CHAPTER EMPAT BELAS

2040 Words
            Saat Vano melihat bahwa di ponselnya ada puluhan panggilan tak terjawab dan dari Risa, ia tahu bahwa ia kembali membuat gadis itu marah. Ia membaca pesan yang masuk, gadis itu marah- marah, bilang bahwa Vano mengabaikannya karena tak mengangkat teleponnya, sampai pada tuduhan Jika Vano tak lagi menyayanginya dan mungkin telah tertarik dengan gadis lain. Ia menghubungi Risa kembali namun tak terjawab. Ia datang ke kantor gadis itu dan kata resepsionis, gadis itu sudah pulang setengah jam yang lalu.               Saat sampai di rumah. Ia kembali mencoba menghubungi Risa namun tak juga terjawab. Ia melempar ponselnya ke sofa di sebelahnya dan mengacak- acak rambutnya dengan frustrasi.             Lula datang dari dapur dengan dua buah cangkir berisi teh hangat di tangannya. Ia menaruh salah satu cangkir di depan adiknya yang langsung mengucapkan terima kasih. Lula duduk di sofa, di depan laki- laki itu. Sebelah kakinya bertumpu pada kaki lainnya. Punggungnya menyandar pada sofa. Ia menatap adiknya yang tampak menyedihkan sambil menyesap tehnya. Rasanya seperti melihat film secara langsung.             Revano memang bukan tipe laki- laki yang bisa menyembunyikan perasaannya. Cinta, gelisah, kesal, dan bingung dapat terlihat jelas dalam wajah laki- laki itu.             “Udah, lah. Istirahat dulu. Masalah lo masih bisa diselesaikan besok.” Kata Lula saat melihat Vano kembali mencoba menghubungi pacaranya. “lo tahu sendiri cewek lo batu banget. Dia nggak bakal tersentuh meski lo telepon dia terus sampai mulut lo berbusa.” Kata Lula lagi.             Kakaknya ada benarnya, Pikir Vano. Ia padahal tahu jelas seperti apa Risa. Wanita itu tak mudah tersentuh dan tak akan luluh hanya karena ia meneleponnya terus- terusan. Ia memang harus menemuinya secara langsung. Mereka harus bertemu untuk meluruskan semua kesalahpahaman gadis itu.             Vano tak pernah berpikir untuk menyukai gadis lain selain Risa. Tak pernah ada dalam pikirannya bahkan mimpinya sekalipun. Ia terlalu menyayangi gadis itu dan tak pernah tertarik dengan gadis manapun. Namun Risa tak sepenuhnya percaya padanya setiap kali mereka bertengkar. Gadis itu selalu bilang bahwa semua lelaki sama saja, dan ia juga punya peluang untuk selingkuh, seperti mantan- mantannya yang menyelingkuhinya. Semua orang memang punya peluang untuk selingkuh, namun tak semua orang akan mengambil peluang itu, seperti dirinya.   ***               Pagi ini matahari masih mengintip malu- malu saat kedua mata Lula perlahan terbuka. Wanita itu menguap lebar lalu turun dari ranjang dan mendekati pintu. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia tak mencium wangi harum masakan seperti biasanya. Ia lalu menoleh dan melihat pintu kamar adiknya yang masih tertutup rapat.             Ia bergerak ke samping dan membuka pintu kamar sebelahnya dengan pelan. Di atas ranjang, ia melihat Vano masih tertidur pulas. Ia menghela napas lalu menutup kembali pintu pelan- pelan dan pergi ke dapur.             Ia mengambil dua buah cangkir polos berwarna hitam dan mengisi keduanya dengan gula, lalu salah satunya dengan satu kantong teh dan lainnya dengan satu sendok kopi bubuk. Setelah mengambil sendok kecil, ia membawa dua cangkir itu ke dispenser dan mengisi keduanya dengan air panas. Sambil mengaduk, ia menaruhnya di atas meja makan lalu beralih pada kulkas side by side yang ada di sana.             Lula tak ingin memasak karena ia tak suka. Ia akhirnya hanya mengeluarkan roti tawar, telur, selada, mentega dan timun. Ia memutuskan untuk membuat roti isi dengan bahan- bahan itu. Ia menambahkan saus dan mayonaise ke dalam lapisan untuk menambah rasa.             Setelah mengangkat roti isi terakhir dari teflon, ia menaruh piring berisi roti- roti itu di atas meja. Ia tak duduk di meja melainkan pergi ke ruang tamu dan membuka tirai serta jendela agar udara pagi masuk ke dalam rumah. Ia lalu mendekati kamar adiknya dan masuk. Ia membuka tirai, juga jendela yang langsung membuat laki- laki itu menggeliat.             “Jam berapa, Kak?” tanya laki- laki sambil mengusap kedua matanya.             “Jam enam lewat.” Jawab Lula. Ia masih berdiri di depan jendela kamar. Merasakan udara segar menerpa wajahnya.             Vano bangun dan terduduk di tepi ranjang. Ia mengambil gelas di atas nakas dan meneguk isinya hingga tersisa setengah.             “Lulaaa…” suara teriakan itu membuat keduanya menoleh ke arah pintu.             Vano tersenyum, “rajin banget Kak Aileen pagi- pagi udah ke sini.” Katanya.             “Tuh anak memang gatel- gatel kali, ya, badannya kalau sehari nggak ketemu gue.” Kata Lula. Ia berjalan mendekati pintu dan menemui Aileen yang baru saja masuk ke ruang tamu.             “Pagi… Cantik…” sapa Aileen. Giginya yang putih dan rapi terlihat di balik senyumnya yang lebar. Wanita itu memakai blouse v-neck berwarna peach tanpa lengan dan memadukannya dengan celana bahan berwarna putih. High heels lima sentimeter bertengger di kedua kaki wanita itu.             “Habis tidur sama siapa lo?” tanya Lula.             “Siyalan tuh mulut.” Sentak Aileen yang justru membuat Lula tertawa.             Lula berjalan ke dapur, Aileen mengekorinya.             “Kok tumben cuma ada roti? Vano udah berangkat?” tanya Aileen sambil duduk di seberang Lula yang sedang menyesap tehnya.             “Baru bangun. Semalam habis berantem sana pacarnya.” Jawab Lula.             “Risa?”             “Iyalah, siapa lagi nenek lampir di hidup dia.” Lula lalu menceritakan permasalahan keduanya. Aileen medengarkan dengan seksama. Sebelah tangannya mengambil satu roti di atas piring dan menggigitnya pelan. Mulutnya mengunyah dengan tatapan terarah sepenuhnya pada Lula yang tampak bersemangat membongkar kebobrokan hubungan percintaan adiknya.             Diakhir ceritanya, Aileen menggelengkan kepalanya sambil berdecak.             “Rumit, ya, percintaan ABG.” Kata Aileen. Ia berhasil menghabiskan satu roti isi buatan Lula dan kini tengah menuangkan air dalam teko ke gelas kosong dan menyesapnya pelan.             “Bingung juga gue sama mereka. Berantem mulu tapi nggak putus- putus.” Lula tak habis pikir.             “Bagus… kesabaran Vano seluas samudra artinya.” Kata Aileen.             “Sabar, sih, sabar. Lama- lama apa nggak makan hati kalau masalah sepele aja bisa sampai berantem gitu.” Kata Lula, “bayangin kalau mereka nikah…” Lula menghentikan pembicaraannya saat melihat Aileen mengangkat sebelah tangannya.             “Gue gak sanggup bayangin...” Kata wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.             “Nah… Kan…”   ***                         Vano masuk ke dapur saat Lula dan Aileen masih ada di meja makan. Mengobrolkan banyak hal. Laki- laki itu sudah berpakain rapi. Sebuah kemeja panjang warna biru muda dengan celana bahan berwarna hitam.              “Pagi…ganteng…” sapa Aileen saat Vano. Laki- laki itu tersenyum, lalu duduk di samping Lula yang langsung menggeser cangkir berisi kopi yang tadi dibuatnya.             Laki- laki itu menyesap isi cangkirnya pelan. Kedua wanita itu menatap laki- laki itu dengan pandangan kasihan.             “Gue mandi dulu, ya.” Kata Lula pada Aileen yang langsung mengangguk. Wanita itu berdiri lalu berlalu dari pandangan keduanya.             “Kak Lula tuh benar- benar nggak mau masak, ya.” Vano berdecak sambil mengambil roti isi di atas meja.             Aileen terkekeh pelan, “Lula mending kelaparan daripada suruh masak.” Kata Aileen. Aileen menatap wajah Vano yang tampak sefresh biasanya. Wajah laki- laki itu tampak lelah.             “Kata Lula lo berantem sama Risa?” tanya Aileen akhirnya. Ia melihat laki- laki di depannya mengangguk pelan. Mulutnya masih sibuk mengunyah. Namun matanya menatap Aileen lurus- lurus.             “Dari semalem Vano teleponin benar- benar nggak diangkat.” Laki- laki itu menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya sudah tahu seperti apa Risa kalau sedang marah. Ia telah melalui tiga tahun dan berpikir bahwa ia sudah terbiasa. Ia pikir dengan dipindah tugaskan ke Jakarta, akan mempererat hubungan mereka dan meminimalisir segala kesalahpahaman seperti yang sering terjadi saat mereka menjalani long distance relationship. Namun ternyata itu tak mengubah keadaan. Gadis itu malah terkesan semakin menjadi- jadi.             “Ya lagian. Neleponin doang nggak bikin perempuan luluh.” Kata Aileen. Vano menatap Aileen lekat- lekat, menanti kata- kata wanita itu selanjutnya. “lo kirimin bunga, kek, cokelat, kek, atau apa gitu.” Aileen memberi saran. Vano tampak berpikir.             “Mana sini alamat kantornya Risa, gue kirimin bunga paling mahal dari florist langganan gue.” Aileen sudah menyambar ponsel di sebelahnya saat Vano menggeleng keras.             “Nggak usah, Kak.” tolak laki- laki itu, “nanti biar Vano sekalian ketemu pulang kantor.” Lanjut Vano.             Aileen berdecak, “Udah nggak apa- apa. Mana sini alamat kantornya.” Aileen sudah membuka kontak florist langganannya dan menulis pesan ke kontak itu. “buruan!!!” sentak Aileen yang membuat Vano akhirnya memberitahu apa yang diminta wanita itu.             Aileen mengangguk, kedua ibu jarinya menari di atas layar hingga akhirnya berhasil mengirim pesannya pada florist langganannya.             “Udah. Lo nggak usah telepoin Risa lagi. Nanti dia yang nelepon lo.” Kata wanita itu.             “Makasih, ya, Kak.” kata Vano saat wanita itu beranjak dari duduknya.             “Santuy… kalau perlu bunga deposito juga gue kasih.” Kata wanita itu sambil tertawa. Ia mengitari meja dan berdiri di samping Vano, “yang penting adik kecil gue jangan sampai galau, ya. Kasihan nanti Lula kelaparan.” Wanita itu terkekeh lalu mengusap pucuk kepala Vano dan keluar dari dapur.              Vano tersenyum lalu menoleh dan melihat punggung wanita itu menjauhinya hingga akhirnya tak terlihat lagi.   ***               Suara dering telepon terdengar menggema di ruangan itu. Beberapa di antaranya nyaris berbarengan.  Si pemilik meja yang teleponnya berdering buru- buru mengangkat gagang untuk meredam suara. Ruangan besar itu penuh meja dengan sekat di ketiga sisinya. Semua mejanya terisi. Beberapa diantara sibuk dengan komputer. Di ujung ruangan ada meja tanpa sekat, beberapa orang mengelilingi meja bundar itu dan tampak saling berdiskusi. Di beberapa meja terdengar lagu mengalun dengan pelan, sisanya hanya suara jari- jari yang membentur keyboard yang terdengar.             Seseorang masuk ke dalam ruangan itu dengan sebuah buket mawar putih berukuran besar yang langsung membuat semua mata yang ada di dalam ruangan menghujam ke arahnya, tak terkecuali Risa.             “Buat siapa?” seorang laki- laki yang sudah berdiri dari duduknya bertanya.             “Mbak Risa.” Jawab gadis pembawa buket bunga itu. Semua mata kini menatap ke arah Risa. Wanita itu masih kebingungan saat office girl itu sampai di depannya dan meletakkan buket bunga itu di atas meja. Tak hanya bunga, gadis itu juga menaruh satu kotak cokelat dengan pita warna biru yang menghiasinya.             “Makasih.” Kata Risa.             Risa menatap teman- temannya yang masih menatapnya dengan tatapan penasaran.             “Pacar lo romantis banget.” Kata salah satu teman wanitanya yang mejanya tak jauh darinya. Risa hanya mengulas senyum tipis hingga teman- temannya mulai kembali ke kegiatannya masih- masing.             Risa menatap buket bunga itu dan tersenyum. Ia merasakan dadanya menghangat dan hatinya mengembang. Ia tahu bahwa Vano adalah laki- laki yang perhatian, pengertian, hangat dan sangat menyayanginya, namun ia tak menyangka bahwa laki- laki itu bisa berbuat sejauh ini.             Ia membuka kartu kecil yang terselip di antara bunga mawar putih itu.             Untuk : Risa.             Dari : Revano.             Hanya itu yang tertulis dalam kartu ucapan itu. Tak ada kata- kata lain, karena ia memang tak membutuhkan yang lainnya. Ini semua sudah cukup baginya. Ia tahu seberapa besar laki- laki itu mencintainya.             Tatapannya lalu beralih pada kotak yang ada di sebelah buket bunga yang indah itu. Ia mengambilnya dan membuka simpul pita biru muda yang mengikatnya lalu membuka kotak. Ia tersenyum. kotak- kotak berisi cokelat langsung memenuhi pandangannya.             Ia mengambil salah satu yang berbentuk bulat dan mengigitnya pelan. Ini cokelat mahal, pikirnya. Pahit dan manisnya terasa pas dan lelehannya memanjakan lidahnya.             Ia tahu Vano tak seharusnya melakukan ini. Ia sadar bahwa ini adalah kesalahannya. Ia terkadang tak mengerti dengan sikapnya sendiri. Ia selalu ingin diprioritaskan, ia ingin laki- laki itu selalu menjawab teleponnya dan membalas pesannya dengan cepat. Ia ingin laki- laki itu hanya fokus padanya. Ia tak ingin kehilangan laki- laki itu. Ia mencinta laki- laki itu dengan separuh jiwanya. Pengalaman diselingkuhi oleh mantannya membuatnya menjadi sangat posesif pada laki- laki itu.             Sejak tahu bahwa Vano dimutasikan ke Jakarta, ia senang karena merasa kini laki- laki itu berada dalam jangkauannya. Namun ternyata hal itu tak juga membuatnya tenang. Ia tahu bagaimana lingkungan kerja laki- laki itu. Di kantornya yang merupakan sebuah bank swasta, laki- laki itu dikelilingi oleh wanita- wanita cantik. Ia takut jika suatu hari laki- laki itu mengalihkan pandangan darinya dan tertarik pada gadis lain. Ia tak ingin kehilangan laki- laki itu. Ia ingin Vano tahu sebagaimana besar ia mencintai laki- laki itu dan tak ingin kehilangannya. Ia berharap laki- laki itu tahu semua yang ia lakukan untuk kebaikan hubungan mereka. Ia yakin laki- laki itu tahu karena laki- laki itu terus bertahan. Mereka telah melewati banyak hari karena persoalan seperti ini dan laki- laki itu tetap bertahan padanya. Ia tahu laki- laki itu mencintainya sebesar dirinya mencinta laki- laki itu. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD