“Kak, tolong jangan berantakan, ya.” Kata Vano saat melihat kakaknya keluar dari dapur dengan beberapa camilan dan minuman kaleng dan membawanya ke ruang tamu.
“Suka- suka gue, lah. Rumah- rumah gue.” kata Lula sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia berniat ingin menonton film seharian ini.
Matahari sudah bersinar terik. Vano memang izin datang agak siang sehingga masih ada di rumah saat itu.
“Ya rumah lo tapi gue yang kebagian bersihin mulu.” Kata Vano. Ia mengambil ranselnya di rak lalu duduk di sebelah Lula. Sebelah tangannya mengambil cangkir berisi teh di atas meja lalu menyesapnya pelan. Sebuh piring berisi roti panggang ada di atas piring, tepat di samping cangkir tehnya. “Nanti Vano pulang agak malam kayaknya, ya.” Laki- laki itu memberitahu.
“Masih belum kelar, ya? Sampai episode berapa kira- kira?” tanya Lula. Merujuk pada perselisihan Vano dan Risa yang sepertinya akan lebih panjang dari biasanya.
“Ada audit di kantor.” Kata Vano. Memberitahu bahwa keterlambatannya karena urusan kantor.
Lula tak menjawab lagi. Ia sudah mengambil remot di atas nakas lalu menekan tombol power sehingga layar datar di depannya menyala. Ibu jarinya menekan tombol yang ada di benda persegi panjang itu, mencari film dalam layanan streaming.
“Vano berangkat dulu.” Kata Vano setelah menghabiskan cangkirnya dan memakan satu lembar roti panggangnya. Ia mengulurkan sebelah tangannya lalu mencium punggung pelapak tangan kakaknya.
“Hati- hati.” Kata Lula saat melihat adiknya berdiri dari duduknya. Laki- laki itu mendekati pintu lalu mengucapkan sebelum akhirnya sosoknya menghilang di pandangan Lula.
Laki- laki itu masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin lalu menekan pedal gas hingga mobil itu berputar mundur dan keluar dari garasi rumahnya.
Mobil itu keluar dari komplek perumahannya. Ia membelah kemcaetan ibu kota di hari senin. Mobil dan motor memenuhi jalanan. Mobi itu berhenti di perempatan lampu merah. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Mengecek dan tak menemukan satu pesan pun di sana. Setelah pembicaraan mereka malam itu, Vano tak menghubungi Risa. Ia tak tahu apa pilihan untuk tak menghubungi gadis itu benar atau tidak. Ia hanya tahu bahwa baginya, yang terbaik adalah itu.
Ia belum bisa menghadapi amarah gadis itu lagi. Ia tak bisa mendengar makian gadis itu lagi. Kali ini, ia sepertinya butuh waktu lebih lama dari biasanya. Roda mobilnya kembali berputar saat lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Laki- laki itu fokus pada kemudinya hingga akhirnya mobilnya memasuki pelataran kantornya. Ia turun dari mobilnya dengan ransel yang tergantung di sebelah punggungnya.
Laki- laki itu masuk ke kantornya melalui pintu belakang, pintu khusus karyawan. Ia memasuki satu ruangan dan menaruh ranselnya di loker setelah sebelumnya mengambil dompet dan beberapa barang pribadinya. Setelah mengambil dasi dan yang ada di dalam loker, kakinya melangkah mendekati cermin yang ada di ujung ruangan dan mematut dirinya di depan benda itu sambil menyimpulkan dasi yang terselip di bawah kerah kemejanya.
Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar dari ruangan dan menuju banking hall. Nasabah sudah memenuhi ruang tunggu, customer service dan teller sudah sibuk melayani nasabah sesuai urutan. Ia berbelok ke kiri dan duduk di meja kosong yang ada di sana. Sudah ada setumpuk tiket yang perlu ia cek kelengkapannya, sebelum ia approve.
***
Malik tak tahu sejak kapan ia mulia suka mencari keberadaan gadis itu di Daily. Ia baru saja sampai di Daily setelah bertemu dengan salah satu pemilik gedung.
Ia sampai di Daily saat jam makan siang. Restoran di lantai satu itu ramai seperti biasa. Pelayan berseragam hilir mudik mengantarkan pesanan sedangkan antrean terlihat di kasir. Di dapur, ia tahu bahwa suasana tak kalah sibuk. Langkah kakinya membawanya mendekati lift. Ia menekan salah satu tombol lalu menunggu pintu besi di depannya terbuka.
Setelah pintu itu terbuka, ia membiarkan orang di dalam untuk keluar lebih dulu, baru masuk seorang diri. Ia menekan angka dua lalu merasakan kotak besi itu mulai merangkak naik. Tak lama pintu itu kembali terbuka. Ia keluar lalu menuju ruangan besar itu. Matanya memindai sekeliling, mencoba mencari keberadaan Lula. Ia bahkan berjalan menuju smoking area untuk memastikan bahwa wanita itu tak ada di Daily hari ini.
Ia menghela napas saat menyadari bahwa tak ada sosok yang dicarinya. Bahunya melemas. Ia membalik badan dan kembali ke lift untuk naik ke lantai lima. Saat pintu besi itu terbuka. Sosok Aileen terlihat. Wanita itu memakai setelan kerja berwarna krem dengan baju dalaman berwarna hitam. Sepasang high heels menyelimuti kedua kaki jenjangnya. Sebuah tas berwarna hitam tergantung di sebelah lengannya sedangkan tas laptop di tangan yang lain.
“Hai… Malik…” sapa wanita dengan senyum sambil keluar dari lift.
“Hai… sendirian aja?” tanya laki- laki itu. Ia masih bertahan di posisi, membiarkan pintu besi di depannya tertutup.
“Iya. Ada meeting sama klien. Kangen, ya, sama Lula?” tanya Aileen blak- blakan. Ia menahan tawa melihat perubahan ekspresi laki- laki di depannya. Laki- laki terlihat malu- malu mendengar pertanyaannya.
Seulas senyum terbit di bibir Malik. Ia tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ia tidak mungkin mengiyakan pertanyaan wanita itu secara terang- terangan.
Malik tak tahu bahwa Aileen sudah tahu semuanya. Ia tak tahu bahwa wanita itu tahu lebih banyak daripada perkiraannya. Sejak dahulu, tak pernah ada rahasia antara Lula dan Aileen. Mereka akan bertukar cerita mengenai banyak hal.
“Lula lagi ngambil libur.” Kata Aileen. “jadi kayaknya dia nggak akan ke sini dulu.” Lanjutnya.
“Libur?” Malik mengulang satu kata dalam kalimat Aileen. Dalam hari merasa kecewa mendengar kata- kata wanita itu. Ia melihat Aileen mengangguk pelan.
“Oh.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Malik gagal menyembunyikan kekecewaannya karena Aileen bisa melihatnya dengan sangat baik.
“Gue duluan, ya.” Kata wanita itu sambil menepuk pundak Malik dua kali. Ujung hak tingginya meninggalkan bunyi saat mengetuk lantai keramik berwarna krem di sana.
***
Aileen : Lo dicariin Malik, nih.
Lula membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia berdecak lalu memilih tak membalas pesan itu.
Aileen : Kangen dia, La, sama lo.
Sesaat setelah ia meletakkannya di atas meja, benda pipih itu berdenting lagi. Ia mempause tontonannya lalu kembali mengambil dan membaca pesan masuk. Kali ini ia mendesis pelan. Ia tahu ia tak seharusnya menceritakan hal itu pada Aileen. Kini ia harus siap mendengar ledekan wanita itu padanya.
Lula : Bodo amat, ya.
Lula menekan tombol send dan melihat pesannya terkirim. Pesan yang di kirimnya langsung terbaca dan ia bisa melihat Aileen tengah mengetik pesan balasan.
Aileen : Kenapa lo nggak coba dulu aja, sih, La.
Lula langsung membalas sesaat setelah pesan itu diterimanya.
Lula : Perasaan gue bukan buat percobaan.
Ia menaruh benda pipih itu lalu melanjutkan tontonannya. Sebelah tangannya mengambil camilan dan memasukkannya ke dalam mulut. Punggungnya menyandar di sofa. Keduanya kakinya terlipat. Matanya lurus ke depan. Lampu ruang tamu sengaja ia matikan, sehingga cahaya hanya berasal dari cahaya matahari yang menyusup melalui celah jendela yang tak tertujup tirai, juga dari layar yang menyala di depannya.
Wanita itu menghabiskan harinya di depan televisi. Ia hanya berdiri saat perlu ke kamar mandi. Sehingga saat hari menjelang sore, ia merasakan perutnya melilit karena hanya terkena camilan seharian.
Layar di depannya sudah menunjukkan daftar cast dan kru. Ia merenggangkan ototnya yang mulai terasa pegal. Sebelah tangannya mengambil gelas berisi air yang tinggal setengah. Ia meneguknya hingga tandas.
Ia mulai berpikir akan pergi ke mana untuk mencari makanannya dan langsung menggeleng saat tahu bahwa yang terlintas di otaknya hanya Daily.
Ia sudah harus mulai berpikir untuk mencari tempat lain selain Daily. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan laki- laki itu lagi. Ia juga belum tahu apa yang laki- laki itu pikirkan mengenai penolakannya. Ia hanya berpikir bahwa ia tak ingin sering- sering bertemu laki- laki itu selain untuk urusan pekerjaan.
Suar denting ponsel kembali terdengar. Ia mengambil benda pipih itu dalam satu sentakan.
Aileen : Lo mau keluar nggak? Gue masih di Daily, nih. Baru kelar meeting.
Lula : Gue nggak mau ke Daily. Bosan.
Aileen : Halah. Bilang aja nggak mau ketemu Malik.
Aileen : Malik udah nggak ada. Buruan ke sini.
Lula : Gue nggak mau. Lo tukang bohong.
Aileen tertawa membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ia melepas pandangannya dari layar dan menatap Malik yang duduk di depannya. Laki- laki itu juga tengah menatapnya. Tergugah karena melihat wanita itu tertawa tiba- tiba.
“Kenapa?” tanya laki- laki itu. Mengira bahwa Aileen tengah menertawakannya.
“Nggak apa- apa.” Kata Aileen. “gue lagi chattan sama Lula.” katanya lagi.
Malik tak jadi memutus kontak dengan Aileen saat wanita itu membicarakan Lula.
“Dia belum punya pacar, kan, ya?” tanya Malik dengan nada pelan. Ia berpikir bahwa mungkin Aileen bisa membuatnya mengenal Lula lebih dalam.
“Belum.” Jawabn Aileen cepat.
“Nggak lagi pendekatan sama laki- laki lain, kan?” tanya laki- laki itu lagi.
“Nggak.”
Aileen melihat laki- laki di depannya tampak berpikir. Seperti ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan.
“Tipe laki- lakinya kayak apa?” tanya Malik akhirnya.
Kali ini gantian Aileen yang berpikir. Ia tampak memilah kata yang tepat untuk menggambarkan tipe laki- laki sahabatnya.
“Dia nggak suka laki- laki yang suka ngatur.” Kata Aileen. “dan nerima kekurangan dia yang seabrek- abrek.” Lanjutnya.
Malik menatap Aileen. Ia pikir wanita di depannya bercanda namun wanita itu menunjukkan wajah serius.
“Kekurangan dia yang seabrek- abrek?” Malik mengulang kata dalam kalimat yang dilontarkan wanita itu.
“Iya. Dia cuma perlu laki- laki yang bisa menerima semua kekurangan dia. Yang lain ya standar pada umunya lah. Nggak ada yang aneh- aneh.” Jelas Aileen.
“Oh…” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Malik. Ia bingung bagaimana harus menanggapi kalimat wanita di depannya.
“Lo suka sama Lula, ya?” tanya Aileen tanpa basa- basi. Ia melihat raut kebingungan dalam wajah Malik. Setelah semua yang ditanyakan laki- laki itu. Semua orang akan tahu perasaan laki- laki itu pada Lula.
“Iya.” Jawab laki- laki itu dengan wajah polos yang membuat Aileen gemas. Saat itu, ia merasa bahwa laki- laki itu sepertinya akan cocok dengan sahabatnya. “tapi dia kayaknya sebaliknya.” Lanjutnya.
Aileen melipat keduanya di atas meja lalu sedikit memajukan tubuhnya. “Jadi udah? Gitu aja? Nyerah?” tanya Aileen. Ia menatap Malik dengan tatapan penasaran.
“Nggak, sih.” Jawabnya dengan nada ragu.
“Ikut ke rumah Lula, yuk.” Ajak Aileen akhirnya. Ia melihat kedua mata Malik membulat. Ia tahu tawarannya terasa mengejutkan bagi laki- laki itu. Ia melihat laki- laki itu menggeleng pelan.
Malik berpikir bahwa menemui wanita itu di rumahnya tanpa undangan dari wanita itu akan membuat wanita itu risih. Ia pikir wanita itu tak akan menyukai jika ia tiba- tiba datang ke rumahnya. Namun ia tak tahu lagi bagaimana harus mendekati wanita itu jika wanita itu tak datang ke Daily.
“Ish… jadi laki- laki itu harus agresif dikit.” Kata Aileen. “dikit, lho, ya. Kalau kebayakan bikin ilfil.” Aileen buru- buru menegaskan maksudnya. Dalam sekali lihat, ia tahu Malik termasuk laki- laki seperti apa.
“Kalau dia nanya kenapa gue ke sana, gue harus jawab apa?” tanya Malik dengan nada kebingungan.
“Tenang aja, itu urusan gue.” kata Aileen. “yuk.” Wanita itu sudah berdiri.
Malik terdiam. Tak yakin keputusannya tepat atau tidak. Namun saat wanita itu membalik badan dan mulai berjalan menajuhinya, ia langsung membereskan barang- barangnya lalu mengekori wanita itu.
Saat sampai di lantai dasar, wanita itu berjalan mendekati kasir. Ia masih mengekor di belakang wanita itu dan memberi isyarat pada karyawan- karyawannya yang ada di front liner untuk diam.
“Beli makan dulu, ya. Lula belum makan soalnya.” Kata wanita itu tanpa menoleh. Matanya masih menatap tiap bari menu yang di sediakan restoran di meja kasir. Malik hanya mengangguk mesti tahu Aileen tak bisa melihat anggukannya.
“Lo mau sekalian makan, nggak?” tanya Aileen seelah selesai mengucapkan pesanannya pada kasir. Ia membalik badan dan melihat laki- laki itu menggelang pelan.
"Ish... ikut makan, lah, biar ada alasannya." kata Aileen. Aileen menambhakn satu pesanannya lagi untuk Malik.
Keduanya duduk di meja dekat kasir yang kebetulan kosong sambil menunggu pesanan mereka dibuatkan.
“Apa yang lo suka dari Lula?” tanya Aileen tiba- tiba.
Malik sekali lagi terkejut mendengar pertanyaan Aileen yang baginya sangat mendadak. Wanita itu seperti tidak pernah bisa menahan rasa penasarannya. Wanita itu bahkan tak peduli jika mungkin pertanyaanya sensitif dan membuat dirinya tak nyaman. Wanita itu terlalu blak- blakan.
Tapi Malik akhirnya berpikir. Hal juga yang membuatnya bingung. Ia sendiri tak mengerti apa yang ia suka dari wanita itu selain perasaan yakin bahwa wanita itu adalah wanita yang tepat. Namun, ia memang menyukai wanita itu. Baginya wanita itu cantik, menarik, senyum kecilnya selalu membuat jantungnya bergegup kencang. Ia tak tahu pasti apa yang membuatnya begitu tertarik pada wanita dari segi fisik. Ia hanya tahu bahwa ia menyukai menatap wajah wanita itu lamat- lamat dan melihat wajah seriusnya.
TBC
LalunaKia