Antikonvulsan

1237 Words
      Sesampainya di rumah, Yashi berusaha mengelap tiap-tiap air matanya. Perempuan itu sama sekali enggan mengeluarkan kelemahannya di depan keluarga, baik ibu dan adik tercintanya. Bagaimana pun, Yashi selalu ingin tampak kuat dan mampu melakukan apa pun.            Yashi adalah putri pertama. Segala permasalahan dalam keluarga, Yashi harus mampu melewatinya tanpa keluhan sedikit pun.            Kini, sebelah tangannya yang bebas terangkat untuk mengetuk pintu sementara tangan yang lain masih setia memegangi sebungkus plastik obat-obatan untuk Dino, adiknya.            “No! Dino! Kakak udah pulang, nih!” panggil Yashi sambil masih mengetuki pintu, bermaksud memberitahu Dino bahwa dirinya sudah menanti dibukakan pintu di depan rumah. Sekian lama agaknya Yashi menunggu sampai sang adik benar-benar menampakkan batang hidungnya.            Laki-laki dengan hidung mancung berlabium tipis sama persis mirip seperti kakaknya itu pun buru-buru memutar kunci dan membiarkan sang kakak mendekat. “Ma … maaf, Kak. Dino agak lama ngebukanya.”            Tidak ada aura kemarahan sama sekali menguar dari diri Yashi, justru sebaliknya. Perempuan itu menarik senyum mendengar ucapan Dino yang menggelitik rungu. “Nggak apa, Sayang. Kepala Dino sakit lagi, kah?”             Yashi selalu bersikap lembut kepada adik semata wayangnya itu. Bagi Yashi, Dino adalah segalanya. Yashi bersiap memberikan seluruh dunianya pada sang adik termanis berkulit pucat itu.            Di usia semuda Dino, yakni baru tiga belas tahun … sudah harus merasakan hal paling buruk seperti ini. Sudahlah kehilangan ayah satu-satunya, juga harus mengalami penyakit keras yang bisa merenggut nyawanya tiba-tiba. Itulah penyebab Yashi semakin berusaha melindungi Dino, karena takut kalau tidak ada hari esok bagi laki-laki itu lagi. Yashi enggan menyesal, mengingat penyesalan itu selalu hadir di akhir cerita. “Dino nggak papa, Kak. Agak pusing dikit sih, tapi udah nggak papa,” jawab Dino sambil menggeleng. Meskipun memiliki penyakit, Dino juga enggan membuat Yashi khawatir. Dia tidak mau menjadi beban untuk sang kakak. “Dino udah makan, belum?” tanya Yashi lagi, penuh sayang. Bahkan perempuan itu tidak ragu mengelusi surai hitam adiknya. Namun, Dino hanya terdiam. Sedang sibuk berpikir atau justru kebingungan? Lambat laun, kemampuan daya nalar dan ingatannya semakin memburuk. Kanker otak memang bukan termasuk penyakit yang bisa dianggap sepele karena akan terus-menerus mempengaruhi fungsi sistem saraf pusat anak laki-laki tersebut. Namun, mau bagaimana lagi? Segala cara, upaya, dan usaha telah dikerahkan mati-matian oleh ibu mereka dan Yashi sebagai kakak. Harta warisan bahkan asuransi peninggalan bapak juga sudah dihabiskan untuk membiayai pengobatan Dino yang sampai sekarang masih nihil. Hasilnya sama sekali belum kelihatan. “Dino?” panggil Yashi lagi, membuat yang bersangkutan langsung membuka labium kecil. Wajah Dino semakin memucat, dia hanya bisa menggeleng. “Maaf, Kak,” jawab Dino dengan wajah getir, sedikit merasa bersalah dengan penyakit yang dideritanya. Akibat penyakit ini, Dino harus merepotkan seluruh orang di sekelilingnya. “Dino … benar-benar nggak inget. Dino juga nggak tahu harus ngejawab apa, Dino bingung sama segalanya.”            Ucapan Dino yang terdengar semakin melantur membuat kelopak mata Yashi kembali memanas. Perempuan itu benar-benar tidak tega mendengar penuturan adik kecilnya itu. Andai saja Tuhan mengizinkan, biarlah Yashi saja yang merasakan semua kepahitan ini.            Dino terlalu belia, masih banyak harusnya keindahan dan keseruan permainan yang bisa dirasakan dalam hidupnya. Dino harusnya masih bersama teman-temannya. Dia sama sekali tidak pantas mendapatkan semua ini. Apa salah Dino?            “Jangan dipaksa, Dino. Nanti kita makan lagi aja kalau kamu lupa. Sini, deh!”            Sesaat, Yashi langsung menarik tubuh mungil adiknya dalam rengkuhan. Menikmati kehangatan yang mulai tercipta dari dekapan dua saudara kandung tersebut. Yashi bahkan menghirupi penuh nyaman aroma harum nan manis yang menguar dari sampo semangka surai adiknya. Rangkaian momen demi momen ini akan terekam dalam kepala, serta selalu terpatri kokoh di hati Yashi sampai mati. Dino … adalah dunianya. Setelah merasa cukup, Yashi mengendurkan pelukan di antara mereka dan mulai menangkup gemas pipi adiknya. Menatapi wajahnya dengan penuh kehangatan. “Sekarang kamu minum obat terus istirahat, ya! Kakak udah bawa obatnya, nih. Kamu minum obatnya dulu, ya?” Tanpa menjawab dengan kata-kata, Dino hanya mengangguk. Menunjukkan dirinya paham. “Minum obat, biar apa?” tanya Yashi memancing. “Biar sembuh,” jawab Dino dengan wajah polos. “Kalo sembuh, nanti bisa apa?” “Bisa sekolah!” “Kalo sekolah, nanti jadi apa?” “Jadi pinter,” sahut Dino. “Kalo Dino pinter, nanti jadi apa?” “Jadi banggain ibu sama kakak!” jawab Dino penuh semangat. Merasa gemas, Yashi kembali mengacak-acaki surai hitam milik adiknya. Tidak menyangka bahwa Dino benar-benar sampai mampu menghafal setiap konversasi yang terjalin di antara mereka. Padahal sistem saraf Dino memburuk, banyak hal yang anak laki-laki itu lupakan. Namun, tidak dengan konversasi berharganya dengan sang kakak. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun sepertinya memang seharusnya masuk sekolah, bermain dan belajar. Bukan hanya berdiam diri di rumah dan terus-menerus mengonsumsi obat tanpa henti. Tanpa tahu kapan semuanya berakhir. Sampai Tuhan mengangkat penyakitnya, atau … mencabut nyawanya … mungkin? “Nah, itu Dino udah tahu! Jadi sekarang kamu minum obatnya dulu, ya? Terus langsung istirahat, oke?” tanya Yashi lagi, memastikan. Perempuan itu enggan menyuruh dan bersikap keras pada Dino. Baginya, Dino itu sangat berharga bak kaca yang mudah pecah. Tentu jika kejiwaan atau psikologis Dino rusak, akan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan fisiknya. Yashi enggan hal itu terjadi sehingga memperlakukan Dino benar-benar halus dan berusaha menyentuh hatinya. Dengan kesabaran dan ketelatenan Yashi, maka lihatlah Dino yang sangat menghormati dan menurutinya! Laki-laki itu bermaksud meraih obat, tetapi tiba-tiba saja kepalanya kembali nyeri. Tubuh Dino mulai mengejang membuat Yashi panik dan buru-buru mendekatinya. “Dino! Dino, hei! Kamu kenapa? Din! Dino!” Perempuan itu berseru hebat, berupaya menggerakan tubuh Dino tetapi tetap saja tubuh mungil itu mengejang kaku. Yashi pun menahan napas dan segera berlari menuju kotak obat, mencari obat yang berbeda. Dia mencari antikonvulsan yang bisa mengatasi kejang milik Dino. Sambil sesekali melirik ke arah Dino, tangan Yashi cekatan mencari obat. “Duh! Sial! Mana sih itu obat? Masa abis, deh?” gerutu Yashi dengan keringat dingin mengucur melewati pelipis, tangannya sibuk mengubrak-abrik kotak obat sampai akhirnya menemukan botol kaca berukuran kecil berisi satu obat berwarna kuning. “Alhamdulillah, masih ada satu!” Kini, Yashi langsung mendekati adiknya dan buru-buru meminumkan obat yang hanya tinggal sebiji itu, bersamaan dengan air mineral. Setelah meminumnya, berangsur-angsur tubuh Dino kembali tenang. Anak laki-laki itu menatap kakaknya agak cemas, baru pulih dari epilepsinya. Penyakit kanker otak memang tidak akan pernah mudah dijalani. Berbagai gejala dialami Dino silih berganti. Yashi harus selalu sigap dan siap di dekatnya. Inilah alasan Yashi tidak pernah memilih bekerja setelah lulus sekolah sampai sekarang. Bahkan jika harus memilih untuk mengurus Dino atau mengejar impiannya menjadi seorang fashion designer ternama dan melanjutkan pendidikan di Paris, maka Yashi akan memilih pilihan pertama. Yashi rela mengubur dalam-dalam impian tersebut. Melihat Dino tersenyum, jauh lebih berharga untuknya. “Dino … kamu udah nggak apa-apa?” Dino menggeleng kecil lalu menunduk malu. “Maafin Dino ya, Kak. Dino selalu susahin Kakak.” “Hush! Dino ngomong apa, sih? Kakak sama sekali nggak ngerasa disusahin!” seru Yashi dengan nada keras, terdengar agak membentak laki-laki itu. “Udah! Sekarang Dino istirahat, ya? Biar nggak kambuh lagi kejangnya.” “Iya, Kak.” Anak laki-laki itu benar-benar menuruti perkataan sang kakak dan langsung berjalan menuju kamarnya. Tidak lama usai kepergiannya, Yashi langsung terjatuh melemas. Pelupuk matanya memanas sedari tadi, buliran likuid bening tumpah deras meruah dari sana. Sampai kapan? Sampai kapan begini terus, Tuhan? Kapan Engkau akan memberikan Dino kesembuhan total? Hamba lelah …. Yashi membatin penuh emosi, lelah akan segala ujian dan perkara hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD