Vano mengurai pelukannya. Ia menatap wajah gadis itu yang masih menangis. Perlahan ia menuntun gadis itu ke dalam rumah.
“Di luar aja.” Lirih gadis itu.
“Di luar dingin.” Kata Vano. Ia merasakan sendiri bahwa kulit gadis itu sudah kedinginan karena menunggunya terlalu lama.
“Nggak apa- apa. Aku nggak enak sama kak Lula.” kata gadis itu. Ia tahu bahwa wanita itu membencinya. Iya, ia memang pantas dibenci setelah semua ia lakukan pada adik kesayangan wanita itu. Jika wanita itu ingin meluapkan kamarahannya, ia bahkan siap menelanya mentah- mentah. Selain melukai Vano, ia tahu sebesar apa ia melukai Lula sebagai kakak laki- laki itu.
Vano akhirnya membiarkan gadis itu duduk di depan beranda rumah sementara ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaketnya. Ia juga mengambilkan air hangat dari dispenser dan membawa gelas tinggi itu keluar bersama jaketnya.
Ia menaruh gelas itu di atas meja, lalu menyampirkan jaketnya pada punggung Risa. Berharap benda itu cukup untuk mnenghalau dingin.
“Kamu udah berapa lama di sini?” tanya Vano.
“Van… aku mau minta maaf sama kamu.” Lirih Risa. Ia menatap Vano dengan pandangan tulus sekaligus menyesal. Ia ingin memberitahu laki- laki itu bahwa ia menyesal dengan semua yang sudah ia perbuat pada laki- laki itu. Ia tahu ia keterlaluan dan siap menampung semua sampah amarah laki- laki itu. Ia akan melakukan apapun agar laki- laki itu kembali padanya.
“Aku tahu aku salah. Aku nyesal. Aku janji akan berubah. Aku mau kita kayak dulu lagi. Aku nggak mau pisah dari kamu.” Kata Risa. Ia melihat Vano yang tengah menatapnya. Tatapan itu bukan tatapan biasanya. Hatinya mencelos saat menyadari bahwa tatapan laki- laki itu tak selembut biasanya. Ia tahu sudah tak ada cinta dalam tatapan laki- laki itu padanya.
“Maaf, Ris… aku nggak bisa.” Kata laki- laki itu dengan nada lembut namun yakin.
Bibir Risa bergetar, ia tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulut laki- laki itu. Kedua tangan Risa mengambil sebelah tangan Vano yang ada di atas meja. Ia menggenggamnya erat.
“Aku janji akan berubah, Van. Tolong kasih aku satu kesempatan lagi.” Air mata Risa jatuh lagi. Ia tak bisa lagi membendung perasaan sedihnya. Sungguh, ia tidak siap kehilangan laki- laki itu.
Jantung Risa terasa ditikam benda tajam saat melihat laki- laki itu menggeleng. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Hujan masih turun meski intensitasnya sudah berkurang. Seakan ikut bersedih dengan apa yang dialami gadis itu.
Vano menatap telapak kakinya yang telanjang, lalu ke lantai granit rumahnya. Ia masih mendengar suar tangis gadis itu. Ia menahan diri untuk tetap berada di tempatnya. Ia tak ingin gadis itu berpikir bahwa keputusannya bisa berubah. Ia tidak ingin gadis itu berpikir bahwa semua yang keluar dari mulutnya hanya karena ia emosi. Tidak. Itu adalah semua keresahan dan sakit hati yang selama ini ia rasakan saat menajalin kasih dengan gadis itu.
Ia tahu gadis itu pernah diselingkuhi oleh mantannya sebelum berpacaran dengannya. Ia tahu hal itu yang mendasari sifat posesifnya. Ia sudah sering bilang bahwa gadis itu harus berdamai dengan masa lalunya. Namun gadis itu denial, gadis itu bilang bahwa sikap posesifnya adalah bukti cintanya. Ia lah yang akhirnya menjadi korban. Ia menyesal menyadarinya terlalu lama.
Namun tangis gadis itu terdengar begitu menyayat hatinya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu pernah dicintainya setengah mati sebelum cinta itu melebur tak bersisa. Gadis itu pernah mengisi hati dan hari- harinya. Gadis pernah menjadi pelangi di hidupnya. Gadis itu pernah menjadi sosok paling menyenangkan yang menemani harinya. Ia tidak bisa menyangkal semua itu.
Ia menoleh dan melihat bahu gadis itu bergetar karena sekuat tenaga menghentikan tangisnya yang sepertinya masih belum puas membasahi pipinya. Ia menelan ludah lalu menghela napas kasar hingga akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mendekati gadis itu untuk memeluknya.
***
Pagi- pagi sekali, Malik sudah berhasil memarkirkan mobilnya di pakiran Daily. Ia keluar dari sana setelah mengambil ransel yang ia taruh di bangku sebelahnya. Matanya menangkap sebuah mobil box besar yang parkir di depan Daily. Dua orang terlihat menuruni barang yang ada di dalam mobil dan membawanya ke dalam resto.
Mobil itu adalah mobil yang setiap hari mengirim barang untuk kebutuhan Daily. Di dalam, barang- barang itu akan di cek ulang oleh koki yang bertugas dan memastikan jumlahnya sesuai dengan yang ada dalam list pengiriman.
Ia masuk ke dalam dan langsung melihat Bagas yang berdiri di belakang meja kasir. Laki- laki itu menatap lembaran laporan harian sementara karyawan yang lain sibuk dengan tugas pagi harinya. Hanya ada dua orang pengunjung yang sedang berbincang di area outdoor.
“Pagi…” Malik menyapa. Membuat beberapa orang yang sedang fokus pada pekerjaannya menengadahkan kepalanya dan membalas sapaannya.
“Nah gitu, dong.” Kata Bagas saat melihat penampilan Malik hari ini. Tak banyak yang berubah dari penampilan laki- laki itu, ia hanya mengganti celana bahan biasanya sedang jeans panjang berwarna hitam. Ia juga meninggalkan sepasang pantofelnya dan menggantinya dengan sepasang sneakers berwarna putih. Bagi Bagas, itu sudah kemajuan yang cukup besar. Semua perubahan memang harus dilakukan secara perlahan dan sesegara mungkin.
Mengindahkan kata- kata Bagas, Malik memasuki pintu yang tepat berada di belakang laki- laki itu. Ia berbelok dan membuka pintu ruang penyimpanan. Di sana ia melihat beberapa boks container berisi sayur, daging dan bahan- bahan masakan tergeletak di lantai. Koki berseragam putih itu terlihat mengecek barang yang datang dan anak buahnya menata semua bahan- bahan itu di lemari penyimpanan.
Tiga orang yang ada di sana menyapanya saat ia masuk ke sana dan mendekati mereka.
“Ada masalah?” tanyanya sambil menepuk bahu pria yang usianya jauh di atasnya. Meski lebih muda dan selaku pemilik usaha, Malik selalu berusaha menghormati semua karyawan yang lebih tua darinya. Juga menghargai semua bawahannya.
Malik memang terkenal baik dan ramah. Salah satu hal yang membuat karyawanya betah bekerja dengannya. Laki- laki bisa bertindak sebagai bos, juga teman. Malik tak bisa memungkiri bahwa usaha berjalan karena semua anak buahnya solid. Ia berkewajiban mencipatakan lingkungan kerja yang nyaman untuk anak buahnya. Jika ada masalah, dibanding marah, Malik lebih memilih duduk bersama di ruang meeting, membedah apa yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi.
“Aman, Mas.” Jawab laki- laki itu. Malik mengangguk lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan tiga orang itu dengan pekerjaannya.
Ia kembali menemui Bagas di meja kasir dan melihat laporan penjualan yang sedang laki- laki itu periksa.
“Kemarin ramai?” tanya Malik saat mengetahui bahwa omset kemarin mencapai dua kali lipat dari hari biasanya. Ia melihat laki- laki itu mengangguk.
“Ramai banget.” Jawab Bagas, ia berjalan ke salah satu meja untuk mengambil tasnya lalu berjalan beriringan dengan Malik mendekati lift.
***
“Lo balikan sama Risa?” tanya Lula saat ia melihat Vano baru saja keluar dari kamarnya. Vano berdecak mendapatkan pertanyaan tiba- tiba itu. Ia melihat kakaknya duduk di sofa, dengan kedua tangan terlipat di depan d**a dan sebelah kakinya yang bertumpu pada kaki lainnya. Wanita itu menatapnya bak seorang polisi yang baru saja berhasil menangkap penjahat bunonannya.
“Nggak.” Jawab laki- laki itu cepat. Ia tak pergi ke sofa, namun ke dapur.
Lula berdiri dari duduknya dan mengekori laki- laki itu.
“Yang benar?” tanya Lula pada adiknya. Ia melihat Vano sudah duduk di salah satu kursi di meja makan dan tengah menuangkan air dalam teko ke gelas kosong yang ada di sana. Lula duduk di depan laki- laki itu. Menunggu jawabannya. Kalau sampai laki- laki itu berbohong, ia akan membenturkan kepala laki- laki itu ke tembok agar laki- laki itu sadar.
Vano terdiam. Ia meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. Ia memang tak kembali pada Risa. Itu bukan sesuatu yang ia ingin dan ia sama sekali tak menyesal melepaskan diri dari gadis itu. Namun gadis itu sepertinya begitu sulit menerima keputusaannya. Gadis itu bersikukuh tak ingin putus. Gadis itu menjanjikan segala macam perubahan dalam dirinya agar Vano merubah keputusannya. Gadis itu meyakinkannya bahwa ia menyesal atas semua sikap buruknya pada laki- laki itu. Dari hati yang paling dalam, gadis itu meminta kesempatan kedua. Vano tak bisa mengiyakannya. Ia tak tahu sudah seberapa besar ia menyakiti gadis itu. Ia pikir itu yang terbaik untuk keduanya.
Risa akhirnya menyerah saat tahu keputusaannya sudah bulat. Gadis itu hanya meminta agar mereka bisa berteman dengan baik. Gadis itu juga meminta laki- laki itu untuk tak memblokir nomornya. Gadis itu bilang bahwa ia masih tetap ingin menjalin hubungan dengan baik.
Vano menerimanya. Ia pikir putus bukan berarti harus bermusuhan. Keduanya sudah sama- sama dewasa dan ia tak keberataan dengan permintaan gadis itu. Toh, ia dan beberapa mantannyapun masih berhubungan dengan baik sampai sekarang.
Malam itu ia mengantar gadis itu pulang ke rumahnya dengan mobil yang dibawa gadis itu, sedang ia kembali dengan bantuan transportasi online. Ia hanya ingin memastikan gadis itu selamat sampai rumahnya.
“Iya…” kata Vano dengan nada penekanan yang ia harap bisa membuat kakaknya puas dan percaya.
Lula menyandarkan punggungnya di kursi, matanya memicing, menatap Vano yang kini memakan macaroni schotel yang tadi ia panaskah di microwave. Ia menatap wajah laki- laki itu lekat- lekat. Mencoba mencari tahu laki- laki itu berbohong atau tidak.
“Beneran, Kak.” kata laki- laki itu saat Lula masih saja menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ia tahu bahwa melepaskan diri dari Risa adalah hal yang sulit, ia tidak mungkin memutuskan untuk kembali lagi.
“Awas aja kalau sampai balikan lagi. Gue potong kuping, lo, ya.” ancam Lula.
“Jahat banget, sih.”
“Biarin. Mending gue aja yang nyakitin lo, daripada lo disakitin sama perempuan lain, gue nggak rela. .” Ujar Lula
“Psikopat.” Kata laki- laki itu.
“Bodo amat. Tungguin gue. Gue mau nebeng ke Daily.” Lula berdiri dari duduknya. Ia meninggalkan dapur dan pergi menuju kamarnya. Ia mengangganti sepotong kaos dan celana pendekanya dengan sepotong kaos oversize yang menyembunyikan lekuk tubuhnya dan celana panjang berwarna biru. Ia menyisir rambutnya saat duduk di meja rias dan mengoleskan sunscreen pada seluruh wajahnya. Setelah menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya, ia mengambil ransel di salah satu lemari terbuka di kamarnya dan keluar dari tempat itu.
Saat ia keluar, Vano sudah ada di sofa. Laki- laki itu sudah bersiap- siap karena sudah memakai kemeja kerjanya dan ransel laki- laki itu sudah ada di sebelahnya.
Saat Lula mendekat, laki- laki itu berdiri dan berjalan menuju pintu, Lula mengekorinya. Setelah mengunci pintunya, ia mendekati mobil dan melesak di samping laki- laki itu.
Kurang dari lima belas menit, mobil itu berhenti di depan Daily. Lula langsung keluar setelah mengucapkan terima kasih dan meminta adiknya untuk berhati- hati. Langkah kaki membawa wanita itu masuk ke resto yang pagi itu masih sepi.
Ia langsung pergi ke lantai dua. Berkumpul dengan pengunjung coworking space lainnya. Ia menempati meja bersama dengan beberapa pekerja yang hanya ia kenal wajahnya karena sering bertemu di tempat itu. Beberapa dari mereka mengulas senyum saat Lula menempati kursi pilihannya. Lula membalasnya dengan tak kalah ramah.
Setelah mengeluarkan semua alat tempurnya dari ransel, ia memulai pekerjaannya. Ia berkutat dengan aplikasi dalam komputer jinjingnya selama berjam- jam. Orang- orang di sekitarnya ada yang meninggalkan meja mereka untuk membuat kopi atau teh, merokok, atau sekadar melakukan peregangan. Duduk terlalu lama memang tak baik untuk kesehatan. Dari yang ia baca, duduk terlalu lama juga bisa menyebabkan beberapa gangguan kesehatan.
Lula bertahan pada posisinya sampai jam menujukkan waktu makan siang. Ia mengangkat kepalanya dan menelengkannya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Pandangannya menyapu sekeliling dan melihat beberapa orang masih bertahan di kursinya dan tetap fokus pada pekerjaannya. Yang lain lagi bergeromb0l menuju lantai bahwa untuk mengisi perut. Yang lainnya lagi terlihat menuju smoking area untuk menikmati lintingan nikotin.
Karena tahu restoran dan smoking area akan ramai saat ini, ia akhirnya memilih menghampiri pojok ruangan. Ia mengambil paper cup dan mengisinya dengan satu sachet kopi lalu menaruhnya di bawah kran dispenser untuk mengisinya dengan air panas. Sebelah tangannya mengaduk isi gelasnya hingga bubuk kopi instan bisa larut dalam air panasnya.
“Hai…” suara itu terdengar saat ia baru saja mengambil satu buah snack bar yang disediakan tempat itu. Ia menoleh dan melihat Malik berdiri di sampingnya. Ia mengulas senyum tipis dan melihat laki- laki itu melakukan hal yang sama dengannya.
Saat Malik tengah fokus menyeduh kopinya, ia melirik laki- laki itu yang tampilannya hari ini tampak agak berbeda dari biasanya. Ia masih di sana saat Malik selesai menyeduh kopi instannya. Laki- laki kembali menatap Lula dan menunduk sedikit lalu membalik badan dan menjauhinya.
Lula menatap punggung laki- laki itu. Ternyata bukan hanya penampilan laki- laki itu yang hari agak sedikit berbeda, tapi juga sikapnya. Jika bisanya laki- laki itu selalu mencoba membuka obrolan dengannya, kali ini laki- laki itu tak melakukannya. Laki- laki itu hanya menyapanya lalu kembali ke mejanya. Seakan mereka tak benar- benar saling mengenal dan sapaan laki- laki itu hanya sebuah sikap ramah.
Lula bersyukur mendapati perubahan sikap laki- laki itu. Ia tak perlu lagi merasa takut datang ke Daily karena laki- laki itu. Ia tetap bisa datang ke sini setiap hari tanpa harus takut terganggu oleh sosok Malik. Kini laki- laki itu tak ubahkan pengunjung Daily yang lain. Yang hanya menyapanya dengan senyuman. Atau sesekali mengobrol ringan. Yang terpenting, laki- laki itu tak lagi mengikutinya, apalagi muncul di depan rumahnya tiba- tiba.
TBC
LalunaKia