Vano menutup teleponnya sambil tersenyum. Tepat seperti kata Aileen, ia tak perlu menghubungi Risa, gadis itu yang baru saja menghubunginya. Gadis itu berterima kasih atas apa yang dikirimkannya, gadis itu sangat senang dan juga meminta maaf atas sikap kekanak- kanakannya.
Ia menatap layar ponselnya lalu menaruhnya di meja. Di depannya, customer service sedang melayani nasabah, juga teller yang tempatnya berada di seberang mejanya. Nasabah- nasabah lain dengan nomor antrian di tangan mereka memenuhi bangku- bangku yang disediakan, menunggu giliran dilayani. Beberapa dari mereka terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya, yang lainnya memerhatikan sekeliling, ada satu orang yang terlihat membaca buku yang dibawanya.
Vano mengambil ponselnya kembali, membuka kunci layarnya dan mencari kontak Aileen.
Vano : Kak, ada waktu nggak? Vano mau traktir lunch.
Ia menekan tombol send saat status wanita itu online. Sesuai dugaannya, tak lama pesannya langsung terbaca. Ia menatap status wanita itu yang sedang typing.
Aileen : Punya, tapi gue nggak biasa ditraktir. Bye.
Pesan balasan itu membuat garis bibir Vano terangkat.
Vano : Gantian sekali- sekali Vano yang traktir.
Ia kembali membalas dan pesannya langsung terbaca.
Aileen : Jangan kayak kebanyakan duit kamu, anak muda.
Aileen : Mending uangnya ditabung buat biaya nikah.
Aileen : Biaya nikah jaman sekarang mahal.
Senyum masih melekat di wajah Vano. Ia kembali mengetuk- ngetuk ibu jarinya pada layar untuk membalas pesan wanita itu.
Vano : Kan nanti pakai jasa Kak Ai. Bisalah kasih diskon 50%.
Vano kembali menekan tombol send. Ia tahu bahwa perusahaan wanita itu tak hanya terfokus pada berbagai macam event, namun juga mengambil permintaan- permintaan untuk acara wedding.
Aileen : Sepuluh aja teman gue kayak lo. Bisa bangkrut perusahaan gue. :D
Vano nyaris terbahak dengan balasan wanita itu.
Vano : Nanti Vano jemput di kantor pas jam makan siang, ya.
Kali ini ia tak menunggu balasan. Ia meletakkan kembali gawainya di sampingnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Suara dering telepon memecah konsentrasi Aileen. Ia yang sedang membaca laporan anggaran di sofa ruangan besarnya bangkit dari kursi dan mendekati mejanya untuk mengangkat gagang telepon dan menempelkannya ke sebelah telinganya.
“Mbak, kata resepsionis ada tamu di bawah. Revano.” Suara sekretarisnya terdengar. Ia berdecak, tak menyangka laki- laki itu akan benar- benar datang. Ia melirik jam dinding di ruangannya. Jam dua belas lewat lima menit.
“Suruh tunggu.” Kata Aileen. Ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya dan kembali ke meja dekat sofa untuk membereskan pekerjaannya. Ia menaruh dokumen- dokumen itu dalam map dan memindahkannya ke meja kerjanya. Ia mengambil tasnya di lemari belakang kursi kerjanya dan berjalan keluar dari ruangan.
Ia bertemu sekretarisnya saat menuju ke lift. Ia bilang pada gadis itu bahwa ia akan makan siang di luar. Ia memencet tombol turun saat sampai di depan kotak besi itu. Ia menunggu beberapa saat hingga pintu itu terbuka di depannya dengan keadaan kosong.
Ia masuk ke dalam kotak besi itu dan menekan angka untuk mencapai lantai dasar.
“Pekerja keras banget, nih, karyawan gue.” Kata Aileen saat menyadari bahwa lift tak berhenti di lantai manapun, langsung membawanya ke lantai dasar padahal jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
Saat pintu lift itu terbuka, ia sudah langsung bisa melihat sosok Vano yang duduk di lobi kantornya. Laki- laki itu tersenyum padanya dan berdiri. Aileen mendekat, menatap Vano yang dasi di kemejanya sudah dilepas dan alas kakinya hanya sepasang sandal berwarna cokelat.
Vano sudah bergerak mendekati pintu dan membukanya, lalu mempersilakan Aileen keluar lebih dahulu. Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Vano yang parkir di halaman kantor wanita itu.
“Kakak mau makan apa?” tanya Vano saat ia keduanya masuk ke dalam mobil.
“Lo ngajak tapi nanya. Gimana, sih. Lo yang mikir lah mau makan apa.” Kata Aileen sambil memakai safety beltnya.
“Kalau Vano yang milih takutnya kakak nggak suka.” Jawab laki- laki itu sambil menyalakan mesin mobilnya.
“Gue pemakan segalanya asal gak beracun.” Jawaban Aileen membuat Vano terkekeh ringan. Roda mobil mulai berjalan keluar dari area perkantoran itu.
Vano tak tahu makanan apa yang enak di sekitaran sana. Namun ia tak mau meminta wanita itu berpikir apa yang ingin ia makan. Benar kata wanita itu, harusnya ia sudah berpikir untuk makan di mana sebelum mengajak.
“Lo udah baikan sama Risa?” tanya Aileen.
“Sudah, Kak. Berkat kakak.” Jwab Vano. Ia memutar kemudinya dan memindai jalanan. Mencari restoran mana yang tampak ramai dan sekiranya enak.
Aileen tertawa, lalu merogoh ponsel di saku celananya yang bergetar tanda pesan masuk. Ia sibuk dengan ponselnya sementara Vano berputar mencari tempat makan.
Vano akhirnya menjatuhkan pilihannya. Ia membawa mobilnya memasuki sebuah restoran chinesse food. Aileen mengangkat wajahnya saat mobil itu berhenti. Ia menoleh dan melihat Vano yang sedang menatapnya. Seperti sedang menunggu pesetujuannya.
Aileen tersenyum sambil mengangguk pelan. Vano menghela napas lega lalu membuka safety beltnya dan turun dari mobil. Keduanya berjalan beriringan, mendekati pintu, laki- laki itu berjalan lebih dahulu lalu mempersilakan Aileen masuk lebih dulu.
Aileen dan Vano memilih tempat outdoor yang tak terlalu ramai. Sesaat setelah mereka menjatuhkan b****g di kursi, pramusaji mendatangi mejanya dan memberikan dua buah buku menu. Pelayan itu menunggu hingga keduanya menjatuhkan pilihan untuk makan siang mereka.
“Risa tahu nggak lo makan sama gue? Nanti dia marah lagi.” Kata Aileen.
“Nggak, sih.” Jawab Vano. Aileen yang duduk di depannya berdecak.
“Lo tuh emang suka nyari gara- gara. Lo kalau makan berdua sama cewek lain terus ketauan Risa, ya wajar tuh cewek marah.” Kata Aileen.
“Nggak pernah, Kak. Vano tuh kalau makan siang kan lebih sering di kantor karena harus gantian.” Jelas Vano, “ini sama kakak doang. Ya masa dia marah.”
“Iya, kebangetan banget kalau cemburu sama gue.” Kata Aileen, tepat saat dua buah gelas berukuran tinggi berisi lemon teh pesanan mereka disajikan di atas meja.
“Kakak sendiri nggak punya pacar? Jangan ngikutin Kak Lula.” kata Vano. Aileen terkekeh ringan.
“Gue sibuk. Nggak punya waktu buat pacaran.” Jawab Aileen dengan nada jumawa. Ia menyedot isi gelasnya melalui sedotan yang mencuat di gelas.
Vano terkekeh mendengar jawaban wanita di depannya. Seorang pelayan dengan nampan di tangannya mendekati meja mereka dan menyajikan pesanan keduanya di atas meja.
Keduanya memulai suapan pertama bersamaan. Matahari siang itu sangat terik. Vano tak mengerti kenapa Aileen memilih meja di outdoor. Namun wanita itu terlihat nyaman. Sama sekali tak terganggu saat udara panas itu menyapu lengannya yang telanjang.
Semakin siang, restoran itu semakin ramai. Geromb0lan orang masuk ke restoran itu dan mengisi meja- meja yang masih kosong. Bagian outdoor yang semua hanya berisi Vano dan Aileen mulai ditempati oleh orang- orang yang ingin mengisi perut mereka. Pelayan masih sibuk hilir mudik mengantarkan pesanan dan membersihkan meja.
“Lo tahu apa yang paling enak di sini?” tanya Aileen saat ia berhasil menghabiskan isi piringnya. Ia menatap Vano yang sudah menyelesaikan makannya terlebih dahulu.
“Apa?” tanya Vano dengan nada penasaran.
“Siomay yang jualan di depan.” Kata Aileen sambil terkekeh pelan.
“Beneran?”
“Benar. Lo harus cobain. Nanti kita beli, ya.”
Vano mengangguk dan menatap Aileen mengambil satu bungkus rokok dari tasnya. Ia mengambilnya satu dan menawarkan padanya. Vano menggeleng pelan, menolak tawaran wanita itu.
“Lo nggak ngerokok, ya? Kok bisa, sih?” tanya Aileen saat ia menyulut api dari pemantik ke ujung rok0knya dan menyelipkan ujung lainnya pada bibirnya.
“Dulu Vano ngerokok, sih, sesekali. Tapi semenjak pacaran sama Risa, Vano berhenti total.” Jawab laki- laki itu.
“Bucin banget, lo.” Kata Aileen. Vano tertawa.
“Nggak apa- apa, Kak. Kan buat kebaikan Vano juga.” Jawabnya.
Aileen mengangguk setuju. Ia mengambil lintingan nikotin dari selipan bibirnya dan mengembuskan asap melalui mulutnya. “kok lo bisa? Kan modal cinta doang nggak bisa bikin orang segampang itu berhenti ngerokok.” Ujar Aileen.
Vano tampak berpikir lalu berkata, “mungkin karena Vano bukan perokok berat juga, kali, ya. Jadi ya diniatin aja. Bisa kok kalau ada niat.”
“Niat biar nggak diputusin, ya?”
Mereka tertawa. Keduanya melanjutkan obrolan ke hal- hal lain. Mereka membicarakan banyak hal hingga rokok yang dihisap Aileen mengecil. Wanita itu menekankan ujung rokoknya ke dalam asbak lalu menghabiskan isi gelasnya.
Vano masih memperhatikan Aileen yang kini mengeluarkan pounch dari tasnya. Sebelah tangannya merogoh pounch itu dan mengeluarkan liptint dari sana.Wanita itu membuka liptin itu dan sebelah tangannya lagi memagang cermin yang baru saja ia ambil dari tempat yang sama. Wanita itu mengusap bibirnya dengan aplikator dan mengatupkan kedua bibirnya hingga liptint itu merata.
“Udah, yuk.” Ajak Aileen saat ia berhasil mengembalikan dua buah benda itu kembali ke dalam pounch dan menaruh pounch itu di tasnya. Vano mengangguk, ia berdiri saat melihat wanita di depannya berdiri dan berjalan mendahuluinya. Vano pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran sementara Aileen keluar dari restoran lebih dahulu.
Aileen tak pergi mendekati mobil Vano yang terparkir di pelataran restoran. Ia pergi mendekati gerbang resto, di mana tukang siomay bersepeda mangkal. Saat ia sampai, tak ada satu pembelipun. Sang pria sedang duduk di sebelah sepeda dengan baskom besar di bagian belakang berisi siomay dagangannya.
Saat Aileen berdiri di depan sepedanya, pria paruh baya itu langsung beranjak dari duduknya dan tampak senang mendapatkan pelanggan.
“Somaynya masih ada, Pak?” tanya Aileen.
“Masih, neng.” Tangan yang mulai keriput dengan kulit hitam itu membuka tutup panci dan Aileen melihat bahwa panci itu masih penuh, seperti belum banyak berkurang.
“Tumben masih banyak, Pak?” tanya Aileen. Ia tahu sendiri bahwa somay itu termasuk ramai pembeli karena enak.
“Saya baru keluar, neng. Istri saya lagi sakit, jadi tadi nungguin anak saya pulang sekolah dulu buat gantian jagain.” Cerita pria itu, “lagian akhir- akhir ini memang lagi agak sepi. Seharian belum tentu habis, neng.” Lanjutnya.
Aileeng menganguk mendengar cerita pria itu. Ia tahu bahwa yang namanya berdagang pasti mengalami pasang surut. Tak semua hari selalu berpihak pada penjual keliling seperti penjual siomay itu.
“Bungkus semua, Pak.” Kata Aileen tanpa berpikir.
“Semuanya, neng?” sang pria mengulangi permintaan Aileen untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar.
“Iya, semuanya.” Kata Aileen. Ia mendengar pria itu mengucapkan syukur dan berterima kasih pada Aileen. Raut wajah bahagia penuh syukur tak bisa di sembunyikan dari pria itu.
Aileen meminta piring pada sang penjual dan mengisinya dengan beberapa potong somay. Ia juga meminta garpu dan membuat satu potong siomay itu masuk ke mulutnya.
“Ini, Kak?” tanya Vano saat ia sampai di sebelah Aileen. Wanita itu mengangguk lalu menusuk satu potong somay di piringnya dan mengulurkannya pada Vano yang langsung membuka mulutnya dan mengunyahnya.
Vano mengangguk sambil tersenyum, menyetujui pendapat wanita itu mengenai rasa siomaynya.
“Ini pacarnya, neng? Bapak do’ain langgeng sampai nikah, ya, neng. Pas, ganteng sama cantik.” kata- kata pria paruh baya hampir membuat Aileen tersedak.
Vano hanya tertawa. Setelah berhasil mengosongkan isi mulutnya wanita itu berkata, “adik saya, Pak.”
“Owalah. Maaf kalau begitu. Soalnya nggak mirip.”
“Gimana mau mirip orang beda ibu, beda bapak.” Bisik Vano tepat di telinga Aileen yang langsung mengangguk sambil terkekeh pelan.
“Beli berapa, Kak?” tanya Vano saat melihat pria paruh baya itu tak selesai- selesai membungkus siomaynya.
“Semuanya.”
“Semuanya?” Vano mengulangi jawaban Aileen untuk memastikan. Ia melihat wanita itu mengangguk. Vano membulatkan mulutnya tak percaya.
Aileen mengeluarkan dompetnya dari dalam tas saat melihat pria itu baru saja selesai membungkus sambal kacang. Wanita itu mengambil lima belas lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan memberikannya pada pria paruh baya itu.
“Kebanyakan, Neng.” Pria paruh baya itu menolak.
“Nggak apa- apa. Tambahannya buat beli obat istri, ya, Pak. Semoga istri bapak cepat sembuh.” Kata wanita itu. Aileen menarih sebelah tangan pria itu dan menaruh uang di telapak tangannya dan meminta pria itu menerimanya.
Kedua mata pria itu berkaca- kaca. Ia mengusap ujung pelipisnya untuk menyeka air matanya. Pria itu menyalami Aileen. Mengucapakan terima kasih berkali- kali dan melantunkan doa terbaik untuk wanita itu. “semoga semakin di tambah rejekinya, ya, Neng. Di kasih jodoh yang baik, diberi kesehatan, dijaga di manapun berada, bapak doain semua yang terbaik buat eneng. Alhamdulillah.” Kata pria itu.
“Sama- sama, Pak. Semoag doa terbaiknya berbalik ke bapak juga, ya. Salam buat istri di rumah.” Kata Aileen dengan senyum ramah.
Vano menatap keduanya dan merasakan hatinya menghangat. Kebahagiaan yang dirasakan pria itu terasa juga padanya.
“Bantuin bawain ke mobil, ya, Pak.” Kata Aileen.
“Siap, neng.” Laki- laki itu membawa dua kantong berkuran sedang berisi boks- boks yang sudah di isi siomay sementara Vano membawa satu kantong lainnya.
Setelah berhasil menaruh plastik itu di bagasi, pria itu masih sempat kembali mengucapkan terima kasih pada Aileen yang hendak masuk ke dalam mobil. Aileen hanya tersenyum lalu melihat pria itu menjauh dari mobil.
Vano menatap Aileen yang sedang menyeka peluh di wajah putihnya dengan tisu. Terik matahari membuat wajah wanita itu memerah, namun wanita itu tampak tak mengeluh meski wajahnya terbakar matahari saat menunggu penjual siomay membukus pesanannnya. Padahal wanita itu bisa saja menunggu di mobil.
“Bawa ke kantor lo semua, ya.” Kata Aileen saat mobil itu keluar dari parkiran restoran.
“Lho, kok, gitu, Kak? buat karyawan kantor Kak Ai aja.” Kata laki- laki itu. Pandangannya fokus pada jalanan.
“Karyawan gue banyak. Nanggung kalau cuma segitu. Kalau ada yang nggak kebagian, gue yang nggak enak. Kantor lo kan nggak banyak orang.” Jelas wanita itu.
“Tapi itu kebanyakan juga kalau buat orang kantor Vano.”
“Lo kasihin ke security, kek, OB, atau karyawan- karyawan back office.”
Vano tak menjawab lagi. Ia tahu wanita itu tak bisa dibantah. Ia mengantar wanita itu hingga sampai di kantornya.
“Thanks, ya.” Kata Aileen saat ia membuka safety beltnya.
“Vano yang makasih. Traktiran Vano nggak ada apa- apanya sama yang kakak kirim buat Risa.”
Aileen terkekeh pelan mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vano.
“Kan gue bilang, bunga deposito juga gue kasih kalau perlu. Yang penting lo jangan galau. Kalau lo galau, Lula nggak keurus nanti.” Aileen dan Vano tertawa bersamaan. Aileen pamit lalu keluar dari mobil. Vano membuka jendela mobil dan melihat punggung wanita itu bergerak menjauh. Kaki yang terbalut high heels itu tampak mantap melangkah hingga akhirnya sosok itu menghilang dari pandangannya.
TBC
LalunaKia