Aileen : Gue ada meeting sampai malam, La. Sorry, ya.
Lula membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Sebelumnya ia menanyakan wanita itu pulang jam berapa dan minta ditemani ke toko buku untuk membeli beberapa peralatan lukis.
Ia menaruh ponselnya lagi di atas meja lalu menutup laptopnya dan membereskan barang- barangnya. Malik sudah tidak ada di sampingnya. Laki- laki itu bilang ada yang perlu ia beli di bawah dan tak kembali lagi karena ia membawa semua barang- barangnya.
Setelah memasukkan semua barangnya ke dalam tas dan memastikan tak ada yang tertinggal, ia berdiri dari duduknya dan menuju lantai bawah dengan tangga. Resto di lantai satu itu ramai karena memasuki jam makan malam.
Ia berjalan keluar dan duduk di kursi panjang yang disediakan di depan resto untuk orang- orang yang berada dalam waiting list jika restoran itu penuh. Langit sudah menggelap. Cahaya matahari digantikan oleh cahaya bulan dan lampu- lampu yang berpendar di sekelilingnya.
Ia baru saja membuka aplikasi untuk memesan taksi online saat mendengar suara klakson ditekan dua kali. Ia menengadah dan melihat mobil di depannya, jendela mobil yang dibuka membuatnya bisa melihat siapa yang berada di belakang kemudi. Senyum Malik menyapanya.
“Mau balik?” Malik sedikit berteriak agar Lula yang masih duduk di kursi bisa mendengarnya.
“Nggak. Mau ada perlu dulu ke toko buku.” Jawab Lula dengan jujur.
“Aku antar, yuk.” Tawarnya.
“Nggak, usah. Aku udah mau pesan taksi kok.” Jawab Lula.
“Nggak apa- apa. Aku juga ada yang perlu dibeli di sana.” Malik beralasan.
Lula tampak berpikir sebentar. Ragu. Hingga akhirnya ia bangun dari duduknya, mendekati sedan putih itu dan melesak di samping kemudi. Lula tahu ia tak seperti yang biasanya. Biasanya ia perlu mengenal orang dengan baik terlebih dahulu hingga akhirnya menerima ajakannya. Ia tak mengenal Malik dengan baik. Mereka hanya pernah saling beradu pandang di beberapa kesempatan lalu berkenalan secara singkat beberapa hari yang lalu. Namun ia tahu bahwa laki- laki itu tak akan macam- macam. Dari parasnya, ia bisa tahu bahwa ia adalah laki- laki baik- baik.
“Mau ke toko buku mana?” tanya Malik setelah berhasil menetralkan perasaannya. Ia tidak menyangka bahwa Lula akan menerima tawarannya. Ia pikir ia tak akan punya kesempatan saat wanita itu bilang bahwa ia sibuk di akhir pekan. Ternyata benar, wanita itu tak ada maksud menghindarinya. Pekerjaan bukan sebuah alasan yang dibuat- buat.
Lula menyebutkan sebuah mall dengan salah satu toko buku besar di dalamnya. Malik mengangguk lalu menjalankan mobilnya ke tempat yang dimaksud. Selama beberapa menit tak ada yang membuka obrolan. Suara musik yang mengalun pelan dari radio mengisi kesunyian.
“Mau nyari apa ke toko buku?” tanya Malik membuka pembicaraan.
“Alat lukis.” Jawab Lula. Malik membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan.
Lula memindai sekeliling mobil dengan ekor matanya. Mobil laki- laki itu tampak rapi, bersih dan juga wangi. Sepertinya cocok dengan personality laki- laki itu yang juga selalu tampil rapi.
“Kamu sendiri?” Lula bertanya balik pada laki- laki itu yang kini kebingungan.
Malik tak tahu. Ia tak tahu apa yang ingin ia beli karena apa yang ia katakan tadi hanya sebuah alasan.
Laki- laki itu berdehem. Berpikir cukup panjang karena kebingungan.
“Buku resep.” Laki- laki itu akhirnya menjawab, “nyokap minta cariin beberapa buku resep kue.” Lanjutnya. Malik berdecak dengan tidak ketara. Berdoa agar Tuhan memaafkannya karena membawa ibunya atas kebohongannya kali ini.
“Start up kamu bergerak di bidang apa?” tanya Lula lagi, seakan tak memberikan waktu Malik untuk bernapas lega. Laki- laki kebingungan lagi. Bola matanya memutar dan mencoba berpikir keras.
“Kuliner.” Jawabnya. Ia menghela napas lega dan berharap wanita itu tak bertanya lebih lanjut.
“Oh…” hanya kata itu yang keluar dari mulut Lula dan Malik bersyukur saat wanita itu tak bertanya lagi.
Setengah jam kemudian, mobil Malik masuk keparkiran sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan. Setelah mendapatkan parkiran, laki- laki itu mematikan mesin. Keduanya membuka safety belt masing- masing dan keluar dari mobil bersamaan.
Lula jalan lebih dulu. Mendekati sebuah lift yang ada di parkiran itu yang bisa membawa mereka ke dalam mall. Lula menekan tombol dan keduanya menunggu hingga pintu besi di depan keduanya terbuka.
Saat pintu besi itu terbuka, Malik mempersilakan Lula untuk masuk lebih dulu. Laki- laki itu menekan tombol di mana toko buku berada. Malik melirik Lula yang berdiri di sebelahnya. Wanita itu terlihat fokus pada ponsel di tangannya. Kedua ibu jari wanita itu bergerak lincah mengetuk- ngetuk layar gawainya.
Pintu besi kembali terbuka. Lula berjalan keluar tanpa melepas pandangannya dari benda pipih di tangannya. Malik mengekor di belakangnya dan menarik bahu wanita itu untuk menyingkir.
Sentuhan tiba- tiba itu membuat wanita itu kaget hingga ia melihat seseorang membawa troli begitu banyak lewat di sampingnya.
“Maaf…” kata Malik saat melihat Lula tampak tak nyaman dengan sentuhan tiba- tibanya.
Lula hanya tersenyum kikuk. Ia tahu ia yang salah karena tak memperhatikan jalan. Ia menaruh ponsel dalam saku celana pendekanya saat masuk ke dalam toko buku. Lula langsung pergi ke bagian alat- alat tulis. Malik mengekor di belakangnya.
Lula yang akhirnya berhenti di depan rak yang memajang berbagai merk cat air baru sadar bahwa Malik mengikutinya.
“Katanya mau nyari buku resep?” kata Lula, yang langsung membuat Malik tersadar.
“Eh, iya.” Laki- laki itu tersenyum kaku lalu membalik badan dan pergi menajuhi Lula hingga tubuhnya menghilang di balik rak- rak yang menjulang tinggi.
Lula berdecak sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Tak mengerti dengan sikap aneh laki- laki itu. Kedua matanya kembali menatap rak di depannya. Ia menatap berbagai macam merk kuas yang terpanjang di sana. Ia mengambil satu persatu dan memperhatikannya baik- baik hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satunya. Kakinya melangkah ke bagian cat air. Seperti sebelumnya, ia tampak meneliti berbagai merk terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memilih salah satunya. Lula memilih beberapa jenis cat tepat saat seorang pramuniaga mendekatinya dan memberikan sebuah tas plastik yang dapat membantunya menyimpan barang- barang yang dibelinya.
Lula mengucapkan terima kasih lalu masukkan kuas dan beberapa cat air ke dalam tas dengan bahan plastik tebal itu dan melanjutkan pencariannya. Ia mengambil dua buah palet untuk mencampur warna.
Lula bergerak di rak lainnya. Ia juga membeli beberapa buku sketsa, alat tulis dan pensil warna. Ia masih mengitari rak- rak yang ada di sana. Mengingat apa- apa saja yang ia perlukan.
Suara dering ponsel membuat Lula yang sedang melihat- lihat kanvas tergugah. Ia merogoh saku celananya dan melihat nama adiknya di layar. Setelah menswipe layar untuk menjawab, ia mendekatkan benda pipih berwarna putih itu ke sebelah telinganya.
Ia mengdengar suara Vano menyapanya di ujung sambungan.
“Di toko buku… Nggak… Tumben… Yaudah…” setelah mengucakan salam, ia menutup panggilan. Ia memanggil salah satu pramuniaga yang berdiri tak jauh dari tempatnya dan memintanya membawa enam buah kanvas pilihannya ke kasir.
Laki- laki berseragam itu mengangguk dan menuruti permintaan Lula sementara wanita itu pergi ke rak yang memajang buku- buku novel. Selain hobil menggambar, Lula juga hobi membaca. Saat remaja ia mengumpulkan banyak buku novel dari uang jajan yang berhasil ia simpan. Dulu ia selalu kagum dengan sambul novel- novel yang tampak bagus dan menarik. Ia pernah bermimpi bahwa suatu saat gambarnya akan menjadi cover- cover buku best seller di toko buku.
Sekarang semuanya bahkan melampaui mimpinya saat kecil. Ia pernah bekerja sebagai illustrator di sebuah penerbitan hingga akhirnya memilih resign. Dan sekarang ia masih suka membuat cover- cover pesanan para penulis untuk naskah cetak maupun onlinenya. Ia kini membuat logo, poster, dan segala macam yang tak pernah ia bayangkan akan menajdi pekerjaannya saat ini.
“Suka baca juga?” suara itu membuat ia menoleh. Malik sudah ada di sebelahnya, dengan tiga buah buku resep kue di tangannya.
“Kadang- kadang.” Jawab Lula. “Udah?” tanyanya. Ia melihat laki- laki di sampingnya mengangguk. keduanya lalu berjalan menuju kasir dan mengantri di kasir yang berbeda. Malik menyelesaikan pembayarannya lebih dahulu. Ia membawa plastik berisi buku yang baru saja dibelinya dan menunggu wanita itu di dekat pintu.
Malik berpikir bagaimana caranya mengajak Lula makan malam lalu menawarkan tumpangan pada wanita itu lagi. Ia melirik ke arah Lula yang baru saja menyelesaikan pembayarannya. Seorang pramuniaga membantu wanita itu dengan menyerahkan sebuah troli. Lula tersenyum dan terlihat mengucapkan terima kasih lalu mendorong troli ke arahnya.
Wanita itu berdiri di depannya. Ia baru saja hendak membuka mulut saat mendengar wanita itu berkata, “Vano…”
Malik mengikuti arah pandangan wanita itu dan melihat seorang laki- laki berjalan ke arahnya. Laki- laki itu berpakaian rapi seperti dirinya, sebuah kemeja dan celan bahan, dengan rambut terisir rapi. Laki- laki itu memakai sepatu sandal saat Malik menatap kakinya.
“Udah?” tanya laki- laki itu saat sampai di depan keduanya. Ia lalu melirik Malik yang bediri di sebelah kakaknya. Lula mengangguk lalu menoleh pada Malik.
“Aku duluan, ya.” Katanya. Malik mengangguk dan mencoba mengulas senyum kecil. Ia melihat laki- laki itu mendorong troli dan merangkul pundak Lula dengan posesif.
***
“Itu siapa?” tanya Vano sambil berbisik di telinga kakaknya. Sebelah tangannya masih merangkul pundak wanita itu.
“Teman.” Jawab Lula.
Pandangan Vano lalu menatap penampilan kakaknya dari atas sampai bawah. “Style lo kayak mahasiswa, Kak, orang pasti kaget kalau lo udah mau tiga puluh.” Kata Vano yang langsung membuat Lula memukul perut laki- laki itu hingga rangkulan Vano terlepas.
“Suka- suka gue, dong. Terus kalau gue kelihatatan kayak mahasiswa salah gue? Emang gue awet muda. Lihat aja, nanti lo pasti ubanan dan keriput lebih dulu daripada gue.” Kata Lula yang langsung membuat Vano terkikik geli.
“Teman lo yang tadi tahu nggak , Kak, lo udah mau tiga puluh. Ntar dia ngiranya lo fresh graduated lagi.”
“Jangan ngomongin umur, ya, Siyalan lo. Nggak ada urusannya juga dia tahu umur gue.”
***
Sebelum pulang, Lula dan Vano memutuskan untuk pergi makan malam di salah satu restoran yang ada di mall itu.
“Lo beli apaan aja?” tanya Vano saat ia menaruh troli berisi barang belanjaan kakaknya di depan pintu masuk restoran lalu mengekori kakaknya masuk ke resto dengan menu utama udon itu.
“Kanvas sama alat lukis.” Jawab Lula saat sampai di depan kasir. Ia melihat buku menu dan menjatuhkan satu pilihan. Ia mengatakannya pada kasir dan kasir perempuan itu mengetuk- ngetukkan jarinya di atas layar mesin kasir yang ada di depannya.
Setelah Vano menyebutkan pesanannya, Lula mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkan pada perempuan berseragam di depannya.
“Punya waktu buat ngelukis lagi?” tanya Vano. Matanya memindai sekeliling, mencari meja kosong yang ada di sana.
“Dapat orderan lukis.” Jawab wanita itu sambil mengambil kembalian yang diulurkan sang kasir. Ia menaruh kembaliannya di dompet dan mengekori adiknya yang sudah berjalan lebih dulu dan mendekati salah satu meja kosong.
“Siapa orang aneh yang pesan lukisan sama lo?” tanya Vano.
“Orang yang tadi.” Jawab Lula tepat saat ia mendudukan diri di kursi kosong di depan Vano, dipisahkan meja kotak berbahan kayu.
“Kenal di mana?” tanya laki- laki itu lagi.
“Di Daily.” Jawab Lula. “lo kenapa cepat banget?” kali ini Lula bertanya. Pasalanya kurang dari setengah jam dari laki- laki itu menelepon, laki- laki itu sudah muncul di toko buku.
“Gue pas banget lagi di lampu merah sebelum ini.” jawabnya. “Gue berantem sama Risa.” Kata Vano lagi saat Lula tak lagi memberikan tanggapan.
Lula berdecak. Sudah tak heran mendengar hal itu. “Pantesan lo jam segini udah beredar.” Kata Lula. “Lo LDM aja berantem terus, apalagi sekarang. Jangan tiap hari ketemu kalau gue bilang mah.” Kata Lula.
Lula melihat wajah adiknya yang tampak galau. “kali ini kenapa lagi?” tanya Lula akhirnya. Ia tahu bahwa berusaha secuek apapun dengan kisah cinta adiknya, ia tidak akan bisa.
“Gue nggak angkat- angkat telepon dia padahal udah bukan jam kerja.” Kata Vano, “gue udah jelasin kalau gue lagi nanganin satu nasabah yang lagi bermasalah.”
“Berapa kali, sih, gue bilang sama lo. Posesifnya Risa tuh udah keterlaluan.” Kata Lula. Berharap adiknya sadar bahwa ia berada dalam toxic relationship. Lula melihat Vano tak menanggapi kata- katanya. Laki- laki itu hanya menghela napas kasar.
Lula tahu bahwa terkadang adiknya tak perlu semua nasihatnya. Laki- laki itu terkadang hanya ingin di dengar dan meluapkan semua kekesalan yang tak pernah bisa ia lampiaskan pada Risa karena terlalu cinta.
Namun Lula lama- lama tak tahan dan tak rela adiknya diperlakukan seperti itu. Laki- laki itu tak pernah mau mendengar nasihatnya. Laki- laki itu tetap bertahan karena berpikir bahwa ia sangat mencintai Risa dan tak ingin kehilangannya. Laki- laki itu selalu berpikir bahwa Risa adalah gadis yang tepat dan parahnya, laki- laki itu berpikir untuk membangun rumah tangga dengan gadis itu. Lula tak snaggup akan menjadi apa rumah tangga keduanya nantinya.
TBC
LalunaKia