Mimpi dan Realita

1171 Words
      Beberapa tahun yang lalu, Yashi Eliza adalah seorang anak perempuan polos yang juga masih memiliki idealismenya sendiri. Merupakan sebuah pengalaman berharga tidak terlupakan baginya karena bisa mempercayai mimpi yang sampai sekarang pun hanya tinggal menjadi mimpi semata.            Yashi sama sekali tidak mampu menggapai impian tersebut, sangat mustahil baginya. Tentu.            Kehidupan yang keras, penuh jalan berbatu bahkan berliku telah berhasil menghalanginya mencapai mimpi tersebut. Namun, tenang saja. Sama sekali tidak ada penyesalan dalam hidup Yashi.            Mengabdikan diri untuk mengurusi Dino sejak anak laki-laki itu dinyatakan vonis kanker otak oleh dokter sampai sekarang, sama sekali bukan menjadi beban bagi Yashi. Dino adalah segalanya, Dino adalah dunianya.            Harapan Yashi untuk menjadi seorang fashion designer berangsur-angsur mulai meluap dan berubah, menjadi sangat sederhana. Sesederhana ingin menjaga Dino selamanya. Sesederhana itu. Setidaknya, untuk kali ini … Yashi hanya berharap adik laki-laki semata wayangnya itu bisa sembuh dan penyakitnya berhasil terangkat seutuhnya.            Usai berlama-lama terduduk lemas di ruang keluarga, Yashi pun bangkit dari keterpurukan lalu berjalan menuju kamarnya sendiri. Dia sangat lelah, baik secara fisik maupun batin.            Tiap hari dirinya sibuk mengurusi Dino sambil mengharapkan kesembuhan anak itu, tetapi di sisi lain masih juga digunjingi dan dijadikan topik panas oleh ibu-ibu kompleks karena dianggap tidak membantu sang ibu mencari nafkah. Memang, Yashi terlampau kasihan pada sang ibu yang bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan tidak seberapa. Hanya bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan sedikit demi sedikit tentulah untuk pengobatan Dino.            Itu pun keluarga mereka benar-benar harus menghemat, sebab lebih memprioritaskan Dino.            Kedua kaki milik Yashi mulai berjalan dengan diseret, kehilangan motivasi bergerak. Dia meraih kenop pintu dan membukanya lemah. Tampaklah sebuah ruangan kamar bercat putih yang ditempeli stiker wallpaper hitam membentuk Menara Eiffel beserta gedung-gedung lain sebagai bangunan pendamping menara tersebut. Hiasan tersebut bukan sekadar tempelan, tetapi memiliki arti besar baginya. Terkadang meski Yashi sudah berusaha mengikhlaskan mimpi, tetapi setiap kali melihat stiker wallpaper tersebut … ada rasa aneh dalam benaknya. Andai aja ayah masih ada. Andai aja kami nggak kehilangan ayah. Mungkin aja … mungkin aja semua situasinyua nggak kayak begini, batin Yashi sambil menyentuh stiker tersebut. Mimpi yang sudah dikubur rapat-rapat itu, kembali menyentuh hatinya. Mulai membayangkan seandainya sang ayah masih hidup dan tidak kecelakaan dalam bekerja, maka pastilah beliau akan mampu membiayai pengobatan Dino sehingga ibu tidak perlu bekerja keras. Mimpi Yashi pun juga memiliki kemungkinan untuk menjadi kenyataan. Namun, realitanya? Tidak seindah dan semulus itu. Yashi harus menelan pil pahit sebab gagal pergi ke Paris untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi seorang fashion designer karena tidak memiliki biaya. Seandainya saja … Yashi bisa menjadi anak yang berguna bagi sang ibu tetapi tetap tidak melupakan tanggung jawabnya untuk melindungi Dino. Perempuan itu hanya ingin membanggakan dan membahagiakan keluarganya. Hanya merekalah orang-orang yang selalu di sisinya, bersedia menemani setiap detil langkah demi langkah hidupnya. Baik dalam suka maupun duka. Tiba-tiba saja, lamunannya terhenti tatkala mendengar sebuah ketukan berulang kali di pintu. Yashi refleks menoleh ke arah jam dinding di kamar, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Sungguh tidak terasa! Artinya ibu Yashi sudah selesai bekerja di rumah Pak Herdi, majikannya. Kini, Yashi menghela napas kecil lalu berusaha untuk tampak baik-baik saja. Dia tidak mau kelihatan rapuh dan lemah di hadapan keluarga. Aku harus kuat …. Setelahnya, perempuan itu kembali keluar kamar dan berjalan menuju pintu utama, lalu membukakan pintu bagi ibu tercintanya. Netra wanita paruh baya itu tampak menyipit lemah, menyiratkan kelelahan. Belum lagi … kantung mata hitam bertengger di bawah netranya. Namun, hal itu sama sekali tidak mengubah fakta bagi Yashi bahwa ibu adalah wanita tercantik di dunia ini. “Asalamualaikum, Chi,” salam sang ibu lalu mulai masuk ke rumah. Setelahnya mendudukkan diri di atas kursi, berusaha menetralisir setiap rasa lelah yang masih bersinggah. ‘Achi’ adalah panggilan kecil dari sang ibu untuk putri tercintanya, Yashi. “Walaikumsalam, Ibu,” jawab Yashi lalu meraih tangan sang ibu untuk menyalaminya. Menciumi tangan orang tua adalah tradisi, tetapi … ada yang berbeda. Tidak ada senyuman seperti biasa yang ditunjukkan ibu, entah kenapa perasaan Yashi terasa tidak enak. Dia tidak ingin berspekulasi buruk tetapi memang karakteristik sang ibu sangatlah ekspresif. Jika sedang riang, pasti akan murah senyum pada anak-anaknya. Namun, kali ini … senyum itu benar-benar pudar. Ada apa gerangan? Apakah Yashi telah membuat kesalahan yang tidak disengaja? Apakah sang ibu mengkhawatirkan kondisi kesehatan Dino? Atau apa? “Chi,” panggil sang ibu lalu menatap langsung ke kedua netra bening Yashi. Netra sipit miliknya dan netra besar milik sang putri saling beradu. “I … iya, Bu?” jawab Yashi agak sedikit takut. Oh Tuhan, sebenarnya Ibu kenapa? Aku khawatir banget! Batinnya meronta-ronta minta kejelasan. “Hari ini … kayanya ibu lagi apes, Chi,” jawab ibu dengan wajah lesu. Kantung matanya yang sudah menghitam tampak semakin loyo. Sungguh ekspresi yang paling tidak Yashi sukai seumur hidup. Hijab biru sang ibu bahkan tampak agak lusuh, tidak cerah seperti biasa. Padahal Yashi sangat paham kalau ibunya masih suka memperhatikan hal-hal kecil terkait penampilan baik di depan sang majikan. Sekarang apa yang tengah terjadi? Kenapa ibu Yashi sampai seperti ini? “Ibu apes kenapa, Bu? Ibu nggak papa, ‘kan?” Yashi bertanya dengan raut kekhawatiran yang sangat tergambar jelas dari air mukanya. Perempuan itu berjalan mendekat dan mengusap-usapi tangan sang ibu. Dia bermaksud mengalirkan kehangatan yang dimiliki pada satu-satunya wanita terkasih yang sama sekali enggan dia sakiti. Ibu sangat kuat, bahkan terlampau kuat. Beliaulah alasan Yashi masih rela memupus segala impian demi impian, agar menjadi kakak terbaik bagi sang adik, Dino. “Ibu nggak tahu lagi harus gimana, Chi,” tukas sang ibu semakin lemas, bahkan refleks sedikit mengempas tangan putrinya pelan. Aliran kehangatan mereka terhenti begitu saja. Di saat situasi dan kondisi semakin memburuk, sang ibu langsung menopang wajahnya sendiri pada kedua tangan renta yang agak sedikit keriput. Guratan garis demi garis menandakan bahwa sang ibu sudah tidak muda lagi. Apakah Yashi masih memiliki kesempatan untuk membahagiakan beliau? “Bu, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Yashi, panik sekaligus khawatir. Jangan sampai spekulasi-spekulasi negatif yang sudah mengakar di kepala lantas menjadi kenyataan! Sang ibu enggan menjawab, sibuk menggeleng bahkan terdengar pelan suara sesenggukan. Yashi memelotot hebat, tidak menyangka kalau ibunya bisa sampai menangis. Tangisan itu awalnya terdengar pelan hingga lama-lama semakin menyesakkan. Yashi menggigit labium bawahnya, sungguh khawatir. Likuid demi likuid bening terus tumpah ruah dari wajah cantik sang ibu, seakan netra sipitnya tidak merasa lelah dan bosan sama sekali.  “Ibu bingung sekali, Chi. Ibu nggak tahu harus gimana lagi mempertahankan nasib keluarga kita,” keluh sang ibu putus asa. Yashi yang tidak kuasa mendengar ucapan itu langsung menarik tubuh renta sang ibu dan menangkupnya dalam dekapan. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk sang ibu. Meyakinkan pada satu-satunya wanita yang dicintai bahwa Yashi sungguh dapat dipercaya. “Hari ini … ibu nggak dapet uang, Chi. Soalnya ibu nggak sengaja bikin baju Pak Herdi luntur. Jadi Pak Herdi marah dan nggak ngasi ibu uang. Ibu bener-bener nggak tahu harus gimana lagi. Kalau ibu nggak dapet uang, terus darimana kita bisa ngobati Ino? Ibu … ibu bingung banget, Chi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD