CHAPTER EMPAT PULUH EMPAT

2182 Words
            Ini adalah kali pertama Vano berkunjung ke rumah Aileen. Laki- laki itu terpana saat mobil yang ia kendarai memasuki gerbang kokoh yang menjulang tinggi. Sesaat setelah mobil itu masuk, mereka masih harus melewati jalan setapak yang di kelilingi oleh halaman yang begitu luas. Lampu- lampu cantik berpendar menyinari taman yang ia yakin akan terlihat indah saat pagi.             Setelah melewati taman dan halaman yang baginya begitu luas, ia sampai di depan sebuah rumah megah bak istana. Semua temboknya bercat putih dengan berbagai ukiran pada tiang- tiang penyanggahnya yang terlihat kokoh.             Setelah menghentikan mobilnya di depan rumah mewah itu, Vano masih terdiam, tampak meneliti dan mengagumi bangunan megah di depannya, yang biasanya hanya ia lihat di televisi.             Suara pintu yang ditutup menyandarkannya dari lamunannya. Ia melihat kedua wanita itu sudah keluar dari mobil. Ia buru- buru melepas safety beltnya, lalu membuka pintu dan keluar. Tak lupa mengambil macaroni buatannya dan mengekori kedua wanita itu.             Aileen mendorong pintu utama rumahnya dan mempersilakan Lula dan Vano untuk masuk. Sesaat setelah melewati pintu, Vano semakin mengaggumi rumah itu. Rumah itu berdesain klasik yang terlihat elit dengan berbagai ukiran dan ornamen di berbagai sisi. Tiang- tiang yang menyanggah bagunan itu terlihat kokoh. Furniture dan elemen yang ada di rumah itu terlihat mewah. Nuansa krem di ruangan itu terlihat begitu menenangkan dan memajakan mata. Saat ia mendongak, ia melihat lampu- lampu kristal berukuran besar yang menggantung di langit- langit rumah.             Vano berjalan di atas permadani yang meredam derap langkahnya hingga akhirnya sampai di ruang makan dengan meja makan yang berukuran panjang dan kursi- kursi mengelilinginya.             Seorang wanita paruh baya yang sedang menata meja makan menghampiri ketiganya. Wanita itu masih begitu cantik di umurnya yang sudah lewat dari setengah abad.             “Gimana kabarnya?” tanya wanita itu pada Lula yang baru saja mencium punggung telapak tangannya.             “Baik, Tan. Alhamudulillah.” Jawab Lula.             “Yang ini Vano, Mah. Adiknya Lula.” Aileen mengenalkan Vano pada ibunya.             Vano mendekat lalu mencium punggung telapak tangan wanita paruh baya itu sambil tersenyum ramah.             “Kayaknya mama kenal, deh.” Kata wanita itu saat melihat Vano lamat- lamat. Ia berusaha berpikir di mana ia merasa pernah bertemu dengan laki- laki itu.             “Saya pegawai bank yang tempo hari bantu ibu urus masalah deposito itu.” kata Vano. Ia jelas mengingat wanita itu. Ia sendiri tak menyangka bahwa salah satu nasabah di perusahaannya itu adalah ibu Aileen.             “Owalah, iya, saya ingat. Mas Revano, kan?” kata wanita itu. Vano mengangguk sambil tersenyum ramah. Wanita itu mengusap bahu laki- laki itu dan meminta keduanya untuk duduk.             “Kamu tuh gimana sih, bukannya di rumah bantuin mama, malah kelayapan.” Kata Ayudia, ibu Aileen sambil menepuk bahu anaknya yang tertawa.             “Ma, Vano bikinin macaroni schotel nih.” Aileen mengambil bungkusan dalam tangan Vano dan memberikannya kepada ibunya.             “Pakai repot- repot segala. Makasih, ya.” katanya pada Vano yang tersenyum. “ini bikin sendiri?”             “Iya, Tan.” Jawab laki- laki itu.             “Jago dia mah, Ma, masaknya.” Kata Aileen.             “Lho, Lula malah nggak suka masak.”             “Jiwa kita memang kayaknya tertukar, Tante.” Jawab Lula. Keempat orang itu terkekeh pelan.             “Papa mana?” tanya Aileen Pda ibunya sambil duduk di salah satu meja kosong di depan Vano.             “Masih di jalan. Tunggu sebentar nggak apa- apa, ya.” Kata Ayudia pada Lula dan Vano yang langsung bilang tak masalah. Lula bilang bahwa ia berterima kasih karena di undang untuk makan malam di rumah itu.             Vano tak mengerti bagaimana mungkin Aileen bisa lebih banyak menghabiskan waktu untuk menginap di rumahnya yang biasa- biasa sedangkan rumahnya sendiri berdiri megah bak istana. Wanita itu juga selalu mencuci piring dan gelas bekas makannya sendiri, hal yang ia tahu tak pernah ia lakukan di rumahnya sendiri.             Pandangannya menangkap Ayudia yang sedang berbicara dengan dua orang asisten rumah tanggannya. Di rumah sebesar ini, ia tak tahu ada berapa banyak asisten rumah tangga. Namun ia tahu bahwa Aileen pasti diperlakukan bagai putri.          ***                         Risa turun dari mobilnya setelah berhasil memarkirkan kendaraan roda empat itu di depan rumah Vano. Ia membanting pintu mobil dan bergegas memasuki halaman rumah laki- laki itu. Ia sedikit bernapas lega saat melihat mobil laki- laki itu ada di garasi. Langkah kakinya semakin cepat menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai pintu cokelat berbahan kayu jati itu.             Ia berdiri di depan pintu lalu menarik napas panjang. Sebelah tangannya terangkat untuk mengetuk daun pintu kokoh itu. Ia terus mengetuk dan mengucapkan salam, namun tak ada sambutan dari dalam rumah. Ia menggeser tubuhnya ke samping dan mendekatkan pengelihatannya ke dalam rumah melalui jendela. Dari celah tirai, ia bisa melihat ruangan itu gelap, meyakinkannya bahwa tak ada orang di rumah itu.             Ia akhirnya menjatuhkan dirinya di kursi kayu yang ada di depan rumah. Ia tidak akan pulang sebelum menyelesaikan masalahnya. Ia percaya laki- laki itu akan memaafkannya dan menarik semua kata- katanya. Sebelah kakinya terangkat untuk bertumpu pada kaki lainnya. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a, lalu mengigiti kuku jari- jarinya. Kebiasaan yang selalu ia lakukan kala ia gelisah.             Ia masih di sana saat waktu bergulir semakin malam. Gadis itu kini berdiri dan mondar- mandir di beranda rumah. Berkali- kali ia menyorot jalan di depan rumah. Berharap melihat laki- laki itu kembali ke rumah.             Risa semakin cemas. Ia duduk di salah satu anak tangga yang menyambungkan beranda rumah dengan garasi. Sebelah kakinya bergerak gelisah. Ia mengusap kedua lengannya saat merasakan angin dingin mulai menyelimutinya. Ia tak menyiapkan apapun saat datang ke sini. Ia hanya memakai sepotong kaos dan celana pendek sehingga bulu kuduknya kerap meremang saat angin terasa menyapu kulitnya. Ia hanya berpikir bahwa ia harus segera menemui laki- laki itu dan membicarakan masalahanya.   ***               Setelah menyelesaikan makan malam, Vano dan Richard, ayah Aileen pergi ke ruang tamu untuk bermain catur. Sambutan hangat yang diberikan kedua orangtua Aileen membuat Vano tak begitu canggung. Kedua orang itu terlihat begitu ramah padanya, mungkin karena berdua juga sudah mengenal kakaknya dengan baik.             Dalam makan malam itu, mereka membicarakan banyak hal. Richard banyak bicara tentang politik dan ekonomi negeri ini dan Vano yang lebih banyak menimpali. Pria paruh baya itu senang bisa mendapatkan teman bicara yang berwawasan luas seperti Vano.             Saat tahu laki- laki itu bisa bermain catur, Richard langsung meminta laki- laki itu melawannya setelah makan malam selesai. Vano menerima ajakan itu dengan senang hati.             Di ruang tamu besar itu, Vano dan Richard fokus menatap bidak yang tersusun di atas papan catur yang diletakkan di atas meja. Aileen, Lula dan Ayudia ada di sebelah, terlibat banyak obrolan.             Ayudia tak ingin melewatkan kesempatan membicarakan hal- hal yang terlewat karena anaknya terlalu sibuk bekerja, juga menginap di rumah Lula ataupun tidur di apartemennya. Di hari- hari biasanya, ia bisa hanya bertemu beberapa jam dengan anak perempuannya. Biasanya dirinya sudah tidur saat Aileen pulang ke rumah. Mereka hanya bertemu saat sarapan. Dan setelah mereka menyelesaikan sarapannya, wanita itu akan langsung pergi ke kantornya. Hal itu terus berulang setiap kali wanita itu pulang ke rumah.             Ada hari- hari di mana ia tak bertemu Aileen selama beberapa hari. Ia terjadi jika wanita itu memilih menginap di rumah Lula, atau tidur di apartemennya.             “Len, kamu masih ingat, kan, Abram yang waktu itu mama kenalin sama kamu?” Ayudia bertanya pada anak perempuannya yang tampak berpikir hingga akhirnya mengangguk pelan saat sosok seorang pria ganteng dengan tubuh altetis masuk ke pikirannya.             “Kemarin mama ketemu dia, dia titip salam buat kamu.” Kata Ayudia lagi.             “Yang lo bilang bau badan itu?” Lula bertanya pada Aileen yang duduk di sebelahnya dan melihat wanita itu mengangguk pelan.             “Bukannya kamu bilang dia abis ngegym? Ya wajar dong bau badan kalau belum mau mandi mah.” Kata Ayudia.             Aileen yang sedang menyesap minumannya langsung menggeleng cepat. “Buat Aileen, mau dia habis ngegym, habis perang, habis kecebur comberanpun, pokoknya dia harus wangi.” Kata Aileen. “bukan wangi sih, ya pokoknya nggak bau badan. Pokoknya bau alami badannya enak gitu.” Aileen memperjelas ucapannya.             Ayudia berdecak mendengar penjelasan anaknya sementara Lula hanya mengulum senyum.             “Kayaknya dia harus nikah sama juragan minyak wangi deh, Tan.” Kata Lula. Ayudia mengangguk sambil tersenyum.             “Sumpah ya, jelek nggak masalah, tapi kalau udah bau badan, bye.” Wanita itu mengibaskan sebelah tangannya.             “Kalau Lula sendiri gimana? Lagi dekat sama laki- laki? Atau sama kayak Aileen?” tanya Ayudia. Kali ini menatap Lula yang duduk di depannya. Wanita itu tersenyum sambil mengangguk pelan.             “Bohong, Ma. Dia lagi dekat sama laki- laki. Namanya Malik…mmmppphhhh” kalimat Aileen berhenti kerena mulutnya dibungkam oleh Lula yang tahu bahwa sebentar lagi wanita itu akan mengarang certa mengenai dirinya dan Malik.             Ayudia tertawa melihat tingak kedua wanita di depannya. Ia tidak mengerti kenapa dua wanita yang umurnya akan menginjak tiga puluh tahun itu terlihat seperti anak kuliah yang sedang bertengkar.             “Kenapa sih, La?” kata Aileen saat ia berhasil melepaskan tangan Lula yang membungkam mulutnya.             “Jangan ngarang!” kata Lula lengkap dengan pelototan tajam. Tak peduli ibu wanita itu ada di depannya.             “Siapa yang ngarang?” tanya Aileen. Keduanya beradu pandang.             “Lo. Lo perasaan suka banget ngomongin Malik. Jangan- jangan lo yang suka lagi sama dia?” kata Lula.             “Kalau gue suka gimana? Lo cemburu?” kata Aileen             Langsung membuat Lula berdecak, “ya nggak, lah. Buat lo aja kalau mau.”             “Nggak ah. Malik terlalu polos.” Jawab Aileen.             “Ini anak berdua kalau di rumah kamu sering berantem gini juga?” Richard yang meski fokus pada bidak- bidak catur di depannya, namun tetap mendengarkan wanita- wanita di sampingnya mengobrol bertanya pada Vano yang ada di depannya.             “Iya, Om.” Jawab Vano sambil mengulas senyum tipis.             Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam saat Richard dan Vano menyelesaikan permainan dua putaran mereka. Vano yang memang sudah lama tak melakukan permainan itu kalah.             “Vano ngalah itu, Pa. Enggak enak dia sama papa.” Kata Aileen saat tahu bahwa bahwa ayahnya memenangi permainan itu.             Vano menoleh ke arah Aileen yang terkikik geli. “Nggak, Om. Saya udah lama nggak main soalnya.” Kata Vano. Berusaha menjelaskan bahwa apa yang baru saja dikatakan Aileen tidaklah benar.             “Kamu tuh, omongan Aileen aja di dengErin. Bercanda doang dia itu.” Kata Richard saat melihat wajah tak enak laki- laki di depannya.             Vano menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal lalu mendengar orang- orang terkikik di sebelahnya.   ***               Risa masih menunggu di sana saat malam semakin larut. Ia sudah menunggu di mobilnya, lalu keluar lagi dan nyaris dibunuh oleh kegelisahan dan kebosanan yang semakin lama semakin terasa mencekiknya. Ia memeluk lututnya dengan tatapan terarah sepenuhnya pada jalanan. Berharap laki- laki itu muncul entah dari mana. Angin yang terasa semakin dingin meyakinkannya bahwa sebentar lagi akan turun hujan.             Ia berkali- kali mengusap kakinya dan menarik napas panjang saat merasakan dingin terasa menusuk tulangnya yang paling dalam. Ia mengambil gawainya yang ia letakkan di sebelah dan kembali mencoba menghubungi laki- laki itu. Entah panggilan ke berapa yang ia lakukan ke nomor itu, ia sudah tak bisa menghitung karena saking banyaknya dan tak ada satupun yang berhasil. Suara operator wanita di ujung sambungan memberitahunya bahwa nomor itu dalam keadaan tidak aktif atau di luar service area.             Risa tak tahu lagi bagaimana cara untuk menghubungi laki- laki itu. Pikiran- pikiran buruk mulai bermunculan di otaknya. Bagaimana jika laki- laki itu tak memaafkannya? Bagimana jika laki- laki itu tak main- main dengan ucapannya? bagaimana jika laki- laki itu tak bisa menerimanya kembali? Ia menggeleng cepat. Tak berani membayangkan hal- hal buruk itu.             Seperti dugaannya, langit mulai memuntahkan muatannya. Matanya menatap jalanan yang mulai basah. Suara hujan mulai mendominasi. Ia menggeser duduknya saat merasakan air hujan menyiprat dan mengenai tubuh bagian sebelah kirinya. Hujan turun tanpa ampun, dengan intensitas lebat dan angin yang berembus cukup kencang.             Gadis itu berdiri dan akhirnya memilih duduk di kursi kayu yang ada di beranda rumah saat tahu bahwa ia akan semakin basah jika tetap duduk di sana. Sebelah kakinya bergerak, mencoba menahan dingin. Ia menatap sepasang sandal jepit yang ada di kedua kakinya.             Kepalanya menengadah saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah itu. Matanya memicing melihat sedan hitam yang tak lama memuntahkan sesosok perempuan dan laki- laki yang sudah sangat dikenalnya. Kedua orang berlari saat keluar dari mobil hingga berteduh dalam kanopi garasi rumah itu. Keduanya belum menyadari keberadaannya hingga keduanya mulai menaiki anak tangga.             Lula berhenti dan menatap Risa, begitu juga Vano berjalan di belakang kakaknya, ia tak meyangka gadis itu akan ada di rumah di saat seperti ini.             Lula menghela napas kasar lalu berjalan, membuka kunci pintu rumahnya dan masuk ke dalam tanpa mempedulian gadis itu.             “Risa…” lirih Vano. Ia menatap gadis itu baik- baik. Kedua mata gadis itu berkaca- kaca, bagian kanan baju gadis itu basah, gadis itu memilin jari- jarinya dengan kaki yang terus bergerak seperti menahan dingin. Vano tak menyangka akan menemui gadis itu di rumahnya. Ia tak tahu sudah berapa lama gadis itu ada di sana.             Kaki wanita itu maju selangkah dan tak lama Vano merasakan gadis itu menubruk tubuhnya. Tubuhnya menegang, ia merasakan kedua tangan gadis itu melingari pinggangnya dan suara isakannya mulai terdengar. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD