CHAPTER ENAM BELAS

2187 Words
        Malik keluar dari ruangannya saat jam menunjukkan waktu makan siang. Ia langsung pergi menuju lantai dua. Matanya memindai sekeliling saat ia masuk ke ruangan besar coworking space itu. Namun orang yang ia cari tak ada di sana. Kakinya melangkah mendekati smoking area dan wanita itu tak ada di sana juga.             Ia pergi ke lantai satu dan kembali memindai restorannya. Namun wanita itu tak ada juga di sana. Ia menghela napas, menyadari bahwa mungkin wanita itu tak datang hari ini. Ia akhirnya kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.   ***               Ruangan itu gelap dan tampak tenang. Semua pintu dan tirai tertutup rapat seakan orang di dalam rumah takut pada matahari. Sampah cemilan dan minuman botol terserak di sekitar meja.             Lula duduk di lantai, dengan laptop di atas meja ruang tamu. Matanya yang mulai memerah menatap fokus ke layar komputer jinjingnya. Ia beberapa kali menguap lebar. Ia sudah merasakan kantuk namun masih mencoba menahannya. Tangannya yang memegang pen masih menari di atas drawing pad. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mengembalikan fokus yang mulai termakan rasa kantuk.             Daun pintu yang tiba- tiba terbuka membuat Lula memalingkan wajahnya karena cahaya matahari tba- tiba melesak masuk ke ruangan itu.               “Udah kayak Vampir lo.” Suara Aileen terdengar. Wanita itu menutup pintu dan membuat ruangan itu kembali gelap gulita. Satu- satu cahaya hanya berasal dari layar laptop Lula.             Aileen mendekati stop kontak lalu menyalakan lampu di ruangan itu. Membuat Lula reflek memejamkan matanya.             Aileen berdecak melihat sampah yang terserak di sekitar sahabatnya. “bisa, ya, lo kerja begini?” kata Aileen. Lula mengerjap beberapa kali. Mulai membiasakan pengelihatannya dengan cahaya di ruangan itu.             Lula menoleh dan menatap Aileen yang duduk di sofa di belakangnya.             “Lo udah berapa hari nggak tidur?” tanya Aileen saat melihat kedua mata Lula yang memerah.             “Gue belum tidur dari semalem.” Lirih Lula.             “Ck… sampai segitunya nyari duit.” Kata Aileen sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore. “tidur sana. Nanti mati mendadak aja. Gue nggak mau jadi saksi kematian.” Kata Aileen yang langsung membuat Lula mendesis.             “Tanggung. Satu lagi.” Kata Lula. Fokusnya kembali pada layar.             “Lo udah makan?” tanya Aileen.             “Udah makan mie instan tadi.”             Aileen berdecak. Ia sudah tahu bagiamana jadinya Lula jika sudah gila kerja. Wanita itu tak akan meninggalkan tempat duduknya lama- lama. Memilih makan cepat saji daripada membeli makan diluar yang membutuhkan waktu berpikir yang lama. Juga bergelas- gelas kopi bisa masuk ke perutnya.             “Beneran, deh, La. Kalau kayak gini terus, lo belum tentu bisa nyampe umur tiga puluh.” Kata Aileen.             “Tiga puluh gue beberapa bulan lagi, ya, kampret.” Sungut Lula, “bisa- bisanya lo doain umur gue sependek itu.”             Aileen tertawa. Ia melihat Lula yang sedang menyelesaikan satu illustrasi di laptopnya. Sebelah tangannya mengambil remote di atas lemari kecil di sebelah sofa. Ibu jarinya menekan tombol power hingga layar televisi di depannya menyala.             “Lo mau makan apa, La?” tanya Aileen. Ia tadinya ingin makan malam bersama. Namun melihat keadaan wanita itu, wanita itu pasti langsung tertidur setelah selesai dan Aileen harus memasukkan makanan ke perut wanita itu sebelum wanita itu hibernasi.             “Apa, ya? Gak tahu. Gue lagi nggak bisa mikir.” Kata Lula tanpa menoleh.             Aileen mendesis. Ia membuka aplikasi jasa layanan pesan antar dan menscroll layar. Mencari menu yang sekiranya menguggah seleranya. Pilihanya jatuh pada paket nasi dan ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan. Aileen memesan untuk tiga porsi bersama tahu dan tempenya. Setelah menyelesaikan pemesanan, ia menaruh ponselnya di atas meja dan memencet tombol- tombol pada remote. Ia menatap daftar film dan series terbaru di layanan streaming             Lula masih mencoba menahan kantuk demi menyelesaikan gambar terakhirnya. Ia berniat mengambil libur beberapa hari, makanya ia menyelesaikan semua pekerjaannya dari semalam sampai hari ini. Ia tidak tahu sudah berapa jam ia tidak tidur. Ia hanya memasukkan kafein ke perutnya saat merasakan fokusnya mulai hilang. Hal yang ia tahu tak bagus bagi tubuhnya. Ia tahu seharusnya ia sudah meninggalkan kebiasaannya itu. Namun ia tak bisa. Pekerjaannya yang tak kenal waktu membutuhkan asupan kafein untuk fokusnya.             “Gue udah pesan kamar untuk glamcamping kita di Bandung.” Aileen memberitahu.             “Lho, bukannya di Bogor?” tanya Lula, masih belum melepaskan tatapannya pada layar laptopnya.             “Ke Bandung aja sekalian.” Jawab Aileen. Lula tak bertanya lagi karena tahu Aileen sudah merencanakannya dengan sangat baik. “Gue ngizinin Vano sama risa ikut. Nggak apa- apa, kan?” Katanya lagi.             “Nggak apa- apa kalau lo nggak masalah.” Jawab Lula singkat.             Aileen mengangguk lalu mendengar suara klakson. Ia berdiri dari duduknya dan pergi menuju pintu. Setelah membuka salah satu daun pintu, ia melihat seorang pria bersepeda motor berdiri di depan rumah.             Ia mendekat lalu mengambil pesanannnya. Ia merogoh saku celananya dan memberikan selembar uang pada pengendara itu sebagai tip. Pria itu mengucapkan terima kasih sebelum pergi dari pandangannya.             Saat ia berbalik, ia mendengar suara klason yang nayris membuatnya terlonjak. Ia menoleh dan melihat senyuman Vano dari balik kaca mobil. Ia berjalan menuju teras, membiarkan mobil yang dikendarai laki- laki itu masuk ke dalam garasi.             “Tumben lo jam segini udah pulang?” tanya Aileen pada Vano yang baru saja keluar dari mobil. Laki- laki itu mendekati Aileen yang masih berada di depan pintu.             “Iya, Risa ada acara sama teman- teman kantornya, jadi Vano pulang duluan.” Kata laki- laki itu. “Ya ampun…” laki- laki itu berseru saat melihat kondisi ruang tamu rumahnya.             Aileen mengulum senyum lalu masuk, Vano mengekor di belakangnya.              “Jangan bilang Kak Lula belum tidur dari semalam?” tanya Vano. Lula tak menjawab, ia masih menatap layar di depannya seakan tak ingin diganggu siapapun. Vano kini menoleh ke arah Aileen yang mengangguk pelan.             Vano berdecak. Laki- laki itu masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri sementara Aileen membawa makanan pesanannya ke dapur dan menaruhnya ke meja makan.             Saat Vano kembali ruang tamu, ia sudah mengganti berganti pakaian. Rambunya yang masih basah membuat beberapa tetes air jatuh ke dahinya. Aroma harum menguar dari tubuhnya. Berbanding terbalik dengan kakaknya yang tampak lusuh dan seperti gelandangan.             “Pindah ke kamar sana. Gue mau bersihin.” Sentak Vano. Namun Lula tampak tak terganggu. Ia semakin cepat menggerakkan tangannya di atas drawing pad, membuat sentakan Vano tak lebih dari embusan angin.             “KAK!!!” Vano menaikkan nada suaranya. Lula mengangkat sebelah tangannya. Memberi isyarat agar adiknya diam dan tak menganggunya.             Vano mendesis, ia pergi ke dapur dan melihat Aileen sedang mengangkat telepon di taman yang letaknya berada di sebelah dapur. Ia mendekat ke meja dapur dan menuangkan air dari teko ke gelas kosong dan menyesapnya pelan. Gelas dalam tangannya hampir terjatuh karena kaget saat mendengar suara berdebam cukup keras. Ia menatap Aileen yang juga tengah menatapnya. Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat. Lula muncul di dapur dan langsung menggebrak meja makan.             “Kenapa, sih, Kak?” tanya Vano dengan nada heran. Ia tak tahu sejak kapan kakaknya bisa terlihat seperti seekor gorilla.             “Semua kerjaan gue SELESAI.” Lula menekankan kata terakhir. Vano bisa melihat kelegaan dalam wajah kumal kakaknya sementara Aileen mengulum senyum, sudah tak heran melihat tingkah sahabatnya yang seperti itu.             Lula duduk di depan meja makan dan mengambil satu boks berisi nasi dan ayam bakar yang tadi dibeli Aileen. “gue makan duluan.” Katanya lalu memulai suapan pertama.             Vano masih menatap Lula yang makan dengan lahap seperti sudah berhari- hari perutnya tak menyentuh nasi. Ia pergi menuju ruang tamu untuk membereskan ruangan yang lebih mirip tempat sampah akibat kelakukan kakaknya.             Ia mulai memunguti sampai yang berserakan dan membuangnya di tempat sampat yang ada di ujung ruangan. Setelah semua sampah bersih, ia mengelap meja dan melanjutkannya dengan menyapu lantai.             Lula kembali ke ruang tamu setelah menyelesaikan makannya. Ia melihat Vano yang sedang berdiri membelakanginya. Laki- laki itu sedang menyapu dengan telaten. Lula tersenyum, ia berlari ke arah pria itu dan melompat ke punggungnya hingga membuat laki- laki itu limbung dan hampir jatuh.             “KAK LULA!!!” Vano menyentak sekeras- kerasnya. Ia bisa mendengar Lula terkikik di sebelah telinganya sementara kedua tangannya sudah melingkari lehernya dan kedua kakinya melingkari pinggangnya.             “Gue mau tidur. Kalau nggak ada kebakaran, atau bom, jangan diganggu, ya.” Kata wanita itu pada adiknya yang langsung berdecak. “ayo… buruan anterin gue ke kamar.” pinta wanita itu.             “Mandi dulu.” Kata Vano saat ia berjalan menuju kamar kakaknya.             “Besok aja.”             “JOROK BANGET!!!” kata Vano. Ia membuka kamar Lula namun tak menuju ranjang melainkan mendekati kamar mandi dan membuka pintunya.             “Gue mau tidur.” Lula berteriak di telinga Vano yang langsung menggeleng mendengar nada suara Lula yang memekakkan telinganya.             “Mandi dulu.” Vano masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkan kakaknya di sana.             “Gue kalau udah kena air jadi nggak bisa tidur.” Kata Lula.             “Di mana- mana kalau udah mandi tidurnya lebih nyenyak.” Kata Vano. Ia menyalakan kran air westafel dan menadah air dengan kedua telapak tangannya dan menyiram Lula dengan air itu.             “Siyalan banget, sih.” Keluh Lula saat merasakan bajunya mulai basah. Vano tertawa hingga akhirnya meninggalkannya di kamar mandi. Membuatnya terpaksa membersihkan diri sesuai perintah adiknya.             Vano kembali ke dapur dan melihat Aileen masih di tempat yang sama dengan sebatang rokok yang terselip di jari- jarinya.             “Banyak nyamuk, Kak.” kata Vano saat melihat wanita itu menggaruk lengannya yang tak tertutup baju.             “Iya… adem tapi.” Katanya.             Vano mendekati meja dapur dan mengeluarkan dua cangkir dari dalam lemari dan mengisinya dengan gula dan kantong teh. Ia mengambil sendok kecil dari tempatnya dan membawa dua cangkir itu ke dispenser.             Vano menaruh salah satu cangkir di bawah kran dispenser dan menekan tombol hingga air panas keluar dan mengisi setengah gelas. Ia melanjutkan dengan gelas yang satunya lalu mengisi sisanya dengan air biasa agar menghasilkan suhu yang hangat. Ia mengaduk keduanya secara bergantian lalu membawa keduanya ke taman samping dan menaruhnya di meja bundar yang ada di sana. Vano duduk di bangku yang kosong.             “Makasih.” Kata Aileen lalu menghisap lintingan nikotinnya dan mengembuskan asapnya melalui mulut. “Lula tidur?” tanyanya.             “Vano suruh mandi dulu. Kalau dibiarin, dia bisa langsung tidur dan mungkin lusa baru mandi.” Kata Vano. Aileen menoleh dan terkekeh pelan.             “Biasanya gue yang maksa- maksa dia. Syukur sekarang lo ada di sini.” Kata Aileen.             “Maaf kalau Kak Lula suka ngerepotin, ya.” Kata laki- laki itu yang langsung membuat Aileen menggeleng pelan. Ia menekankan ujung putung rokoknya dan menatap Vano lekat- lekat.             “Gue sama Lula, tuh, udah kayak satu paket yang nggak bisa dipisahkan.” Katanya, “gue beruntung bisa dapat teman sefrekuensi dan segila dia.” Aileen terkekeh. “dia salah satu yang berharga dalam hidup gue.”             Vano tersenyum, ia juga bersyukur kakaknya memiliki sosok Aileen di hidupnya. Ia tahu bahwa kakaknya tak memiliki banyak teman. Belum lagi pekerjaannya yang dilakukan seorang diri membuat wanita itu tak mengenal banyak orang dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran Aileen membuat Vano yakin bahwa kakaknya tak akan kesepian. Persahabatan keduanya sudah tak diragukan lagi. Vano percaya bahwa keduanya saling melengkapi. Dan selama Aileen ada di samping Lula, ia tak perlu khawatir.             “Gimana kalau nanti salah satu dari kalian punya pacar?” tanya Vano. Vano melihat Aileen menyesap teh dalam cangkirnya. Setelah cangkir itu kembali ke meja, wanita itu tampak berpikir.             “Gue pasti senang dan sedih disaat bersamaan.” Kata Aileen sambil tersenyum. “gue sadar gue nggak mungkin bisa terus- terusan ke mana- mana sama Lula. Suatu saat jodoh kita pasti datang, entah siapa yang lebih dulu.” Lanjutnya, “gue cuma berharap nggak ada yang berubah dari kita meski kita udah punya pasangan.”             “Kak Lula memang nggak kelihatan dekat sama siapa- siapa, Kak?” tanya Vano lagi.             “Kenapa? Udah mau nikah sama Risa, lo, ya?” Aileen melihat laki- laki di sebelahnya menggeleng pelan.             “Belum, sih. Tapi kayaknya gue tahu kalau ada satu cowok yang naksir dia.” Kata Aileen. Ingatannya langsung pergi ke sosok Malik yang belum lama ia kenal. Laki- laki yang kerap mencuri pandang ke arah Lula dan melirik sahabatnya diam- diam.             “Siapa?” tanya Vano.             “Salah satu orang yang juga suka ke Daily.” Jawab Aileen singkat. Ia tak berani bercerita lebih jauh tentang Malik karena belum mengenalnya secara personal. Ia hanya tahu bahwa laki- laki itu terlihat baik.             “Terus Kak Lula?” tanya Vano lagi.             “Lula sepertinya masih betah jomblo.” Kata Aileen. “nggak pernah ada pembicaraan pengin punya pacar. Dia lagi menikmati hidupnya banget.” Jelas Aileen.             Vano mengangguk. Menyetujui kata- kata Aileen. Kisah percintaan terkhir kakaknya yang cukup pahit memang sepertinya membuat wanita itu fokus pada kehidupannya yang sempat terenggut paksa darinya.  Vano tahu bagaimana Lula bangkit dari hari- hari terpuruknya hingga akhirnya bisa seperti sekarang.             “Kalau kakak sendiri?” kali Ini Vano bertanya mengenai Aileen yang tampak betah sendiri, sama seperti kakaknya.             “Gue?” Aileen berpikir kembali, “gue udah ketemu lebih dari selusin cowok berengseek selama hidup gue. Gue nggak sanggup ketemu lebih banyak lagi.” Katanya sambil tersenyum kecut.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD