Hari masih sangat pagi, namun Lula sudah berada di teras dekat kolam renang. Ia duduk di kursi kayu dengan kanvas di depannya. Sebelah tangannya memegang kuas sedangkan tangan satunya memegang palet yang sudah di isi oleh beberapa warna yang sudah tercampur. Di atas meja, ada cangkir berisi teh hangat.
Sebelah tangan Lula menari di atas kanvas. Hari masih gelap. Matahari berlum terlihat. Angin dingin masih mencekam. Wanita itu beberapa kali mengeratkan sweaternya. Mencoba menyembunyikan tubuhnya serapat mungkin.
Vano dan Aileen masih tidur di ranjang masing- masing. Ia memang bangun lebih awal karena semalam tidur lebih awal. Ia yang kebingungan harus melakukan apa akhirnya memutuskan untuk membawa kanvas dan cat airnya keluar dan mulai melukis.
Suasana di sekitarnya masih gelap. Hanya cahaya lampu yang terlihat di sekelilingnya. Ia fokus pada kuas, cat dan kanvasnya saat matahari mulai terlihat memerah. Menyajikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Lula sedang melukis pemadangan. Sebuah arus sungai yang diapit oleh perkebunan. Nuansa hijau dan kuning juga putih mendominasi kanvas dan lukisan yang belum sempurna itu.
Lula masih di sana saat matahari mulai naik. Kegelapan yang menyelimuti tiba- tiba teredam. Udara masih dingin. Di kejauhan, dari tempatnya, Lula bisa melihat kabut di mana- mana.
Pintu di belakangnya terbuka. Lula tak menoleh, ia melihat Vano duduk di sebelahnya.
“Bangun jam berapa lo, Kak?” tanya laki- laki itu. Ia menutup mulutnya saat menguap lalu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaketnya.
“Nggak tahu, pokoknya masih gelap gulita.” Kata Lula tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas di depannya. “Aileen belum bangun?” tanyanya pada adiknya yang langsung menggeleng.
Vano berdiri dari duduknya dan kembali masuk ke dalam kamar. Tak lama laki- laki itu kembali dengan satu cangkir berisi kopi hitam buatannya yang asapnya masih mengepul. Vano meniup isi cangkirnya lalu menyesapnya pelan. Membiarkan hangat mengaliri tenggorokannya.
“Risa gimana?” tanya Lula tanpa menoleh. Ia sadar kemarin hanya menceramahi laki- laki itu panjang lebar namun tak menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan keduanya. Lula tahu laki- laki itu tak akan melepaskan Risa. Ia tahu secinta apa Vano pada gadis itu.
“Nggak gimana- gimana.” Vano menjawab singkat. Ia melirik Lula yang masih asik mengayunkan kuas ke kanvas.
“Dia nggak neghubungi lo? Atau lo nggak ngehubungin dia?” Lula sudah hapal kebiasaan Risa saking seringnya mereka bertengkar. Biasanya gadis itu tidak akan mengangkat panggilan meski Vano menghubunginya puluhan kali. Vano yang kebetulan tipe orang yang tidak suka menunda- nunda penyelesaian masalah biasanya memilih menelepon Risa untuk menyelesaikan masalah mereka secepatnya agar bisa tidur dengan tenang.
Vano sebenarnya tak ingin membicarakan masalah itu karena tak ingin membuat kakaknya khawatir. Ia sebisa mungkin menyimpan masalahnya dengan Risa. Namun wanita itu selalu tahu. Bahkan saat mereka tinggal terpisah, Lula selalu tahu bahwa keduanya sedang bertengkar. Wanita itu selalu meneleponnya dan bertanya apa yang terjadi. Hal yang membuat Vano tak bisa berbohong lagi.
“Semalam Vano telepon, sih.” Kata laki- laki itu. Lula tak berbicara, menunggu laki- laki itu melanjutkan kalimatnya yang ia yakin belum selesai. “Dia ngira Vano ngajak cewek lain ke sini buat gantiin dia.” Kata Vano sambil tertawa. Seakan- akan ia baru saja menceritakan kejadian lucu.
Lula menoleh dan melihat adiknya tertawa getir. Vano tahu bahwa semua yang gadis itu lalukanan padanya sangat menyakiti Lula sebagai kakaknya. Vano tahu bahwa kakaknya juga ikut sakit hati saat Risa memperlakukannya dengan seenaknya. Vano tahu bagaimana sayangnya Lula padanya dan tak terhitung seberapa sering wanita itu memintanya melepaskan Risa.
Jujur, ia tak bisa. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan. Namun jelas bahwa ia sangat mencintai gadis itu dan tak pernah berpikir untuk melepaskannya. Mereka mungkin hanya perlu waktu lebih banyak untuk mengenal dan saling memperbaiki diri.
Sebelah tangan Vano terulur untuk memegang sebelah tangan Lula dan mengusapnya pelan saat melihat wanita itu sebentar lagi akan meledak. “Vano nggak apa- apa.” Katanya dengan nada menenangkan. Ia masih mengusap jari jemari kakaknya seraya menangkan Lula yang malah terasa ingin menangis.
Lula menghela napas. Mencoba menahan tangisnya. Ia kembali menatap kanvasnya, tak ingin Vano melihat matanya yang sudah berkaca- kaca. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya saat Vano mengurai genggamannya.
Suara pintu yang terbuka membuat keduanya menoleh. Aileen keluar dari berdiri di samping Lula. merenggangkan otot- ototnya yang terasa kaku lalu menguap lebar- lebar.
“Lo bangun jam berapa, La?” tanya Aileen. Ia masih berdiri dan menyandarkan tubuhnya di sebuah pembatas yang dibuat dengan kayu di antara teras dan kolam renang.
“Nggak tahu. Nggak lihat jam gue.” jawab Lula. “jalan- jalan, yuk.” Ajaknya. Ia jelas tak mau membuang waktu liburnya yang berharga hanya untuk berdiam diri di kamar. Ia melihat Aileen dan Vano mengangguk setuju. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, mereka bertiga keluar dari kamar dan memilih berjalan mengitari perkebun teh yang ada di sana.
***
Risa membuka media sosial intagram di ponselnya. Di bagian paling atas, ia melihat story akun Lula ada di bagian paling depan. Ia berpikir sejanak. Haruskah ia membukanya. Ia mungkin bisa melihat Vano di salah satu story wanita itu. Ia menggeleng pelan, mengeraskan hati bahwa ia tak peduli apa yang dilakukan laki- laki itu. Namun ia tak bisa menyingkirkan rasa penasarannya.
Ia masih marah karena laki- laki itu pergi tanpa dirinya. Harusnya laki- laki itu terus membujuknya untuk ikut atau laki- laki itu seharusnya tak pergi tanpa dirinya. Ia kesal karena laki- laki itu pergi bersenang- senang tanpa dirinya.
Ia menggigit bibir bawahnya. Jari telunjuknya sudah berada di atas story akun Lula namun belum juga berani menyentuhnya. Sejak telepon semalam, laki- laki itu belum menghubunginya lagi. Saat ia bangun pagi ini, tak ada satu panggilanpun dari laki- laki itu yang masuk ke ponselnya. Untuk yang pertama kalinya, ia merasa tak diacuhkan. Ia merasa laki- laki itu mulai berubah karena tak seperti Vano yang ia kenal sebelumnya. Semua pikiran- pikiran buruk itu terus mengusiknya sejak pagi. Semuanya seakan menjadi alasan kuat bahwa apa yang ia takutkan sebenarnya sudah terjadi, atau akan terjadi dalam waktu dekat. Laki- laki itu sudah berpaling pada gadis lain. Mungkin salah satu rekan kerjanya. Mungkin gadis yang ia lihat kemarin di kantornya.
Ibu jari gadis itu akhirnya menekan akun i********: Lula. Sebuah foto sunrise yang sangat cantik menyapanya. Di slide selanjutnya foto wanita itu dan Vano terlihat. Keduanya sedang berada di antara pohon pinus. Keduanya tersenyum dengan sebelah tangan Vano merangkul pundak wanita itu. Di slide lain, mereka mengabadikan foto bertiga bersama Aileen, masih dengan background yang sama.
Risa tak kuat lagi. Ia merasakan kecemburuan mulai merayapi perasaannya. Ia memilih menutup aplikasi itu dan menghentikan rasa penasarannya.
***
Setelah hiking mengelilingi pohon pinus dan kebun kopi, ketiganya mencoba beberapa permainan outbound yang disediakan di penginapan itu. Mereka bersenang- senang. Vano sejenak melupakan masalahnya dengan Risa. Ia melepas semua penatnya dan tertawa bersama Lula dan Aileen.
Setelah selesai dengan kegiatannya, mereka kembali ke kamar untuk membersihkan diri secara bergantian. Sementara Vano pergi ke kamar mandi, Lula dan Aileen duduk di tepi kolam. Keduanya melipat kedua kakinya dan duduk dengan nyaman.
“Kenapa sih?” Aileen menyenggol bahu Lula yang raut wajahnya berubah. Belum lama ia melihat wanita itu tersenyum dan penuh tawa, kini wanita itu menekuk wajahnya dan menghela napas dengan berat.
“Risa makin keterlaluan.” Lirihnya. Ia akhirnya menceritakan apa yang mereka obrolkan tadi pagi, membuat Aileen tahu bahwa hal itulah yang membuat laki- laki itu tampak kacau semalam.
“Lo bayangin… dia bisa berpikir sepicik itu.” kata Lula dengan bibir bergetar setelah menyelesaikan ceritanya. “dia pikir adik gue tuh laki- laki kayak apa, sih. Mana mungkin dia gandeng perempuan lain sedangkan mereka masih ada hubungan. Vano nggak akan sejahat itu.” kali ini Lula tak lagi bisa menahan tangisnya. Dadanya terasa sesaak saat ia mengatakan itu. Selapis bening terlihat di kedua mata wanita itu.
Aileen merangkul pundak Lula lalu memeluknya. “gue nggak terima adik gue diperlakukan kayak gitu.” Kata wanita itu sambil terisak di pundak sahabatnya.
Aileen tak mengatakan apapun. Ia tahu bahwa wanita itu tak membutuhkan apapun selain telinganya yang bisa mendengar semua keluh kesahnnya dan sentuhan di pundaknya. Ia membiarkan wanita itu menangis dan meracau bagaimana ia sangat menyayangi adik semata wayangnya.
Lula selalu merasa bahwa adiknya adalah sosok yang nyaris sempurna. Laki- laki itu tampan, rajin, penyayang, baik, perhatian, dan pengertian. Ia tahu bahwa laki- laki itu pantas mendapatkan gadis lain yang jauh lebih baik. Gadis yang mendapatkan Vano seharusnya bersyukur, bukan malah menyia- nyiakan dan memperlakukan laki- laki itu dengan begitu buruk.
Aileen masih memeluk wanita itu. Sebelah tangannya mengusap pundak wanita itu, mencoba memberikan ketenangan. Sesekali tangannya mengusap rambut panjang wanita itu. Ia tahu bagaiamana hubungan keduanya. Meski tinggal berpisah selama bertahun- tahun, ia tahu bahwa mereka berdua tetap sangat dekat sebagai saudara. Dulu, mereka rutin saling menelepon hampir setiap hari saking dekatnya. Hal yang mungkin jarang orang lain lakukan terhadap saudaranya. Ia tahu luka yang dirasakan wanita itu. Ia bisa merasakannya.
Vano keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi. Ia memakai kaos polos berwarna merah dengan celana pendek warna hitam. Rambut yang lembab masih terlihat acak- acakan karena belum di sisir.
Lula langsung berdiri saat melihat Vano keluar dari kamar. Ia sudah menghapus air matanya dan mengubah raut wajahnya. Ia menghindari kontak dengan Vano saat melewati laki- laki itu untuk masuk ke dalam kamar.
“Kak Lula kenapa?” tanya laki- laki itu pada Aileen yang hanya tersenyum sambil mengangkat bahu tak acuh. Ia melihat wanita itu berdiri lalu duduk di kursi kayu yang ada di belakang. Ia membalik badan dan duduk di kursi kosong juga yang ada di sana.
Aileen mengambil rok0k dari dalam bungkusan yang ada di atas meja dan menyulut ujungnya dengan pematik api.
“Vano udah mandi, nih, Kak.” kata laki- laki itu. Mata Aileen memicing, dahinya berkerut dalam. “nanti baju Vano bau rok0k.” kata laki- laki itu saat melihat kebingungan dalam tatapan wanita itu.
“Go away.” Kata Aileen dengan nada sinis yang justru membuat Vano terkekeh pelan.
Setelah ketiganya rapi, suara ketukan terrdengar, Vano membuka pintu dan melihat tiga orang pelayan berdiri di depan pintu kamarnya dengan nampan di tangan keduanya. Vano mempersilakan tiga pria berseragam itu masuk dan membawa nampan itu ke teras dekat kolam renang.
Aileen dan Lula mengucapkan terima kasih saat melihat tiga pelayan itu selesai menyajikan sarapan pesanan mereka di meja yang ada di samping tungku api unggun. Setelah tiga orang itu keluar dari kamar, mereka memulai sarapan. Aileen memesan begitu banyak makanan untuk sarapan mereka.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka membereskan barang- barang mereka karena harus checkout jam dua belas siang. Setelah selesai membereskan barang- barangnya, mereka bertiga kembali berjalan- jalan ke sekitar dan mengabadikan dengan berbagai potret bersama.
“Sini… sini… lo gue fotoin sama Vano.” kata Lula setelah Aileen membantunya mengambil fotonya bersama Vano. Aileen menyerahkan ponselnya pada Lula lalu mengambil posisi di sebelah laki- laki itu.
“Deketan, dong.” Teriak Lula. Vano dan Aileen mendekat hingga lengan mereka bersentuhan.
“Ih, gue takut dilabrak Risa, deh.” Kata Aileen. Vano tersenyum lalu malah mengulurkan sebelah tangannya untuk merangkul bahu wanita itu dengan sengaja. Setelah Lula menghitung sampai tiga, keduanya tersenyum ke arah kamera. Setelah itu mereka mengabadikan puluhan foto bersama dengan berbagai background.
Setelah puas berkeliling, mereka bertiga kembali ke kamar untuk mengambil barang- barang dan check out dari sana. Setelah selesai memberekan barang- barang.,Vano langsung mendekat ke pintu supir.
“Heh…” Aileen berteriak dan mendekat saat Vano baru saja membuka pintu supir.
“Vano yang nyetir.” Kata laki- laki itu. “Vano udah gak galau.” Katanya lagi. Ia memegang kedua bahu Aileen lalu membalik badan wanita itu dan membuka pintu penumpang belakang lalu meminta wanita itu duduk di belakang karena Lula sudah melesak di samping kemudi.
Setelah semuanya siap, Vano menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas hingga empat roda itu mulia berputar. Ia mampir ke front office untuk mengambalikan kunci lalu memulai perjalanan menuju Jakarta.
Lula menyalakan musik keras- keras, ketigannya bernyanyi bersama. Jendela yang tak tertutup sepenuhnya membuat angin dingin kota kembang memenuhi mobil. Dalam perjalanan, mereka mampir ke beberapa tempat untuk wisata kuliner.
TBC
LalunaKia