02. Malam Pertama

1105 Words
"Ugh!!" Hana meregangkan kedua tangannya, kemudian menjatuhkan diri ke kasur empuk dihadapannya. "Lelah sekali, huft ...." Gadis itu segera berbaring di sana, menatap langit-langit kamar kemudian dinding, dan mulai mengamati interior kamar. Keseluruhan warna di dalam kamar itu hanya menggunakan hitam-putih. "Pantas saja dia seorang iblis. Hidupnya sama sekali tanpa warna!" ceplos Hana sembarang. "Apa?!" Seseorang tiba-tiba menjulang tinggi tepat dihadapannya. Membuat Hana kaget dan tersentak bangun. Dia langsung duduk, dan menggelengkan kepalanya. "Jadi, itu yang kamu pikirkan tentang saya?" Hana menggelengkan kepalanya, dan suasana langsung terasa horor. Bagaimana tidak orang yang dihindari dan cukup menakutkan bagi Hana, kini ada di depannya. Argan. Sosok dosen pembimbing skripsinya yang bahkan menjadi suaminya sekarang. "Sa--saya tidak mungkin berani berkata seperti itu pada Bapak ...," cicit Hana yang membuatnya langsung mendapatkan sentilan didahinya. Tuk! "Ssatt ... sakit," ucap gadis itu reflek mengusap dahinya. Dia tak berani membalas, tapi segera menatap Argan dengan tatapan tak terima. Namun, kalimat pria itu selanjutnya membuat Hana meneguk ludahnya kasar. "Telinga saya masih berfungsi dengan baik, Hana! Apa kau pikir saya tuli?!" Hana geleng kepala tak berani, dia takut menyinggung pria itu lagi. "Dan satu lagi, ini bukan di kampus dan saya bukan ayahmu. Jadi, berhenti memanggil saya seperti itu," ucap Argan yang sebenarnya sudah menurunkan nada suaranya, tapi entah mengapa Hana tetap saja merasa horor. "Ja--jadi, saya boleh memanggil Pak Argan langsung dengan nama?" balas gadis itu sambil meneguk ludahnya kasar. Dia takut salah, dan selanjutnya dia memang disalahkan. "Kau pikir kita seumuran?!" Kalimat Argan, lagi-lagi membuat Hana harus meneguk ludahnya kasar. Sial. Kenapa dia bodoh sekali, jelas-jelas ini bukan luar negeri. Di mana tidak boleh seperti itu, memanggil yang lebih tua dengan namanya langsung. Argan tiga puluh dua tahun, sementara Hana berada di usia dua puluh dua tahun. Sebenarnya jarak tersebut cukup membuat Hana boleh memanggil Argan dengan panggilan 'om,' tapi berani melakukan itu berarti Hana sudah cukup nekat untuk bertaruh nyawa. "Mmm ... Mass." Hana diselimuti perasaan dag-digdug tak karuan, tapi kemudian dia menghela nafasnya lega. Saat menyaksikan Argan sepertinya tersenyum, tapi sepertinya tidak, karena dia hanya menarik sedikit sudut garis bibirnya ke atas. Hana tidak yakin apakah itu sudah bisa dikatakan senyuman. "Bagus juga, mulai sekarang jika bukan di area kampus panggil saya begitu. Paham?!" tuntut Argan yang langsung diangguki Hana tanpa berani menolak. Namun, semua itu belum selesai ternyata. Detik berikutnya Arga melakukan sesuatu yang membuat jantung Hana seperti memberontak ingin melompat dari tempatnya. Sial, dia melepaskan atasannya, memamerkan dad* bidang yang membuat Hana menutup mata. Gadis itu ketakutan begitu pikirannya langsung tertuju pada hak dan kewajiban sepasang suami-istri. Lalu malam ini ialah malam pertama mereka. Mungkinkah dosen pembimbingnya itu akan mengambil haknya. Akan tetapi, lima menit berlalu tidak ada yang terjadi. Hana menjadi bingung dan saat itu dia masih memejamkan matanya. Sampai kemudian dari sebelahnya terdengar suara berisik yang akhirnya membuatnya membuka mata. Bugh-bugh! Sayangnya apa yang terjadi di luar dugaan dan tak kalah horor. Buku-buku terlempar ke sana, dan menjadi pusat perhatian Hana. "Kamu bisa pakai semua itu untuk mendapatkan referensi," jelas Argan yang Hana bisa tebak ke mana maksud arah perkataannya. Keliatannya memang cukup baik, Argan seperti menolongnya, tapi Hana yakin itu tak sesederhana itu, dan benar saja. Pikiran Hana segera terbukti setelah Argan melanjutkan ucapannya. "Saya sudah bosan dengan semua alasan kamu, bermalas-malasan dan kabur mengerjakan tugas akhirmu. Padahal kamu sendiri yang ingin lulus, tapi kenyataannya kami dosen pembimbingmu yang malah sepertinya lebih menginginkan hal itu. Kamu tidak mencerminkan apapun sama sekali!" tukas Argan sedikit membentak. "Pokoknya saya tidak mau tahu, malam ini juga bab dua-mu harus sudah selesai!" lanjut Argan seperti mimpi buruk bagi Hana. Mau-tak mau, Hana pun terpaksa bergegas dan bergerak melaksanakan perintah dosen sekaligus suaminya itu. 'Huft, ... tenangkan dirimu, Hana. Setidaknya itu lebih baik daripada dia menuntut hak,' batin gadis itu. Dia terpaksa begadang malam ini, meskipun bukan untuk melakukan hal yang semestinya dengan Argan, dan meskipun tubuh Hana sudah sangat kelelahan. "Bagus, kamu cukup penurut," puji Argan yang tak membuat Hana senang. Tentu saja, itu semua karena dia tahu bagaimana watak pria itu. Dia tidak semudah itu, seperti beberapa saat lalu. "Sekalian ambilkan laptop saya, kopi atau teh dan ah ... saya suka mengemil, tapi sepertinya tidak ada stok camilan di kulkas. Hm, masak apa saja, tapi harus enak!" ungkap Argan membuat Hana membulatkan matanya. Dia ingin mengeluh, tapi melihat Argan yang tanpa atasan membuat nyalinya ciut. Mau tak mau Hana keluar kamar, dan langsung mencari dapur di sana. "Hm, kenapa aku nggak nanya dia tadi," keluh gadis itu pada dirinya sendiri Rumah itu cukup luas, dan meskipun akhirnya dia tetap sampai di dapur, tapi berkat ketidaktahuannya, Hana harus menguras tenaga karena sempat berkeliling mencari dapur. Argan sepertinya tinggal sendirian di sana, tapi Hana hanya menebak. Karena dia tidak tahu apa-apa. Beberapa jam lalu dia dibawa pulang langsung ke rumah itu dan kamar. Argan sama sekali tak menjelaskan apapun, tapi sudahlah. Memang begitulah dosen pembimbing yang sekarang jadi suaminya itu. ***** Sudah sangat lewat tengah malam, bahkan hampir pagi. Hana sibuk mengerjakan skripsinya. Hampir menangis karena berperang dengan rasa lelahnya, tapi memilih menahan diri. Lain halnya Argan dosen pembimbing sekaligus suaminya itu. Hana sebelumnya berpikir laptop, kopi dan camilannya yang dimintanya itu untuk begadang bekerja, tapi pria itu malah asik menonton sesuatu di laptopnya dan malah bersantai. Enak-enakan setelah membuat Hana seperti berjuang antara lelah dan ingin tidur. "Jadi, kamu ingin kita melakukannya Hana?" ucap Argan mengagetkan Hana. "Apa? Maksud Pak Ar--Mmm ... maksud Mas apa?" jawab Hana belum terbiasa dengan panggilannya. Argan tidak langsung menjawab, tapi mengangkat ponsel Hana. Hal itu pun membuat Hana bingung dan memastikan. Benar yang ditangan Argan memang ponselnya. "Indah temanmu baru saja mengirimkan tutorial melakukan malam pertama," jelas Argan membuat Hana langsung ingin pingsan. Sial*n bisa-bisanya sahabatnya yang gila itu melakukan ini, dan Argan. Bagaimana bisa ponselnya sudah berada di tangan suaminya itu. Buru-buru Hana pun merebut ponselnya dengan muka tembok dan memeriksa. Ternyata Argan tidak begitu lancang membuka aplikasi perpesanan diponselnya Hana. Argan hanya melihat notifikasi layar kunci pada ponsel milikinya. Adapun isi pesan dari sahabatnya itu ialah, 'Aku sudah kirim video tutorial malam pertama buat kamu, Han!' Begitu Hana membuka pesan dan membuka percakapan antara dirinya dan Indah. Hana pun melihat banyak video aneh yang Indah kirim. Hana menggulir, tapi kemudian jarinya tak sengaja mengklik salah satu video. "Aahhhh, ughhh, aaaahhh ugghh ... lebih cepat!!" Hana terkejut bukan main, dan membulatkan matanya. Meskipun setelahnya dia berhasil menutup video itu sehingga berhenti berputar, tapi efeknya tetap saja membuatnya ingin gila. Pelan-pelan sambil menahan gugup, gelisah dan malu yang bersamaan, Hana melirik ke arah Argan. Namun, ternyata pria itu sedang menatapnya juga dan membuat Hana tersentak kaget. "Jadi, kamu benar-benar menginginkannya?!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD