Aileen menunggu di beranda rumah. Ia masih menanti Lula dan Vano yang entah kejar- kejaran sampai mana. “bisa- bisanya main kejar- kejaran gue nggak diajak.” Keluh Aileen. Ia masih menatap jalanan di komplek di depan rumah Lula hingga akhirnya melihat keduanya.
Vano berjalan pelan, Lula nangkring di punggung laki- laki itu.
“Iihhh… gue mau dong digendong juga.” Kata Aileen dengan nada merajuk saat Vano menurunkan Lula dari punggungnya.
“Iri-an aja lo.” Kata Lula. Wanita itu masuk ke dalam rumah. Vano mengedipkan sebelah matanya pada Aileen lalu mengekori Lula ke dalam rumah.
Vano mengulum senyum melihat kedua mata kakaknya yang berkaca- kaca. “Bahagia banget lo, ya?” kata laki- laki itu. Ia melihat kakaknya mengangguk. Vano kembali memeluk wanita itu dan mengecup pucuk kepalanya.
“Lo udah makan belum?” tanya Lula pada Vano.
“Belum.” Jawab Vano. Mereka bertiga sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Ada bakmi, tuh, di dapur.” Kata Aileen. Merujuk pada makanan yang ia bawa dan selalu ia lebihkan satu untuk laki- laki itu.
“Wah… pasti Kak Aileen yang bawa.” Kata Vano. Aileen mengangguk. Vano sudah berdiri saat sebelah tangan Lua menahannya.
“Tunggu di sini aja. Biar gue yang ambilin.” Kata Lula. Ia menarik tangan adiknya agar kembali duduk sementara ia berdiri dan pergi menuju dapur.
Dahi laki- laki itu berkerut dalam melihat tingkah kakaknya yang tampak aneh hari ini.
“Kak Lula kepalanya habis kebentur apa gimana? Tumben banget.” Kata Vano pada Aileen yang langsung terkikik.
“Lo nikmati aja udah.” Kata Aileen.
Vano menggeleng karena tak mengerti apa maksud perkataan Aileen. Tak lama Lula kembali ke ruang tamu dengan mangkok penuh berisi bakmi.
“Makasih, Kak.” kata Vano. Kedua tangannya sudah memegang mangkok yang diulurkan Lula, namun Lula masih menahannya.
“Mau gue suapin nggak?” tanya Lula sambil tersenyum.
“Ish… nggak lah.” Kata Vano. Ia sedikit menarik paksa mangkok itu hingga terlepas dari tangan kakaknya.
“Orang kalau habis putus cinta, tuh, kan, biasanya galau, nggak mau makan, gitu.” Kata Lula. Aileen terkekeh melihat interaksi kakak beradik di depannya.
“Berisik, ih.” Kata Vano saat ia memulai suapan pertama. Tawa Lula dan Aileen menggema.
Lula menatap Vano yang sedang menikmati bakminya. Ia tak tahu apa yang dirasakan laki- laki itu. Ia tak tahu apa laki- laki itu baik- baik saja atau tidak. Yang ia tahu, laki- laki itu selangkah lebih maju. Tak peduli bagaimana keadaan laki- laki itu, ia yakin waktu akan menyembuhkannya.
“Van, mau gue kenalin sama sekretaris gue, nggak?” tanya Aileen saat Vano memasukkan ujung sumpit penuh bakmi ke mulutnya.
Lula dan Aileen menatap Vano yang sedang mengunyah dan berusaha menelan isi mulutnya. Laki- laki itu menggeleng.
“Nggak, Kak. Vano nggak mau buru- buru.” Kata laki- laki itu.
Lula memegang pundak laki- laki itu dan meremasnya pelan. “Selamat datang di club jomblo kita.” Katanya.
***
Aileen menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan. Ia menatap langit- langit rumah yang sudah sangat dikenalnya. Perlahan, tubuhnya bangkit dari posisi tidurnya. Ia melihat layar televisi di depanya sudah mati.
Ia ingat ia menonton televisi sebelum akhirnya ketiduran di sofa ini. Ia memindai sekeliling dan tak melihat pemilik rumah dalam tangkapan pengelihatannya. Matanya menatap jam dinding bulat di ruangan itu dan melihat waktu menunjukkan pukul empat sore.
Ia berdiri dari duduknya dan mendekati pintu kamar Lula. Sebelah tangannya menekan handle pintu dan membuka daun pintu itu perlahan. Matanya langsung menangkap Lula yang sedang duduk membelakanginya di depan meja kerjanya. Kedua telinga wanita itu disumpal headphone, dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sebelah tangan wanita itu dengan lincah menggerakkan mouse dan ujung jarinya mengklik hingga menimbulkan suara.
Meninggalkan Lula yang sedang fokus dengan pekerjaannya, ia berjalan ke dapur saat mencium wangi harus yang berasal dari sana. Di ambang pintu dapur, ia melihat Vano berdiri membelakanginya. Dengan sebelah tangannya yang dilapisi sarung tangan oven, laki- laki itu mengambil sesuatu dari dalam oven.
“Bikin apa?” tanya Aileen sambil mendekat.
“Makaroni schotel.” Jawab laki- laki itu saat Aileen berdiri di sebelahnya. “buat di bawa ke rumah kakak. Nggak enak kalau nggak bawa apa- apa.” Jawab laki- laki itu. Setelah mengeluarkan dua loyang dari oven, laki- laki itu memasukkan dua loyang lagi ke dalam oven dan mengatur suhunya.
“Yailah… pakai repot- repot segala.” Kata Aileen.
“Nggak repot kok.” Kata Vano. Ia mengambil sendok dari laci di depannya dan menyendokkan bagian pinggir macaroni yang baru saja ia keluarkan dan meniupnya pelan.
“Mau coba?” tanya Vano sambil mengulurkan sendoknya ke arah Aileen.
Aileen membuka mulutnya dan membiarkan sendok dalam tangan Vano masuk ke mulutnya dan mengantarkan macaroni schotel buatan laki- laki itu.
Vano melihat wanita itu mulai mengunyah dan tersenyum, “Enak seperti biasa.” Puji wanita itu. Vano ikut tersenyum. Ia mengambil dua piring dari salah satu lemari yang ada di sana dan memindahkan masing- masing setengah macaroni dari dalam loyang ke atas piring itu.
“Makan, Kak.” Vano menaruh satu piring di atas meja makan dan mendorong bahu wanita itu pelan agar duduk di kursi. Laki- laki itu juga menuangkan air dari dalam teko ke dalam gelas kosong dan mendekatkannya pada Aileen yang langsung mengucapkan terima kasih.
Sebelah tangan Vano mengambil piring satunya dan membawanya ke kamar kakaknya. Setelah mengetuk pintu dua kali, ia membukanya dan melihat kakaknya masih fokus pada pekerjaannya.
Kedua telinga wanita itu yang ditutup headphone membuat Lula tak sadar bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Hingga saat tangan Vano menyentuh bahu wanita itu, wanita itu terlonjak kaget. Secara refleks wanita itu berdiri dari duduknya. Lula memaki sementara adiknya tertawa.
“Ngagetin lo. Kalau gue jantungan gimana.” Kata Lula sambil membalik badan dan memegang dadanya yang jantungnya tiba- tiba berdebar kencang akibat ulah adiknya.
“Maaf…” kata laki- laki itu, masih terkekeh. “makan, nih.” Katanya lagi sambil menaruh piring berisi makanan yang baru saja ia buat.
Setelah pergi dari kamar Lula, laki- laki itu kembali ke dapur dan membereskan dapur yang baru saja ia gunakan. Aileen makan dengan nikmat di meja makan. Setelah memastikan bahwa dapur itu bersih seperti saat ia ingin menggunakannya tadi, ia mendekati Aileen dan duduk di depannya.
“Lo nggak makan?” tanya Aileen pada Vano yang baru saja duduk di depannya. Laki- laki itu menggeleng sambil menuangkan air dari teko ke gelas kosong dan menyesapnya.
“Orang kalau habis masak tuh malah suka nggak nafsu makan karena udah kecapekan masak.” Kata Laki- laki.
“Gitu, ya?” Aileen melihat laki- laki di depannya mengangguk. Ia mengambil isi piringnya dengan sendok lalu mengarahkannya pada Vano yang terdiam.
“Gue suapin…” kata Aileen. Tangannya yang memegang sendok masih berada di depan mulut Vano yang masih tertutup rapat.
Vano menatap sendok di depannya, lalu ke arah Aileen yang duduk di depannya.
“Tenang aja, gue nggak punya penyakit menular kok.” Kata wanita itu saat melihat laki- laki itu hanya terdiam menatap sendok dan dirinya secara bergantian.
“Eh, bukan gitu.” Kata Vano dengan perasaan tak enak. Sungguh ia tidak pernah berpikir seperti itu. Setelah menelan ludah, ia membuka mulutnya dan membiarkan masakannya masuk ke mulutnya dan mengunyahnya pelan.
Vano membuka obrolan untuk memecah kecanggungan. Ia bertanya bagimana keluarga Aileen. Seperti apa dua kakak lelakinya, juga orangtuanya. Atau hal- hal menarik yang bisa wanita itu ceritakan padanya.
“Nggak ada yang menarik dengan hidup gue.” kata Aileen. Ia kembali mengarahkan sendok ke arah Vano yang kini langsung membuka mulutnya tanpa berpikir panjang. “gue sama dua kakak gue cukup kompak. Karena dulu nyokap masih kerja, gue biasanya ngikutin ke manapun kakak- kakak gue pergi.” Cerita Aileen sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.
“Gue inget banget, gue nangis- nangis pengin ikut kakak pertama gue, padahal dia mau ketemu pacarnya. Alhasil gue udah kayak obat nyamuk karena ada di tengah- tengah kakak gue yang lagi pacaran.” Kata Aileen sambil tersenyum. “terkadang kalau kakak gue main ke rumah temannya, gue disuruh nonton televisi atau main sama pembantu temannya. Katanya gue nggak boleh ikut kumpul karena teman- teman kakak gue laki- laki semua.”
Vano kembali membuka mulutnya saat Aileen mengulurkan sendok ke arahnya lagi. Ia menatap lekat- lekat wajah Aileen. Garis bibir wanita itu tersenyum dengan dua bola mata yang berbinar sambil terus bercerita. Wanita itu sedang menggali memori dalam ingatannya.
Vano ikut tertawa kecil saat wanita itu menceritakan kejadian- kejadian lucu. Laki- laki itu memposisikan salah satu siku tangannya di atas meja lalu menopang wajahnya. Ia mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut Aileen dengan seksama.
Isi piring yang ada di depan wanita itu sudah kosong saat wanita itu menyelesaikan ceritanya. Aileen menyesap air dalam gelasnya lalu menatap Vano yang juga tengah menatapnya. Tatapan keduanya tiba- tiba terkunci. Keduanya terdiam. Selama beberapa saat, keduanya fokus pada wajah yang ada di depannya.
Vano yang pertama kali memutus kontak. Ia memajukan tubuhnya dan mengusap sudut bibir wanita itu. Ibu jarinya mengusap lembut ujung bibir Aileen yang tiba- tiba tersentak dan menjauh.
“Ada bekas makanan.” Kata laki- laki itu sambil menunjukkan sisa makanan di ibu jarinya.
***
Risa bergelung di bawah selimutnya. Tubuhnya berbaring miring. Tatapannya terarah pada ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Selama apapun ia menunggu pesan atau telepon dari Vano, ia tahu bahwa itu tak akan terjadi. Ia tahu laki- laki itu tak pernah main- main dengan kata- katanya. Laki- laki mungkin sudah berada di akhir kesabaran dalam menghadapinya.
Kedua mata gadis itu berkaca- kaca. Ia telah mengiriman belasan pesan, lalu puluhan panggilan yang tak pernah tersambung karena nomor laki- laki itu dalam keadaan tidak aktif. Ia tak tahu lagi bagaimana cara menghubungi laki- laki itu.
Suara ketukan di pintunya tak juga membuatnya mengalihkan pandangannya dari atas nakas. Perlahan ia mendengar pintu terbuka dan sosok ibunya muncul dan duduk di tepi ranjang dengan sepiring berisi roti dan segelas jus alpukat.
Dini menatap anak perempuannya dengan wajah sedih. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap rambut gadis itu. Ia tahu apa yang menimpa anak perempuannya. Namun ia tidak bisa melakukan apapun. Ia tahu bagiamana sifat Risa dan tak tak bisa menyalahkan Vano yang memilih pergi.
“Makan dulu, ya. Kamu belum makan dari pagi.” Kata wanita. Ia melihat gadis itu menggeleng pelan.
Gadis itu sepertinya sudah kehilangan semangat hidupnya. Gadis itu bukanlah lagi Risa yang bergitu ceria dan bersemangat. Gadis itu telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hiudpnya.
Risa telah kehilangan semua selera makannya. Ia tak merasakan lapar meski sejak pagi tak ada makanan yang masuk ke mulutnya. Ia hanya mengisi perutnya dengan air mineral dan tak merasa membutuhkan yang lainnya.
“Kamu bisa sakit kalau begini terus.” Ujar Dini sambil mengusap lengan anaknya yang masih terdiam.
“Biarin Risa sakit, kalau itu bisa bikin Vano balik sama Risa.” Kata wanita itu.
“Risa…” Dini sedikit menyentak. Melarang Risa berpikiran seperti itu.
“Risa sayang banget sama Vano, Ma.” Lirih gadis itu. “Risa nggak mau kehilangan dia.”
Risa menggigit bibir bawahnya dan sebulir air matanya jatuh. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia percaya bahwa hubungan keduanya masih bisa diperbaiki. Ia percaya bahwa laki- laki itu masih bisa berubah pikiran jika ia berbicara langsung pada laki- laki itu.
***
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh saat Vano keluar dari kamarnya. Ia sudah berpakaian rapi. Sebuah kemeja panjang hitam yang lengannya digulung hingga ke siku dan celana jeans. Ia sudah menata rambutnya agar rapi dengan bantuan gel rambut.
Ia melirik pintu kamar di sebelahnya yang masih tertutup rapat. Ia, Lula, dan Aileen memang akan pergi ke kediaman Aileen untuk memenuhi undangan makan malam dari kedua orangtua Aileen yang sudah mengenal Lula dengan sangat baik.
Tak lama pintu kamar Lula terbuka, lalu memunculkan sosok Lula yang tampak cantik dengan balutan gaun santai berwarna merah marun selutut. Lalu Aileen di belakangnya hadir dengan mini dress ketat yang mengekspos kaki jenjangnya. Keduanya memakai risakan tipis pada wajahnya.
“Kalian tuh kayak kelihatan mau party tahu, nggak.” Kata Vano.
Aileen dan Lula saling pandang dan terkekeh pelan. Lula mengdekati rak sepatu dan mengambil sepasang sepatu berwarna putih berhak lima sentimeter.
“Mau bawa mobil sendiri- sendiri atau gimana?” Vano bertanya pada Aileen.
“Ish… tega lo, gue udah cantik gini disuruh nyetir sendiri.” keluh Aileen.
“Halah, bisanya juga lo nyetir sendiri ke mana- mana.” Celetuk Lula saat ia duduk di sofa dengan sepasang sepatu yang ada di tangannya.
“Iya, sih. Udah pakai mobil gue aja. Nanti gue suruh supir nganterin kalian balik.” Kata Aileen. Vano menatap Lula yang akhirnya mengangguk.
Ketiganya sudah berdiri. Vano dan Lula berjalan lebih dulu.
“Van, HP lo nggak di bawa?” Aileen mengambil benda pipih milik Vano yang tergeletak di lemari kecil samping sofa. Ponsel itu dalam keadaan mati.
“Nggak apa- apa ditinggal aja, Kak.” kata Vano. Ia memang sengaja mematikan kembali poselnya setelah membaca pesan yang masuk tadi pagi. Ia tahu hari ini tidak akan tenang jika ia memutuskan untuk menghidupkan ponsel itu. Ia yakin bahwa Risa akan menghujam ponsel itu dengan pesan dan telepon, dan gadis itu tak akan menyerah sampai ia mengangkat panggilannya.
Aileen mengangguk lalu menaruh kembali benda pipih itu pada tempatnya lalu mengekori Vano dan Lula yang sudah berjalan lebih dahulu.
TBC
LalunaKia