Happy Reading . . .
***
Setelah meeting mengenai rencana pembangunan apartement yang akan dilakukan selesai, tinggalah aku dan Liam masih berada di ruang meeting.
"Kau sungguh nekat, Nick."
"Ada apa Liam?"
"Kau benar-benar berniat untuk mendekati Tiffany."
"Aku tidak mendekatinya, Lee."
"Lalu, semalam itu apa? Ada niat apa kau tiba-tiba ingin mengantarnya pulang?"
"Apa kau menginterogasi Jeff?"
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah sebaiknya kau urungkan niatmu itu, Nick."
"Kau ingin aku bisa bangkit, bukan?"
"Ya, tentu aku sangat ingin kau bisa bangkit. Tetapi tidak dengan Tiffany, Nick. Kau tidak bisa memperlakukan Tiffany seperti itu karena dia bukanlah Alexa."
"Sudahlah, Lee. Ini, aku kembalikan ponselmu," balasku sambil menaruh ponsel Liam di atas meja.
"Kenapa ponselku bisa ada denganmu?"
"Tadi kau meninggalkannya di ruanganku. Apa kau lupa?"
"Benarkah?" Tanya Liam menyelidik dan sedikit bingung.
"Tentu saja. Sebaiknya kita kembali bekerja. Atau kau ingin makan siang dulu?"
Aku memilih untuk kembali ke ruang kerjaku dibandingkan mendengarkan nasihat Liam yang tidak ada habisnya itu. Setelah berada di ruang kerjaku, aku langsung mengambil ponsel. Aku ingin menghubungi Tiffany yang sepertinya juga sedang beristirahat di jam makan siang ini.
"Apa kau sudah menerima bunga kiriman dariku?" Tanyaku ketika Tiffany mengangkatnya.
"Nick? Apa ini kau?"
"Rupanya kau sudah mengenali suaraku walaupun aku belum memberitahumu."
"Bagimana kau bisa mendapatkan nomorku? Dan untuk apa kau memberikan bunga sebanyak ini untukku?"
'Tentu saja dari ponsel Liam yang diam-diam aku curi darinya tadi.'
"Yang pertama, kau tidak perlu tahu bagimana aku bisa mendapatkan nomor-mu. Dan yang kedua, aku hanya ingin memberikanmu bunga saja. Apa kau suka dengan tulip?"
"Hhmm... bagaimana kau bisa tahu aku menyukai tulip?"
'Aku sangat tahu dirimu, Alexa. Tulip adalah bunga kesukaanmu.'
"Aku hanya menebak saja. Dan aku senang ternyata tebakanku bisa tepat."
"Well, terima kasih atas kirimannya Nick."
"Apa jam kerjamu selesai seperti kemarin?"
"Ya."
"Kalau begitu aku akan menjemputmu seperti kemarin. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Hhmm... Nick, aku..."
"Apa kau tidak mau?" Tanyaku memberikan sedikit tekanan kepadanya.
"Baiklah."
Aku bisa mendengar keterpaksaan di dalam suaranya. Tetapi aku tidak peduli, aku hanya mempedulikan bagaimana caranya agar Tiffany bisa aku miliki.
"Kalau begitu tunggu jika nanti aku sedikit terlambat, okay?"
"Baiklah. Nick, jam istirahatku sudah habis dan aku harus kembali bekerja."
"Ya. Sampai bertemu nanti sore."
Aku tersenyum penuh arti setelah sambungan telepon itu berakhir. Permulaan rencanaku sudah dimulai dan akan aku pastikan Tiffany akan jatuh cinta denganku.
***
Jeff memberhentikan mobil tepat di depan Rameez. Dan pandanganku langsung tertuju kepada Tiffany dan Liam yang sedang berbincang di sana. Mataku melihat raut wajah Tiffany yang terlihat sangat nyaman ketika berbincang dengan Liam. Tatapan yang tidak pernah aku lihat ketika wanita itu berbincang denganku. Lalu aku pun menurunkan kaca jendela di sampingku dan melemparkan pandangan datar kepada Tiffany.
"Masuklah, kita berangkat sekarang."
"Kalian ingin pergi?" Tanya Liam.
"Ya. Nick ingin mengajakku ke suatu tempat. Apa kau ingin ikut?" Balas Tiffany.
Aku melirik Liam dengan tatapan datar namun terasa menusuk untuk dilihat.
"Hhmm... tidak. Kalian pergi saja. Malam ini aku memiliki janji dengan seseorang."
Lagi, raut wajah kecewa Tiffany yang bisa aku lihat ketika Liam tidak merespon di setiap usahanya untuk menarik perhatian pria itu.
Setelah dengan rasa kecewa Tiffany masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingku, aku langsung menyuruh Jeff untuk melajukan mobil.
"Kau tidak bisa dengan seenaknya mengajak orang lain disaat kau belum meminta izin kepadaku terlebih dahulu seperti tadi," ucapku dengan nada bicara sedikit ketus.
"Aku hanya ingin mengajak Liam agar kita tidak hanya pergi berdua saja."
"Memangnya kenapa kalau kita pergi berdua saja? Apa sebenarnya aku tidak menginginkannya? Atau kau malu pergi berdua saja dengan pria lumpuh sepertiku?"
"Bukan seperti itu, Nick. Dan ini tidak ada hubungannya dengan kondisi tubuhmu."
"Lalu seperti apa?"
"Jika kita mengajak Liam mungkin saja rasanya akan semakin lebih seru karena kita pergi bersama-sama."
"Kita bukanlah sekumpulan anak-anak yang ingin pergi berekreasi. Jadi kita tidak butuh banyak orang jika ingin pergi."
Aku bisa melihat wajah Tiffany yang sedang kesal dari sudut mataku. Tangan yang bersidekap di depan d**a dan wajahnya yang cemberut, membuat bibirku secara tidak sadar menjadi sedikit tersenyum.
Keheningan pun terjadi di antara kami hingga mobilku akhirnya berhenti di depan sebuah restaurant.
"Kita ingin apa?" Tanya wanita itu sambil memperhatikan bangunan restaurant berbintang lima yang begitu megah dari kaca jendela mobil di sampingnya.
"Sekarang kau sedang melihat apa?" Balasku sambil membuka pintu mobil dengan Jeff yang sudah berada di luar dengan kursi rodaku.
"Restaurant. Apa kita ingin makan malam di sini?"
"Jika aku ingin berekreasi, aku tidak akan mengajakmu ke sini. Cepat, turun dari mobil!"
Setelah berada di samping Tiffany, aku pun menggenggam tangannya dan menatap wajahnya.
"Aku ingin makan malam denganmu. Maka dari itu aku mengajakmu ke sini."
"Apa kau sedang mengajakku berkencan?"
"Tidak juga. Tetapi, jika kau ingin menganggap kita yang saat ini sedang berkencan, itu tidak masalah."
"Tetapi aku tidak bisa lama, Nick. Karena besok aku harus bekerja."
"Ya. Aku tahu kau itu tipe wanita seperti apa Tiffany."
Ketika aku sedang mengelus tangannya yang berada di dalam genggamanku, mataku pun ikut tertuju kepada pandangan mata Tiffany yang sedang menatap cincin pernikahanku dengan Alexa yang masih aku kenakan.
Lalu, dengan cepat Tiffany langsung melepaskan genggaman tanganku dan ia membantuku mendorong kursi roda dari belakang memasuki restaurant itu.
Setelah kami melakukan makan malam yang terasa ada batasan di antara diriku dan Tiffany, aku pun langsung mengantarnya pulang. Makan malam yang sama sekali tidak berkesan karena wanita itu seperti menutup dirinya dariku.
"Besok kau bekerja seperti biasa, bukan?" Tanyaku saat mobil sudah berhenti tepat di depan bangunan flat Tiffany.
"Hhmm... besok jadwalku untuk masuk siang."
"Kalau begitu besok Jeff akan menjemputmu di sini."
"Tidak perlu, Nick. Aku bisa pergi sendiri," balas Tiffany cepat.
"Jeff, besok siang kau memiliki jadwal untuk menjemput Tiffany di sini," ucapku kepada Jeff yang berada di kabin depan.
"Baik, sir."
"Nick..."
"Kau bisa masuk dan beristirahat di flat-mu," sela-ku disaat ia ingin memprotes.
Aku bisa mendengar suara helaan nafas walaupun sudah sepelan mungkin Tiffany melakukannya. Aku tahu jika ia sudah mulai jengah dengan sikapku, tetapi aku tetap tidak akan berhenti sampai wanita itu bisa aku miliki.
"Terima kasih atas makan malamya, Nick."
Setelah Tiffany keluar dari mobil, aku pun menyuruh Jeff untuk melajukan mobil menuju mansionku. Aku pun mengerutkan kening ketika melihat mobil Liam yang sudah terparkir di depan sana. Lalu aku pun menjalankan kursi roda memasuki mansion.
"Lee..." panggilku saat aku berada di ruang tengah.
Aku kembali menjalankan kursi roda menuju elevator ketika tidak menemukan keberadaannya di sana. Setelah berada di lantai atas, pandanganku langsung tertuju kepada pintu kamarku yang sedikit terbuka.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku pun langsung terkejut saat melihat Liam yang sedang menurunkan foto-fotoku bersama Alexa dari dinding dan menaruhnya di dalam kotak kardus.
"Lee, apa yang kau lakukan?" Tanyaku sambil menghampiri Liam dan menghentikan aksinya itu.
"Kau ingin bangkit seperti yang kau katakan, bukan? Dan aku akan membantumu untuk mencapainya."
"Hey, hentikan!" Ucapku berusaha merebut bingkai foto tersebut.
"Kau yang harus berhenti, Nick! Berhenti menganggap jika Tiffany itu Alexa, dan berhenti mendekatinya jika hanya Alexa yang masih berada di dalam hati dan pikiranmu."
"Kau tidak mengerti, Lee."
"Aku atau kau yang pura-pura tidak tahu jika yang kau lakukan ini sangatlah salah? Bagaimana perasaan Tiffany jika mengetahui niatmu? Apa kau pernah memikirkan perasaannya?"
"Apa masalahmu, Lee? Bukankah kau mengatakan jika kau tidak menaruh hati padanya?"
"Ya, aku memang tidak menaruh hati padanya. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa melarang niatmu yang bisa saja menghancurkan hidupnya."
"Kenapa kau sangat membelanya? Apa kau ingin menjaga perasaan Tiffany karena kau tidak bisa membalas cintanya dan ia yang juga tidak bisa memilikimu?"
". . ."
Aku pun sedikit tersenyum disaat baru saja aku menusuknya dengan tajam atas pertanyaanku tadi.
"Sudahlah, kau sendiri bisa melihat siapa yang jahat di antara kita, bukan? Jangan pernah membalikkan fakta, Lee. Maka dari itu berhenti peduli dengan orang lain disaat dirimu saja sudah tidak ingin peduli dengan saudaramu ini."
"Fine! Terserah padamu, Nick. Aku tidak akan melarang apalagi mengaturmu yang tetap ingin mendekati Tiffany. Tetapi aku akan lebih menghargai rencanamu itu jika kau bisa mengajak Tiffany ke sini dengan foto-foto Alexa yang terpajang di seluruh mansion. Apa kau bisa melakukannya untukku?"
"Apa yang kau bicarakan, Lee?"
"Aku sudah tahu jika kau tidak akan mampu, Nick.”
Senyumanku semakin melebar ketika Liam langsung pergi meninggalkanku dengan kalimat sindirannya itu. Lalu aku pun mengambil salah satu foto Alexa dan mengelus pada bagian wajahnya.
"Kau akan selalu berada di dalam hatiku, sayang."
***
To be continued . . .