Aileen sudah sampai di rumah Lula pagi- pagi sekali. Ia sengaja memasukkan mobilnya ke garasi karena tahu garasi rumah itu kosong. Ia keluar dari mobilnya sedang sebuah tentengan ada di tangan kanannya. Saat ia mendekat ke pintu, ia melihat Lula keluar dari rumahnya dan menghela napas saat melihatnya. Sebuah ponsel ada di sebelah tangan wanita itu.
“Tumben lo udah bangun?” tanya Aileen sampai di depan Lula. Ia melihat wanita itu tampak mengutak atik ponselnya dan mendekatkan benda benda pipih itu ke sebelah telinganya.
“Vano gue teleponin dari tadi ponselnya nggak aktif.” Kata wanita itu. Mengindahkan pertanyaan Aileen.
Aileen melingkan lengannya pada lengan wanita itu dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Vano udah gede. Nggak bakal kenapa- kenapa?” tanya Aileen sambil menaruh plastik yang ia bawa di atas meja. Ia juga mendorong bahu Lula agar wanita itu duduk di sofa.
“Dia semalam kirim pesan katanya mau nginap di rumah temannya. Tapi nggak bilang teman yang mana, di mana rumahnya.” Kata Lula dengan nada khawatir. “gue tahu kalau dia nggak punya banyak teman selain teman kantornya.” Katanya lagi. “dia nggak bisanya kayak gini, makanya gue khawatir.”
Aileen menatap wajah Lula yang kebingungan. “lo takut Vano bermalam sama Risa?” tanya Aileen. “atau kenapa?” tanyanya lagi. Aileen menatap wanita di sampingnya menengadah dan menatap ke arahnya.
“Apapun itu. Gue takut hal buruk terjadi sama dia.”
Aileen menatap Lula yang mengigiti bibir bawahnya. Sebelah kaki wanita itu bergerak gelisah.
“Dia ada di apartemen gue.” kata Aileen akhirnya. Ia tahu bahwa ia tak bisa membiarkan wanita itu kebingungan dan tak tenang saat ia tahu jawaban apa yang dicari wanita itu.
“Di apartemen lo?” tanya Lula dengan nada semakin bingung.
Aileen menghela napas. “Vano ngelarang gue ceritain ini sama lo.” Kata Aileen, “tapi lo tahu kalau gue nggak bisa bohong sama lo. Apalagi lihat lo khawatir kayak gini.” Katanyanya. “gue minta lo jangan bilang kalau lo tahu semua yang akan gue ceritain sama lo, ya.” lanjut Aileen.
Lula mengangguk lalu menatap sahabatnya lekat- lekat. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada adik semata wayangnya.
Aileen akhirnya menceritakan semuanya. Saat Vano menelponnya dan bilang dia ada di sebuah bar. Saat ia melihat laki- laki itu merokok dan minum- minum. Saat akhirnya laki- laki itu menceritakan semua yang baru saja terjadi padanya.
“Dia nggak cerita sama lo karena takut nyakitin lo. Dia tahu kalau lo pasti nggak terima kalau tahu apa yang terjadi sama dia.” Kata Aileen. Ia melihat bibir wanita di depannya bergetar. Sudah ada selapis bening di kedua mata wanita itu dan saat wanita itu berkedip, sebulir air matanya jatuh. “dia sayang banget sama lo sampai nggak mau lihat lo kecewa.”
Lula mengusap pipinya dengan buku- buku jarinya. Ia menarik napas panjang untuk menahan tangisnya. Ia tidak memungkiri bahwa ia merasaka lega. Merasa lega karena fisik laki- laki itu baik- baik saja, juga karena akhirnya laki- laki itu putus dari Risa. Ia mencoba mengenyahkan semua sesak yang terasa saat mendengar cerita Aileen mengenai bagaimana laki- laki itu diperlakukan oleh Risa. Ia tidak peduli lagi. Ia pikir adiknya jauh lebih penting. Yang terpenting laki- laki itu sudah mengambil keputusan yang tepat.
“Lo jangan bahas apapun kalau nanti dia pulang, ya.” kata Aileen, “gue nggak enak karena udah janji nggak bakal ceritain semuanya sama lo.” Katanya lagi.
Lula mengangguk, ia memajukan tubuhnya untuk memeluk sahabatnya. Ia berterima kasih pada wanita itu. Berterima kasih karena wanita itu berada di saat- saat terburuk adiknya, juga karena wanita itu jujur padanya.
***
Vano merasakan pusing di kepalanya. Tubuhnya menggeliat, lalu perlahan keduanya matanya terbuka pelan. Matanya mengerjap dua kali saat menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya. Ia bangun dari tidurnya lalu memindai sekeliling dan mendesah saat mengingat apa yang terjadi semalam. Ia memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
Ia berdiri dari duduknya dan mengelilingi ruangan itu untuk mencari keberadaan dapur. Setelah menemukannya, ia membuka beberapa lemari untuk menemukan gelas dan langsung menaruhnya di bawah kran disprenser. Ia menekan salah satu tombol agar air keluar dan mengisi gelasnya.
Ia menyesap air dalam gelas hingga tandas. Ia lalu mengisi kembali gelasnya lalu menandaskannya untuk kedua kalinya. Matanya kini menatap ke sekeliling apartemen yang terlihat rapi itu. Ia mendekati salah satu meja di samping televisi. Ia tersenyum melihat beberapa foto si pemilik apartemen. Di beberapa foto ada potret kakaknya juga. Ia mengambil salah satunya dan mengusap kaca bingkai dengan ibu jarinya. Ia menatap potret itu baik- baik. wanita itu tampak memakai gaun satin berwarna kuning gading dengan belahan gaun yang mengekspos kaki jenjangnya. Dalam foto itu, rambut Aileen masih panjang dan dibiarkan tergerai melewati bahunya yang terbuka. Wanita itu tersenyum ke arah kamera.
Ia mengembalikan bingkai itu dan mengambil bingkai yang lain. Kali ini ia menatap Aileen dan Lula yang berada dalam satu frame. Keduanya sedang berdiri dengan latar belakang pantai. Keduanya sama- sama memakai sepotong kaos dan celana pendek, juga topi yang menutupi kepala keduanya. Ia menatap senyum bahagia keduanya.
Ingatan saat Aileen memeluknya tiba- tiba masuk ke dalam pikirannya. Ia tak tahu itu pelukan keberapa yang wanita itu berikan padanya setiap kali ia ada masalah dengan Risa. Pelukan itu terasa menenangkan dan selalu membuatnya lebih baik. Ia tidak akan pernah melupakan saat wanita itu selalu berada di saat- saat terburuknya. Memberinya semangat tanpa menghakimi keputusaannya yang berkali- kali memilih bertahan bersama Risa. Wanita itu tak pernah mengatakan apapun. Wanita itu hanya memeluknya dan mendengarkan keluh kesahnya.
Ia awalnya tak mengerti kenapa ia bisa menceritakan semua permasalahnnya pada Aileen. Ia hanya percaya bahwa wanita itu adalah pendengar yang baik. Ia butuh orang yang bisa memandang Risa secara netral, bukan seperti kakaknya yang memang sudah sangat tidak menyukai Risa.
Namun akhirnya semua perkataan kakaknya terbukti. Ia tahu ini keputusan yang berat, namun ia tak akan menyesalinya. Hidupnya berharga dan ia butuh seseorang yang juga menghargainya. Ia tahu bahwa terlalu banyak kenangan manis yang diciptakan gadis dalam memorinya. Ia tahu bahwa menghapusnya tidak semudah membalik telapak tangan. Namun ia tidak ingin berdiam diri dalam dunia yang diciptakan gadis itu. Gadis itu telah merampas banyak kebebasannya yang dulu ia kira salah satu bukti cinta gadis itu.
Ia kembali ke sofa dan menyalakan ponselnya yang ia matikan sejak semalam. Ia mendengar rentetan deting pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab. Ada hujaman pesan dari Lula dan Risa.
Ia menarik napas lalu memilih membuka pesan kakaknya lebih dahulu.
Lula: Lo nginep di mana?
Lula: Di rumah siapa?
Lula: Memang lu punya teman?
Lula: Teman yang mana?
Lula: Kalau ngasih informasi yang jelas dong.
Lula: Kenapa nomor nggak aktif.
Lula: Lo kenapa sih?
Lula: Lo nggak biasanya kayak begini.
Lula: Jangan bikin orang khawatir.
Lula: Gue tendang lo, ya, kalau sampai muncul di rumah.
Vano tersenyum membaca pesan terakhir yang di kirim kakaknya. Ia tahu seberapa besar wanita itu mengkhawatirkannya dan ia menyesal pergi ke bar tadi malam. Harusnya ia langsung pulang ke rumah dan memeluk wanita itu. Memberitahu wanita itu bahwa ia sudah melepaskan Risa. Ia tahu wanita itu akan tersenyum senang saat mendengar itu. Itu lah yang seharusnya ia lakukan tadi malam. Ia seharusnya bisa lebih pintar menyembunyikan dan mengelola perasaannya.
Ia menutup bar chat wanita itu lalu menatap nama Risa di bawah nama kakaknya. Ia menarik napas panjang lalu mengklik nama gadis itu dengan ibu jarinya.
Ia menatap tiap baris pesan gadis itu. Pesan itu begitu banyak dan panjang sehingga butuh waktu lama untuk Vano menyelesaikannya.
Gadis itu meminta maaf padanya, menyesali semua yang ia lakukan, berjanji akan berubah dan bilang bahwa gadis itu tak mau kehilangannya. Gadis itu menuliskan semua rasa penyelesalan dan memintanya memberinya kesempatan. Gadis itu menyadari semua kesalahannya dan bersumpah bahwa ia akan berubah. Risa memberitahunya bagaimana gadis itu mencintainya. Risa mengungkit lagi semua rencana indah keduanya yang belum sempat terealisasikan. Gadis itu menyadarkannya bahwa banyak mimpi- mimpi mereka berdua yang belum tercapai. Gadis itu memintanya kembali dan berjanji akan menjadi lebih baik.
Vano menghembuskan napas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menggeleng pelan. Ia sudah mendengar kalimat- kalimat itu beberapa kali saat mereka bertengkar dan tak ada satupun janji yang gadis itu tepati. Semua omogan gadis itu hanya untuk memperbaiki keadaan sementara. Tak pernah ada yang berubah dari gadis itu.
Suara denting kembali berbunyi. Nama Aileen ada di bar chat paling atas.
Aileen: Ada kaos dan celana kakak gue di lemari depan kamar mandi. Lo boleh pakai kalau mau.
Vano mencium kaos dan mencium bau rokok yang menyengat. Ia memang harus mandi sebelum pulang agar kakaknya tak curiga. Setelah membalas pesan wanita itu dengan ucapan terima kasih, ia mencari lemari yang di maksud lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Laki- laki itu tidak tahu bahwa Lula sudah tahu semuanya. Ia tak tahu bahwa Aileen sudah menceritakan semuanya hingga ke akar- akarnya. Ia tak tahu bahwa sebenarnya ia tak perlu berpura- pura atas semua yang telah terjadi padanya.
***
“Eh, La, kemarin Malik keliahatan beda, ya?” tanya Aileen pada Lula saat mereka sedang menonton film di ruang tamu melalui layanan streaming. Keduanya sama sama memegang snack di tangan mereka dan memakannya dengan tangan lain yang bebas.
“Beda gimana?” Lula bertanya balik. Ia masih tidak melepas pandangannya dari layar di depannya sementara tangannya masih aktif membawa kepingan snack itu ke mulutnya dan mengunyahnya.
“Ish… penampilannya.” Aileen memperjelas maksudnya.
“Oh…” hanya kata itu yang keluar dari mulut Lula. Ia masih fokus menonton dan mengunyah cemilan di tangannya. Aileen berdecak melihat respon sahabatnya yang biasa- biasa saja.
“Kok lo gitu doang sih responnya.” Aileen menyentuhkan kakinya ke kaki Lula dan langsung membuat wanita itu menoleh ke arahnya.
“Ya terus harus gimana lagi? Biasa aja. Biasanya kan dia kerja, jadi ya pakainnya rapi. Nah kemarin lagi jalan, jadi agak santai. Nggak ada yang aneh.”
“Bukan itu yang gue maksud.” Kata Aileen. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap sabatanya lekat- lekat. “gue bilang kalau wajah dia itu bisa kelihata beda banget kalau penampilannya berubah.” Katanya. “makin kelihatan ganteng. Iya, nggak?”
“Lo naksir dia, ya?” tanya Lula dengan dahi yang berkerut dalam.
“Nggak semua orang yang gue bilang ganteng, itu, udah pasti gue taksir.” Aileen melempar bantal sofa ke kepala sahabatnya yang terkekeh ringan.
“Lo lihat nggak sih ekspresi Malik pas dia denger lo ngomong gini kemarin, ‘anaknya ganteng, tante, kok belum punya pacar’.” Lula tertawa jika mengingat hal itu. Ia melihat ekspresi laki- laki itu yang duduk di depannya dan melihat kedua mata laki- laki itu membulat sempurna. Seperti tak menyangka bahwa kalimat seperti itu akan keluar dari mulut Aileen.
“Gimana memang dia?”
“Pokonya dia kaget banget. Bola matanya kayak mau loncat.” Kata Lula sambil tertawa.
“Jangan- jangan dia baper lagi gue bilang ganteng.” Kata Aileen. Ia masih melihat Lula terkikik geli di sebelahnya.
“Hayo lo… tanggung jawab, baperin anak orang.”
Tepat setelah Lula menyelesaikan kalimatnya, pintu utama terbuka. Lula dan Aileen terdiam, Vano berdiri di ambang pintu.
“Eh, berani- beraninya, ya, lo pulang.” Lula berdiri, berkacang pinggang. Matanya melotot pada Vano yang akhirnya memilih berlari keluar sebelum Lula benar- benar menendangnya.
“Heh!!!” Lula ikut berlari. Ia mengejar Vano yang sudah keluar berlari di jalanan kompleknya. Lula mengejarnya.
“Ampun, Kak.” kata Vano sambil menoleh ke arah kakaknya yang tampak tak ingin melepaskannya kali ini. Ia sudah mengitari komplek dan membuat beberapa tetangganya menatap bingung ke arah keduanya.
Lula berhenti, menunduk dan berusaha mengatur napasnya yang mulai terengah- engah. Vano melakukan hal serupa, tak jauh di depannya.
“Gue putus sama Risa, Kak.” kata laki- laki itu akhirnya. Ia ingin memberikan kabar yang sangat ingin di dengar kakaknya. Ia tahu kini kakaknya pasti bahagia bagai mendapat lotre ratusan juta.
Lula menengakkan tubuhnya. Ia berkacak pinggang dan menatap adiknya yang tengah tersenyum padanya.
“Bagus… anak pintar…” kata Lula. Ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan pada adiknya untuk mendekat.
“Jangan di tendang, ya.” kata Vano. Ia melihat kakaknya mengangguk pelan.
Perlahan langkah kaki Vano bergerak untuk mendekati Lula. Saat ia berhasil berdiri di depan wanita itu, Lula mendekat dan memeluk laki- laki itu. Vano tersenyum, ia membalas pelukan kakaknya.
“You deserve better.” Kata Lula tepat di telinga laki- laki itu smabil mengusap pundak adiknya pelan. Wanita itu mengurai pelukannya dan menatap adik semata wayangnya dengan perasaan lega luar biasa.
TBC
LalunaKia