Hujan turun saat Lula dan Malik baru saja hendak pergi dari perpustakaan. Lula menatap hujan deras yang tiba- tiba turun di depannya saat ia baru saja melewati meja resepsionis perpustakaan. Langit sudah gelap karena mendung meski jam belum menunjuk lewat jam enam sore.
Lula dan Malik berdiri di pelataran perpustakaan. Mengamati hujan yang anginnya mulai menggoyangkan dahan pohon dan terasa dingin saat menerpa kulit keduanya. Malik menatap mobilnya yang ada di parkiran. Ia tahu bahwa keduanya akan basah kuyup jika memaksa pergi tanpa alat pelindung.
“Aku pinjam payung dulu, ya, di dalam.” Kata Malik sambil berbalik. Namun ia belum melangkah karena sebelah tangannya tertahan. Lula menoleh padanya dan tersenyum kecil.
“Nggak usah. Kita tunggu sampai ujannya agar reda aja.” Kata Lula, “lagian kalau mereka punya, mereka pasti udah nawarin dari tadi.” Katanya lagi. Lula melepaskan sentuhannya refleksnya pada Malik. Ia bergerak ke samping lalu duduk di bangku panjang yang ada di sana dan menatap hujan.
Malik menatap telapak tangannya yang baru saja disentuh oleh Lula dan meremasnya pelan. Ia tersenyum kecil lalu mendekat dan duduk di samping wanita itu. Tak ada yang membuka pembicaraan. Keduanya membiarkan suara hujan mendominasi.
“Lula…” kata itu berhasil keluar dari mulut Malik setelah ia berdeham pelan dan berpikir. “kamu mau nggak nikah sama aku.” Kalimat itu meluncur mulus dari mulutnya. Sesaat setelah kalimat itu keluar, jantungnya berdegup kencang dan terasa ingin meledak. Ia melihat perlahan Lula menoleh ke arahnya.
“Nikah?” Lula mengulang salah satu kata dalam kalimat laki- laki itu. Memastikan diri bahwa ia tak salah dengar.
“Iya.” Jawab Malik dengan cemas. Ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya saat ini. Ini jelas jauh lebih sulit dan mendebarkan dibanding harus persentasi di depan klien- kliennya.
“Jadi suami istri maksudnya?” Lula meyakinkan sekali lagi. Ia tidak tahu apa yang merasuki laki- laki di sebelahnya. Pertanyaan itu jelas membuat kaget. Ia tidak percaya bahwa akan ada orang asing yang mengajaknya menikah. Oke, Malik mungkin bukan orang asing, namun tetap saja, jika melihat hubungan keduanya, tak seharusnya membuat Malik bisa melontarkan pertanyaan itu. Sadarkah laki- laki itu jika ia mengiyakannya, laki- laki itu seperti membeli kucing dalam karung.
Ia menatap wajah Malik baik- baik. Laki- laki itu serius, pikirnya. Laki- laki itu benar- benar mengajaknya menikah. Laki- laki itu menatapnya dengan raut wajah cemas dan tampak menunggu jawabnnya. Saat ini, Lula berharap laki- laki itu tertawa terbahak- bahak dan bilang bahwa apa yang baru saja ia katakan adalah sebuah lelucon sehingga ia bisa bernapas lega. Namun laki- laki itu bergeming, menyadarkannya bahwa itu bukan sebuah lelucon.
“Kenapa?” Lula mengabaikan pertanyaan Malik. Ia balik bertanya. Ingin tahu kenapa laki- laki mengatakan hal semacam itu padanya.
“Karena aku merasa kamu orangnya.” Malik tak perlu berpikir untuk menjawabnya. Ia melihat Lula tersenyum.
“Kamu nggak seharusnya ngajuin pertanyaan itu untuk orang yang belum lama kamu kenal.” Kata Lula. Hujan masih membasahi bumi, namun intensitasnya sudah berkurang. “ada banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan untuk pernikahan. Kamu nggak bisa mendeklarasikan diri kamu suka sama seseorang kalau hanya bertemu beberapa kali.” Kata Lula lagi. Kali ini ini ia menatap hujan di depannya.
“Manusia punya banyak rahasia. Ada hal- hal yang nggak bisa kamu temukan dalam satu kali lihat. Bahkan banyak yang masih menjadi rahasia meski sudah berhubungan bertahun- tahun.” Katanya lagi.
“Kita bisa coba pelan- pelan.” Kata Malik. “aku hanya minta persetujuan kamu. Aku pikir itu bisa nunjukin kalau aku serius sama kamu.” Malik melihat Lula tersenyum lagi. Namun tak mengalihkan pandangan dari hujan yang mulai menyisakan rintik- rintik kecil.
“Aku nggak bisa.” Kata Lula akhirnya. “aku nggak pingin pacaran dalam waktu dekat, apalagi berpikir untuk menikah. Aku masih menikmati hidup.” Kata Lula.
Hati Malik patah. Ia mengela napas. “Apa dengan pacaran, kamu nggak lagi bisa menikmati hidup?” tanya Malik. Ia tak mau menyerah begitu saja. Ia sudah memberanikan diri dan ia tak ingin kesempatan itu melewatinya begitu saja.
“Pacaran akan menyita banyak waktu.” Kata Lula, “aku nggak siap dengan banyak drama di hubungan percintaan.” Lanjutnya.
“Dari awal kamu bahkan nggak membahas perasaan kamu?” Malik bertanya lagi. Kali ini Lula menoleh dan menatap Malik. Laki- laki itu menatapnya dengan tatapan menuntut. Ia tak mengerti bagaimana laki- laki itu bisa berubah secepat ini. Kemarin- kemarin, laki- laki itu tampak canggung dan pemalu, ia pikir penolakannya akan langsung bisa di terima oleh laki- laki itu.
“Aku pikir jawabanku akan lebih memuaskan dibanding aku bilang ‘aku nggak suka sama kamu’” Ia tak tahan dengan situasi ini. Ia menatap hujan yang meninggalakn gerimis- gerimis kecil. “mau pulang sekarang… atau…” Lula berpikir untuk mencari taksi. Ia tahu bahwa mungkin penolakannya akan membuat laki- laki itu tidak nyaman. Namun saat melihat laki- laki mengangguk dan kembali menetralkan raut wajahnya, ia pikir laki- laki itu bisa menerima penolakannya dengan baik.
Lula berjalan lebih dahulu menembus rintik hujan yang sudah tak seberapa. Malik mensejajarkan langkah lalu membentangkan sebuah jaket denim yang baru saja ia ambil dari ranselnya di atas kepalanya dan kepala Lula. Lula menengok ke atas, lalu ke arah Malik yang menatap ke depan. Tubuh mereka merapat hingga ujung bahu mereka sesekali bersentuhan.
Malik membuka kursi penumpang dan mempersilakan Lula masuk dan menutup pintunya. Lula melihat Malik mengitari mobil lalu melesak di sebelahnya. Lula memakai safety beltnya saat Malik mulai menyalakan mesin.
Mereka diam selama perjalanan. Hanya suara lagu dari radio yang mendominasi. Langit sudah gelap. Mahahari sudah kembali ke peraduannya. Kini bulan dan lampu- lampu jalan mulai menggantikan tugas matahari menyinari semesta.
“Aku antar sampai rumah, boleh?” tanya Malik saat ia menyadari bahwa ia hampir sampai di Daily.
“Nggak usah. Aku turun di Daily aja.” Tolak Lula dengan halus. Ia tidak ingin lagi memberikan kesempatan untuk laki- laki itu. Ia tahu bahwa hubungan yang ia jalin bersama laki- laki itu membuat persepsi yang berbeda. Lula tak lagi ingin lagi membuat Malik berpikir bahwa ia memberikan lampu hijau. Bukan hubungan seperti itu yang ingin ia jalin dengan Malik. Sepertinya mengembalikan semuanya ke posisi semula adalah yang terbaik. Ia ingin Malik menganggapnya sebagai orang yang dibutuhkan jasanya. Ia juga akan menganggap laki- laki itu tak lebih dari seorang klien.
Malik mengangguk. Ia lihat bahwa hujan sudah berhenti, meninggalkan basah di mana- mana, juga genangan air di beberapa tempat. Ia menghentikan mobilnya di halte tak jauh dari Daily. Wanita di sampingnya langsung melepas safety beltnya.
“Makasih, ya.” Kata wanita itu. Malik mengangguk sambil tersenyum saat wanita itu menatapnya. Ia melihat wanita itu membuka pintu lalu keluar dan berdiri di halte bus. Malik menjalankan mobilnya pelan lalu kembali berhenti tak jauh dari halte. Dari kaca spionnya, ia masih bisa melihat Lula tengah mengambil ponsel dari tasnya. Wanita itu berdiri di halte meski ada bangku besi yang kosong. Tak lama sebelah tangan wanita itu terulur untuk menyetop taksi yang lewat. Wanita itu membuka pintu penumpang belakang dan sosoknya menghilang dari pandangannya. Malik melihat taksi itu melaju melewati mobilnya. Ia memutuskan untuk memutar kemudinya ke Daily.
***
Vano memasukkan mobilnya ke garasi dan melihat Aileen terduduk di beranda rumahnya. Wanita itu sedang sibuk dengan ponselnya saat Vano turun dari mobil.
“Kak Lula belum pulang?” tanya laki- laki itu sambil berjalan menghampiri Aileen yang langsung menengadahkan kepalanya.
“Belum.” Jawab Aileen.
“Kak Ai bukannya punya kunci cadangan?” tanya laki- laki itu lagi saat ia mengeluarkan kunci dari tasnya dan memasukkannya ke lubang kunci.
“Lupa… ketinggalan di apartemen gue.” jawab wanita itu. Ia berdiri dari duduknya dan melihat Vano memutar kunci dan menekan handle pintu hingga salah satu daun pintu berwarna cokelat itu terbuka.
“Kakak udah lama?” Vano mempersilakan wanita itu untuk masuk lebih dulu.
“Mayan… kalau gue lagi makan bakso, mungkin udah habis satu gerobak.” Kata wanita itu. Vano terkikik geli di belakangnya. Wanita itu membuka blazernya dan menyampirkannya di sofa, meninggalkan sepotong kaos di tubuhnya.
Aileen duduk di sofa ruang tamu sementara Vano pergi menuju dapur setelah menggantung tas ranselnya di stand hanger yang ada di pojok ruangan. Ia membuat teh hangat dan mengambil pudding yang semalam ia buat lengkap dengan vla vanilanya. Ia membawa semuanya dalam nampan bergaris berwarna cokelat.
“Yailah… kayak tamu aja gue.” kata Aileen saat Vano menaruh nampan di atas meja dan duduk di sebelahnya.
“Nggak apa- apa, Kak.” katanya. “besok kayaknya Risa nggak jadi ikut, deh.” Kata Vano.
“Lho… kenapa?” Aileen menoleh dan melihat raut wajah Vano yang tak seperti biasanya. Tidak salah lagi. Ia mulai hapal raut wajah itu. Laki- laki itu pasti tengah bertengkar dengan pacarnya. “berantem lagi?” tanya Aileen lagi saat melihat Vano tak menjawab pertanyaannya.
Vano tak menjawab. Hanya mengulas senyum tipis. Senyum penuh luka dalam pandangan Aileen. Aileen menggeser duduknya lebih dekat lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap pundak laki- laki itu pelan. Aileen melihat laki- laki itu menjilat bibir bawahnya dan mengarik napas berat. Sebelah tangan Vano memijit- mijit keningnya.
“Ini udah sering banget kejadian. Bahkan saat kita LDRan. Vano pikir kalau kita nggak LDR dia bakal percaya. Ternyata sama aja.” Vano melirih. Aileen menatap laki- laki di sebelahnya yang sedang mengusap wajahnya. Ia tak mengerti masalah apa yang dimaksud laki- laki itu, namun ia tahu ia tak bisa melakukan apapun selain mendengarkan laki- laki itu.
“Vano nggak ngerti kenapa dia bisa segitu cemburunya. Itu bukannya nunjukin kalau dia nggak percaya sama Vano, ya, Kak?” laki- laki itu menoleh dan tatapan keduanya bersirobok.
“Mungkin dia dulu pernah punya pengalam buruk.” Kata Aileen. “diselingkuhin misalnya.” Kataya lagi. “itu bisa jadi alasan dia nggak mudah percaya sama orang lain.”
“Terus Vano harus gimana biar dia percaya? Vano cinta sama dia. Serius. Vano nggak main- main.” Laki- laki itu menghela napas kasar. Bingung karena semakin hari semakin tak bisa mengerti wanita itu. Meski dekat, ia merasa bahwa wanita itu jauh darinya. Tali yang diikatkan wanita itu padanya semakin hari semakin terasa kencang dan mencekiknya.
“Lepasin aja kalau lo udah nggak sanggup.” Kata Aileen. Ia tak tahu apakah sarannya benar atau tidak, berguna atau tidak. Namun ia tak punya pilihan kata lain selain meminta laki- laki itu melepaskan jika sudah tak sanggup.
“Vano sayang banget sama Risa, Kak.” Vano menoleh dan kembali menatap Aileen. Laki- laki itu tampak berantakan dalam pandangannya. Aileen menghela napas, ia mendekat dan memeluk laki- laki itu. Kedua tangannya terangkat untuk mengusap pundak laki- laki pelan. Berharap sentuhannya bisa memberikan ketenangan pada laki- laki itu.
Vano menjatuhkan kepalanya di bahu Aileen. Ia merasakan sentuhan lembut wanita itu di punggungnya. Entah kenapa ia merasakan bahwa sebentar lagi ia akan menangis. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya.
Aileen mengurai pelukannya. “Lo udah besar dan lo yang lebih tahu hubungan lo dengan Risa harus di bawa ke mana.” Kata Aileen. “lo seharusnya juga tahu bahwa kalau lo serius dan berpikir untuk menikah, itu bukan hanya soal cinta. Banyak aspek yang harus lo pikirkan.” Lanjutnya.
Aileen mengambil sebelah tangan Vano dan mengusapnya pelan, “gue tahu lo banyak mengalah sama Risa selama ini. Tapi lo nggak bisa gini terus. Lo perlu bicara dari hati ke hati sama Risa. Kasih tahu dia bahwa lo serius sama dia dan minta dia berubah.”
Vano menatap tatapan teduh Aileen. Saat- saat seperti ini, Aileen terlihat jauh lebih dewasa dibanding hari- hari biasanya. Laki- laki itu mengangguk pelan. Ia tak tahu itu apa cara itu akan berhasil, namun ia harus mencobanya.
Benar kata Aileen, selama ini lebih sering mengalah pada Risa. Yang ia lakukan setiap kali ia bertengkar adalah meminta maaf dan berjanji untuk tak mengulangi apa yang gadis itu tak suka. Selama ini yang ia lakukan hanya mencoba membahagiakan gadis itu, dan lupa membahagiakan dirinya sendiri. Ia terlalu mencintai gadis itu sehingga mungkin ia rela melakukan apapun agar tak kehilangannya.
Namun ia sadar bahwa ia tak bisa begini terus. Ia tak bisa terus menerus mengalah pada gadis itu dan menutup mata atas semua yang terjadi. Selama ini gadis itu selalu bersikap bahwa kemarahannya wajar dan apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Padahal mungkin adalah sebaliknya.
“Makasih, ya, Kak.” kata Vano pada Aileen yang mengangguk sambil tersenyum.
“Lo besok jadi mau ikut?” tanyanya.
“Jadi.” Jawab Vano. “Vano butuh refreshing kayaknya.” Katanya. “ngomong- ngomong, Kak Lula ke mana, ya? Kirain dia bakal nggak jadi pergi hari ini.” Ia mengubah pembicaraan lalu melirik pintu dan tak menunjukkan tanda- tanda kedatangan Lula.
“Dia lagi ngedate.” Jawab Lula. Vano yang tadinya sudha mulai berdiri kembali menjatuhkan bokongnya di sofa. Ia menatap Aileen dengan tatapan penasaran.
“Ngedate sama siapa?” tanya Vano langsung.
“Malik.” Aileen menjawab. “laki- laki yang kemarin gue ceritain sama lo.”
TBC
LalunaKia