CHAPTER EMPAT PULUH SATU

2134 Words
              Suara dering ponsel menggema di mobil Aileen saat wanita itu dalam perjalanan pulang dari rumah Lula selepas mereka dari mall. Ia mengambil sling bag yang ia taruh di kursi di sebelahnya. “siapa sih yang telepon malam- malam gini.” Keluhnya sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan benda pipih dari sana. Dahinya berkerut dalam saat melihat nama Vano ada di layarnya.             Wanita itu menepi di jalanan yang sepi lalu menslide layar untuk mengangkat panggilan. Suara riuh di seberang langsung menyambutnya. Dentuman musik memekakkan telinga Aileen.             “Vano… lo di mana?” tanya Aileen saat tak juga mendengar suara laki- laki itu. Ia berteriak, mencoba mengalahkan suara riuh dari seberang sambungan. Aileen perlu bertanya beberapa kali hingga akhirnya suara laki- laki itu terdengar. Laki- laki itu menyebutkan sebuah bar yang ada di bilangan Kemang.   ***                         Vano menyesap lintingan nikotin di antara jari terlunjuk dan jari tengahnya. Ia menyesapnya lalu membuang asapnya melalui mulut. Asap rokok dari sekitar    menyelimutinya. Suara hiruk pikuk nyatanya tak membuat keadaannya lebih baik. Saat itu, ia merasa sangat kesepian. Ia merasakan sakit dan sesak yang menyelimutinya dan semakin lama terasa semakin mencekiknya. Ia pikir dengan berada di keramaian bar, ia bisa melepaskan sesak itu.             Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap pipinya, lalu beralih ke rambutnya. Ia mengacak- acak rambutnya dengan frustrasi. Ia tidak menyangka bahwa ia akan berada dalam tahap ini. Semua cintanya pada gadis itu menguap begitu cepat. Meninggalkan sakit hati yang ia tak tahu kapan akan sembuh.             Ia tak tahu bahwa tanpa ia sadari, Risa telah meninggalkan begitu banyak luka. Ia tak menyadari bahwa selama ini rasa cintanya tak menyembuhkan luka yang Risa berikan. Namun hanya menutupnya dan kini luka itu terbuka. Menganga begitu lebar dan menyakitkan.             Vano menatap gelas di depannya. Ia mengambilnya, menggoyangkan gelas itu hingga suara es batu yang membentur dinding gelas terdengar. Ia menyesap pelan dan merasakan panas langsung mengaliri tenggorokannya.             Masih segar dalam ingatannya saat gadis itu menamparnya untuk pertama kali, tak cukup, gadis itu membanting ponselnya hingga rusak. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu mampu melakukannya lagi. Ia tak tahu bahwa itu adalah balasan yang ia dapat atas semua yang telah ia berikan pada gadis itu.             Ia telah memberikan cinta yang tak terbatas. Ia telah menutup semua mata dan telinganya demi gadis itu. Ia menuruti semua keinginan gadis itu meski terasa tak nyaman buatnya. Ia melakukan semua hal untuk gadis itu. Namun semua yang ia lakukan tak pernah dihargai. Semua yang ia lakukan tak juga memuaskan gadis itu. Ia tak pernah mendapat balasan yang setimpal atas apa yang sudah ia lakukan demi gadis itu.             Vano membenci dirinya sendiri. Ia membenci dirinya yang tak mendengar semua perkataan kakaknya. Ia membenci dirinya yang pernah menjadi begitu bodoh karena cintanya. Ia membenci dirinya yang selalu mengalah dengan mengatasnamakan cinta.             Ia tidak pernah sadar bahwa gadis itu tak pernah berubah dan tak pernah ingin berubah. Ia tidak pernah sadar bahwa maaf yang gadis itu ucapakan bukan sebuah penyelesaian. Gadis itu meminta maaf untuk memperbaiki keadaan. Gadis itu tak pernah tahu apa yang salah dari dirinya dan tak pernah intropeksi diri. Ia tak menyangka bahwa masalah yang gadis itu buat, lalu kata maafnya, hanya sebuah proses tanpa arti. Maaf yang gadis itu ucapakan selama ini bukan proses gadis itu untuk berubah. Itu hanya sebuah kata tanpa arti.             Vano menyesap lintingan nikotin di tangannya kembali. Itu adalah rok0k ketiga yang ia hisap. Ia pergi ke bar untuk minum dan merokok dengan harapan kedua hal itu bisa melepaskan sesak yang masih menyelimutinya. Ia tak tahu harus bagiamana. Ia tak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk melepaskan semua sakit yang kini terasa membuatnya sulit bernapas. ***               Aileen memarkirkan mobilnya di sebuah bar yang juga cukup sering ia datangi bersama Lula. Ia turun dari sana dan langsung melangkahkan kakinya memasuki bar. Ia menerobos beberapa kerumunan yang ada di sana. Matanya memindai sekeliling. Mencoba mencari keberadaan Revano.             Langkah kaki wanita itu berhenti saat melihat laki- laki itu sedang duduk di depan meja bar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bagian samping laki- laki itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat laki- laki itu tampak kacau. Matanya menatap lintingan nikotin yang terselip di antara jari- jari laki- laki itu, juga segelas minuman yang ada di depannya. Aileen mengela napas saat merasakan nyeri tiba- tiba menghantamnya. Ia tak tahu apa yang laki- laki itu alami, namun ia tahu bahwa laki- laki itu sedang dalam masa- masa tersulitnya.             Kakinya perlahan melangkah mendekati laki- laki itu. Ia duduk di sebelahnya dan melirik laki- laki itu yang masih tak menyadari kehadirannya. Ia memesan minuman pada bartender dan melihat laki- laki di sebelahnya menoleh ke arahnya.             “Kak Aileen.” kata laki- laki itu. Aileen bisa mencium bau alkohol dari mulut laki- laki itu. Aileen tersenyum, ia menatap Vano yang menatapnya dengan tatapan kebingungan.             “Lo kenapa?” tanya Aileen akhirnya. Ia tidak sanggup memendam lebih lama rasa penasarannya.             “Jangan bilang- bilang kak Lula, ya, kalau Vano di sini.” Kata laki- laki itu dengan nada memohon. “Vano bilangnya nginep di rumah teman.” Katanya lagi.             Aileen mengangguk pelan. Dua bola mata bening laki- laki itu persis seperti anak anjiing yang sedang kehilangan arah. Sebelah tangan Aileen terulur untuk mengambil lintingan nikotin yang baru saja laki- laki itu selipkan di bibirnya.             “Lo boleh stress, tapi lo ngga boleh kayak gini.” Kata Aileen. Ia juga mengambil gelas berisi miniman alkohol yang ada di depan laki- laki itu. “lo bisa jauh lebih baik dari ini. Ini bukan Vano yang gue kenal.” Kata Aileen.             Vano menunduk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak tahu apa yang harus ia ceritakan pada wanita di sampingnya. Ia terlalu malu untuk menceritakannya, atau bingung dari mana harus memulai.             Ia tahu ia seharusnya merasa lega karena bisa lepas dari Risa. Ia harusnya senang karena akhirnya bisa melepaskan diri dari gadis itu. Namun ia tak tahu kenapa hatinya masih terasa begitu sakit dan sesak. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan perasaannya.             Aileen menghela napas. Ia berdiri dari duduknya dan menarik sebelah tangan Vano hingga ia bisa melihat wajah laki- laki itu. Kakinya maju selangkah lalu ia memeluk laki- laki itu. Ia mengusap pundak laki- laki itu saat merasakan laki- laki itu mengeratkan pelukannya. Selama beberapa menit mereka berdua berpelukan. Vano menyerukkan wajahnya di bahu wanita itu seakan itu adalah tempat terbaik untuk mengeluarkan semua perasaannya yang semakin terasa tak karuan.             “Vano sama Risa putus, Kak.” bisik laki- laki itu tepat di telinga Aileen. Laki- laki itu mengurai pelukannya dan melihat raut wajah Aileen yang tampak terkejut. Vano tersenyum getir, sebelah tangannya menarik kursi di belakang Aileen agar lebih dekat ke arahnya dan meminta wanita itu kembali ke kursinya.             “Lo serius?” tanya Aileen saat ia sudah kembali ke kursinya. Ia memutar tubuhnya hingga bisa menghadap laki- laki itu. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut laki- laki itu. Ia tahu seberapa cinta laki- laki itu pada Risa. Ia juga tahu bagaimana Risa tak ingin kehilangan laki- laki itu. Ia tak tahu keduanya bisa mengambil keputusan itu.             Namun Aileen tak munafik bahwa ia menyukai kenyataan itu. Ia percaya bahwa Vano berhak mendapatkan gadis yang jauh lebih baik. Ia percaya bahwa laki- laki itu akan mendapatkan gadis terbaik yang bisa menghargainya. Laki- laki itu seharusnya lebih cepat keluar dari hubungan yang hanya memberikan laki- laki luka.             Vano mengangguk. Ia menatap Aileen dan tersenyum getir. Senyum yang entah kenapa terasa menyakitkan bagi Aileen. Ia tak tahu bagimana perasaan Lula jika melihat keadaan Vano yang seperti ini. Ia tahu sebesar apa Lula ingin keduanya berpisah, namun ia juga tahu bahwa bukan Vano seperti ini yang ingin dilihatnya.             “Tadi Risa nampar Vano lagi.” Kata laki- laki itu, “untuk yang kedua kalinya.” Laki- laki itu tersenyum miris.             Sebelah tangan Aileen terkepal. Ia bersumpah senyum menyakitkan laki- laki juga terasa menyesakkan dadanya. Ia tidak tahu sebanyak apa luka yang laki- laki itu sembunyikan.             Laki- laki itu akhirnya menceritakan semuanya. Ia bercerita bahwa ia sudah berada pada akhir kesabarannya. Ia menceritakan keributan apa yang terjadi tadi hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia menceritakan semuanya pada wanita itu karena ia percaya bahwa wanita itu bisa menjaga rahasianya. Ia tak mungkin bercerita pada Lula karena tahu kakaknya pasti akan merasakan sakit jika ia tahu apa yang sudah terjadi padanya selama ini.             Aileen melihat tatapan nanar laki- laki itu, namun laki- laki itu mencoba tersenyum kecut. Ia mengusap sebelah tangan laki- laki itu yang ada di atas meja.             “Vano senang bisa lepas dari Risa. Tapi Vano nggak tahu kenapa Vano sama sekali nggak merasa lega. Vano malah ngerasa sakit dan sesak.” Kata laki- laki itu dengan suara patah- patah.             Aileen mencoba mengulas senyum. “Wajar. Kalian bersama udah cukup lama. Nggak mudah ninggalin semuanya.” Kata Aileen, “tapi harus percaya bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya dan lo berhak dapat perempuan yang jauh lebih baik dari Risa.”   ***               Keduanya keluar dari bar saat jam menunjukkan lewat tengah malam. Keduanya menghampiri mobil Aileen karena wanita itu bersikeras bahwa laki- laki itu tak bisa menyetir karena berada dalam pengaruh alkohol meski masih memiliki kesadaran.               “Lo ke apartemen gue aja kalau lo nggak mau pulang.” Kata Aileen saat mereka berdiri di depan mobil mewah wanita itu. “lo udah terlanjur bilang juga kan sama Lula kalau lo nginep di rumah teman.” Lanjutnya. Sebelah tangannya bergerak untuk merogoh tasnya dan mengeluarkan kartu akses apartemennya.             Vano menatap kartu akses yang di ulurkan Aileen lalu menggeleng pelan. “Vano udah ngerepotin kak Aileen terus.” Kata laki- laki itu dengan nada tak enak.             “Lo mau pulang dalam keadaan kayak gini?” Aileen melirik laki- laki itu dari kepala sampai kaki. Memberitahu bahwa keadaan laki- laki itu sangat berantakan. “bau rokok, mulut bau alkohol, wajah kuyu.” Aileen menggeleng, “lo nggak bisa pulang dengan keadaan kayak gini. Lo bisa bikin Lula malah tambah khawatir.” Aileen mengambil sebelah tangan laki- laki itu dan menaruh kartu akses apartemennya di telapak tangannya.             Vano tak membantah. Ia mengambil benda itu dan masuk ke dalam mobil. Menyusul Aileen yang sudah melesak lebih dulu ke belakang kemudi.             Aileen membelah jalanan lenggang ibukota menuju apartemennya. Ia sesekali melirik Vano yang melempar pandangan keluar jendela. Ia tahu apa yang dirasakan laki- laki itu. Sama sepertinya yang pernah begitu disakiti oleh mantan pacarnya, saat ia putuspun ia merasakan sakit yang begitu dalam. Tak peduli ia mengatakan pada dirinya berkali- kali bahwa ia membenci mantan pacarnya, rasa sakit itu tetap ada. Rasa sakit itu bertahan cukup lama. Saat itu ia tak mengerti dengan perasaannya. Apa yang sesungguhnya membuat harinya terasa begitu sakit dan sesak. Apa karena laki- laki itu berkhianat? Atau karena ia merasa bodoh? Atau karena ia tak bisa membohongi bahwa ia masih cinta?             Ia yakin semua perasaan itu akan bertahan pada diri Vano selama berhari- hari ke dapan. Laki- laki itu akan mengalami kebingungan hingga akhirnya waktu akan menyembuhkan luka hatinya.             Mobil itu berhenti di depan apartemen Aileen yang berada di bilangan Sudirman. Ia melirik Vano yang yang masih terdiam. Kartu akses miliknya masih ada di tangan laki- laki itu.             “Udah buruan keluar.” Kata Aileen. Ia melihat laki- laki itu menegakkan tubuhnya lalu menatapnya. “lo bisa kan jalan sendiri?” tanya Aileen.             “Bisa, Kak.” jawab laki- laki itu. Vano membuka safety beltnya lalu kembali menatap Aileen. “makasih, ya, Kak.” kata laki- laki itu. Ia melihat wanita di sebelahnya mengangguk pelan. Ia menatap apartemen mewah di depannya sebelum memutuskan untuk keluar dari mobil.             Aileen melihat sebelah tangan laki- laki itu membuka pintu dan laki- laki itu keluar. Ia menatap tubuh tegap itu dari belakang hingga akhirnya sosoknya menghilang dari pandangannya.             Vano naik ke lantai delapan belas menggunakan lift lalu menyusuri lorong menuju sebuah unit yang nomornya sama dengan yang tertera di kartu akses yang ada di tangannya. Setelah menemukannya, ia berdiri di depan pintu lalu menempelkan kartu akses pada platform magnet yang ada di pintu hingga terdengar bunyi klik. Sebelah tangannya menekan handle pintu dan membuka pintu itu.             Ia masuk ke dalam apartemen mewah itu. Matanya memindai sekeliling. Apartemen itu rapi karena sepertinya jarang di tempati. Wanita itu jelas lebih suka menghabiskan malam di rumahnya bersama Lula dibanding di unit ini sendirian. Ia masuk dan langsung di sambut oleh ruang tamu yang cukup luas. Ia mendekati sofa dan menjatuhkan dirinya di sana.             Ia memijit- mijit kepalanya yang mulai terasa pusing. Sebelah tangannya merogoh saku celananya. Ia mengambil gawainya yang sudah ia matikan sejak ia mengirim pesan pada kakaknya. Ibu jarinya sudah bertengger di tombol power dan siap menyalakannya. Laki- laki itu tiba- tiba menggeleng pelan. Ia memutuskan untuk menaruh benda pipih itu di atas meja.             Laki- laki itu menatap langit- langit ruang tamu. Langit- langit yang di cat putih nyaris tanpa noda. Ia menatap bidang itu lamat- lamat hingga akhirnya matanya terpejam dan ia tertidur pulas.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD