dengan satu sentakan lalu membuka pesan yang masuk.
Vano : Kak, nomor Vano udah aktif, ya.
Lula membalas pesan itu dengan emoticone jempol ke atas. Ia belum sempat menaruh kembali ponselnya karena pesan lainnya masuk. Sebuah pesan dari nomor baru masuk ke ponselnya.
+62812425865xx : Selamat pagi.
Lula mengarahkan jarinya untuk menyetuh ikon profil. Ia melihat sebuah foto pemandangan sebagai profilnya, namun informasi pemiliknya tertulis dengan jelas, Malik.
Lula menghela napas. Ia kembali menaruh ponselnya tanpa membalas pesan itu, dan melanjutkan sarapannya. Setelah selesai, ia membawa peralatan lukisanya ke taman belakang di samping dapur. Ia akan menyelesaikan lukisan yang ia mulai saat liburan di Bandung sebelum akhirnya kembali menerima orderan pekerjaan lainnya. Ia berpikir liburannya sudah cukup. Tak ada banyak hal yang bisa ia lakukan saat libur sehingga mencari uang jelas terlihat lebih baik dibanding berguling- guling di sofa seharian.
Lukisan itu selesai saat jam menunjukkan pukul sebelas siang. Ia menatap puas hasil kerjanya. Melihat hasilnya, adrenalin wanita itu tiba- tiba terpacu. Ia tahu ini adalah sesuatu yang selalu membuatnya haus. Ia selalu tahu bahwa ia selalu ingin melakukan itu namun tak pernah punya waktu untuk melakukannya. Ia terlalu seibuk dengan semua permintaan klien- kliennya sehingga terkadang mengorbankan seikit kesenangannya. Ia tak membuang waktu, ia langsung mengambil kanvas lainnya dan melanjutkan dengan lukisan kedua.
Lula sudah berpikir akan melukis apa. Ia berpikir mengenai pantai, dengan pohon- pohon dan langit yang memerah. Ia menyiapkan berbagai warna dalam paletnya dan memulai dengan warna- warna tipis.
Ia masih sibuk memngoleskan kuas di atas kanvas saat mendengar pintunya di ketuk pelan. Ia menghentikan kegiatanya sesaat hanya untuk memastikan bahwa seseorang kini memang tengah mengetuk pintunya. Setelah mendengar suara ketukan itu semakin kencang, ia buru- buru berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu rumahnya.
“Dengan Mbak Lula?” seorang pria berseragam salah satu aplikasi jasa transportasi bertanya padanya.
“Iya.” Jawab Lula. Ia masih terdiam saat pria itu mengulurkan sabuah paper bag ke arahnya.
“Dari siapa, Pak?” tanyanya saat ia akhirnya menerima apa yang diberikan pria itu.
“Malik.” Jawab pria itu setelah mengecek data di ponselnya. “permisi, Mbak.” Pria itu menjauh . Menaiki motornya yang terparkir di depan rumah lalu menghilang dari pandangan Lula.
Lula menatap kantong kertas dalam genggamannya. Tulisan Daily yang tercetak dikantongnya membuat Lula tahu bahwa barang itu, yang bisa dipastikan makanan di kirim dari sana.
Ia membalik badan dan kembali masuk. Ia membawa bungkusan itu ke dapur. Di meja makan, ia membukanya dan mengeluarkan isinya. Satu porsi sapo tahu lengkap dengan nasi, juga satu cup es kopi.
Ia berdecak. Ia mengambil ponselnya di meja yang ada di taman samping dapur lalu menghubungi satu nomor yang tadi mengirimnya pesan dan tak ia balas. Ia perlu menunggu hingga panggilan itu diangkat.
“Halo…” suara lembut itu menyapa Lula di ujung sambungan. Suara yang sudah dikenalnya.
“Malik?” tanya Lula hanya untuk memastikan.
“Iya…”
“Ini Lula.” kata wanita itu.
“Iya… kenapa? Kamu udah terima makanannya?” Malik bertanya.
“Udah.” Kata Lula, “aku nggak suka, ya, kamu kirim- kirim kayak gini.” Lula tak berbasa- basi karena memag ia tak suka. Lula memberi jeda. Ia ingin mendengar apa tanggapan laki- laki itu. Namun laki- laki itu terdiam.
“Jangan pernah kirim apapun lagi, oke.” Kata Lula akhirnya. Ia langsung mematikan panggilannya karena tak lagi mendengar suara Malik meski ia yakin laki- laki itu masih di sana.
Lula menatap kotak makanan di depannya. Tiba- tiba berpikir lebih jauh. Apakah laki- laki itu terluka oleh perkataannya barusan? Ia langsung menggeleng pelan. Sekali lagi, ia tidak boleh memberikan sinyal pada laki- laki itu. Ia tidak ingin membuat laki- laki itu berharap saat tahu bahwa ia tak menyukainya. Biarlah laki- laki itu langsung mendapat penolakan di awal.
***
Saat jam makan siang, Vano pergi ke ruang makan dengan satu kantong plastik berisi makanan yang ia pesan pada office boy juga piring dan sendoknya. Setelah menuangkan sate padang dan lontongnya di piring, ia mengambil ponsel dan membukan kembali pesannya dengan Aileen tadi pagi.
Vano: Kak, kakak yang kirim HP ke kantor Vano, ya?
Aileen: Iya.
Vano: Vano udah niat mau beli lho, Kak. Ini nanti Vano ganti uang, ya.
Aileen: Gak usah!
Vano: Vano nggak enak.
Aileen: Kasih kucing aja.
Vano: Beneran, Kak. Ini mahal, lho. Vano nggak enak nerimanya cuma- cuma.
Aileen: Yudah, lo bayar aja dengan masak sarapan tiap pagi buat Lula.
Vano: Kok jadi keenakan Kak Lula?
Aileen: Ya lo yang bikin ribet.
Aileen: Udah pokoknya jaga baik- baik Hpnya. Jangan sampai jadi korban lagi. :D
Vano: Makasih, Kak Aileen.
Aileen: Sama- sama, ganteng.
Ia tersenyum membaca ulang pesannya dengan wanita itu. Sebelah tangannya masih aktif memasukkan lontong dan sate padang ke mulutnya.
Ia menutup chat wanita itu lalu menatap nama Risa yang namanya berada di bawah nama Aileen. Ia memilih menutup menu chat di ponselnya dan menyelesaikan kegiatan makan siangnya.
“Mas, ada yang nyari di depan?” seorang office menghampirinya yang masih ada di ruang makan saat ia sedang menyesap air minumnya. Dahi laki- laki itu berkerut dalam. Ia masih berpikir saat laki- laki itu pergi dari hadapannya.
Vano menaruh piring dan gelas bekas makannya di pantry lalu keluar kantor. Saat sampai diluar, ia melihat seorang gadis berdiri membelakanginya. Gadis itu memakai celana bahan dan kemeja dengan rambut yang terikat. Tak perlu berpikir karena ia tahu siapa gadis itu. Risa.
“Risa…” panggilnya sambil berjalan mendekat. Gadis itu membalik badan yang tersenyum kecil melihat Vano.
“Kamu udah makan siang?” tanya Risa. Gadis itu mengambil sebelah tangan Vano dan menggenggamnya.
“Udah… baru banget selesai.” Jawab Vano. Ia melihat wajah Risa baik- baik. Gadis itu tampak lebih baik dari kemarin. Mata gadis itu memancarkan kehangatan, garis bibirnya membentuk senyum tipis. Gadis itu kembali seperti yang ia kenal sebelumnya.
“Aku mau ngomong sebentar, boleh?” Kata gadis itu.
Vano menatap sekeliling, tampak menimang di mana ia bisa berbicara lebih leluasa dengan Risa.
“Di mobil aja.” Kata Risa tepat sebelum Vano mengajaknya untuk masuk ke dalam kantornya.
Vano akhirnya mengangguk. Ia meraba salah satu kantong celananya untuk memastikan bahwa kunci mobilnya masih ada di sana. Keduanya berjalan menuju parkiran di samping kantor di mana mobil laki- laki itu berada.
Vano mengambil langkah lebih dulu dan membuka pintu penumpang untuk gadis itu. Setelah Risa masuk, ia menutup pintu lalu memutar dan melesak di balik kemudi.
“Sayang… aku mau minta maaf.” Kata Risa dengan nada rendah dan penuh penyesalan. Ia mengambil sebelah tangan laki- laki itu dan menggenggamnya erat. “aku nyesal. Aku tahu aku keterlaluan. Aku nggak seharusnya kayak gitu.”
Vano menatap Risa yang menunjukkan raut wajah penyesalan. Mata gadis itu bahkan mulai berkaca- kaca. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahu gadis itu bergetar. Suara isakan perlahan terdengar.
Hati Vano bergetar. Ia adalah pertama kalinya ia melihat gadis itu menangis karena menyesali perbuatannya. Ia menyentuh bahu gadis itu dan membuka telapak tangan gadis itu yang menutupi wajahnya.
Ia menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya dan mengusap air mata pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba menahan isakan tangisnya.
“Aku nyesal banget.” Kata wanita itu.
Vano menatap Risa lekat- lekat. “Udah aku maafik kok.” Katanya. Ia melihat gadis itu menengadahkan wajahnya. Tatapan gadis itu memelas. “udah aku maafin. Beneran.” Vano mengulangi saat gadis itu menatapnya dengan tatapan menyelidik seakan tak percaya dengan kata- katanya.
“Beneran?” tanya Risa dengan nada lirih.
“Beneran, sayang.” Kata Vano. Ia melihat perlahan garis bibir gadis itu terangkat. Ia mengusap wajah gadis itu dengan ibu jarinya.
“Biar aku gantiin ponsel kamu, ya.” kata Risa.
“Nggak usah. Aku udah ada.” Laki- laki itu mengeluarkan ponsel barunya dari saku celananya.
“Ini keluaran terbaru?” tanya Risa. Ia takjub melihat ponsel mahalitu. Pasalnya, ia tahu Vano bukan tipe laki- laki yang sudah membelanjakan uangnya untuk gwai- gawai mahal. Laki- laki itu lebih suke menabung dan berinvestasi dengan gaji dan bonus- bonusnya.
“Iya… sebenarnya ini Kak Aileen yang kasih.” Kata laki- laki itu.
“Oh. Cuma- cuma?” tanya gadis itu.
“Iya.” Jawab Vano. “udah nggak heran, sih, sebenarnya. Terakhir dia beliin laptop mahal pas Kak Lula ultah.” Lanjutnya. Memberitahu Risa bahwa itu bukan hal aneh bagi Aileen. Ia memberitahu bahwa wanita itu bahkan bisa memberikan uang banyak pada orang yang tidak dikenalnya. Apa yang ia berikan padanya bukanlah sesuatu hal yang besar bagi wanita itu.
Risa mengangguk pelan lalu tersenyum kecil.
“Aku antar kamu ke kantor, ya.” kata laki- laki itu sambil melirik jam dipergelangan tangannya.
“Aku naik taksi aja.” Kata gadis itu, “Tapi nanti jemput, ya.” katanya lagi dengan nada manja.
Vano tersenyum lalu mengangguk. Ia mencubit kedua pipi gadis itu. “Siap. Tapi aku pulang sekitar jam tujuhan, ya.”
“Oke.”
***
Jam menunjukkan pukul setengah lima sore saat Lula menyelesaikan lukisan keduanya. Ia tersenyum dan menatap puas hasil tangannya. Menjelang siang, ia memang berpindah dari taman belakang ke ruang tamu. Ia berdiri dari duduknya dan mulai membereskan beberapa peralatan melukisnya. Ia menaruh kanvasnya di ujung ruangan.
Setelah merapikan semuanya, ia masuk ke dalam kamar dan mengganti pakainnya dengan sepotong kaos oversize dan celana leging. Ia memang berniat lari sore karena merasa tubuhnya pegal karena duduk seharian.
Setelah selesai dengan setelan olahraganya. Ia keluar dari rumah. Ia meninggalkan ponselnya di rumah dan mengunci pintunya setelah memakai sepasang sepatu ketsnya. Ia berjalan keluar rumah dan berhenti saat melihat seseorang yang tampak tas asing. Matanya memicing, untuk memastikan bahwa laki- laki itu adalah Malik. Laki- laki itu bersandar pada pintu mobilnya. Kepalanya menunduk dengan sebelah kakinya yang bergerak dengan gelisah.
“Malik…” kata Lula akhirnya. Ia mendekat dan melihat kepala laki- laki itu menengadah dan tatapan keduanya bersirobok. “ngapain kamu di sini?” tanya Lula langsung. Ia melihat laki- laki itu menjilat bibir bawahnya dan tanpak gugup.
“Mau ketemu kamu.” Jawab laki- laki itu dengan nada polos.
Lula menghela napas, “sejak kapan di sini?” tanya Lula lagi.
Laki- laki itu melirik jam di pergelangan tanga kirinya. “sekitar satu jam- an.”
Dahi Lula berkerut dalam. Tak percaya bahwa laki- laki itu sudah berada di sana selama satu jam. Ia tak tahu akan sampai kapan laki- laki itu menunggu jika ia tak keluar sore ini.
“Kenapa nggak ketuk pintu?” tanya Lula lagi.
‘ “Memang kamu bakal bukain pintu?” Malik balik bertanya.
“Setidaknya kamu nggak bakal nunggu satu jam karena bakal langsung aku usir.” Kata Lula. Ia berdecak lalu berlari santai meninggalkan Malik di tempatnya. Lula tak peduli jika ia terdengar kasar. Ia harus memberitahu bahwa ia tidak pernah main- main dengan ucapannya. Ia hanya berharap kalimatnya cukup untuk membuat laki- laki itu berpikir ulang untuk menemuinya.
Ia terus berlari kecil menyusuri jalanan komplek perumahannya. Ia tak tahu bahwa Malik mengekor di belakangnya hingga akhirnya bisa mensejajarkan langkahnya.
Lula berdecak melihat laki- laki itu berlari di sebelahnya. Dengan kemeja, celana bahan dan sepatu pantofel, laki- laki itu tampak aneh.
“Tahu, nggak. Kamu kelihatan kayak sales MLM yang lagi ngejar- ngejar orang buat direkrut.” Kata Lula. Ia tak berhenti, langkah kakinya malah semakin cepat.
Malik tak memperdulikan kata- kata Lula. Ia tetap berusaha mengejar langkah kaki Lula dengan keterbatasannya karena memakai sepatu pantofel.
“Aku mau tanyain progress lukisan pesanan aku.” Kata Malik. Langkah kaki Lula berhenti mendadak. Ia lupa bahwa mereka masih terlibat hubungan pekerjaan.
Malik yang sudah mendahului Lula berhenti dan membalik badan. Ia menatap Lula yang tampak berdecak pelan.
“Nanti kalau udah selesai juga dikabarin. Nggak usah nanya- nanya.” Kata Lula. Ia kembali berjalan cepat. Kalau tahu akan seperti ini, ia pasti akan menolak permintaan laki- laki itu. Ia kini malah berpikir bahwa laki- laki itu memberinya pekerjaan karena punya maksud tertentu.
Keduanya terus berlari hingga akhirnya sampai di sebuah taman kecil yang ramai oleh anak- anak.
“Mbak Lula…” sebuah suara menyapanya saat ia baru saja duduk di salah satu bangku besi yang ada di sana. Malik duduk di sebelahnya. Lula berdecak kesal saat melihat tiga orang ibu- ibu mendekat ke arahnya.
“Tumben kelihatan sore- sore.” Kata ibu- ibu yang lainnya. Ketiga wanita paruh baya itu, Jihan, Dahlia dan Jamila menatap Malik dengan tatapan penasaran.
“Iya… Bu…” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Lula. Ia mencoba tersenyum kaku karena ia tahu bahwa sebentar lagi keadaannya akan sulit dikendalikan.
Ketiga pasang mata itu menatap ke arah Malik yang raut wajah penasaran yang tidak bisa disembunyikan.
“Mbak Lula kayaknya sebentar lagi nyebar undangan, ya.” kata Jihan yang hari itu memakai kaos dengan celana kulot panjang. Sebelah tangannya membawa bungkusan berisi siomay.
Lula dan Malik beradu pandang. Lula sudah menghela napas. Mencoba tenang.
“Doain aja, Bu. Jodoh kan nggak ada yang tahu.” Kata Lula, “siapa tahu nanti saya dalam perjalanan pulang ketemu jodoh saya.” Lanjut Lula.
“Lho… bukannya ini calonnya?” kali ini Dahlia membuka mulutnya.
“Sama yang ini aja, Mbak Lula. Udah ganteng gini.” Jamila, yang kemarin baru saja mengadakan lamaran untuk anaknya membuka suaranya.
Lula tertawa kaku. Ia melirik Malik yang kini tengah mengulum senyum. “Kita cuma teman, ya, ibu- ibu.” Kata Lula. Ia menekankan kata- kata terakhir dalam kalimatnya. Ia melihat Malik tampak puas. Sepetinya hal ini cukup menghibur setelah kata- kata ketus yang keluar dari mulutnya tadi.
TBC
LalunaKia