Pagi ini Lula bangun dari tidurnya saat matahari masih mengintip malu- malu. Ia merenggangkan otot- otot tubuhnya yang terasa pegal lalu duduk dan meneguk air dalam gelas di atas nakas. Ia bangun dan mendekati jendela untuk membuka tirai. Diluar masih gelap, namun langit di ufuk timur mulai memerah.
Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Setelahnya ia keluar dan pergi mendekati lemari untuk mengganti setelan baju tidurnya dengan sepotong koas oversize dengan celana legging yang panjangnya hingga ke mata kaki. Ia mengikat rambutnya tinggi- tinggi lalu mengoleskan sunscreen ke wajahnya. Setelah selesai meratakan tabir surya ke seluruh wajahnya, ia mengambil sepatu lari dari rak di pojok kamarnya lalu keluar dari kamar.
Ia menaruh sepatunya di samping meja ruang tamu sementara dirinya pergi ke dapur untuk memakan roti dari kulkas tanpa mengoleskan selai ke sisinya. Ia menghabiskan tiga lembar roti dan meneguk satu gelas penuh air putih yang ia tuang dari teko yang ada di atas meja makan.
Setelah mengisi perutnya, ia kembali ke ruang tamu dan memakai sepatunya. Ia mengambil earphone yang ada di laci samping sofa dan menyoloknya ke lubang audio ponselnya. Setelah menyumpal kedua telinganya, ia memainkan salah satu musik dari layanan musik steaming. Ponsel itu ia taruh di tas pinggang yang akan ia sangkutkan di pinggangnya.
Ia mendekati pintu kamar Vano dan membukanya pelan. Laki- laki itu masih tertidur pulas di bawah selimut tebalnya. “Van, gue lari pagi, ya.” Lula berbisik di ambang pintu meski tahu Vano tak akan bisa mendengarnya. Setelahnya ia menutup pintu pelan- pelan lalu keluar dari rumah.
Ia berjalan mengelilingi komplek perumahannya yang hari itu masih sangat sepi. Udara dingin namun bersih itu menyapu kulitnya. Kakinya bergerak beraturan, kunciran rambutnya bergoyang. Keringat mulai keluar membasahi wajahnya.
Ia terus bergerak mengelilingi komplek perumahannya yang tak terlalu besar hingga sampai pada sebuah rumah yang tampak sudah lebih sibuk dari yang lainnya. Beberapa orang laki- laki terlihat bahu membahu mendirikan tenda di garasi rumah hingga membentang ke jalanan.
“Mbak, Lula…” suara itu terdengar saat Lula semakin dekat dengan rumah itu.
“Bu Jihan…” kata Lula saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang wanita dengan daster batik dan tinggal di sebelah rumah itu terlihat sedang berjalan keluar rumah dengan beberapa baskon berbagai ukuran di tangannya. “lama nggak kelihatan.” Kata wanita itu.
Lula hanya mengulas senyum, “ini mau ada acara apa, Bu?” tanya Lula.
“Gina, anak sulungnya bu Jamilah, mau lamaran.” Wanita itu menjawab pertanyaan Lula. Lula membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan. Ia kenal Gina, meski tak dekat. Mereka hanya menyapa singkat saat berpapasan. Gadis dengan kulit putih dan tinggi semampai. Gadis itu memang cantik dan selalu menjadi kebanggaan ibunya
“Mbak Lula kapan atuh nikah?” tanya wanita itu pada Lula yang langsung tersenyum.
Dulu, pertanyaan- pertanyaan itu akan menyakiti hatinya dan memenuhi pikirannya selama berhari- hari. Moodnya akan langsung memburuk dan produktifitasnya menurun karena otaknya kerap berpikir hal yang tak seharusnya ia pikirkan.
Namun kali ini, pertanyaan- pertanyaan itu tak berarti apa- apa lagi baginya. Ia bisa tersenyum saat mendengar pertanyaan itu dan sedetik kemudian menganggap pertanyaan itu tak pernah ditanyakan. Lula telah berhasil mengontrol pikirannya mengenai pertanyaan- pertanyaan sejenis itu. Ia sadar bahwa ia tak bisa menutup semua mulut itu. Yang bisa ia lakukan adalah menutup telinganya sendiri. Ia tak ingin membiarkan orang lain mengambil alih mood dan pikirannya. Ia tahu bahwa waktu setiap orang berbeda- beda. Ia tak bisa menyamakan garis waktunya dengan teman- temannya. Beberapa tahun terakhir, ia telah berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain.
“Tenang, Bu. Nanti juga nyampe undangannya.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Lula.
“Jangan banyak pilih- pilih, Mbak Lula.” kata wanita itu lagi sambil menyenggol lengannya.
“Ya maaf, ya, Bu. Saya beli sepatu aja milih- milih yang nyaman dipakai, yang warnanya bagus, bahannya bagus, masa pilih calon suami buat seumur hidup sembarangan.” Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Lula. Wajah wanita di depannya langsung berubah. Lula tersenyum lalu pamit dari hadapannya.
Lula kembali melanjutkan perjalanannya. Matahari sudah bersinar terang. Peluh di wajahnya semakin banyak. Ia memelankan langkahnya dan mengambil handuk kecil dari tas pinggangnya untuk menyeka keringatnya.
Lula keluar dari komplek perumahannya. Ia terus berjalan dengan langkah cepat hingga sampai di Daily yang pagi itu masih sepi. Ia masuk melalui pintu kaca dan langsung memesan secup es cokelat di kasir. Setelah melakukan penbayaran dan mendapatkan pesanannya, Lula bergerak ke area outdoor di lantai satu itu. Ia perlu melewati pintu kaca lagi yang memisahkan area dalam dan luar.
Ia mengeluarkan ponsel dari tas pinggangnya dan melepas kabel earphone dari lubang. Tak lama ponselnya bergetar. Nama Vano ada di layar.
“Lo di mana?” suara Vano menyapa diujung sambungan.
“Di Daily.” Jawabnya.
“Ish… bukanya tinggalin pesan, kek, atau apa gitu.” Suara di ujung sambungan terdengar kesal sekaligus lega. “gue nengok ke kamar tahu- tahu nggak ada.” Lula terkekeh mendengar kata- kata adiknya.
“Nggak bakal ada juga yang bakal nyulik gue.” Kata Lula. “lo nggak usah masak. Sarapan di sini aja.” Kata Lula lagi.
“Bilang aja cari tumpangan buat pulang.”
“Kok tahu.” Lula tertawa lalu menutup panggilan.
Lula menyesap es kopinya melalui sedotan yang mencuat di tengah cup. Ia membiarkan dingin mengaliri tenggorokannya. Angin pagi membuat hawa panas tubuhnya mulai mereda. Ia menarik napas dalam- dalam. Membiarkan udara memenuhi paru- parunya.
Ia memerhatikan hiruk pikuk yang mulai terlihat di sekelilingnya. Minimarket dan beberapa resto yang ada di sekitar Daily, mulai terlihat sibuk meski papan close masih tergantung di depan pintunya. Trotoar mulai ramai oleh pejalan kaki. Mobil, motor dan angkutan umum mulai memadati jalanan. Orang- orang mulai sibuk dengan kegiatannya. Apa hanya Lula yang kebingungan harus melakukan apa di hari libur pertamanya.
Lula tak punya rencana untuk hari liburnya. Ia hanya berpikir bahwa ia harus mengambil jeda sejenak karena sudah terlalu penat. Ia mendesis karena sekarang harus berpikir apa yang akan ia lakukan hari ini. Ia tak mungkin menghabiskan hari di rumah karena tahu itu akan sangat membosankan. Ia tahu tak ada teman yang bisa ia ajak pergi. Sudah lama ia tak berkabar dengan teman- teman sekolah ataupun kuliahnya. Lula hanya tahu bahwa teman- temannya masih hidup saat melihat postingan mereka di media sosialnya.
Biasanya teman- temannya menghubunginya jika ada rencana reuni dan Lula sudah lupa kapan terakhir kali ia menghadari acara semacam itu. Lula percaya bahwa reuni hanya sebutannya, aslinya mereka yang datang adalah orang- orang yang akan membanggakan hasil pencapaiannya.
Lula ingat bahwa ia banyak diberondong oleh pertanyaan kapan menikah, kenapa memilih menjadi freelancer dan segudang pertanyaan lainnya. Teman- temannya menganggap hidupnya tak sesuai standar yang seharusnya. Mereka sudah berkeluarga, bahkan memiliki anak, atau paling tidak sudah memiliki kekasih. Mereka bekerja di perusahaan- perusahaan besar yang menggaji mereka lebih dari cukup untuk membeli barang- barang mewah yang menempel di tubuh mereka.
Lula sadar bahwa dirinya saat ini adalah versi terbaiknya. Ia tahu bahwa semuanya adalah pilihannya. Ia yang memilih untuk tak menjadi seperti teman- temannya. Jika ia mau, ia bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar melihat jam terbangnya yang sudah tinggi. Namun ia tak mau. Ia nyaman bekerja sendiri. Ia merasa bahwa ia memiliki banyak ketidakcocokan dengan perusahaan- perusahaan sebelumnya yang akhirnya membuatnya sadar bahwa ia memang ditakdirkan untuk bekerja secara mandiri.
***
Dari salah satu meja di area indoor Daily, seseorang laki- laki tampak memperhatikan Lula yang sedang menyesap isi cupnya. Ia memerhatikan wanita itu yang penampilannya tak seperti biasanya. Wanita itu memakai kaos polos kebesaran yang menyamarkan bentuk tubuhnya. Rambutnya yang di kuncir membuatnya bisa melihat leher jenjang wanita itu. Ia tak tahu di mana rumah wanita itu, namun kalau melihat wanita itu bisa lari pagi hingga sampai di sini, rumah wanita itu pasti tak jauh.
Mata Malik menatap sosok itu lekat- lekat. Sosok yang beberapa hari terakhir berhasil mengganggu pikirannya. Ia tak bisa sedikitpun melepaskan diri dari bayang- bayang wanita itu. Wanita itu menatap ke arah trotoar. Sinar matahari yang menerpa membuat kulit wanita itu terlihat mengkilat. Sebelah kakinya ditumpu pada kakinya dan ia duduk santai sambil mengamati sekeliling.
Kali ini wanita itu mengalihkan padangannya ke ponselnya yang ada di atas meja. Wanita ibu jari wanita itu tampak menari di atas layar benda pipih itu. Giginya yang putih terlihat dibalik senyum lebarnya yang tiba- tiba.
***
Lula kembali menaruh ponselnya di atas meja dan melihat mobil Vano memasuki parkiran Daily. Tak lama, melalui pintu kaca yang memisahkan ruangan indoor dan outdoor, ia bisa melihat Vano masuk ke dalam Daily. Laki- laki itu memakai batik karena ini hari jum’at. Celananya bahannya tampak licin, juga rambutnya yang sudah tertata rapi berkat bantuan gel. Ia membawa ransel di sebelah bahunya lalu pergi mendekati kasir dan menatap sekeliling hingga pandangan keduanya bertermu. Lula melihat Vano memutus kontak lalu tampak memilih- milih menu di meja kasir.
Saat menatap Vano, Lula baru sadar bahwa Malik ada di area indoor. Laki- laki itu menyembunyikan sebagian wajahnya di balik layar latopnya. Matanya fokus ke layar. Ia tidak tahu sejak kapan laki- laki itu ada di sana karena saat Lula datang, tak ada satu pengunjungpun di sana.
“Rajin banget lari pagi sampai ke sini.” Kata Vano saat ia baru saja melewati pintu kaca. Ia duduk di depan kakaknya, dipisahkan meja kayu berbentuk kotak.
“Kapan lagi gue bisa lari pagi. Kalau kuat, gue pengin lari sampai Bogor sekalian.” Kata Lula.
“Lo bisa lari tiap hari, lo nya aja yang malas.” Kata Vano.
“Gue bingung mau ke mana hari ini, gue ikut lo ke kantor, ya.” Kata Lula yang langsung membuat kedua bola mata Vano membulat.
“Ngapain? Lo mau bengong- bengong di kantor gue.”
“Nggak apa- apa. Lo kan tahu gue jago banget kalau masalah bengong dan ngelamun.”
“Jangan aneh- aneh.” Kata Vano, “ke kantor kak Aileen aja.” Kata Vano lagi.
“Dia bilang dia ada meeting di luar sama klien jadi kemungkinan nggak ada di kantor.”
Pembicaraan keduanya terpotong karena kedatangan salah seorang pramusaji dan membawakan nasi goreng seafood pesanaan Vano dan segelas teh hangat. Setelah Vano mengucapkan terima kasih, pelayan perempuan itu meninggalkan meja.
“Mending lo pulang lagi terus kerja.” Kata Vano.
“Ogah, gue udah nyelesain semua orderan kemarin sampai nggak tidur, gue mau istirahat dulu, lah.” Kata Lula.
“Atau nggak, lo mejeng di mana kek gitu, kali aja nanti ada cowok yang nyangkut.”
“Siyalan. Lo pikir gue banci disuruh mejeng.” Kata Lula lengkap dengan lirikan sinis. Vano tertawa. “Lo kenal Gina anaknya bu Jamilah, nggak?” tanya Lula.
Vano tampak berpikir sebentar. Tangan kanannya memegang sendok dan mengisinya dengan nasi goreng lalu memasukkannya ke dalam mulut.
“Yang paling cantik satu komplek?” tanya Vano. Samar- samar ingatannya memunculkan sosok gadis dengan pipi tembam berkulit putih dengan rambut panjang lebat hitam. Ia melihat Lula mengangguk pelan.
“Dia mau lamaran besok. Tadi pas gue lewat ke rumahnya, lagi pada pasang tenda.” Lula memberitahu.
“Memang udah lulus kuliah dia?” Tanya Vano, mulutnya masih sibuk mengunyah.
“Baru lulus, sih, katanya.” Jawab Lula. Lula lalu menceritakan pertemuannya dengan bu Jihan dan pembicaraan singkat yang mereka lalukan.
Vano tertawa mendengar cerita kakaknya. Ia bisa membayangkan bagaimana raut wajah bu Jihan saat mendengar kalimat pamungkas wanita itu. Ia tahu bahwa wanita itu sudah banyak berubah. Orang lain mungkin masih mengira Lula adalah sosok yang seperti dulu. Dulu kakaknya hanya akan mengulas senyum tipis saat diberondong pertanyaan- pertanyaa seperti itu. Kini wanita itu bisa menghadapinya dengan lebih baik.
“Bisa- bisanya dia bilang gue jangan milih- milih.” Kata Lula, “buat pasangan seumur hidup kok ngasal.” Katanya lagi. Ia berdecak sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
“Lo nyari yang kayak gimana, Kak? teman kantor gue banyak yang jomblo. Kali aja ada yang bisa gue kenalin sama lo.” Kata Vano. Ia masih dalam proses menghabiskan isi piringnya.
Lula berdecak, “gue belum mau pacaran.” Kata Lula.
“Lo tuh udah kelamaan jomblo. Coba punya pacar, deh, pasti hidup lo lebih teratur dan berwarna.” Kata Vano.
“Memang hidup lo berwarna? Hidup lo makin suram semenjak nggak LDR. Iya, kan? Ngaku lo?” Kata Lula. Vano berdecak, ia mengangkat sendoknya dan memberi gestur bahwa ia bisa melempar sendok itu dan mengenai wajah wanita itu.
Lula tertawa puas.
“Kita lagi shock aja karena terbiasa LDR. Nanti lama- lama juga akur dan adem ayem lagi.” Vano membela diri. Memberitahu kakaknya bahwa tak ada yang salah dengan hubungan percintaannya dengan Risa.
“Cob ague tebak, ya.” Kata Lula, “nanti malam pasti lo berantem lagi sama Risa.”
“Kok lo gitu sih?”
Lula terkekeh melihat adiknya yang menjukkan raut wajah kesal.
“Lo udah tahu, Kak, besok gue sama Risa bakal ikut?” tanya Vano. Ia melihat kakaknya mengangguk. Wanita itu baru saja menghababiskan isi cupnya.
“Awas aja lo kalau pamer kemesraan di depan gue.” kata Lula dengan nada mengancam.
Vano terkekeh pelan. “Biarin aja. Kali kalau lihat gue sama Risa, lo jadi kepikiran buat punya pacar.”
“Tapi beneran, deh, Van. Gue ada feeling kalau lo bakal berantem malam ini, terus besok Risa nggak jadi ikut. Mending lo hati- hati, deh.” Kata Lula.
“Jangan sok tahu!”
TBC
LalunaKia