2. Poligami dan Mencari Keadilan

1717 Words
Perasaan bingung itu membuncah bersama rasa nelangsa yang membuat kedua mata makin basah. Kenyataan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Arsy tak lama ia memasuki kamar sepasang paruh baya yang tengah duduk termangu di hadapannya. Karena hal serupa juga dialami oleh kedua paruh baya tersebut yang seketika menatap Arsy dengan tatapan prihatin bahkan miris. Setelah bingung harus melakukan apa, Arsy yang masih menunduk dan membelakangi pintu, berangsur berlutut. Seketika, tanpa direncanakan, pasangan paruh baya yang duduk berhadapan di sofa, refleks saling tatap. Keduanya kebingungan, sementara Rianti si wanita paruh baya dan tak lain ibu dari Arsy, segera berdiri kemudian menghampiri sang putri. “Sy ...,” sergah Rianti yang langsung berusaha jongkok, menuntun Arsy untuk berdiri. “Aku ingin mundur, ... aku tidak mau menjadi pengganggu mereka. Karena andai aku tahu dari awal, aku pasti tidak akan setuju pada perjodohan ini.” Arsy bertutur lirih tapi tegas. Arsy merasa dijebak sekaligus dipermainkan oleh Daven dan ia yakin, orang tuanya tahu itu tanpa harus membuatnya mengutarakannya. “Tidak ada yang salah karena wanita sudah sewajarnya dipoligami, Sy! Kamu jangan berlebihan menanggapinya karena apa pun yang terjadi, memang tidak akan ada yang berubah. Kamu dan Daven sudah menikah, dan kalian tidak boleh berpisah. Kalian sudah disumpah, ... jangan lupa itu!” tegas Parman yang seketika memasang wajah marah menatap sang putri. Tanggapan Parman sang bapak, langsung membuat Arsy tersentak. “Bapak berbicara seperti itu, seolah-olah, ... Bapak bukan terlahir dari seorang wanita! Seolah-olah, ... aku ini orang lain!” Tanpa mengurangi kelembutan ucapannya, Arsy masih berucap tegas. “Aku anak Bapak, ... kok setega itu, Bapak bilang seperti tadi?” “Dulu, nenekmu juga dipoligami. Bahkan kakekmu memiliki empat istri! Ibumu pun bukan satu-satunya istri Bapak!” tegas Parman yang sudah menganggap poligami sebagai hal biasa. Yang mana baginya, sudah sewajarnya seorang suami melakukannya dan harus diterima juga oleh istri-istrinya. Rianti hanya bungkam di tengah tangis dan air mata yang susah payah ia tahan. Kedua tangannya sudah mencengkeram salah satu lengan Arsy yang ia takutkan akan tetap melawan. Ia paham, anak gadisnya itu tipikal keras kepala dan tak segan membangkang bila apa yang diterapkan tidak sesuai prinsip Arsy. Persis seperti Parman meski kiblat keduanya berbeda. Karena jika Parman melakukannya demi ambisi, Arsy melakukannya demi menegakkan keadilan. Keadilan yang sudah langsung tidak bisa Arsy miliki semenjak putrinya itu dilahirkan. Berderai air mata, Arsy mengangguk-angguk, menatap sang bapak sarat rasa kecewa. “Pantas aku ada di posisi ini. Bapakku saja tega dan memang rela, tanpa berpikir, ... apakah Bapak juga bisa bila kami bertukar posisi? Sudah, Bu, jangan tangisi aku. Karena dengan adanya sumpah hubunganku dan mas Daven, sudah menegaskan, Bapak lebih memilih mendapatkan mayatku ketimbang kebahagiaan apalagi kebebasanku!” Arsy merasa sangat sesak, benar-benar sakit, selain ia yang juga merasa sangat kecewa pada sang bapak. Ia sungguh tak menyangka, kejadiannya akan seperti sekarang. Semuanya sungguh di luar dugaan, tanpa terkecuali mengenai tanggapan dari sang bapak, yang ia pikir akan kecewa dengan keputusan Daven justru menjadikan pernikahan dengan Livy, sebagai syarat. “Cukup, Sy!” sergah Parman membentak. Tatapan marahnya membalas tatapan Arsy yang masih menatapnya sarat kecewa. Ia berangsur berdiri dari duduknya. “Bapak tidak mau kamu jadi anak durhaka. Apalagi sekarang kamu sudah jadi istri orang! Kamu bisa jadi istri durhaka andai kamu terus memberontak!” “Padahal Bapak tahu, tak ada yang lebih kuat dari kekuatan doa orang tua untuk anaknya, sedangkan setiap ucapan yang keluar dari mulut kita ibarat doa, Pak?” Kekecewaan Arsy makin menjadi-jadi. Arsy sungguh tidak bisa menerima keputusan sang bapak. “Aku hanya tidak mau jadi orang ketiga karena laki-laki yang menikahiku sudah menjadi suami wanita lain, sedangkan mereka sangat saling mencintai, Pak! Aku mohon, aku rela jadi janda, dan setelah itu diasingkan atau malah dibuang andai memang Bapak malu memiliku sebagai anak!” “Arsy Ayu Putri, kamu ... Nak Daven sudah berjanji akan berlaku adil! Poligami bukan kesalahan daripada mereka justru berzina dan membuatmu sebagai istri juga ikut menanggung dosa!” tegas Parman yang seketika menyeringai kesakitan seiring kedua tangannya yang langsung sibuk menahan d**a. Rianti yang sedari awal hanya menangis langsung memohon pada Arsy untuk menerima dan mengakhiri perdebatan mereka. Sebab, alasan pernikahan Arsy dan Daven ada juga masih berkaitan dengan kesehatan Parman yang akhir-akhir ini makin memburuk. Setahu Rianti, Parman terlalu takut Arsy salah pergaulan dan membuat Arsy salah pilih suami. Karena bagi Parman, selain memang sudah terikat perjanjian perjodohan hingga ia juga sengaja membatasi gerak Arsy sejak dini, baginya tidak ada laki-laki lain yang lebih baik dari Daven, anak dari sahabat baiknya. Parman sangat yakin, sampai kapan pun Daven merupakan suami pilihan terbaik untuk Arsy karena layaknya apa yang ia lakukan pada Arsy, Daven juga sudah dipersiapkan menjadi suami terbaik untuk Arsy, oleh keluarganya. *** Malamnya, Arsy menghabiskan waktunya untuk menjaga Parman di rumah sakit. Parman jatuh sakit karena jantungnya kembali bermasalah, hingga harus menjalani rawat inap. Arsy tak lagi memakai gaun pengantin syari layaknya pagi ini, di pernikahannya. Ia sudah kembali memakai gamis biasa, meski ketika pandangannya tak sengaja melihat rias hena di tangannya, kesedihan itu sungguh membuat Arsy kembali rapuh. Jauh di lubuk hatinya, seolah banyak benda tajam yang mengiris hati Arsy dengan keji hanya karena teringat statusnya kini. Suaminya telah menjadi milik wanita lain yang juga telah berstatus istri dari suaminya. Bahkan kini, Daven tak bisa datang dengan dalih karena Livy mendadak tak enak badan, selain kaki Livy yang bermasalah setelah jatuh saat acara resepsi usai. Acara resepsi yang tentu saja harusnya dijalani oleh Arsy dengan Daven, bukan dengan Livy. Sekitar empat jam lalu, orang tua Daven yang datang dan ikut terjaga untuk Parman, baru saja pulang. Sementara kini, Arsy belum juga mengantuk dan memang tidak bisa tidur. Arsy terlalu bingung memikirkan apa yang akan terjadi nanti karena biar bagaimanapun, dirinya merupakan istri Daven. Arsy wajib tinggal sekaligus mengikuti Daven. Nantinya, mereka akan tinggal di rumah orang tua Daven. Termasuk itu Livy, mereka sungguh akan tinggal satu atap. Tak terbayang apa yang akan terjadi, sementara dari awal saja, Daven sudah wanti-wanti pada Arsy untuk menjaga jarak. “Tanpa mengurangi rasa hormat, tolong biarkan saya tinggal bersama orang tua saya saja, agar hubungan Mas Daven dan mbak Livy makin harmonis. Tolong izinkan saya fokus merawat bapak saya,” ucap Arsy pada orang tua Daven, ketika keduanya berkunjung. Namun, tidak ada yang setuju. Yang ada, mereka meminta Arsy untuk bersikap agresif pada Daven. Arsy dibimbing untuk menganggap Livy sebagai sahabat dan sebisa mungkin untuk secepatnya akrab, agar hubungan mereka dengan Daven, sama-sama harmonis. Masalahnya, Arsy bukan tipikal yang mau menjadi pengganggu hubungan orang karena dianggap pengganggu saja, Arsy sudah langsung kesal. Tentu saja, Arsy juga akan merasa tak kalah kesal bila ia maupun hubungannya sampai diganggu. Benarkah tidak ada cara lain untuk keluar dari situasi sekarang? Arsy terus bertanya dalam hatinya sambil mondar-mandir di depan jendela ruang rawat elite keberadaannya. Ia membelakangi Parman yang masih terbaring pulas di ranjang rawat. Dengkuran keras dari Parman sukses menemani kesunyian dini hari mereka. Sementara di seberangnya, Rianti yang terlihat kelelahan juga tidur tak kalah pulas. Rianti tidur di tempat duduk lipat warna cokelat tua. Mendapati kenyataan tersebut dan baginya sangat aman untuknya menghubungi Daven sekaligus mengakhiri hubungan mereka, Arsy segera memasuki kamar mandi di sebelahnya. Dengan hati-hati ia memasuki sekaligus menutup pintu kamar mandinya. Masih dengan perasaan tak sabar, Arsy mengeluarkan ponsel dari saku sisi gamis warna lilac yang menutupi auratnya. Arsy langsung mengetik pesan di ruang obrolan WA-nya dan Daven yang benar-benar masih kosong. Karena sejauh ini, selama satu bulan terakhir selaku waktu perkenalan mereka dan itu pun sangat jarang, Daven merupakan tipikal yang lebih nyaman mengabarinya lewat sambungan telepon. Arsy : Assalamualaikum, Mas. Maaf mengganggu. Aku hanya ingin membahas urusan kita. Bagaimana bila kita melakukan pembatalan pernikahan atau malah perceraian secara diam-diam? Sumpah demi apa pun, Mas, aku tidak tahu bahwa ternyata, Mas sudah memiliki calon. Aku sungguh tidak mau merusak hubungan Mas. Dan aku yakin, ini juga yang Mas inginkan agar Mas dan istri Mas, bisa hidup dengan tenang. Meski jujur, syarat rahasia dari Mas membuatku merasa dijebak. Bahkan aku berpikir, tak seharusnya aku meminta maaf karena andai dari awal Mas jujur, aku tidak mungkin menyetujui perjodohan kita. Lega. Arsy merasa sangat lega setelah ia menuliskan maksud sekaligus tujuannya, kemudian mengirimkannya kepada Daven. Namun, perasaan harap-harap cemas itu muncul. Tubuh Arsy makin gemetaran bahkan berkeringat hanya karena mendapati pesan yang ia kirimkan langsung dihiasi dua centang biru, dan bertanda, pesannya itu langsung dibaca! “Langsung dibaca?” lirih Arsy masih sulit untuk percaya. Arsy berpikir, alasan pesannya langsung dibaca karena mungkin hanya kebetulan. Mungkin karena Daven baru saja minum, ke kamar mandi, atau malah melakukan salat sepertiga malam demi menyempurnakan ibadahnya? Arsy yakin Daven tak sengaja dan memang tidak berniat membaca pesan darinya. Atau mungkin, Daven mendadak berubah pikiran? Daven ingin memperlakukan Arsy dengan adil, dan salah satu caranya dengan terus terjaga untuk Arsy, meski jarak dan waktu memisahkan mereka? Tak lama setah itu dan masih di menit yang sama, getar tanda pesan masuk, langsung membuat jantung Arsy berdetak lebih kencang. d**a Arsy sampai seolah ikut bergetar seirama dengan ponsel, seiring Arsy yang makin penasaran karena di layar ponselnya yang masih berisi ruang obrolan WA-nya dengan Daven, dihiasi sebuah kiriman foto dari Daven yang masih berputar-putar. Deg! Arsy mendadak kebas, dadanya bergemuruh bersama hati dan jantungnya yang juga mendadak terasa sangat ngilu. Bersamaan dengan itu, sendi-sendi di tubuh Arsy juga merasakan hal serupa. Kedua kaki Arsy tak lagi sanggup berdiri hingga wanita cantik bersahaja itu berakhir terduduk dengan agak terjatuh. Foto kiriman Daven merupakan foto dua pasang kaki. Kedua pasang kaki tersebut dalam keada saling tindih, polos seperti tidak memakai celana atau bawahan, di sebuah tempat tidur bernuansa putih yang sangat berantakan. Sementara di lantai dengan suasana remang, tampak lingire hitam dan sebagiannya tersampir di bibir tempat tidur. “Astagfirullah ....” Arsy tidak mau menangis. Namun status Daven yang masih menjadi suami resminya benar-benar membuatnya merasakan luka tak berdarah, hanya karena melihat foto tersebut. Mas Daven : Kamu tahu apa yang sedang kami lakukan, jadi jangan pernah mengganggu kami lagi! Membaca pesan kiriman Daven barusan membuat Arsy susah payah berusaha mengakhiri tangis dan juga kesedihannya. Tangan kirinya yang awalnya membekap mulut, berangsur menyeka tuntas air matanya. Ayolah Sy, jangankan orang lain, Bapakmu saja tega kepadamu. Kuat, kamu harus kuat! Karena ke depannya, kamu akan menghadapi lebih banyak hal yang menyakitkan lagi! Batin Arsy mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD