CHAPTER SEMBILAN BELAS

2106 Words
            Malik melirik Lula yang baru saja memasukkan bukunya dan tempat pensilnya ke dalam totebag. Gadis itu berdiri dari duduknya dengan ponsel yang tergenggam di sebelah tangannya. Malik sudah menutup komputer jinjingnya saat Lula berjalan mendekatinya. Saat pandangan keduanya bertemu, wanita itu tersenyum, Malik membalasnya dengan senyum tak kalah manis.             “Mau ke mana?” tanya Malik saat Lula baru saja melewatinya. Ia berdiri dari duduknya dan memasukkan komputer jinjingnya ke dalam tas dengan cepat. Langkah kaki membawanya mengekori wanita itu.             “Perpustakaan.” Jawab Lula sambil berjalan menuruni tangga. Malik sudah berhasil mensejajarkan langkah dan berjalan di sebelah wanita itu.             “Perpustakaan?” Malik mengulangi jawaban Lula dan melihat wanita itu mengangguk pelan. Mereka sudah sampai di tangga terakhir saat Malik kembali bertanya, “aku boleh ikut? Aku nggak punya kegiatan karena semua kerjaan udah selesai.”             Malik tak berbasa- basi. Ia melihat Lula menoleh ke arahnya seraya berpikir. Kedua kaki mereka masih melangkah hingga sampai di depan pintu restoran.               “It will be boring.” Kata Lula. Ia berhenti di depan restoran. Ia melihat Malik yang berdiri di sebelahnya. Laki- laki itu tersenyum dan tampak serius dengan apa yang ia katakan sebelumnya. “oke.” Kata Lula akhirnya.             “Wait…” Malik berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran Daily.             Tak lama sedan putih berhenti di depan Lula. Wanita itu mendekat lalu membuka pintu penumpang depan dan melesak di samping kemudi. Malik menyalakan pemutar musik sebelum akhirnya kembali menjalankan mobilnya keluar dari pelataran Daily dan bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan raya.             Lula memberitahu tujuannya lebih jelas saat Malik bertanya. Dengan peta online, Malik membawa Lula ke tempat tujuannya.               Lula membuka obrolan untuk memecah kecanggungan hingga akhirnya mereka mulai membicarakan banyak hal. Malik sebisa mungkin menghindari pembicaraan mengenai dirinya. Ia lebih suka mereka membicarakan hal- hal yang lain. Apa saja berita yang sedang hangat akhir- akhir ini.             “Yang kemarin nyusul kamu ke Daily itu siapa?” tanya Malik akhirnya. Ia harus mendapatkan jawaban, pikirnya. Ia tidak bisa terus menerus berspekulasi. Jika memang wanita itu sudah memiliki kekasih, ia akan mundur. Ia tidak ingin merusak hubungan orang lain.             “Adik gue.” jawab Lula. Mendengar jawaban wanita di sebelahnya, Malik menghela napas lega secara tidak ketara. Ia tersenyum menyadari bahwa ia masih punya kesempatan. Ia melirik Lula yang sedang fokus pada ponsel di tangannya.             Aileen : Lo di mana?             Lula : Mau ke perpustakaan.             Aileen : Sama siapa?             Lula : Malik.             Aileen : Ciiieee…             Lula berdecak membaca pesan terakhir yang dikirimkan sahabatnya. Ia lalu melirik Malik yang sedang fokus pada kemudi dan jalanan di sekitarnya.             Lula tak punya niat apapun pada Malik. Ia juga berharap Malik sama sepertinya. Ia hanya berpikir bahwa keduanya bisa menjalin hubungan yang baik. Sama seperti hubungan yang Lula jalin dengan orang- orang yang ia temui di Daily.             Lula menggeleng pelan. Ia dan Malik sudah sama- sama dewasa. Ia jelas tak akan terbawa perasaan dan berpikir bahwa Lula memiliki perasaan meski Lula kerap menerima twaran laki- laki itu.             Mobil sedan yang dikendarai Malik memasuki pelataran perpustaakan. Tak ada banyak kendaraan yang terparkir di sana. Saat Malik berhasil memarkirkan mobilnya di perpustakaan yang ada di bilangan Kuningan itu, Lula melepas safety beltnya dan keluar dari mobil terlebih dahulu.             Lula berjalan menuju pintu masuk perpustakaan, Malik mengekori di belakangnya. Saat melewati pintu, keduanya disambut oleh seorang resepsionis yang duduk di balik meja besar berwarna cokelat.             Wanita berpakain rapi dengan rambut panjang yang dikuncir itu menyambut keduanya dan meminta keduanya untuk mengisi buku tamu. Setelah menyelesaikan administrasi yang diperlukan, keduanya masuk ke dalam ruangan dengan rak- rak yang menjulangi tinggi dan penuh buku. Ruangan besar itu di d******i oleh barang- barang berwarna cokelat yang terlihat elegan. Di bagian tengah, ada meja dan kursi yang ditata begitu rapi. Ada meja- meja dengan sekat, ada pula yang tanpa sekat. Beberapa meja sudah terisi namun masih lebih banyak yang kosong. Suasana sangat sunyi. Kedatangannya tak berarti apapun karena semua yang ada di sana fokus dengan buku bacaannya masing- masing.             Lula mendekati buku- buku yang memajang buku- buku seni, sedangkan Malik pergi ke rak- rak yang memajang buku- buku bisnis. Kedua berpisah, mencari buku sesuai kebutuhannya masing- masing.             Lula mengambil satu buku dan membawanya ke salah satu meja yang kosong. Ia membuka lembar demi lembar. Membaca tiap baris lalu melihat gambar- gambar yang ada di dalam buku.  Ia mengamati gambar- gambar berwarna itu baik- baik. Tak lama Malik duduk di kursi kosong di depannya. Laki- laki itu membawa satu buku di tangannya. Lula tak bisa membaca judul buku karena tertutup oleh sebelah tangan Malik.             Lula kembali fokus pada bacaannya. Setelah menghabiskan setengah jam membaca buku itu, Lula mengeluarkan buku gambar dan tempat pensilnya dan memulai kegiatan kesukaannya. Sementara Lula asik menggambar, Malik fokus pada buku bacaannya.             Malik menengadah dan tak sadar bahwa wanita di depannya sudah mengubah kegiatannya. Wanita itu mengikat rambutnya setengah sehingga rambut panjangnya tak mengganggunya saat harus menunduk saat menggambar. Dari tempatnya, Malik bisa melihat wanita itu tengah membuat sketsa sebuah lorong yang diapit oleh rak- rak tinggi berisi buku. Wanita itu menggambar seperti salah satu lorong yang terlihat di perpustakaan itu.             Tak sadar, Malik menutup bukunya dan kini sepenuhnya menatap Lula. Tangannya yang lincah menarik garis demi garis, wajahnya yang serius, matanya yang kadang mengerjap cepat. Malik tersenyum, menyukai apa yang ia lihat saat ini. Ia tak tahu sejak kapan ia merasa menyukai semua yang ada pada diri wanita itu.             Suara dering ponsel membuat lamunan Malik buyar. Ia yang juga merasakan getar di saku celananya buru- buru mengeluarkan benda pipih itu dari sana sebelum bunyinya menganggu pengunjung perpustakaan yang lain. Ia pergi keluar untuk mengangkat panggilan itu.   ***               Sore ini, Risa yang baru saja selesai meeting di luar kantor memutuskan untuk langsung menemui Vano di kantornya. Dari tempat pertemuan, ia pergi menggunakan taksi hingga kendaraan roda empat itu berhenti di depan sebuah bank swasta. Ia sengaja tak memberitahu Vano karena berpikir ingin memberikan kejutan pada laki- laki itu.             Ia turun dari taksi yang membawanya dan berjalan pelan mendekati pintu masuk bank. Seorang security memberitahunya bahwa semua kegiatan perbankkan sudah di tutup. Saat Risa memberitahukan maksud kedatangannya, pria berseragam dengan tubuh tegap itu mempersilakan gadis itu masuk ke dalam.             Kursi- kursi yang biasanya dipenuhi oleh nasabah sudah kosong. Para karyawan sibuk di balik mejanya masing- masing, menyelesaikan pekerjaannya. Saat masuk, ia langsung melihat Vano yang posisi mejanya menghadap pintu masuk. Laki- laki sedang berdiskusi dengan seorang karyawan wanita. Risa menghentikan langkahnya. Vano tak melihatnya karena ia fokus pada gadis yang berdiri di sebelahnya. Rasa sesak di dadanya semakin terasa saat ia melihat kedua orang itu tertawa. Gadis itu bahkan menyenggol bahu Vano dengan sebelah tangannya.             Kedua tangan Risa mengepal. Ia baru hendak berbalik saat tatapannya bertemu dengan mata Vano. Laki- laki tampak kaget, begitu juga dengan gadis yang ada di sebelahnya.             “Risa…” Vano langsung berdiri dari duduknya. Ia berjalan berjalan cepat saat melihat Risa membalik badan dan kembali keluar dari kantornya. Ia berlari… mengejar langkah kaki Risa yang semakin cepat.             “Risa… tunggu…” sebelah tangan Vano menarik lengan gadis itu hingga gadis itu berbalik ke arahnya. “kenapa? Kamu kenapa nggak bilang mau ke sini?” tanya Vano. Mereka sudah berdiri di trotoar dan menyadari beberapa pasang mata yang ada di sekitar melirik ke arah mereka.             Vano menatap Risa yang masih terdiam di depannya. Wajah gadis itu kesal dan ia tahu bahwa sebentar lagi gadis itu akan meledak. Ia akhirnya mengandeng tangan Risa dan membawanya ke mobilnya.             Di dalam mobil, gadis itu juga tak mau bicara. Vano tak mengerti apa yang salah dengannya. Ia membalas pesan gadis itu dengan cepat, juga mengangkat panggilannya saat makan siang.             “Cewek yang tadi siapa?” Risa akhirnya membuka mulutnya. Ia melihat Vano mengerutkan dahinya kebingungan. “cewek yang barusan di meja kamu.” Gadis itu memperjelas.             Vano tersenyum sambil menghela napas, “Jelita…” jawab Vano, “tadi kita lagi diskusiin salah satu case nasabah.” Vano memperjelas.             “Harus sambil ketawa- ketawa dan senggol- senggolan gitu.” Risa melipat kedua tangannya di depan d**a. Matanya menatap lurus ke depan.             Vano menggaruk dahinya yang tidak gatal. “aku sama Jelita nggak ada apa- apa.” Kata Vano.             “Sekarang nggak ada apa- apa. Nanti kan kita nggak tahu. Bisa aja salah satu dari kalian ada yang terbawa perasaan.” Kata Risa. Ia menatap Vano dengan tatapan marah yang sudah tak bisa disembunyikan.             “Kamu kok mikirnya jauh gitu, sih?” kata Vano. “hubungan aku sama Jelita nggak lebih dari rekan kerja.”             Risa mendesis, “ya kalau begitu kamu harusnya professional dong. Nggak usah lah dekat- dekat begitu.”             “Aku udah professional, Ris. Apa yang kamu lihat nggak seperti apa yang kamu bayangin. Lagian dia juga udah punya pacar.” Kata Vano, ia sedikit menaikkan nada suaranya.             “TAPI AKU NGGAK SUKA.” Risa menyentak. “aku nggak suka kamu terlalu dekat sama teman- teman cewek kamu.”             Vano menghela napas. Ia lelah. Ia sedang tidak ingin berdebat. Ia mengambil sebelah tangan Risa dan mengumamkan maaf dan berjanji akan lebih menjaga jarak dengan rekan kerja perempuannya.             “Mana ponsel kamu?” Risa membuka telapak tangannya. Meminta laki- laki itu menyerahkan ponselnya. Vano tak membantah, ia mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya dan menaruhnya di telapak tangan kekasihnya.             “Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Vano. Risa tak menjawab, ia melihat Risa fokus membedah semua isi ponselnya. Laki- laki itu menggeleng pelan, “kamu tunggu sebentar, ya. Aku beres- beres dulu setelah itu kita pulang.” Kata Vano. Ia keluar dari mobil dan kembali ke kantornya.             Jelita tahu ada yang tak beres dari rekan kerjanya. “Pacar lo, ya?” tanya wanita itu saat Vano duduk di kursinya. Wanita berseragam itu melihat Vano mengangguk pelan. “dia marah, ya?” tanyanya lagi. “gara- gara gue?” suaranya terdengar tak enak.             “Nggak kok…kita memang lagi sering bermasalah akhir- akhir ini.” kata Vano. Ia tahu tak ada yang salah dengan Jelita sehingga tak ingin gadis iu tahu permasalahannya dengan Risa.  Kedua tangannya memberesakan dokumen- dokumen di atas meja dan menaruhnya di laci. Ia juga membereskan barang- barang pribadinya dan memasukkannya ke dalam tas.             “Gue duluan, ya.” Pamitnya pada rekan kerjanya yang lain. Ia keluar dari kantor dan kembali ke mobilnya.             “Gimana, kamu udah nemuin sesuatu di ponsel aku?” tanya Vano saat ia melesak di belakang kemudi.             “Aku nggak suka, ya, kamu foto terlalu dekat sama perempuan.” Risa mengembalikan benda pipih di tangannya pada Vano yang langsung menerimanya.             Vano melihat foto yang ada di layar ponselnya, “ini kan foto ramai- ramai, Ris.” Kata Vano.             “Tetap aja bahu kamu sama perempuan di sebelah kamu itu nempel.” Risa tampak tak mau kalah.             “Oke… oke…” kata Vano akhirnya. Ia menyalakan mesin mobil dan membuat empat roda itu berputar. “kamu mau makan apa?” tanya Vano saat ia berhasil keluar dari pelataran kantornya.             “Aku mau pulang.” Jawab Risa dengan nada dingin. Vano menoleh dan melihat wajah gadis itu masih menegang. Ia tahu bahwa hal sekecil ini tak akan berakhir dengan mudah. Mereka mungkin membutuhkan waktu berhari- hari untuk kembali seperti semula. Gadis itu butuh waktu jauh lebih banyak dari orang lain untuk memaafkan.             “Ris… ayolah. Aku udah minta maaf dan janji. Perlu gimana lagi biar kamu langsung maafin aku detik ini juga?” tanya Vano saat ia menghentikan mobilnya di perempatan. Ada nada frustasi dalam kalimatnya.             “Aku malu pulang.” Jawab Risa tanpa ampun.             Vano menghela napas kasar. Ia tahu bahwa Risa tak akan bisa dibantah. “kamu besok jadi ikut kan?” tanya Vano. kali ini dengan nada lembut. Sebelah kakinya kembali menekan pedal gas saat lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau.             “Aku nggak mood ke mana- mana. Aku mau di rumah aja.” Jawab gadis itu. Masih tak menatap Vano dan fokus melempar pandangan ke luar jendela.             “Sayang, jangan gitu dong.” Kata Vano dengan nada rendah. “aku udah bilang sama kak Lula dan kak Aileen, lho, kalau kamu ikut.” Katanya lagi.             “AKU MAU DI RUMAH!!!” kata Risa dengan nada yang tak bisa diganggu gugat.             Vano menghela napas kasar. Ia tak berbicara lagi. Ia membiarkan suasana hening menyelimuti sisa perjalanan mereka. Ia sesekali melirik Risa yang terlihat tenang, tapi ia tahu ada lava menggelegak dalam hati gadis itu. Vano hanya perlu diam dan memberikan gadis itu waktu seperti biasanya.               Mobil Vano berhenti di depan gerbang rumah Risa. Wanita itu membuka safety belt dengan kasar lalu keluar dari mobil. Vano melihat sosok itu keluar dari mobil, memutar lalu masuk ke dalam gerbang tanpa menoleh ke arahnya. Ia memukul setir lalu mengacak- acak rambutnya dengan frustrasi.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD