CHAPTER DUA PULUH TUJUH

2311 Words
            Aileen terbahak mendengar cerita yang keluar dari mulut Lula. Ia tak bisa menyembunyikan tawanya meski bantal- bantal sofa sudah melayang ke arahnya.             “Geli banget tahu dengarnya.” Kata Lula. Ia menggosok lengannya saat merasakan bulu kuduknya berdiri. “Nggak apa- apa. Kamu tetap cantik, kok” Lula menirukan ucapan Malik sekali lagi.             “Biasa aja kali. Lo nya aja yang udah terlalu lama jadi fakir cinta.” Ujar Aileen.             Lula menggelengkan kepalanya sambil menghela napas kasar. “Awas, ya, kalau lo ngajak dia ke sini lagi.” Lula menatap Aileen dengan tatapan mengancam.             “Dia udah tahu rumah lo, paling juga dia datang sendiri.” kata Aileen sambil tertawa.             Lula mengacak- acak rambutnya. Takut jika apa yang diucapkan Aileen benar- benar terjadi.             “Ayolah, La. Malik itu cuma cowok biasa, bukan medusa.” Kata Aileen. Ia yang tahu bahwa Lula sangat takut dengan ular memberikan perbandingan itu.             “Tetap aja, Ai. Gue belum mau dekat sama siapa- siapa.” Kata Aileen. “gue mau fokus sama hidup gue.” Ujar Lula.             “Lah, kehadiran Malik nggak bakal bikin hidup lo tiba- tiba berantakan juga, La.” Kata Aileen. “siapa tahu malah bikin hidup lo lebih berwarna.” Lanjutnya.             Lula menggeleng. Ia tak mau. Ia tidak siap menerima orang baru di hidupnya. Apalagi yang secara terang- terangan memiliki perasaan padanya.             “Udah, ah. Gue mau tidur.” Kata Lula sambil berdiri. “eh, Vano kenapa, ya, dari tadi gue teleponin nomornya nggak aktif.” Katanya lagi. Ia mengambil benda pipih miliknya di atas meja dan kembali menguhubungi nomor adiknya namun mendapatkan jawaban yang sama. Nomornya tidak aktif.             “Tidur aja sana. Nanti biar gue yang gantian teleponin dia.” Kata Aileen. Lula mengangguk lalu berjalan mendekati kamarnya dan menghilang di balik pintu cokelat itu.             Selepas kepergiaan Lula, Aileen menyalakan televisi. Mengisi waktu menonton film melalui layanan streaming. Sesekali ia mencoba menghubungi Vano namun tak ada perubahan. Suara seorang wanita selalu terdengar dan memberitahu bahwa nomor itu sedang tidak aktif.             Suara deru mobil yang terdengar memasuki garasi membuat fokusnya teralihkan. Ia mempause layar lalu berjalan mendekati pintu. Ia keluar dan melihat Vano baru saja keluar dari mobilnya. Wajah laki- laki itu tampak kusut. Dalam sekali lihat, ia tahu bahwa laki- laki itu tak berhasil menyelesaikan masalahnya dengan Risa.             “Hai, Kak.” kata laki- laki itu saat melihat Aileen berdiri di depan pintu. Laki- laki itu berusaha menarik garis bibirnya untuk Aileen yang hanya terdiam menatapnya.             Vano duduk di kursi kayu yang ada di beranda rumah, Aileen mengikutinya dan duduk tepat di sebelahnya.             “Lula khawatir daritadi nomor lo nggak aktif.” Aileen memberitahu. Ia melihat Vano merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak- retak.             “Ya ampun… kenapa bisa begitu?” Aileen mengambil ponsel itu dari tangan Vano dan mengamatinya. “lo nggak kecelakaan, kan?” tanyanya. Ia menarik tangan Vano hingga menghadap ke arahnya dan menatap laki- laki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan khawatir.             “Nggak, Kak, Vano baik- baik aja.” Kata laki- laki itu. Ia mengambil sebelah tangan Aileen yang masih bertengger di lengannya dan menggenggamnya erat. Dalam padangan Aileen, laki- laki itu tampak kacau. Tangannya masih dalam genggaman Vano dan terasa semakin kuat. Laki- laki itu menunduk, memijit- mijit pelipisnya dengan sebelah tangannya yang bebas.             “Are you ok?” tanya Aileen. Ia merubah posisi tubuhnya hingga menghadap laki- laki itu.             Vano mengangkat wajahnya lalu memeluk Aileen dan memejamkan matanya.             Aileen terpaku mendapat pelukan tiba- tiba itu. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap pundak laki- laki itu. Ia membiarkan laki- laki itu memeluknya. Pikirnya, laki- laki itu memang sedang butuh sebuah pelukan.              Setelah beberapa lama, Vano mengurai pelukaannya.             “Maaf, Kak.” kata laki- laki itu dengan nada tak enak. Ia tahu ia tak seharusnya memeluk wanita itu dengan impulsif.             “Kenapa lagi?” tanya Aileen langsung, mengindahkan permintaan maaf laki- laki di depannya. “Ini ulah Risa?” tanyanya saat melihat Vano hanya terdiam. Ia tahu tak mudah menceritakan semua masalah padanya yang bukan siapa- siapa.             “Kak Ai, jangan bilang- bilang Kak Lula, ya.” mohon laki- laki itu. Ia menatap Aileen dengan pandangan memelas. Ia tahu bahwa kali ini kakaknya mungkin tak bisa menolerir perbuatan Risa. Ia tahu bahwa semuanya akan semakin runyam jika kakaknya tahu apa yang terjadi padanya hari ini.             Aileen menatap Vano yang memelas di depannya. Tatapan laki- laki itu persis anak angjiing yang minta dikasihani.             “Oke, tapi lo harus cerita semuanya.” Kata Aileen.             “Nggak bisa, Kak.” kata Vano dengan nada lirih. “Vano belum siap cerita. Vano nggak ngerti sama perasaan Vano sendiri. Vano bingung.” Laki- laki itu menggeleng sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.             Aileen menghela napas lalu mengusap rambut laki- laki itu. “Yaudah lo istirahat, ya.” katanya. Ia menarik kedua tangan yang menutupi wajah laki- laki itu. “nggak masalah kalau lo butuh waktu buat sendiri, tapi memendam semua masalah itu bisa berbahaya.” Katanya lagi.             Aileen menangkup wajah Vano dengan kedua tangannya. Menatap tepat ke manik mata laki- laki itu “kalau lo merasa ada yang salah sama lo dan nggak bisa menyelesaikan semua sendiri, lo harus cerita ke orang lain. Kalau nggak nyaman, lo bisa pergi ke profesional.” Katanya lagi.              Aileen tak tahu apa yang terjadi pada laki- laki itu. Ia tak ingin memaksa laki- laki itu dan membuatnya tak nyaman. Ia hanya ingin membuka mata laki- laki itu bahwa dirinya harus peka pada dirinya sendiri. Ia ingin memberitahu bahwa jika fisik dan mental laki- laki itu memberikan sinyal yang buruk, laki- laki itu memerlukan seorang ahli.             Tangan Vano terangkat dan menyentuh kedua tangan Aileen yang masih menangkup wajahnya. Ia mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih atas perhatian wanita itu.             Aileen melepas tangannya dari kedua pipi Vano dan mengangguk pelan. Ia melirik ke pintu, meminta Vano masuk dan beristirahat.             “Mobil Kakak nggak kelihatan.” Kata laki- laki itu.             “Iya, tadi ke sini sama Malik.” Jawab Aillen. Ia sudah menggeser kursinya ke posisi semula.             “Malik?” Vano mengulang. Ia melihat wanita yang kini duduk di sebelahnya mengangguk pelan.             “Kamu udah makan?” tanya Aileen saat melihat laki- laki itu sudah berdiri dari duduknya.             “Belum… Vano nggak lapar.” Jawab laki- laki itu. Ia pamit masuk ke dalam rumah duluan sementara Aileen masih duduk di tempatnya.   ***               Aileen naik ke kasur setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ia menyusup di balik selimut saat Lula bergerak dan mengubah posisi menghadapanya. Perlahan mata wanita itu terbuka.             “Vano udah pulang?” tanyanya dengan nada lirih. Wanita itu berusaha melawan kantuknya sejenak.             “Udah.” Jawab Aileen. “everything is ok.” Kata wanita itu lagi. Memberitahu sahabatnya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia melihat Lula mengangguk pelan lalu kembali memejamkan matanya.             Aileen menarik selimut hingga ke dadanya. Menyembunyikan tubuhnya dari hawa dingin yang berasal dari pendingin di ruangan itu. Sesaat pikirannya melayang pada sosok Vano yang baru saja dilihatnya. Laki- laki terlihat berbeda. Berselang satu hari, ia melihat laki- laki itu tampak seperti orang lain. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan laki- laki itu, ia hanya merasa bahwa kondisi laki- laki itu cukup memprihatinkan.             Ia memiringkan tubuhnya dan menatap Lula yang sudah tertidur pulas. Kini, ia tahu bagiamana perasaan Lula. Ia tahu apa yang Lula rasakan setiap kali mendengar Vano dan Risa bertengkar. Ia tahu bahwa semua yang Lula katakan pada adiknya semata- mata untuk kebaikan laki- laki itu. Ia kini tahu bahwa Lula punya alasan kuat untuk tak suka dengan Risa. Ia punya alasan kenapa ingin adiknya putus dengan gadis itu. Aileen kini tahu apa yang dirasakan sahabatanya.   ***               Tubuh Vano menggeliat di balik selimut tebalnya. Ia mengusap kedua matanya lalu membuka keduanya perlahan. Langit- langit kamarnya langsung masuk dalam pandangannya. Tatapannya beralih pada jam dinding di ruangan itu lalu menghela napas kasar. Tubuhnya sangat lelah. Kualitas tidurnya sepertinya buruk karena masalah yang ia hadapi. Ia tak lagi bersemangat saat menyambut hari. Ia seperti kehilangan gairah hidupnya.             Ia melirik piring bakas makan yang ada di atas nakas. Semalam sebelum tidur, Aileen mengetuk pintu kamarnya dan membawakan seporsi mie ayam yang ia sisihkan untuknya. Wanita itu bersikeras bahwa ia harus makan sebelum tidur. Dengan berat, Vano memakannya dan sekali lagi mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Ia tetap mengunyah dan menelan mie ayam itu meski rasanya seperti pasir saat melewati tenggorokkannya. Vano hanya berpikir bahwa ia harus menghargai wanita itu.             Ia bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang. Kakinya berjalan pelan mendekati jendela. Ia menyibak tirai dengan sebelah tangannya. Matahari masih mengintip malu- malu. Ia menatap keluar selama beberapa menit hingga akhirnya melangkah gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.             Kurang dari setengah jam, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang meliliti pinggangnya. Ia mendekat ke lemarinya dan memakai celana bahan dan kaos putih polosnya. Ia juga mengambil kemeja panjangnya dan menaruhnya di atas ranjang.             Langkah kaki membawanya keluar. Ia mendekati pintu utama dan membuka tirai dan jendela agar udara pagi bisa masuk ke dalam rumah. Setelahnya, ia pergi ke dapur dan melihat ada dua boks makanan di tengah meja makan.             Ia mendekat dan berdiri di depan meja makan. Sebelah tangannya mengambil satu kotak dengan tulisan Daily di bagian tutupnya. Ia membukanya dan menemukan seporsi nasi goreng yang harumnya keluar menguggah selera makannya.             Matanya lalu menangkap sebuah post it yang tertempel pada boks yang satunya. Ia mengambil dengan sebelah tangannya dan membaca tulisan tangan yang tertera di sana.             La, gue balik, ya. Gue lupa kalau ada meeting sama klien pagi ini. Ada banyak yang belum gue siapin. Ini buat sarapan. –Aileen.”             Vano tersenyum membaca tulisan tangan wanita itu. Tiba- tiba ia teringat perhatian- perhatian kecil yang wanita itu berikan padanya. Semenjak kenal dengan wanita itu, ia merasa punya dua kakak perempuan.             Ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana dan memutuskan untuk sarapan seorang diri. Ia tak ingin membangunkan kakaknya dan mengganggunya hanya untuk sarapan. Ia tahu bahwa kakaknya lebih menyukai tidur dibanding makan.             Setelah menghabiskan isi nasi gorengnya, ia menuangkan air dari dalam teko ke gelas kosong yang ada di atas meja dan menyesapnya pelan. Ia lalu berdiri untuk membuang sampah bekas makannya dan keluar dari dapur. Ia kembali ke kamar untuk memakai kemeja panjangnya. Ia juga menyisir rambutnya dengan rapi dan mengoleskan gel agar lebih mudah di atur. Setelah itu ia menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya dan keluar dari kamar.             Ia berdiri di depan pintu kamar kakanya lalu mengetoknya pelan. Saat tak mendengar jawaban, ia membukanya pelan dan melihat kakanya masih tertidur pulas. Ia masuk, mendekat ke arah ranjang dan duduk di tepinya.             “Kak, gue berangkat, ya.” kata laki- laki itu. Ia melihat kakaknya menggeliat pelan lalu membuka matanya perlahan.             Kedua mata wanita itu mengerjap dua kali dan menatap adiknya yang sudah berpakaian rapi. Ia melirik sisi di sampingnya yang sudah kosong lalu bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.             “Aileen udah pulang?” tanyanya.             “Udah. Pas Vano bangun juga udah nggak ada. Dia ninggalin nasi goreng buat sarapan sama catatan. Katanya dia ada meeting pagi ini.” kata Vano. Ia melihat wanita di depannya mengangguk.             “Lo pulang jam berapa semalam?” tanya Lula.             “Nggak tahu. Vano nggak lihat jam.” Vano mencpba menjawab setenang mungkin.             “Kenapa hp lo nggak aktif?” tanya Lula lagi.             “Sebenarnya hp Vano tiba- tiba rusak.” Kata laki- laki. Masih menjaga nada suaranya agar tetap tenang. “nanti Vano baru mau nyari Hp baru. Nanti Vano telepon kakak kalau udah beli, ya.” Laki- laki itu mengusap pucuk kepala kakanya lalu berdiri. “Vano berangkat dulu.” Katanya sambil menjauhi ranjang.             Lula menatap punggung tegap Vano yang menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu. Tak ada kecurigaan apapun pada wanita itu. Lula berpikir bahwa ponsel Vano memang sudah lama dan wajar jika tiba- tiba rusak. Seperti katanya, laki- laki itu lebih memilih menabung uang yang ia miliki daripada membuang uangnya untuk membeli gadget yang kemuculannya tidak akan ada habisnya.   ***               Setelah menghentikan mobilnya di parkiran kantornya. Ia mengambil ransel yang ada di jok sebelahnya dan keluar dari mobil. Ia menyantelkan satu tali ransel ke salah satu bahunya dan melangkah menuju bank swasta tempatnya bekerja. Ia menyapa satpam berseragam yang sudah berjaga di depan pintu. Beberapa teman- temannya sudah datang dan tengah sibuk menyipakan segalanya sebelum bank itu buka dan menerima nasabah.             “Mas Revan, ada paket, nih, tadi.” Security yang tadi ditemuinya di pintu memanggilnya dan mengejarnya sampai ke mejanya. Pria itu membawa sebuah paper bag kecil di tangannya dan menaruh di atas mejanya saat ia baru saja menjatuhkan diri di kursi empuknya.             “Dari siapa, Pak?” tanya Vano saat melihat isi paper bag itu adalah sebuah ponsel keluaran terbaru.             “Nggak tahu, Mas. Tadi pas ngantar cuma bilang ada titipan buat Revano.” Vano menatap sebuah catatan berisi namanya dan alamat kantornya yang tertempel di paper bag berwarna cokelat itu.             “Yang ngantar perempuan atau laki- laki?”             “Kurir, Mas.” Jawa pria itu. Ia menyebutkan salah satu aplikasi transportasi online yang juga menyediakan jasa pengantaran barang.             Laki- laki itu mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Saat pria berseragam itu menjauh, ia mengambil bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah ponsel keluaran terbaru dari merk buah tergigit yang ia tahu harganya sangat mahal.             “Wah… ganti HP Baru, Van?” kata Uta, salah satu temannya yang kebetulan melewati mejanya. “gila nggak tanggung- tanggung banget gantinya.” Semua mata yang ada di ruangan itu kontan melirik ke arah Vano. Beberapa bahkan mendekat dan menatap iri pada laki- laki itu yang bisa membeli ponsel mahal itu.             Salah satu teman perempuannya menjajal kamera ponsel itu setelah Vano menyetingnya. Mereka mengabadikan beberapa foto dengan ponsel baru milik laki- laki itu. Vano sendiri masih diam di tempatnya. Bingung. Namun ada satu nama yang terlintas di otaknya. Orang yang paling mungkin memberikan benda mahal itu. Aileen.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD