01
Ini sudah kesepuluh kalinya Sandra menguap dan mengusap kasar mukanya, dia mulai lelah membaca buku tebal didepanya itu. Buku bersampul biru dengan tulisan tebal "mengenal kimia" itu adalah buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolahnya. Akhirnya Sandra memutuskan untuk menutup buku tebal tersebut dan membereskan beberapa buku dan alat tulis yang berceceran dimeja belajarnya. Sandra memutuskan untuk berhenti berfikir tentang tugasnya besok, dan memilih untuk tidur, lagi pula ini juga sudah larut malam.
***
Kriiingg...
Jam weker dikamar Sanda menunjukkan pukul 5.30, yang berarti Sandra harus segera bangun. Dan benar saja cewek yang baru saja naik kelas duabelas ini langsung bangun dari tidurnya. Sandra bukan tipe orang yang malas bangun, lagi pula ia juga sudah terbiasa dengan aturan bangun pagi sejak kecil, membuat dia tidak kesulitan masalah bangun di pagi hari.
Sandra menuruni satu persatu anak tangga dirumahnya, demi mencapai dapur. Cacing diperutnya sudah protes minta diisi, karena dari tadi malam Sandra belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya.
Sandra membuka satu bungkus roti tawar, tanganya bergerak mengambil dua lembar roti dan mulai melapisinya dengan selai kacang. Hanya itu sarapan praktis ala Sandra. Setelah selesai sarapan, Sandra kembali menjejakkan kakinya menaiki anak tangga, dilihatnya kamar yang berseberangan dengan kamarnya. Seulas senyum terlukis dibibir Sandra, lalu kembali hilang, dan cewek itu memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah.
***
"Makasih, ya San" Satria memberikan buku tulis berwarna merah itu kepada Sandra. Sandra mengukir seulas senyum kepada Satria sebagai ucapan sama-sama.
"Lo nanti pulang bareng siapa?" Satria mendekat kearah Sandra
"Sama bang Gojek, kenapa?" Sandra memalingkan wajahnya kearah Satria
"Bareng gue aja" Satria menawarkan
Namun Sandra menggeleng pelan, tanda dirinya menolak ajakan Satria.
"Dih, lebih hemat kali kalo bareng gue." Ucap Satria
"Nggak, ah! Lagian ya rumah lo nggak searah sama gue, nanti lo bolak-balik." Sandra tetap mengatakan bahwa dia tidak mau pulang bersama Satria.
"Tapi gue nggak ke—" Satria gagal menyelesaikan kalimatnya, saat bu Yuni, guru biologi sekaligus wali kelasnya masuk ke kelas. Seluruh kelas yang tadinya tenang menjadi heboh saat melihat buntut dibelakang bu Yuni. Cowok berperawakan tinggi dengan tas yang hanya dikaitkan pada satu bahu memasuki ruang kelas itu.
Bisik-bisik siswa didalam ruangan tersebut mulai terdengar. Kebanyakan didominasi siswa perempuan, yang mengagumi makhluk ciptaan Tuhan itu.
"Selamat pagi anak-anak" bu Yuni mengawali salam untuk anak muridnya
"Pagi bu!!" Semua siswa dalam kelas menjawab serempak
"Kita dapat teman baru mulai hari ini. Silahkan perkenalkan namamu Nak." Bu Yuni mempersilahkan cowok berperawakan tinggi tersebut memperkenalkan diri. Cowok itu maju satu langkah dan mendongakkan wajahnya yang sedari tadi menunduk, membuat beberapa siswi di ruang jelas tersebut menahan nafas beberapa detik.
"Nama saya Keandra Rivando Hakim, kalian bisa panggil saya Rivan. Saya pindahan dari Magelang" cowok tersebut menyudahi acara perkenalanya.
"Ok, kamu bisa duduk disamping Satria... Nggak papa kan Satria?" Bu Yuni meminta persetujuan dari Satria. Dan yah, bisa apa Satria selain tersenyum dan manggut-manggut.
Rivan melangkah kearah meja Satria, dimana letak tempat duduknya tepat dibelakang Sandra. Satria tersenyum tipis lalu mengulurkan tanganya bermaksud untuk berkenalan, tapi niatnya tidak jadi saat cowok yang sekarang berstatus sebagai teman duduknya itu mengucapkan kata. "Udah tau, nggak usah kenalan!" Dengan nada super-duper datar.
"Ok, anak-anak sesi kenalanya nanti saja. Mari kita lanjutkan materi kita yang tertunda... Oh, iya Satria sementara kamu berbagi buku sama Rivan ya?" Bu Yuni meminta kepada Satria. Dan lagi, bisa apa Satria, walaupun hatinya dongkol setengah mati karena perlakuan Rivan tadi, tapi Satria tetap manggut-manggut sambil tersenyum.
"Ok, buka buku kalian halaman 241. Itu lanjutan dari materi kemarin mengenai pembelahan sel yaitu mitosis." Bu Yuni mulai menjelaskan tentang materi pelajaran kepada anak-anak. Sandra menyimaknya dengan teliti sampai akhirnya dia merasakan tepukan ringan di bahunya. Dia menoleh dan mendapati murid baru, yang tadi dia lupa namanya siapa itu. Mengadahkan tangan kepadanya. "Pinjem Bolpoin"
"Niat sekolah nggak ini orang? Baru hari pertama juga" batin Sanda dalam hati
Tapi Sandra tetap melakukan apa yang di inginkan cowok dibelakangnya itu, dia mengambil salah satu Bolpoin dari dalam kotak pensilnya, dan menyerahkannya kebelakang tanpa menoleh.
Satria yang melihat hal tersebut mendengus sebal.
"Kere banget ini orang!"
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua murid SMA Angkasa berhamburan keluar kelas, dan menuju gerbang, untuk segera pulang dan melepas penat.
"Mau kemana San?" Dila bertanya pada teman satu bangkunya itu, saat melihat Sandra mengeluarkan beberapa buku.
"Eh, ini mau balikkin buku ke perpus" jawab Sandra
"Mau di temenin nggak?" Dila menawarkan diri kepada Sandra.
"Nggak usah deh, lo balik duluan aja" Sandra menolak tawaran Dila dengan halus. Akhirnya setelah mengucapkan salam perpisahan keduanya berpisah.
Sandra melangkahkan kakinya pelan sambil mengingat-ingat sesuatu yang sudah direncanakanya dari semalam.
"Membeli pembalut dan beberapa makanan ringan" itu adalah rencana yang Sandra susun dari semalam, akhirnya dia memutuskan untuk singgah di minimarket dekat sekolah sebelum pulang.
Sandra keluar dari minimarket sambil menenteng kantong plastik berlogo minimarket tempatnya membeli benda-benda yang diperlukanya. Saat mengedarkan pandangannya, matanya tak sengaja menemukan seseorang dengan sebuah benda yang terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya. Sandra tau cowok tersebut, cowok yang duduk bersandar pada kursi plastik, dengan salah satu sisi kemeja sekolah yang mencuat dari tempat aslinya. Dia teman baru Sandra, Sandra sendiri lupa-lupa ingat namanya. Tapi Sandra tidak ambil pusing, dia kembali melangkahkan kakinya untuk mencari menunggu ojek online yang sudah dia pesan tadi untuk mengantarnya pulang.
Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan terpaksa berhenti karena cekalan ditanganya membuat Sandra menoleh ke belakang.
"Lo nggak lihat apa-apa!" ucap seseorang dengan nada tajam dan intonasi penuh penekanan.
"Gue bukan tipe orang yang suka ngurusin, urusan orang lain! Lepasin tangan gue!" Sandra berusaha melepaskan cekalan tanganya dari cowok tersebut.
"Janji lo bakal tutup mulut!..." Cowok tersebut melirik badge nama di d**a Sandra. "Alsandra"
"Gue nggak minat buat cerita ke siapapun! Lepas, ya anak baru" Sandra menginjak kaki cowok yang mencekal erat pergelangan tanganya. Tapi cowok tersebut masih terdiam ditempat walaupun mendapat injakan ekstra kuat dari Sandra.
"Perlu lo inget aja nama gue bukan anak baru." Cowok tersebut menaikan satu alisnya. "Lo sebutin nama gue dulu gih, baru gue lepasin"
Sandra mendengus kesal berusaha mengingat nama cowok didepanya itu. "Keandra" ucap Sandra pelan
Dan detik itu juga cekalan ditangan Sandra langsung mengendur, Sandra bisa melihat ada raut terluka diwajah cowok didepanya.
"Pergi!"
Sandra langsung membalikkan tubuhnya, dan melenggang menjauh meninggalkan cowok yang dia ingat bernama Keandra.
***
Rivan menjambak erat rambutnya, lalu berteriak frustasi di balkon kamarnya. Satu kotak rokok kosong sudah teronggok manis di teralis balkon. Ya, Rivan sudah menghabiskan satu kotak rokok dari pagi sampai malam ini, bukannya rileks dia malah tambah berpikiran seperti orang gila.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan Rivan belum memejamkan matanya sama sekali, ia bahkan rela begadang demi menunggu seseorang, tapi nyatanya seseorang itu juga belum datang. Saat waktu yang telah dikorbankan Rivan terlalu lama dan terbuang begitu saja, saat itu pula Rivan sadar, bahwa dia telah salah, dan seseorang yang ditunggunya tidak akan pernah datang.
***
Sandra membereskan plastik makanan ringannya, dan juga beberapa gelas yang sudah kosong. Sandra berjalan pelan menuju balkon, melihat pelataran rumahnya yang masih sepi, hanya suara jangkrik yang terdengar nyaring.
"Aku kangen sama kalian" ucap Sandra pelan dan memutuskan menutup kembali pintu balkonya. Kakinya melangkah menuju dapur untuk mengembalikan perabotan yang ia bawa tadi.