Pagi- pagi semua orang di rumah itu sudah sibuk. Vano membuat sarapan di dapur sementara Ailen dan Lula memeriksa barang- barangnya supaya tak ada yang tertinggal. Langit masih gelap saat Aileen dan Lula keluar dari kamar yang sama dengan dua buah ransel dan menaruhnya di sofa ruang tamu. Ransel milik Vano sudah ada di sofa. Laki- laki itu tampaknya tak membawa banyak barang karena berpikir hanya akan menginap satu hari.
Keduanya pergi ke depaur dan melihat sudah ada tiga porsi nasi goreng di atas meja. Vano sudah duduk di salah satu kursi kosong dan tengah menuangkan air dari teko ke tiga gelas kosong yang juga ada di atas meja.
Aileen dan Lula menempati kursi kosong di depan Vano, dipisahkan meja kotak panjang berbahan kayu jati. Mereka memulai sarapannya. Aileen tersenyum setelah mencoba suapan pertama. Ia memuji masakan Vano yang enak dan cocok di lidahnya.
Vano hanya mengulas senyum tipis lalu melanjutkan makannya.
“Lo semalam jalan sama siapa, Kak?” tanya Vano pada Lula yang semalam langsung masuk kamar saat sampai di rumah.
“KEPO.” Ucap Lula. Memilih tak memberitahu adiknya dengan siapa yang pergi kemarin. Vano berdecak, sementara Aileen mengulum senyum di sebelahnya. Lula tak tahu bahwa Aileen memberitahu bahwa kemarin wanita itu pergi dengan Malik. Salah satu orang yang sering ia temui di Daily.
“Laki- laki yang waktu itu gue lihat di toko, Malik?” tanya Vano. Pertanyaan itu membuat Lula terdiam. Ia menengadah dan menatap adiknya sambil berpikir. Seingatnya, ia tak pernah menyebutkan nama laki- laki itu pada adiknya. Ia lalu menoleh dan melihat Aileen tersenyum padanya.
“Lo ngegibah di belakang gue, ya?” katanya pada Aileen yang kini terbahak.
“Yaiyalah. Mana ada orang ngegibah di depan orangnya langsung.” Jawab Aileen. Vano tertawa kecil.
“Ish…” Lula mengerucutkan bibirnya. “gue nggak ada apa- apa, ya, sama Malik.”
“Ada apa- apa juga boleh. Udah gede ini.” kata Aileen.
Lula memilih tak meneruskan pembicaraan. Ia tahu bahwa jika ia membicarakan apa yang terjadi padanya kemarin, Aileen dan Vano pasti akan semakin meledeknya dan itu akan menjadi perbicaraan yang panjang. Ia memilih untuk menyimpannya sendiri untuk saat ini.
Setelah menyelesaikan sarapannya. Lula dan Aileen keluar dari rumah dengan ransel di bahu masing- masing sementara Vano memeriksa semua pintu dan jendela di dalam rumah. Memastikan bahwa semuanya sudah terkunci. Ia juga mencabut beberapa colokan yang terpasang ke stop kontak. Setelah memastikan semuanya aman, ia mengambil ranselnya yang ada di sofa dan pergi keluar dan mengunci pintu rumahnya. Ia menyusul Aileen dan Lula yang masih berdiri di belakang kobil dengan pintu bagasi yang terbuka.
“Vano yang nyetir aja sini, Kak.” kata Vano setelah menaruh ranselnya di dalam bagasi. Sebelah tangannya terulur dengan telapak tangan yang terbuka.
“Gue aja. Orang galau nggak boleh nyetir. Bahaya.” Kata Aileen sambil berjalan meninggalkan Lula dan Vano dan melesak di belakang kemudi.
Lula yang tak tahu apa- apa menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. Ia memang tak bertanya alasan kenapa Risa tak jadi ikut. Dan kini ia tau alasannya.
“Lo barentem lagi?” tanya Lula pada Vano yang hanya nyengir kuda. Keduanya masuk ke dalam mobil. Lula memilih duduk di bangku belakang sementara Vano di samping Aileen karena laki- laki itu yang akan bergantian menyetir dengan wanita itu.
“Gue suruh putus jugaan. Makan hati lo lama- lama.” Kata Lula saat Aileen menjalankan mobilnya. Mobil itu mengitari jalanan di komplek perumahan itu. Vano diam. Ia memang sebaiknya memilih diam saat Lula sudah mulai berbicara mengenai kisah percintaannya. Ia tahu bahwa sekeras apapun ia membela diri. Ia akan jatuh ke pada masalah yang sama berkali- kali. Saat ini, ia berpikir diam adalah pilihan yang terbaik.
Aileen mengulum senyum mendengar Lula menceramahi laki- laki di sebelahnya. Wanita itu bicara panjang lebar yang sebagian membuat Aileen setuju. Vano hanya mengerucutkan bibirnya dan terpaksa menelan semua ucapan kakaknya mentah- mentah. Vano menjadi anak penurut dan manis hari ini.
“Udah…La… udah.” Kata Aileen saat menyadari bahwa Lula sudah berbicara terlalu banyak dan sepertinya tak ada tanda- tanda akan berhenti.
“Kesel gue, tahu, nggak.” Sentak Lula. Ia tak lagi bisa menyembunyikan kejengkelannya.
Aileen mengulurkan tangannya dan mengusap bahu Vano pelan. Menyuruh laki- laki itu bersabar mendengar ocehan kakaknya. Dalam perkiraannya, ceramah Lula tak akan berakhir sampai di sini, mungkin akan mengalir menemani liburan mereka.
***
Malik keluar dari rumahnya dan melihat ibunya sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Dengan selang di tangannya, wanita itu membasahi rumput di halaman dan beberapa tanaman dalam pot yang ada di sana. untuk tanaman- tanamn yang lebih rentan, wanita itu menggunakan gayung yang ia ambil dekat keran.
“Kamu udah bangun.” Katanya saat melihat anak semata wayangnya keluar dari rumah dan duduk di bangku kayu yang ada di beranda rumah.
“Kamu nggak ke mana- mana hari ini?” tanya Indah saat melihat anaknya dan yakin bahwa laki- laki itu belum mandi dan hanya mencuci muka dan sikat gigi. Indah melihat anaknya menggeleng pelan. Tak seperti biasanya. Laki- laki itu biasanya tetap ke kantor saat sabtu. Hanya pulang sedikit lebih awal dibanding biasanya.
“Kamu kenapa?” tanya Indah saat melihat anaknya tampak kacau hari ini.
Malik menggeleng. Ia tidak ingin bercerita bahwa ia baru saja ditolak oleh seorang wanita. Ia tahu bahwa sejak pertama kali mengenal cinta dan jatuh cinta, ia sudah mendapatkan patah hati yang sangat besar. Sejak saat itu, ia memilih untuk menutup hatinya dan fokus pada kehidupannya. Ia tak tahu bahwa sosok Lula dengan sangat mudah membuka pintu hatinya yang telah lama ia tutup rapat.
“Muka kamu kayak habis di tolak perempuan.” Kata Indah saat ia duduk di kursi lainnya yang ada di beranda rumah. Matanya menatap anaknya lekat- lekat.
Malik menatap ibunya dengan tatapan bingung. Ia tak tahu bagaimana mungkin ibunya bisa menebak dengan benar. Ia tahu mungkin ibunya hanya asal menebak.
Malik menarik napas kasar dan akhirnya berkata, “Benar, Bu, Malik habis ditolak.” Kata laki- laki itu.
Indah menutup mulutnya tidak percaya. Namun ia senang karena anaknya menunjukkan rasa tertariknya pada seorang perempuan. “kok bisa? Alasannya apa?” tanya wanita itu. Tak bisa mengindahkan rasa penasaran dalam nada suaranya.
“Dia belum mau nikah. Dia masih mau nikmatin hidupnya.” Jawab Malik.
Indah terdiam. Ia tampak berpikir. Ada sesuatu yang salah, pikirnya.
“Tunggu… kamu ngajak nikah?” tanya Indah. Kerutan di dahinya belum juga hilang.
“Iya…”
“Kamu sama dia pacaran?” tanya Indah lagi.
“Nggak.”
“Kamu udah kenal lama sama dia?”
“Nggak, sih.”
“Udah kenal dekat?” Indah semakin penasaran.
“Nggak juga.” Jawab Malik.
Indah berdecak. “kamu baru kenal dan udah ngajak perempuan nikah?” Indah melihat ankanya mengangguk dengan wajah polos. “ya jelas pasti di tolak, lah.” Katanya. “kamu aneh banget, sih.”
***
“Risa nggak ngehubungin lo?” tanya Aileen saat Vano mendatanginya dan memberikan satu cup berisi kopi panas padanya. Ia melihat laki- laki itu menggeleng pelan.
“Vano juga nggak ngehubungin, sih.” Kata laki- laki itu. “Vano pikir dia butuh waktu.” Katanya.
Aileen mengangguk pelan. Ia mengembuskan asap rok0k dari mulutnya. Mereka sedang berhenti di rest area. Lula sedang pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu. Mereka berdua berdiri di belakang mobil dengan pintu bagasi yang terbuka.
“Minta rokoknya dong, Kak.” kata Vano. Ia sudah mengulurkan sebelah tangannya. Ia tahu ada satu bungkus rokok di pouch wanita itu yang sedang diletakkan di belakang mobil.
Sebelah tangan Aileen memegang tangan Vano yang terulur lalu mendorongnya pelan. “anak kecil nggak boleh ngerokok.” Kata Aileen. Ia masih mengisap lintingan nikotinnya dan mengembuskannya ke udara dengan pelan. Memberitahu laki- laki itu bahwa itu sangat nikmat.
“Pelit, ih. Pamer doang.” Kata Vano.
“Lo udah bener- bener nggak ngerokok. Sekali lo nyoba lagi, lo bisa susah berhenti lagi.” Aileen memberikan pendapatnya.
Vano tak memaksa lagi. Ia menyesap kopinya dalam cup dan melihat ke arah minimarket dan melihat kakaknya baru saja keluar dari pintu kaca transparan dengan banyak sticker tertempel di sana. Wanita itu keluar berjalan mendekat dengan satu kantong di tangannya.
Aileen mengambil bungkusan rokok dalam pounchnya dan mengulurkannya pada Lula saat wanita itu sampai di depannya. Ia menawarkan rok0k pada sahabatnya yang justru terdiam. Ia menatap ke arah Vano yang melotot padanya.
“Lo nggak boleh ngerokok sama Vano?” tanya Aileen sambil terkekeh pelan saat melihat tingkah kakak beradik di depannya.
“Ngurangin pelan- pelan.” Kata Vano.
“Kok lo nggak ngelarang gue, sih, Van? Masa Lula doang.” tanya Aileen.
“Emang Kak Aileen mau dengarin kalau Vano suruh berhenti?” Laki- laki balik bertanya padanya.
“Ya nggak lah.” Aileen tertawa.
“Satu, ya, Van. Gue dari kemarin belum ngerok0k, lho.” Kata Lula.
“Nggak boleh.” Kata Vano dengan nada tegas. Lula mengerucutkan bibirnya sementara Aileen terkikik geli.
Aileen mengmbuang putung rokoknya yang tinggal sedikit di tong sampah terdekat setelah memastikan apinya mati. Ia menyesap kopinya hingga tersisa setengah lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Aileen menyetir hingga Bandung meski Vano beberapa kali menawarkan untuk bergatian. Lula membuka sedikit jendela mobil dan merasakan angin dingin langsung menerpa wajahnya. Ia menarik napas panjang. Membiarkan udara dingin itu memenuhi rongga paru- parunya. Ia sudah lama sekali tak menghirup udara sebersih ini.
Mobil Aileen mulai menapaki jalan setapak dengan pemadangan hijau di mana- mana. Jalanan terus menanjak hingga akhirnya mobil mewah itu masuk ke sebuah kawasan dengan palang besar di depannya. Semakin jauh, jalan semakin rusak. Aileen menghentikan mobilnya di depan front office. Ia membuka kaca jendela dan melihat seorang pria berseragam menghampirinya dan memberikan kunci lalu mempersilakan mereka melanjutkan perjalanan menuju kamar yang sudah mereka pesan.
Aileen kembali menjalankan mobilnya. Mereka sudah mulai melewati tenda- tenda yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka. Namun Aileen tak berhenti. Mobil itu terus berjalan ke ujung hingga akhirnya menemukan sebuah parkiran dengan kebun strawberry di depannya.
Lula keluar lebih dulu dari mobil saat Aileen dan Vano sedang membuka safety belt. Pemandangan hijau di sekeliling begitu memanjakan matanya. Memang tidak salah kalau mengajak Aileen berlibur. Wanita itu akan memilih semua yang terbaik.
Vano keluar dari mobil dan langsung mendekati bagasi untuk mengambil barang- barang. Ia mengambil ransel milik Lula dan menyerahkan pada wanita itu yang masih terpesona dengan pemandangan di sekelilingnya.
“Ini kanvas mau di bawa juga, Kak?” tanya Vano. Lula memang memutuskan membawa satu kanvas dan alat lukis. Berjaga- jaga jika ia punya waktu untuk melukis.
Ketiganya mrnutuni tangga yang ada di sana menuju tenda pesanan mereka. Aileen berjalan di depan. Menatap tenda- tenda itu dan mencocokannya tipe dan nomornya dengan tulisan yang ada di kunci yang ia pegang. Di depan tenda- tenda itu dan meja dan bangku- bangku dari kayu dengan bak- bak untuk api unggung. Saat mereka ke sana, suasana sepi.
“Ini dia.” Kata Aileen. Ia mendekati satu kamar dengan dinding kayu yang tampak mengkilat. Ia memasukkan kunci ke lubangnya, memutar lalu menekan handle pintu hingga pintu terbuka.
Dibanding tenda, kamar itu telihat seperti kamar hotel. Kamar besar itu di lengkapi empat kasur ukuran sedang, lalu kulkas mini, dispenser, dan bathup dalam kamar mandinya juga perlengkapan standar hotel lainnya. Aileen memang mengambil kamar yang paling mewah dan mahal.
Vano membuka pintu transparan dan melihat apa yang ada di teras. Ada private pool dengan air hangat. Meja dan kursi juga tungku api unggun.
“Waaah…” Lula berseru saat menyusul Vano ke teras. Ia melihat kolam renang pribadi dengan pemandangan alam sejauh mata memandang.
“Gimana?” tanya Aileen saat ia bergabung dengan Lula dan Vano.
Lula sudah memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam renang sedangkan Vano duduk di kursi kayu di depan kolam. Aileen mengambil tempat di samping laki- laki itu.
“Dapet aja lo tempat kayak gini.” Kata Lula.
“Gue direkomendasiin sama sekretaris gue.” kata Aileen. “pas gue lihat di website tampatnya oke. Gue minta dia booking in sekalian.” Katanya lagi. “sekretaris gue jomblo, lho.” Kali ini Aileen menatap Vano yang hanya tersenyum kecil. “nggak kalah cantik juga dari Risa.”
“Vano masih belum kepikiran ngelepasin Risa, Kak.” kata laki- laki itu.
“Bagus.” Kata Aileen. “jadi laki- laki memang nggak boleh cepat tergoda.” Aileen menepuk bahu Vano dua kali lalu berdiri dan duduknya dan berjalan mendekati Lula. Wanita itu duduk di samping Lula dan menurunkan kedua kakinya ke dalam kolam renang.
“Jadi… apa yang terjadi kemarin sama Malik?” kali ini Aileen berbisik tepat di telingan Lula. Ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran dalam nada suaranya.
TBC
LalunaKia