Another You 5

1592 Words
Happy Reading . . . *** “Tidak! Kau tidak boleh pulang sendirian.” “Aku ingin pulang sekarang, Nick. Aku sudah tidak kuat lagi. Perutku sangat sakit.” “Kalau begitu aku akan menjemputmu sekarang.” “Tidak perlu. Tadi kau mengatakan sedang meeting, bukan? Tidak perlu, Nick. Aku bisa pulang sendiri.” “Tunggu aku lima menit lagi.” “Nick...” Aku pun langsung mematikan ponselku dan bergegas menjalankan kursi roda keluar dari ruangan meeting. Aku sudah tidak mempedulikan lagi panggilan Liam dari belakang sana. Karena aku sedang terburu-buru ingin mengantar Tiffany pulang. Saat aku sedang merasa kebosanan di tengah meeting tadi, aku pun mengirim pesan kepada Tiffany untuk sekedar menanyakan kabar kepadanya. Namun ketika ia membalas pesanku dan mengatakan jika wanita itu sedang merasa sakit, dengan cepat aku langsung menghubunginya. Dan berakhirlah aku yang sudah berada di depan Rameez dengan berada di dalam mobilku. Aku menurunkan kaca mobil saat melihat keberadaan Tiffany yang sedah duduk di kursi dekat pohon sambil memegangi perutnya. "Masuklah," perintahku ketika Tiffany melihat keberadaanku. Setelah Tiffany berada di sampingku, aku pun langsung memegang tangan yang sedang berada di perutnya. "Brixton, Jeff,". "Apa kita perlu ke rumah sakit?" "Tidak. Aku ingin beristirahat saja," balas Tiffany sambil menyingkirkan tanganku dari tangannya. "Apa kau yakin? Kau tidak tahu apa yang terjadi dengan perutmu, bukan?" "Hhmm... ini hanya masalah wanita saja." "Masalah wanita?" "Iya. Masalah yang setiap bulannya selalu dihadapi oleh setiap wanita." "Maksudmu... ohh, aku tahu. Kalau begitu istirahatlah dulu, jika nanti sudah sampai flat-mu akan aku bangunkan." Setelah melihat Tiffany mesandarkan kepala pada pintu di sampingnya dan mulai menutup mata, aku pun kembali bekerja dengan membuka laptop yang selalu berada di mobil untuk melihat hasil meeting yang tadi aku tinggalkan dan baru saja dikirim oleh sekretarisku. Tiga puluh menit seperti biasanya saat menuju Brixton, aku pun membangunkan Tiffany ketika mobil sudah berhenti di depan flat-nya. Beberapa kali aku menyentuh dan mengguncang lengan Tiffany, namun wanita itu juga tidak kunjung terbangun. "Bangunlah, kita sudah sampai,". "Tiffany." Sekitar lima menit aku membangunkannya, Tiffany tetap juga tidak terbangun dan bahkan menggerakkan tubuhnya pun juga tidak. "Jalan, Jeff." "Kemana tujuan anda, sir?" "Entahlah. Kita berkeliling saja." "Baik, sir." Mobil kembali melaju dan aku juga kembali melanjutkan pekerjaanku. Setelah berkeliling kota dengan arah tanpa tujuan, tidak terasa jika hari mulai gelap. Berjam-jam aku bekerja hingga pekerjaanku sudah selesai, tetapi Tiffany juga belum terbangun dan kini dengan nyamannya ia justru sudah bersandar di bahuku. "Tiffany, kau masih belum ingin bangun juga?" Pertanyaanku itu hanya membuatnya bergumam tidak jelas dan ia malah memeluk tubuhku dengan nyaman layaknya aku adalah boneka. Melihat Tiffany yang seperti itu membuatku secara tidak sadar sudah ikut merangkul bahunya dan mencium puncak kepala wanita itu yang bersandar di dadaku. Aku begitu merindukan tubuh Alexa yang bisa aku peluk seperti ini. Saat dengan cukup lama aku memeluk dan menciumu kepala Tiffany, tiba-tiba aku dikejutkan dengan wanita itu yang menatap wajahku. "Apa yang kau lakukan?" "Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Apa yang kau lakukan?" Tanyaku balik sambil menunjuk tangannya yang masih memeluk tubuhku. Dengan cepat Tiffany langsung melepaskan pelukan itu dan menjauhkan tubuhnya dariku. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk seperti itu." "Apa perutmu masih sakit?" "Sudah lebih baik." "Tentu saja terasa lebih baik. Tidurmu saja sudah seperti sapi." "Hey, kau meledekku yang seperti sapi?" Protesnya. "Tidak, aku hanya berbicara jujur saja. Lihatlah langit di luar, sudah gelap bukan?" Aku pun menahan senyumanku ketika melihat Tiffany yang terlihat terkejut dan merasa malu setelah melihat langit yang memang sudah gelap di luar sana. "Kenapa kau tidak membangunkanku?" "Jeff, katakan sudah berapa kali aku membangunkan nona di sampingku ini?" "Sudah berkali-kali, sir." "Lihatlah, kau tidak bisa memungkiri lagi jika tidurmu itu memang sudah seperti seekor sapi." "Maaf," ucap Tiffany sambil menundukkan kepala. "Sudah, tidak perlu merasa malu atau tidak enak seperti itu. Apa kau lapar?" Tiffany pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Kau ingin makan apa?" "Hhmm... apa saja." "Kau ingin makan fast food?" "Apa saja, Nick." "Jeff, cari restaurant cepat saji terdekat. Kita drive thru saja." "Baik, sir." "Apa jadinya Tiffany, jika kau tetap keras kepala yang ingin pulang naik kereta? Bisa-bisa kau sangat terkejut setelah terbangun karena barang-barangmu sudah dicuri semua." "Iya, terima kasih Nick. Kau sudah begitu perhatian kepadaku." Aku hanya menganggukkan kepala sambil sedikit tersenyum. Satu hal telah berhasil aku lakukan untuk membuat Tiffany mengetahui jika aku lebih memberikan perhatian kepadanya dari pada Liam. Dan hal seterusnya akan aku lakukan sampai wanita itu jatuh cinta kepadaku. *** Aku membanting dokumen yang sedang aku baca dengan kesal ke atas mejaku. Pekerjaan yang membuatku stres ditambah lagi dengan Tiffany yang juga tidak kunjung mengangkat telepon dan menjawab pesanku, membuat kepalaku ingin pecah rasanya. 'Bagaimana bisa ia masih mengacuhkanku disaat aku sudah memberikan perhatian yang lebih untuknya?' Aku pun memutuskan untuk pergi ke Rameez. Selain aku sedang membutuhkan kafein, aku juga ingin mencari Tiffany yang hari ini sama sekali belum membalas pesanku. Saat aku memasuki Rameez, untung saja keadaannya sedang sepi jadi aku bisa memarahi wanita itu karena sudah beraninya mengacuhkanku. Tetapi hal itu langsung aku urungkan ketika aku melihat Liam yang sedang berbincang dengan Tiffany hingga membuat wanita itu sesekali tertawa. "Ehemm... katanya kau ingin mencari makan siang?" "Ya, aku juga ingin mengajak Tiffany untuk makan siang bersama. Karena jam istirahatnya baru tiba beberapa menit lagi, aku memutuskan untuk menunggunya di sini," balas Liam. "Lalu kenapa kau tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku seharian ini?" Tanyaku sinis kepada Tiffany dengan pandangan tajam. "Ponselku tertinggal di flat-ku. Jadi aku tidak bisa membalas pesanmu." "Tertinggal atau sengaja kau tinggal agar kau tidak merasa terganggu dengan setiap pesanku?" "Hey, Nick. Jaga bicaramu," tegur Liam. "Ada apa, Lee? Bukankah kau sudah tidak ingin mencampuri urusanku lagi?" "Nick..." "Kau ikut denganku. Kita makan siang bersama," selaku yang kini berbicara kepada Tiffany. "Tetapi Liam juga mengajakku makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama saja?" "Tidak. Cepat lepas apron-mu dan aku akan tunggu di mobil." "Aku tidak mau," bantah Tiffany. "Aku akan tetap menunggu di depan sampai kau ingin makan siang denganku." Aku pun langsung memutar kursi rodaku dan keluar dari Rameez. "Pergilah, Nick akan benar-benar melakukannya jika dia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan." Ucap Liam yang masih bisa aku dengar. "Tetapi aku tidak mau. Kau yang mengajakku untuk makan siang terlebih dahulu." Senyuman penuh arti akan keberhasilan memaksa Tiffany mengiringiku keluar dari Rameez menuju mobil. Setelah berada di dalam mobil, aku benar-benar menunggu Tiffany seperti yang sudah aku katakan tadi. Dan tidak lama kemudian, pintu mobil di sisi kananku terbuka disusul dengan keberadaan Tiffany yang langsung mendudukkan diri di sampingku. "Nanti sore aku ingin pulang sendiri. Aku sudah memundurkan janjiku menjadi nanti malam dengan Liam. Jadi kau tidak perlu menjemputku," ucapnya tanpa melihatku sambil melipat kedua tangan di depan d**a. "Siapa yang ingin menjemputmu? Jangan terlalu percaya diri." Aku pun langsung mengulum senyumku saat aku bisa mendengar suara dengusan kesal nafas Tiffany. Setelah makan siang singkat dan Tiffany yang juga mogok bicara denganku, aku mengantarnya kembali ke Rameez dan aku pun juga kembali ke kantor untuk bekerja. Waktu berlalu dan langit ternyata sudah gelap di luar sana. Setelah melihat gelapnya langit dari jendela ruang kerja, aku pun memutuskan untuk merapikan dokumen-dokumen dari meja kerjaku dan bersiap untuk pulang. "Seperti biasa Jeff, kita berhenti di depan Rameez." Ucapku ketika sudah berada di dalam mobil. "Saya baru mendapatkan informasi jika arah jalan dari Rameez menuju mansion sedang ada perbaikan jalan, sir. Dan mungkin nanti kita akan terjebak kemacetan." "Tidak masalah." "Baik, sir." Tidak membutuhkan waktu lama, Jeff pun memberhentikan mobil di depan Rameez. Dan senyuman penuh arti yang selalu Nick tampilkan saat melihat keberadaan Tiffany terbit. Aku pun menurunkan kaca jendela di sampingku dan bertanya kepada wanita itu yang sedang duduk di kursi yang disediakan untuk pejalan kaki di trotoar. Dan sepertinya ia juga sedang menunggu kedatangan Liam. "Sudah berapa lama kau menunggu di sana?" "Nick? Sudah aku katakan untuk tidak perlu menjemputku, bukan?" "Sedikit informasi saja jika aku ingin pulang dan kebetulan saja ingin melewati jalanan ini. Bukankah sudah aku katakan untuk jangan selalu menjadi orang yang percaya diri?" "Kalau begitu kau bisa pergi," balasnya sambil membuang pandangan dari tatapanku. "Kau yakin Liam akan benar-benar menepati janjinya?" "Tentu saja. Dia itu pria yang selalu menepati janjinya." "Baiklah, kalau begitu selamat menunggu. Aku pulang dulu." Setelah aku menutup kaca jendela, Jeff pun kembali melajukan mobil dengan perlahan. "Jeff, kita bisa berhenti di depan toko yang tutup itu terlebih dahulu. Kita tunggu sampai sedikit malam dan kemacetannya sedikit terurai." "Baik, sir." Aku hanya ingin memastikan saja apakah Liam akan benar-benar menepati janjinya setelah baru saja ia memposting foto bersama Selena di media sosial yang sedang makan malam bersama. Ketika aku menghubungi Liam pun untuk memastikan keberadaannya, ponsel pria itu tidak aktif dan itu adalah salah satu bukti kebiasaan Liam ketika sedang berkencan dengan kekasihnya, Selena. Beberapa jam pun berlalu hingga jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku menengokkan kepalaku dan melihat dari kaca bagian belakang mobil yang ternyata Tiffany masih setia duduk di tempat yang sama. "Jeff, hampiri Tiffany dan paksa sampai dia mau naik ke mobil." "Baik, sir." Setelah Jeff turun dari mobil dan menghampiri Tiffany, membutuhkan waktu yang cukup lama hingga pada akhirnya pintu mobil di sampingku terbuka dan munculah Tiffany di sana. "Apa kau ingin makan? Aku yakin pasti kau belum makan malam." "Tidak. Aku ingin pulang saja," balas Tiffany yang terdengar sedih. "Baiklah. Brixton seperti biasa, Jeff." Aku tahu pasti ia merasa sedih karena pria yang tunggu-tunggu tidak kunjung datang dan menepati janji. Maka dari itu aku tidak ingin membahas ataupun menyindir ketidakdatangan Liam yang bisa saja membuat suasana hati wanita itu menjadi semakin buruk. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD