Malik tak tahu sudah berapa lama ia memerhatikan keduanya. Ia hanya merasa bahwa fokusnya sepenuhnya tersedot ke dua orang yang masih asik mengobrol. Isi dalam piring laki- laki itu sudah habis, begitu juga dengan isi cup Lula. Namun keduanya masih asik mengobrol. Sesekali keduanya tertawa. Dari gesture yang diperlihatkan keduanya, pembicaraan keduanya tampak seru meski ia tak bisa mencuri dengar.
Malik tak bisa menyimpulkan apa sebenarnya hubungan keduanya. Ia hanya tahu bahwa keduanya sangat dekat. Matanya memicing, ia mengambil ponselnya dan mencari username Lula di media sosialnya. Ia menscroll sampai bawah hingga akhirnya menemukan sebuah foto wanita itu bersama seorang laki- laki. Ia menatap foto itu lalu ke laki- laki yang duduk di depan Lula. Sama.
Ia menatap ponselnya dan tak menemukan tanda di postingan wanita itu yang bisa menjelaskan siapa sosok laki- laki itu. Ia menaruh kembali ponselnya dan kembali fokus saat kedua orang yang sejak tadi ia perhatikan berdiri dari duduknya. Laki- laki itu berjalan lebih dulu dan membuka pintu pembatas area lalu mempersilakan Lula masuk lebih dulu.
Malik memberanikan diri mengangkat wajahnya saat Lula berjalan ke arahnya. Tatapan keduanya bersirobok. Ia menarik garis bibirnya saat melihat Lula tersenyum ke arahnya.
“Rajin banget pagi- pagi udah di sini?” tanya Lula pada Malik saat jaraknya sudah dekat dengan meja yang ditempati laki- laki itu.
“Iya…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Malik. Senyum dan sapaan itu terlalu tiba- tiba. Ia tidak siap mendapatkan keduanya.
“Duluan, ya.” Kata Lula. Ia menepuk bahu Malik dua kali.
Malik tak menjawab. Ia menyentuh bahunya yang baru saja ditepuk oleh Lula lalu menoleh dan melihat wanita itu baru saja keluar dari pintu. Laki- laki itu mengekori di belakangnya.
“Dia bukannya yang sama kakak ke toko buku?” tanya Vano saat keduanya masuk ke dalam mobil.
“Iya.” Jawab Lula cepat.
Vano menyalakan mesin mobil lalu menekan pedal gas hingga roda mobil itu berputar keluar dari parkiran Daily.
“Yang pesan lukisan sama lo juga, kan?” Vano bertanya lagi. Ia menoleh dan melihat Lula mengangguk di sebelahnya.
“Kalian dekat?” tanya Vano lagi.
“Nggak terlalu, sih.” Jawab Lula.
“Kok bisa- bisanya dia pesan lukisan sama lo?”
“Dia lihat sketsa- sketsa gue bagus.” Jawab Lula penuh percaya diri.
Vano tak bertanya lagi. Ia mengarahkan mobilnya menuju rumahnya untuk mengantar Lula sebelum pergi ke kantornya.
“Jadi… lo punya rencana apa hari ini?” tanya Vano saat ia baru saja menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Lula sedang melepaskan safet belt di sebelahnya.
Lula menghela napas, “nggak tahu, kayaknya gue mau tidur aja di rumah.” Katanya.
“Ish… hidup lo suram banget, sumpah.” Kata Vano. “cobalah banyak bergaul. Lo gimana mau dapat pacar kalau kerjaannya di rumah mulu.” Katanya lagi.
“Single adalah pilihan gue. Makanya gue banyak di rumah biar nggak ada yang naksir. Kasihan yang naksir gue, pasti gue tolak karena gue belum mau pacaran.” Jawab Lula. “bye…”
Dahi Vano berkerut dalam. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya melihat kakaknya keluar dari mobil.
“Hati- hati…” Vano mendengar kata- kata itu saat ia membuka jendela dan Lula berdiri di sampingnya. Vano mengangguk. Ia kembali menekan pedal gas saat melihat Lula sudah berjalan mendekati pintu rumahnya.
***
Lula masuk ke rumahnya dan langsung pergi menuju kamar untuk membersihkan diri. Ia melucuti semua pakaiannya dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor lalu berdiri di bawah pancuran. Sebelah tangannya menyalakan kran hingga air melolosi pancuran dan membasuh tubuhnya dari rambut hingga ujung kaki. Ia berdiri di bawah pancuran hingga semua tubuhnya basah lalu mengambil sampo dan mengusapkannya ke kepala hingga rambutnya dipenuhi busa berwarna putih. Setelah selesai dengan kepalanya, ia melanjutkan mengusap seluruh tubuhnya dengan kedua tangannya yang sudah diberi sabun.
Setelah tak bagian tubuhnya yang terlewat. Ia mengambil facial wash dan menuruh seukuran kecil ke telapak tangannya dan mengusap kedua tangannya hingga berbusa dan meratakannya ke wajahnya. Setelah itu ia kembali menyalakan kran dan membiarkan air dari pancuran membilas semua busa yang melekat di tubuhnya.
Setelah memastikan tubuhnya sudah bersih. Ia mengambil handuk untuk meliliti rambutnya, lalu batrobe untuk membungkus tubuh telanjangnya. Ia pergi ke westafel dan mengosok giginya dengan pasta gigi rasa mint.
Ia melangkah keluar setelah menyelesaikan seluruh ritualnya. Kakinya mendekati lemari dan membukanya pintunya dengan sebelah tangannya. Lama ia menatap lemarinya. Ia tahu bahwa menghabiskan waktu di rumah saat hari liburnya yang berharga bukanlah ide yang bagus.
Ia akhirnya mengambil dress selutut berwarna putih juga jaket jeans yang tergantung di dalam lemari dan menaruhnya di ranjang. Ia duduk di depan meja riasnya. Sebelah tangannya membuka laci meja den mengeluarkan pengering rambut dari sana. Setelah menghubungankan mesin itu ke aliran listrik, ia menekan satu tombolnya dan bunyi dari pengering rambut langsung memenuhi ruangan.
Lula mengeringkan rambutnya. Menyisirnya dengan rapi dan membiarkan rambut panjangnya jatuh melewati bahunya. Selesai dengan rambutnya, ia melanjutkan dengan sunscreen, matanya lalu menatap kotak make up di depannya. Sebelah tangannya bergerak untuk mengambil pensil alis dan ia memakainya untuk menata sedikit bentuk alisnya. Setelah itu ia mengambil cushion dan membubuhkannya ke wajahnya hingga rata. Setelah itu, ia memakai sedikit perona pipi berwarna orange agar wajahnya tidak terlalu pucat. Ia mengakhiri kegiatan make upnya dengan polesan liptint pada bibirnya. Ia tersenyum, menatap potret dirinya di cermin di depannya.
Lula berdiri dari duduknya lalu memakai baju yang ia taruh di ranjang. Ia belum tahu akan ke mana setelah ini. Ia hanya berpikir bahwa hari ini ia harus terlihat sedikit berbeda dari hari biasanya.
Ia mengambil totebag berwarna putih yang tergantung di salah satu sudut kamarnya dan mengisinya dengan buku skesta, alat tulisnya, dompet dan pounch serbagunanya. Ia keluar dari kamar dan berdiri di depan rak sepatunya. Tampak berpikir akan memakai sepasang yang mana. Pilihannya jatuh pada sneakers yang sewarna dengan gaun santainya.
Ia membawanya ke sofa lalu memakainya. Setelah semuanya selesai dan rapi. Lula berpikir lagi. Akan ke mana ia hari ini. Ia memikirkan banyak tempat yang bisa ia kunjungi hari ini. Taman hiburan, mall, museum, taman kota, perpustakaan, dan masih banyak lagi. Namun otaknya tak bisa berpikir tempat mana yang sebaiknya ia kujungi. Ia menyandarkan punggungnya di sofa dan menghela napas panjang. Haruskan ia tetap di rumah dan kembali bekerja?
***
Lula turun dari taksi setelah membayarkan sejumlah uang sesuai dengan tagihannya. Ia menatap tempat yang beridiri di depannya sambil berdecak. Ia memang sepertinya tak punya tujuan lain selain Daily resto and coworking space. Setelah berpikir panjang dan bingung harus ke mana, Lula akhirnya pergi ke Daily dan berpikir akan berada di sana hingga sore baru nantinya pergi ke taman kota atau tempat lainnya.
Ia masuk ke Daily dan mendapati bahwa restoran itu sudah ramai padahal hari baru beranjak siang dan masih lama dari jam makan siang. Sekumpulan orang- orang menempati beberapa meja dan tampak asik mengobrol. Lula langsung melangkah mendekati tangga yang ada di ujung ruangan dan naik ke lantai dua. Ruangan di lantai dua itu ramai seperti biasanya. Ia berjalan pelan sambil memindai sekeliling.
Malik yang berdiri di sudut ruangan dan tengah membuat secangkir kopi nyaris menjatuhkan cangkirnya saat melihat Lula memasuki ruangan. Wanita itu terlihat berbeda kali ini. Wanita itu tampak sangat cantik dengan riasan tipis di wajahnya. Gaun selutut dan jaket denim itu membuat penampilannya menawan namun tetap kasual.
Malik merasakannya lagi. Perasaan yang sudah lama tak ia rasakan. Detak jantungnya menggila seakan jantungnya ingin melompat dari tempatnya. Ada buncahan perasaan yang sekuat tenaga ia coba tahan dan kendalikan, dorongan untuk mendekati wanita itu dan menyatakan perasaannya.
Malik tak tahu sejak kapan wanita itu mengendalikan perasaannya. Seperti sejak pertama kali ia melihatnya. Sejak pertama kali sosok itu melintas di depan matanya. Malik sudah melewati hari- hari panjang hanya memperhatikan Lula dari jauh hingga akhirnya memberanikan diri mendekati wanita itu perlahan- lahan sampai akhirnya kini saling kenal. Malik tahu bahwa pergerakannya sangat lambat. Ia butuh banyak waktu meyakinkan diri bahwa ia bisa. Ia sudah lama tak dekat dengan wanita dan kini butuh keberanian penuh untuk mendekati wanita itu.
Malik melihat Lula menempati satu meja panjang yang berada di dekat kaca. Dari meja itu, Lula bisa melihat pemandangan di luar. Malik membawa cangkir berisi kopi yang baru saja ia buat dan duduk di tempatnya. Ia menempati meja yang bisa dengan jelas menatap punggung wanita itu.
Wanita itu tak membawa latop seperti biasanya. Malik melihat wanita itu mengeluarkan buku dari dalam totebagnya juga tempat pensil. Dari tempatnya duduk, Malik tak bisa melihat apa wanita itu kerjakan, namun dari apa yang dikeluarkan oleh wanita itu, ia bisa menebak bahwa wanita itu akan menggambar.
Malik menatap laptopnya lalu ke arah Lula. Ia berpikir haruskah ia pindah ke sebelah wanita itu. Ia tahu wanita itu tak keberatan, tapi ia jelas akan lebih fokus pada wanita itu dibanding pekerjaannya. Ia menggeleng pelan. Ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
***
Lula sangat menikmati kegiatannya kali ini. Ia tahu yang ia butuhkan adalah menggambar dengan tenang. Tangannya dengan lincah menekan pensil yang ia pegang ke atas kertas. Membuat garis- garis yang saling menyatu satu sama lain.
Sesekali Lula melempar pandangan ke luar jendela. Ke jalanan yang tampak padat dan orang- orang yang melintas di sekitarnya. Waktu terus bergulir. Orang- orang di sekitarnya datang dan pergi. Lula masih ada di posisinya. Asik dengan kegiatannya. Ia harusnya tahu bahwa ia tak perlu pergi jauh. Ia hanya perlu mendapatkan tempat yang tenang lalu menggambar tanpa berpikir bahwa masih banyak daftar pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Suara denting pesan yang keluar dari ponselnya membuat perhatian Lula teralihkan.
Aileen : Jadinya lo ke mana hari ini?
Lula membalas pesan itu. Ia mengetuk ibu jarinya di atas layar ponselnya.
Lula : Gue di Daily.
Pesan yang ia kirim langsung terbaca. Ia masih menatap layar ponselnya untuk membaca balasan yang dikirimkan sahabatanya.
Aileen : Nggak bosen- bosen lo di sana. Gue sumpahin lo jadian sama ownernya sekalian.
Lula tertawa lalu kembali membalas.
Lula : Kalau masih single, gue aminin.
Setelah mengirim pesan itu ia kembali menaruh ponselnya di atas meja. Ia kembali melanjutkan sketsanya. Sketsa sebuah jalan dengan gedung- gedung tinggi di kanan kirinya. Ia tersenyum melihat hasil karyanya. Ia pikir bahwa ini akan sangat bagus jika di aplikasikan di atas kanvas dengan warna- warna yang akan menyempurnakan gambarnya. Ia akan bertanya pada Malik apa ia keberatan jika memilih gambar ini sebagai salah satu lukisan yang laki- laki itu pesan.
Ia lalu menoleh dan menatap ke meja- meja yang ada di belakangnya. Mencoba mencari keberadaan Malik. Di sana, di salah satu meja tanpa sekat, ia bisa melihat laki- laki sedang fokus pada laptopnya seperti biasa. Entah sejak kapan, Lula tak sadar bahwa ia bisa mengenali laki- laki itu lebih baik meski laki- laki itu menyembunyikan sebagian wajahnya di balik layar latopnya.
Lula tak berpikir untuk menghampiri laki- laki itu. Ia tahu bahwa ia punya banyak waktu dan ia tidak ingin mengganggu laki- laki itu. Ia kembali melempar pandangan keluar. Dinding kaca itu dibuat redup sehingga tak membuatnya silau karena cahaya matahari.
Ia menghabiskan banyak waktu untuk menatap jalanan dari lantai dua gedung itu. Ia menatap hiruk pikuk orang- orang di jalanan. Halte bus yang terlihat penuh oleh anak sekolah berseragam. Mereka bergerombol dan asik tertawa, Lula bisa merasakan situasi berisik yang terjadi di sana. Para pekerja kantoran yang baru saja makan siang kembali melewati trotoar untuk kembali ke kantornya. Resto dan café yang ada di sekitar Daily tampak sibuk dengan pelanggan, mungkin itu juga sedang terjadi di lantai bawahnya.
Lula belum makan siang karena belum merasa lapar. Ia mungkin akan menunggu hingga resto di bawahnya tak terlalu ramai. Ia tahu seramai apa resto dibawah saat jam makan siang. Tak hanya orang- orang yang bekerja di lantai ini yang turun ke bawah untuk makan, namun juga orang- orang yang kantornya berada di sekitar sini. Tak heran jika tempat ini selalu ramai, mereka punya menu yang cukup lengkap dan enak. Lula sudah mencoba hampir semua menu yang ada di daftar dan merasa cocok dengan semua masakannya.
TBC
LalunaKia