3. Suamiku, Milik Maduku

1680 Words
Keesokan harinya, orang tua Daven kembali datang menjenguk Parman. Selain membawa makanan lengkap sebagai wujud dari kepedulian mereka, keduanya juga bersikap sangat hangat apalagi kepada Arsy. Daryati—mamah Daven tak hanya menggenggam kedua tangan Arsy yang duduk menunduk di sebelahnya. Karena Daryati juga kerap memeluk Arsy yang selalu membalas setiap pertanyaan mereka, dengan senyum sarat kesabaran. Arsy melakukannya tanpa benar-benar mengangkat wajah bahkan tatapan. Kenyataan tersebut terjadi karena Asry terlalu takut tidak bisa mengontrol diri, gara-gara pesan balasan yang ia dapatkan dari Daven. Jujur, balasan pesan dari Daven membuat Arsy takut menghubungi pria itu. Arsy trauma dan telanjur takut, dikirimi foto yang lebih parah dari foto dini hari tadi. Di mata orang tua Daven, Arsy merupakan wanita bersahaja, wanita yang dirindukan Surga, dan semua itu ditegaskan dari cara Arsy yang selalu menjaga tatapan maupun tutur katanya. Namun tanpa siapa pun ketahu, batin Rianti justru menangis melihat ketegaran sang putri. Rianti paham putrinya tidak baik-baik saja. Bagi Rianti, Arsy hanya berusaha menjalankan perannya sebagai istri, menantu, dan juga anak yang berbakti. Terbukti, alasan Parman dirawat di rumah sakit saja karena pemberontakan dari Arsy. Arsy menuntut keadilan. Bukan perkara tak terima karena mendadak dimadu setelah baru sah dinikahi Daven, melainkan karena Arsy tidak mau menjadi orang ketiga apalagi perusak hubungan Daven dan Livy. Selain itu, Rianti juga yakin, andai Arsy tahu dari awal bahwa Daven sudah memiliki calon dan bahkan sampai dinikahi juga, Arsy pasti sudah mundur. Arsy pasti menolak perjodohan yang sudah mengikat Arsy tak lama setelah putrinya itu lahir ke dunia. Kebersamaan hangat yang mengikat mereka tak sampai menyertakan kabar Daven maupun pernikahan Daven dan Livy. Mereka membahas masa lalu yang membuat mereka sepakat menjodohkan Daven dengan Arsy. Seperti pada kasus yang diangkat dalam cerita-cerita perjodohan laris, dulunya orang tua Daven berhutang budi pada orang tua Arsy. Orang tua Asry rela menjual nyaris semua tanah dan sawahnya untuk modal usaha orang tua Daven di Jakarta. Namun sebelum itu, Arsy dan Daven sudah dijodohkan lebih dulu. Kedua sejoli itu dijodohkan tak lama setelah keduanya lahir. Parman dan Teguh—papah Daven begitu bersemangat menjodohkan putra putri mereka dengan harapan, pernikahan Arsy dan Daven akan mempererat hubungan mereka. Yang membuat Arsy bertanya-tanya, bila di masa lalu justru orang tua Daven yang berhutang budi, kenapa justru Arsy dan keluarganya yang harus mengabdi? *** Sekitar satu jam kemudian, Daven juga datang membawa Livy, lengkap dengan orang tua Livy. Daven terlihat sangat dekat dengan Livy sekeluarga, mereka terlihat sangat bahagia. Livy dan Daven tampak tak terpisahkan. Keduanya kerap berbincang lirih bahkan intens di telinga satu sama lain. Keadaan yang sungguh membuat semua mata yang melihat iri kecuali Arsy. Kebersamaan Daven dan Livy turut dihiasi tawa kecil oleh Livy dan juga senyum kecil oleh Daven. Daven yang tetap tampak kaku sekaligus dingin meski pria itu tengah tersenyum bahagia. Akan tetapi, keadaan tersebut membuat Arsy memiliki alasan untuk tidak mendekat apalagi bila mengingat balasan pesan WA dari Daven semalam. Belum lagi, apa pun yang terjadi, Arsy wajib menjaga nama baik keluarganya. Arsy wajib bersikap baik pada Daven dan Livy sekeluarga, sesakit dan semarah apa pun wanita berhijab itu pada keadaan. Livy beserta kedua orang tuanya, menyikapi semuanya termasuk Arsy sekeluarga, dengan hangat. Kontras dari apa yang diam-diam Arsy dan orang tuanya pikirkan. Arsy dan orang tuanya sempat berpikir akan terjadi ketegangan bahkan persaingan di antara mereka. Namun nyatanya, Livy sekeluarga yang penampilannya sangat rapi dan berkelas, benar-benar ramah bahkan merakyat. Kenyataan tersebut membuat orang tua Arsy merasa sangat lega karena mereka yakin, Livy bisa menjadi saudara bagi Arsy. Mereka yakin, Livy bisa membimbing Arsy, sama-sama menjadi istri yang baik untuk Daven. Mereka bersikap seolah-olah Mas Daven malaikat, padahal akhlaknya saja masih bikin aku bertanya-tanya. Laki-laki macam apa yang tega menjebak kami, para orang tua dan juga wanita yang telah resmi menjadi istrinya, menggunakan pernikahan barunya dengan wanita lain yang tak lain kekasihnya selama ini? Walau mungkin apa yang Mas Daven lakukan demi menjaga nama baik dan juga hubungan baik keluarga kami, serta hubungannya dengan Livy, ... rasanya keadaan ini masih sulit aku terima. Harusnya Mas Daven memilih salah satu dari kami atau setidaknya Mas Daven jujur padaku dari awal, agar aku bisa ikut memikirkan sekaligus mengambil solusi. Belum lagi, sikap Mas Daven yang akan langsung berubah seratus delapan puluh derajat ketika kami hanya berdua. Karena meski saat bersama keluarga besar kami, Mas Daven tidak akan terang-terangan memperlakukanku penuh kebencian, saat kami hanya berdua, Mas Daven langsung menjadi sangat menakutkan, batin Arsy. Terpikir oleh Arsy, apakah yang ia alami merupakan karma dari sikap bapaknya yang begitu menganggap rendah wanita? Bagi Parman bahkan mungkin Daven sekeluarga, wanita atau istri baik, merupakan mereka yang patuh pada suami dan juga keluarga apa pun yang terjadi bahkan sekalipun wanita itu harus menjadi b***k. Akan tetapi, sepertinya anggapan itu tidak berlaku untuk Livy oleh Daven. Daven tak mungkin menekan apalagi menyakiti Livy seperti apa yang harus Arsy alami karena Daven sangat mencintai Livy. Buktinya, Daven sampai menghadirkan Livy dan menjadikannya madu Arsy, dalam hubungan mereka. Nyatanya, Daven tetap bisa sangat lembut bahkan tak segan tersenyum kepada Livy tanpa sedikit pun memedulikan Arsy. “Kamu sudah sembuh?” tanya Daryati mencoba memberikan perhatiannya pada Livy, sekalipun ia juga memilih untuk bertahan duduk di sebelah Arsy. Tak tega rasanya melihat Arsy hanya duduk menunduk sementara Livy dan Daven sibuk bercanda lirih. Daven dan Livy tak terpisahkan. Daven sama sekali tidak memberikan perhatiannya pada Arsy walau hanya sedikit. Karena sekadar melirik Arsy saja, Daven tidak melakukannya. Selain itu, Daryati juga tak mungkin berat sebelah kepada Livy yang biar bagaimana pun tetap merupakan menantunya. Mendapatkan pertanyaan tersebut, Livy yang duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Daven dan juga orang tuanya, langsung menahan senyum. Senyum yang membuat mata berwarna cokelat dan itu karena soft lens yang dipakai, menjadi agak sipit. Malu-malu Livy yang mempertahankan senyumnya, melirik Daven yang juga menunduk sambil tersenyum tipis. “Itu sih akal-akalan si Daven, Mah. Aku baik-baik saja, kok. Enggak ada yang sakit.” Livy berusaha meyakinkan di tengah tutur lirihnya yang tertata sekaligus begitu santun. “Tapi kemarin kamu kesakitan sampai enggak bisa jalan karena kaki kamu bengkak. Kamu sampai enggak bisa gerak kan, Hon?” ujar Daven sambil menatap Livy penuh cinta sekaligus sarat kekhawatiran. Sakit, hanya itu yang Arsy rasakan sesaat setelah dirinya mendengar balasan Daven yang terdengar sangat mesra. Sangat berbeda ketika pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu berbicara kepadanya. Fifin mamah Livy, langsung mesem kemudian menjadi tersipu memandangi wajah Livy dan Daven, silih berganti bersama kebahagiaan yang menyelimuti. “Iya, ... kemarin Daven sampai gendong Livy terus kompres kaki Livy pakai air es, meski akhirnya mereka juga pergi ke dokter karena Daven terlalu khawatir ke Livy.” Dijelaskan oleh Fifin, Daven tipikal laki-laki yang sangat tanggung jawab dan juga sangat cekatan. Wanita paruh baya bergaya modis itu terus memuji Daven yang dikatanya selalu memperlakukan Livy dengan baik. Entah tulus, atau sengaja melakukannya untuk semacam pamer seperti yang Daryati yakini. Daryati yang menyimak sambil tersenyum dan ada kalanya mengangguk menyikapi cerita Fifin, menjadi tak enak hati pada Arsy maupun Rianti yang ia pergoki berkaca-kaca kemudian menunduk. Daryati yakin, Rianti sengaja menyembunyikan kesedihannya yang prihatin pada nasib Arsy. Karena jangankan Rianti, hati Daryati saja langsung teriris mendengar cerita estafet antara Daven, Livy, dan juga orang tua Livy khususnya Fifin. Livy, wanita itu sangat cantik dan gayanya lebih modis dari artis. Tubuhnya semampai tanpa ada sedikit pun lipatan lemak yang menyertai, ... dan mungkin itu yang dinamakan seksi. Rambutnya panjang sepinggang, bergelombang warna cokelat, dan sepertinya memang sengaja diubah dari warna sekaligus gaya aslinya mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, dari pengamatan singkat yang tengah Arsy lakukan, kulit sawo matang Livy yang sepertinya memang sengaja dibuat agar jauh lebih eksotis layaknya artis luar negeri, juga terlihat sangat lembut. Seperti itu selera mas Daven, pikir Arsy. Livy memiliki mata sipit, hidung agak mancung, bibir lebar dan tebal. Meski tubuhnya tak disertai sedikit pun lipatan lemak, Livy memiliki d**a yang jauh dari kata rata. Dua buah gunungan yang menghiasi d**a Livy terbilang besar sekaligus kencang, dan tergolong idaman bagi siapa pun bahkan itu bagi Arsy yang langsung minder. Selain itu, Livy juga memiliki pinggang idaman yang bentuknya mirip dengan gitar Spanyol. Ditambah rias tebal bak model andal dan juga sandang pakaiannya, penampilan Livy sungguh memukau. Seperti saat acara pernikahan kemarin, semuanya serba bagus dan sangat apik dipakai oleh Livy. Membuat semua mata di acara pernikahan apalagi Daven, terpukau menatap Livy yang memiliki kecantikan nyaris sempurna. Jika alasan Mas Daven enggak bisa jenguk Bapak karena kaki Mbak Livy sakit, kenapa kaki yang semalam foto bareng kaki Mas Daven, terlihat baik-baik saja? Mulus tanpa ada luka apalagi bengkak, pikir Arsy. Demi apa pun, Arsy belajar sekaligus berusaha untuk tidak cemburu, meski Arsy merupakan istri pertama Daven yang juga berhak mendapatkan perhatian sekaligus cinta dari Daven. Namun, makin Arsy mendengar pujian tiada henti antara Daven, Livy dan juga Fifin, jauh di dalam sana seolah ada yang sibuk menusuk hati dan juga jantungnya. Sakit.Perasaan Arsy kacau. Belajar untuk menerima dan bahkan tidak cemburu, nyatanya ia hanya wanita biasa yang tetap bisa merasa iri sekaligus terluka. Bahkan sekalipun Arsy sadar, Daven tidak pernah mengharapkannya. Bahkan mungkin, pria itu membencinya. Oalah, kaki Mbak Livy memang seindah itu. Enggak kelihatan bengkak banget tapi kalau diperhatikan lebih jeli, kaki jenjangnya memang bengkak di bagian betis, batin Arsy setelah diam-diam mengamati keadaan kaki Livy. “Biasakan untuk tidak cemburu, Sy. Karena pada kenyataannya, suamimu bukan milikmu. Suamimu milik wanita lain yang sangat suamimu cintai dan sekarang mereka sudah resmi menjadi suami istri. Suamimu milik madumu, sedangkan kamu hanya diminta untuk mengabdi.” Hati kecil Arsy menasihati, dan detik itu juga, Arsy kembali menjadi wanita tegar. Setegar karang yang tetap bertahan walau deburan ombak perlahan mengikisnya. Selain Arsy yang akan makin memperluas kesabarannya demi kebaikan bersama. Tapi kok sesakit ini, ya, hati bahkan sekujur tubuhku. Atau mungkin karena aku belum terbiasa? Padahal Mas Daven dan orang tuanya yang berhutang budi, tapi kenapa justru aku dan orang tuaku yang harus mengabdi? Batin Arsy. Sampai detik ini Arsy masih bertanya-tanya, rencana indah apa yang Tuhan siapkan di balik hubungan pelik yang harus ia jalani, dan membuatnya menjadi orang ketiga dalam hubungan Daven dan Livy?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD