CHAPTER DUA PULUH LIMA

2071 Words
            Lula baru saja hendak berdiri dari duduknya saat mendengar ponselnya kembali berdenting. Ia kembali menjatuhkan bokongnya ke kursi lalu memasukkan pola untuk membuka kunci ponselnya dan membaca pesan yang masuk.                Aileen : Gue ke rumah lo aja. Gue beliin makanan dari Daily.             Lula tersenyum senang. Setelah membalas pesan sahabatnya, ia tak jadi beranjak. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa dan berselancar di dunia maya. Ia membuka media sosialnya dan melihat postingan- postingan dalam berandanya.             Postingan- postingan itu di penuhi oleh postingan- postingan teman- teman sekolahnya. Ada potret mereka sendiri, potret makanan, liburan, hingga aktivitas- aktivitas anak mereka. Garis bibirnya terangkat melihat anak- anak teman- temannya yang tampak lucu. Ada yang baru mulai berjalan, ada pula yang sudah memasuki sekolah dasar. Lula merasakan hatinya menghangat seketika. Membayangkan betapa sempurnanya kebahagian keluarga kecil teman- temannya karena kehadiran malaikat kecil mereka.             Lula tahu bahwa kesempurnaan itu tak hanya bisa terlihat dari potingan di media sosialnya. Ia menemukan beberapa temannya yang justru tak bahagia dengan pernikahannya. Pertengkarang kecil mungkin biasa dan akan membuat pasangan semakin mengenal satu sama lain. Namun ada juga yang mengalami masalah- masalah yang lebih kompleks. Perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, komunikasi yang tak terjalin dengan baik, toxic relationship, belum lagi hubungan dengan mertua yang rumit.             Lula tak takut mendengar cerita- cerita teman- temannya. Ia mungkin hanya akan lebih selektif lagi. Ia sadar bahwa tak ada pernikahan yang benar- benar sempurna. Sampai kapanpun, mereka semua akan di uji. Namun jika mereka bisa saling terbuka dan dapat berkomunikasi dengan baik, ia pikir masalah- masalah seperti itu akan terselesaikan dengan baik.             Ia tahu bahwa ada banyak yang harus dipikirkan sebelum memutuskan membina rumah tangga. Lula belajar banyak dari pengalaman teman- temannya. Lula pernah berada di titik putus asanya saat semua teman- temannya sudah menikah, ibunya yang kerap menanayakan kapan ia menikah, juga orang- orang sekitar yang seakan- akan bersekongkol membicarakannya yang masih belum menikah, padahal saat itu Lula baru menginjak dua puluh enam tahu. Mereka pikir ia akan menjadi perawan tua karena belum menikah padahal sudah lewat umur dua puluh lima.             Lula pernah berada di saat- saat tak ingin keluar rumah sama sekali karena takut menghadapi omongan tetangganya, tak ikut reuni sekolah karena tak ingin mendengar komentar dan nasihat- nasihat menyakitkan dari teman- temannya. Lula pernah menyimpan semuanya selama bertahun- tahun. Lula pernah kehilangan jati dirinya sendiri.             Sampai akhirnya, Lula mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia mensugesti dirinya sendiri bahwa tak ada yang salah dengan dirinya. Bahwa ia berhak bahagia. Bahwa apa yang terjadi padanya, juga ada campur tangan Tuhan. Ia percaya mati dan jodoh ada di tangan Tuhan. Ia tidak mungkin memaksa Tuhan hanya karena teman- temannya sudah menemukan jodohnya. Ia belajar tak memasukkan semua omongan itu ke hati dan pikirannya. Ia belajar menjadi sedikit cuek. Ia belajar bahwa tak semua orang punya waktu yang sama. Ia mulai belajar menerima dirinya seutuhnya dan mencari kebahagiaannya sendiri.             Ia percaya bahwa penting membahagiakan diri sendiri, menyehatkan mentalnya untuk menyambut orang baru. Ia tak mau asal menerima orang hanya karena mengejar waktu menikah. Ia tahu bahwa hidupnya terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam mahligai rumah tangga dengan sembarang orang.             Ibu jari Lula masih asik menscroll layar saat ia mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumahnya. Tak lama ia mendengar pintunya di ketuk pelan. Lula bangun dari posisinya dan berjalan menuju pintu.             Setelah membuka kunci, ia menekan handle pintu untuk membuka satu daun pintu di depannya. Senyum Aileen langsung menyapanya. Tapi Lula malah terdiam. Tubuhnya kaku. Matanya menatap ke belakang Aileen. Ke arah Malik yang tersenyum kaku ke arahnya.             Mata Lula kini mengarahkan pada Aileen. Ia melotot, namun wanita itu malah terkikik geli.             “Tadi mobil gue mogok, La.” Kata Aileen sambil mendorong sedikit bahu Lula agar bisa masuk ke dalam rumah. Ya Tuhan… maafin Aileen… kata wanita itu dalam hati.             Lula masih berada di ambang pintu sedangkan Malik di depannya dengan wajah kebingungan.             “Masuk…” kata Lula akhirnya. Ia tak mungkin mengusir Malik saat laki- laki itu sudah berdiri di depan rumahnya meski ia ingin sekali mengusirnya.             “Jorok banget, sih, lo.” Kata Aileen saat mendapati meja ruang tamu yang berserakan oleh bekas- bekas camilan dan minuman kaleng.             Hal itu adalah salah satu alasan ia tak siap mendapatkan tamu selain Aileen. Selain rumahnya dalam keadaan berantakan, dirinyapun tak kalah berantakan dari kondisi ruang tamunya.             Ia belum mandi sejak pagi. Rambutnya panjangnya kusut karena tak di sisir seharian. Ia masih memakai piyama hitam. Penampilannya persis gembel. Kalau ia bercermin, mungkin ada bekas- bekas makanan d sekitar mulutnya.             Lula meraup semua sampah di atas meja dengan kedua tangannya lalu berjalan cepat ke dapur.             “Duduk.” Aileen mempersilakan Malik duduk. Laki- laki itu tersenyum lalu tampak memindai sekitarnya.             Lula membuang semua sampah cemilannya di tempat sampah yang ada di dapur. Ia lalu pergi ke ruang cuci dan berdiri di depan cermin kecil yang ada di tembok. Memastikan bahwa tak ada yang sesuatu yang tak seharusnya menempel di wajahnya. Ia mengusap- usap wajahnya lalu menggulung rambut panjangnya dengan asal.             Ia berdecak. Ia berjanji akan mengomel pada Aileen kalau ia punya kesempatan nanti. Ia akhirnya kembali ke ruang tamu dan melihat Malik sudah duduk di salah satu sofa single yang ada di ruang tamunya.             “Tadi gue kebetulan ketemu Malik.” Kata Aileen.             Bodo amat. Kata Lula dalam hati.             “Nggak apa- apa, kan, kalau Malik gue aja mampir?” tanya Aileen. Ia tahu bahwa saat ini sahabatnya pasti sedang merasa kesal. Ia tahu seberapa besar wanita itu ingin mengomel padanya.             Lula akhirnya mengangguk pelan.             Aileen membuka bungkusan yang ia bawa. Empat porsi mie ayam ada di dalam plastik, namun ia hanya mengeluarkan tiga. Ia memberikan masing- masing pada Lula, Malik dan dirinya sendiri. Sedangkan satu bungkusnya lagi ia biarkan untuk Vano nanti.             “Kayaknya saya harus pulang, deh.” Kata Malik. Aileen dan Lula yang baru saja membuka kotak makanan langsung menoleh pada Malik. Malik terasa seperti maling yang baru saja tertangkap basah             Malik terdiam mendapat tatapan tiba- tiba dari kedua wanita itu.             “Kenapa?” Aileen bertanya.             Malik bepikir, namun tak menemukan jawabannya. Ia berdiri dari duduknya lalu sedikit menunduk dan pamit pada keduanya. Ia keluar dari rumah.             Aileen dan Lula saling pandang.             “Aneh.” Kata Lula. Aileen mengulum senyum. Keduanya mengaduk mie ayamnya. “lo bisa- bisanya minta anterin dia.” Kata Lula setelah memasukkan mie ayam ke mulutnya dan mengunyahnya pelan.             “Kebetulan aja.” Jawab wanita itu.   ***               Malik masuk ke mobilnya. Ia terdiam sebentar. Ia bingung. Tiba- tiba ia menyesal. Seharusnya ini bisa menjadi kemajuan. Ia pergi dari sana karena merasa berada di waktu yang salah, namun sekarang, ia menyesal. Ia seharusnya bertahan di sana dan memperhatikan wanita itu. Ia seharusnya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengnal lebih jauh wanita itu.             Ia memukul setir mobilnya. Menyesal menyia- nyiakan kesempatan itu. Ia seharusnya berpikir lebih panjang. Ia seharusnya tak buru- buru pergi karena bingung harus melakukan apa dan membicarakan apa. Ia takut wanita itu tak nyaman dengan keberadaannya. Ia takut ia tak bisa berbaur dengan kedua wanita itu. Ia bingung apa keberadaannya di sana adalah hal yang tepat.   ***               “Tapi Malik lucu, tahu.” Kata Aileen di tengah- tengah makan. Lula berdecak. Dahinya berkerut dalam. Ia menatap Aileen yang sejak tadi tampak bersemangat membicarakan laki- laki itu.             “Komeng, tuh, baru lucu.” Kata Lula. Aileen hampir tersedak mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Wajah pelawak itu tiba- tiba terlintas di pikirannya.             “Dia tuh kelihatan polos, canggung tapi menarik.” jelas Aileen.             Lula menggeleng. Tak mengerti dengan semua pemikiran wanita di depannya.             “Yaudah lo aja yang dekatin dia. Kali aja cocok.” Kata Lula.             “Terlalu polos buat gue.” kata Aileen sambil menggeleng.             Mereka masih mengobrol saat mendengar ketukan di pintu. Keduanya menoleh ke arah pintu yang salah satu daun pintunya terbuka sedikit. Tak lama keduanya melihat sosok Malik kembali.             “Ada yang ketinggalan?” tanya Aileen. Saat melihat Malik perlahan berjalan mendekatinya.             “Mmmnnn…” Malik berpikir. “saya lapar ternyata.” Kata laki- laki itu lagi. Jika Lula mengangkat alisnya tinggi- tinggi, Aileen justru mengulurn senyum. Ia menarik tangan Malik yang sudah berdiri di sebelahnya hingga laki- laki itu terduduk di sampingnya.               Malik mendekatkan satu boks makanan yang ada di atas meja dan membukanya. Dengan kedua tangannya ia membuka sumpit dari bungkusnya dan mengaduk mie ayamnya setelah menuangkan sedikit kuahnya.             “Lo tinggal di daerah mana?” tanya Aileen. Malik perlu menoleh pada wanita itu padahal ia tahu bahwa wnaita itu bertanya padanya.             “Daerah Ragunan.” Jawab laki- laki itu. Ia mulai menyuapkan mie ke dalam mulutnya. Mulutnya bergerak untuk mengunyah.             “Lo punya saudara?” tanya Aileen lagi.             “Nggak ada,” jawab Malik lagi.             “Wah. Anak tunggal? Manja dong lo.” Kata Aileen lagi.             “Nggak juga, sih.”             Aileen berhasil mencairkan suasana selepas kedatangan Malik. Kini mereka tengah membicarakna banyak hal. Mengenai bisnis, juag berita- berita hangat yang sedang terjadi.             Malik banyak tertawa mendengar celetuk- celetukkan Aileen dan Lula yang lucu. Keduanya tampak kompak dan menyenangkan. Saat ini, ia tahu sedekat apa keduanya. Mereka jauh lebih dekat dibanding perkiraannya.             Malik senang bisa melihat Lula lebih dekat dan lebih leluasa. Ia bisa mengamati wajah wanita itu lamat- lamat. Ia bisa melihat senyum wanita itu lebih jelas. Ia bisa mendengar suara wanita itu lebih banyak dari biasanya. Ia tidak menyesal kembali ke sini meski sebenarnya sangat malu. Ia tak menyesal mati- matian menekan rasa malunya demi wanita itu. Ia tak tahu apa yang Lula pikirkan. Ia tak punya waktu untuk berpikir mengenai hal itu. Yang perlu ia lakukan hanya terus berusaha mendekati wanita itu.             “Gue mandi dulu, ya.” kata Lula. Ia membereskan sampah bekas makan dan memasukkan ke dalam plastik.             “Ngapain? Biasanya tiga hari nggak mandi juga.” Kata Aileen. Lula melotot pada Aileen. Malik tersenyum, menyukai ekspresi itu. Ia melihat wanita itu berdiri, membawa bungkusan sampah lalu berbelok dan tak lama terlihat lagi dan masuk ke salah pintu yang terlihat dari ruang tamu.             “Lo udah lama kenal Lula?” tanya Malik pada Aileen yang masih duduk di sebelahnya.             “Gue satu kampus sama dia.” Jawab wanita itu.             Mereka melanjutkan obrolan berdua. Mereka banyak membicarakan Lula. Malik bertanya banyak hal mengenai wanita itu.             Aileen tak tahu keputusannya untuk mendekatkan Malik dengan Lula tepat atau tidak. Ia hanya ingin sahabatanya membuka hatinya perlahan. Ia tahu wanita itu tak bisa menutup pintu hatinya terus menerus. Ia ingin wanita itu menjalin hubungan lagi.   ***               Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat Vano membereskan dokumen- dokumen yang ada di atas mejanya. Ia menumpuknya dan menaruhnya di lacinya. Setelah memastikan mejanya bersih dan rapi, ia berdiri dari duduknya dan berpamitan dengan beberapa temannya yang masih ada di sana.             Ia pergi ke salah satu ruangan dan mendekat ke arah lokernya lalu mengambil ranselnya dari sana. Melalui pintu karyawan ia keluar dari kantornya dan mendekati mobilnya yang terparkir di samping kantornya.             Hari sudah gelap saat ia keluar dari sana. Bulan tampak murung. Sama seperti perasaannya yang semakin tak karuan. Diparkiran itu hanya tingga dua mobil dan beberapa motor milik teman- temannya yang masih ada di dalam.             Ia masuk ke mobilnya dan terdiam sebentar. Ia melirik ponselnya. Ia tak menghubungi Risa seharian, begitu juga wanita itu. Ia menghela napas kasar, lalu menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kediaman Risa.             Kurang dari satu jam, mobilnya berhasil berhenti di depan gerbang rumah Risa yang tampak sepi. Setelah menarik napas panjang, ia turun dari mobil dan membuka gerbang yang tak dikunci itu lalu mendekati pintu utama dan mengetuknya pelan.             Tak lama pintu di depannya terbuka. Dini muncul di balik pintu lalu tersenyum ke arah Vano dan tampak senang             “Malam, Tan.” Sapa Vano sambil mencium punggung telapak tangan wanita itu. “Risanya ada, Tan?” tanya laki- laki itu langsung.             “Ada. Ayo masuk dulu.” Tawar wanita itu. Namun Vano menolak dan memilih untuk duduk di kursi yang ada di beranda rumah. Dini mengerti, ia akhirnya kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil putrinya.             Vano menunggu di kursi kayu yang ada di depan rumah. Sebelah kakinya bergerak dengan gelisah, kedua jari- jari tangannya saling bertaut. Ia tak tahu kenapa tiba- tiba perasannya menjadi tak tenang. Jantungnya tiba- tiba bergedup kencang seperti mengetahui bahwa sebentar lagi bom akan meledak di dekatnya.             Vano berpikir bahwa ia mungkin belum siap menemui Risa, namun ia tak ingin membiarkan masalah berlarut- larut. Ia ingin semua kembali ke tempat semula, seperti seharusnya. Ia tak sanggup terlalu lama bertengkar oleh wanita itu. Ia sudah merindukan wanita itu.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD