Pertengkaran hampir saja terjadi, untung saja dengan cepat Maisya menyudahi perkelahian Dinda dengan adik kelas tersebut.
Fano hanya menatap dengan diam. Dia tak ingin memperbesar masalah. Akhirnya mereka melanjutkan jalan.
“Seandainya tante Amy gak kasih izin gimana dong?” tanya Maisya dengan cemas, saat mereka sedang menunggu di halte.
Intan yang ada di samping kanannya segera memegang tangan Maisya yang sudah dingin.
“Pasti di kasih kok. Memang menurut kamu tante kamu itu gimana?”
“Ya baik sih, tapi tetap saja aku takut apalagi aku belum terlalu mengenal kota ini.” Jawab Maisya.
“Aku yakin pasti tante kamu kasih kok! Percaya aja padaku!” ucap Dinda meyakinkan Maisya,
Maisya tampak tersenyum dapat semangat dari temannya kecuali Fano dia hanya menatap mereka berbicara. Bukan takut karena apa hanya saja tak enak bagi Maisya jika harus meminta izin apalagi dia baru di sini. Takutnya tantenya tak memberi izin.
Klakson berbunyi Amy membuka separuh kaca mobilnya.
“Ayo masuk sayang!” ajak tante Amy dari dalam mobil.
“Ayo Maisya pasti bisa!” bisik para temannya menyemangati.
“Tante a-anu, Ma-Maisya mau....” ucap Maisya dengan sangat gugup.
Entah tersihir oleh ilmu apa. Fano berjalan menghampiri rante Maisya
“Maaf sebelumnya tante, kami minta izin untuk bawa Maisya main boleh kan?”
Fano berujar dengan berani tak gugup sedikit pun.
“Mau main? Kalian berdua?” tanya Tante Amy menginterogasi Fano.
Fano menunjukkan Dinda dan Intan yang sedang duduk di kursi halte. Tante Amy paham maksudnya dengan berat hati berucap.
“Ke mana dan kapan kalian akan pulang?” tanya Amy lagi.
“Kami mau membeli hadiah untuk ulang tahun adik Dinda, Delvan tante. Mungkin sore an kami akan pulang,” jawab Maisya.
“Baiklah, jaga dia baik-baik! Kau yang akan bertanggung jawab! Sayang jaga diri baik-baik ya! Kalau terjadi sesuatu cepat hubungi tante ya!”
Maisya seakan-akan bagai di hantam batu es dirinya beku seketika saat tantenya kini sangat percaya kepada Fano.
“Makasih tante, hati-hati ya di jalan!”
Dengan tersenyum manis Maisya melambaikan tangannya saat mobil yang di tumpangi tantenya melaju dengan cepat.
“Yeayyyy!” Ucap Intan dan Dinda dengan girang.
“Fano! Terima kasih banyak ya! Udah mau bantu aku bicara,” ujar Maisya dengan sedikit malu kepada Fano. Tak ada suara yang keluar dari bibir Fano ia hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah menunggu beberapa menit mobil Dinda yang di bawa oleh Mamang pun hadir menjemput mereka. Fano memutuskan untuk naik motor karena tak ingin membebankan mereka.
[Di Mall]
Mereka berjalan dengan girangnya memilih apa pun yang mereka inginkan tentu saja mereka sangat pintar dengan menguras Fano sebagai mesin ATM-nya.
Tujuan utama mereka adalah toko baju. Mencari setelan yang pas untuk Delvan yang mempunyai lemak di badannya. Fano hanya pasrah saat semua berlanjaan di suruh pegang olehnya seperti asisten.
Kemudian mereka berjalan lagi ke toko es krim. Es krim coklat yang menjadi pilihan Dinda sedangan Maisya, Intan dan Fano memilih rasa vanila.
Setelah menikmati es krim. Tak lupa Intan sebagai kang selfi selalu memamerkan momen mereka. Fano sangat kesal saat di suruh foto. Tapi tentu saja dia tak dapat menolak permintaan dari teman-temannya ini.
Di tengah perjalanan tak sengaja Maisya di tabrak oleh laki-laki berpakaian serba hitam yang menggunakan topi. Maisya yang terpingkal ke belakang merasa pantatnya sangat sakit. Satu bogem-an meluncur di pipi lelaki tersebut. Perkelahian pun terjadi antara Fano dan lelaki berbaju hitam tersebut. Orang-orang yang berada di situ berteriak sangat histeris karena kejadian ini. Dan tak lama seorang security datang untuk melerainya.
“Sebaiknya adik sekalian jangan membuat keributan di sini!” tegas sang security yang bernama Kasim tersebut.
Fano menatap sang lelaki tersebut dengan sangat tajam.
“Saya gak akan kayak gitu kalau dia gak melukai teman saya!” Fano berteriak dengan marah.
“Kan bisa di bicarakan baik-baik jangan pakai kekerasan,” ujar Kasim untuk menangkan Fano.
“Tak ada kata maaf di dalam hidup saya! Apalagi untuk lelaki seperti dia!”
Fano menghapus darah dari sudut bibirnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Maafkan teman saya ya!” Maisya meminta maaf kepada sang lelaki tersebut,
Mereka bertiga meninggalkan tempat itu untuk mengejar Fano.
Fano ingat akan ku balas diri mu suatu saat nanti!
Ucap sang lelaki tersebut dengan menutup kepalanya dengan topi dan menjauh dari tempat itu. Dari bahasanya sepertinya dia mengenal dekat Fano.
Fano duduk di kursi taman dengan rambut yang sudah acak-acakan.
“Fano!” panggil Dinda.
Fano hanya menoleh tanpa berucap. Dengan cepat Maisya mengambi tisu yang ada di tasnya untuk mengilap bibir Fano yang mengeluarkan darah.
Maisya membersihkannya dengan pelan-pelan. “Kamu kenapa sih?” ucap Maisya dengan kesal.
“Jangan kek gini dong! Jadinya kami gak enak lagi nih. Kalau ada masalah ya bilang jangan kek gini.” Ujar Dinda.
“Bener tuh Fano! Kau juga udah kayak gini jadi udah gak asyik lagi jadinya!” ucap Intan mengerucutkan bibirnya.
“Ya sudahlah kita pulang aja. Lain kali kita main-main lagi!” ujar Maisya dengan putus asa.
“Kenapa? Kita bisa cari tempat lain ‘kan?”
Suara Fano membuahkan senyum dari tiga wanita tersebut.
“Serius kamu gak marah lagi?” tanya Dinda dengan berbinar. Dengan cepat Dinda menggandeng tangan Fano untuk menuju parkir-an.
Akhirnya dengan begitu mereka pun pergi ke toko lain. Walaupun agak kecil tapi mereka sangat menikmati. Fano bersikap seperti itu bukan tanpa alasan karena amanah dari tantenya Maisya membuat dirinya sedikit sensitif oleh sekelilingnya.
Setelah asyik memilih untuk kado Delvan mereka pun akhirnya memutuskan untuk duduk di restoran karena mereka merasa perutnya sudah sangat keroncongan.
“Aku tadi beli boneka ini lihat lucu banget,”
Dinda mengeluarkan boneka kura-kuranya yang berukuran kecil. Maisya merampasnya dan kemudian memeluk boneka tersebut. Tentu saja Dinda tak terima Maisya merampas bonekanya. Terjadilah saling adu mulut di situ.
“Maisya balikan ih!” pinta Dinda dengan memaksa. Karena mereka duduk berseberangan membuat Dinda sangat susah untuk mengapainya.
“Pinjam dulu, lembut.” Maisya memencet tubuh kura-kura tersebut membuat Dinda sangat tak terima.
“Maisya!” teriak Dinda.
Fano tampak geram dengan tingkah Dinda dan Maisya akhirnya membuka suara.
“Bisa diam gak sih! Kayak bocah aja!”
Keduanya terdiam. Intan tertawa melihat teman-temannya di marahi.
“Gimana udah dapat kado untuk Delvan?” tanya Fano mencari topik.
“Udah dong!” seru Dinda.
“Oh ya ini beri ke Delvan ya!” Fano memberi sebuah kado berbentuk persegi panjang. Mereka bertiga tampak terheran-heran.
“Wih thanks Fano,”
Fano mengangguk. Pesanan mereka pun sampai. Tak ada rasa malu mereka berempat pun melahapnya dengan sangat rakus. Setelah makan tak langsung pulang tapi malah naik ke lantai paling atas hanya untuk bermain lagi. Dari wahana hantu sampai bermain sky pun mereka coba. Tak satu pun melewatkan momen ini. Mereka sangat asyik dan bersemangat.
Jam empat lewat sebelas, mereka menyudahi bermain karena hari sudah hampir gelap. Mereka berpamitan dengan Fano atas traktiran dan waktu yang di luangkan untuk bermain bersama mereka. Fano juga memberi oleh-oleh berupa gelang. Semuanya mendapatkan yang sama. Termasuk Fano juga memakainya sebagai simbol persahabatannya. Karena Fano menggunakan motor jadi mereka berpisah di persimpangan jalan karena rumah Fano berbeda jalan dengan mereka.
“Assalamualaikum Tante,” salam Maisya saat sudah berada di rumah.
“Waalaikumsalam Non, masuk!” ajak ART di rumah mereka.
“Tante ke mana Bi?”
“Baru saja keluar. Katanya tadi jangan tunggu dia pulang. Tapi setelah makan malam dia akan sampai di rumah.” Ujar sang ART.
Maisya mengangguk dan berjalan ke atas meninggalkan sang ART. Dirinya kini sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan salat.
Malam pun sudah menghampiri. Namun Amy belum juga terlihat batang hidungnya. Maisya sangat cemas, berulang kali menanyakan tentang keberadaan tantenya kepada sang ART yang bernama Marni. Marni mendapat telepon dari nyonya nya bahwa dia akan makan malam di rumah.
“Bi, kapan tante pulang?” tanya Maisya yang sudah ke sekian kali.
“Sabar Non, sebentar lagi juga pulang. Mungkin di butik banyak pekerjaan yang harus di selesaikannya. Sabar saja bentar lagi pasti pulang kok!” ucap Marni meyakinkan Maisya.
“Bibi mau masak apa? Maisya bantu boleh?” ujar Maisya.
Bukan Maisya namanya kalau tidak membantah. Dirinya tetap saja ingin melakukannya meski sudah beberapa kali Marni melarang melakukannya.
“Enggak perlu Maisya biar Bibi aja!” tolak Marni lagi.
“Bibi mau masak apa? Biar aja Maisya bantu gapapa kok!”
Dengan begitu Marni pun membiarkan Maisya melakukannya. Memang kalau dalam keahlian memasak dirinya sudah bisa mendapatkan juara. Selain pintar Maisya juga sangat berbakat dalam hal memasak.
“Bi, kapan bibi nikah?” tanya Maisya membuka suara.
“lima tahun yang lalu, memang kenapa? Non mau nikah juga?” Seloroh Marni.
Pipi Maisya bersemu merah mendengar pengakuan dari Marni.
“Ih Bibi! Mana mungkin lah.” Ujar Maisya malu-malu.
“Bi, kalau kita nikah memang kita gak boleh kerja ya?” ucap Maisya melontarkan pertanyaan.
“Siapa bilang? Enggak tuh, nyatanya banyak wanita karier yang sukses walaupun sudah bersuami. Hanya saja balik ke diri sendiri, harus bisa membagi waktu antara anak, suami dan pekerjaan!” jelas Marni
“Terus Bibi kenapa kerja di sini? Apa bibi gak kangen keluarga?” tanya Maisya dengan polos.
Sungguh Marni sangat mengerti ucapan dari Maisya. Dirinya juga merasa ini sudah jalan dan takdir hidupnya. Meninggalkan anak demi untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Bibi kan beda. Walaupun bibi di sini komunikasi tetap ada. Lagian suami bibi juga kasih untuk bibi kerja di sini!”
“Jadi kalau suami gak izinin kita gak boleh kerja?”
“Iya gak boleh lah. Kan semenjak kita udah sah menjadi milik orang lain. Sekarang surga perempuan adalah suaminya. Jika sang suami tak beri izin tentu saja sudah melanggar surganya!”
Maisya mengangguk paham mendengar ucapan dari Marni. Teringat waktu itu ucapan dari sang Ayah tak mengizinkan Ibunya pergi untuk bekerja di luar kota.
“Buk, sampai kapan ‘pun bapak tak mengizinkan Ibuk pergi! Biar bapak yang memenuhi tanggung jawab kalian. Jaga lah anak-anak di rumah penuhi tanggung jawab sebagai ibu yang baik untuk anak-anak kita!”
“Tapi pak kondisi kita ini semakin memprihatinkan. Biar lah aku ikut membantu kamu dalam memenuhi kebutuhan kita!”
“Enggak akan buk! Bapak tetap gak bakalan izinin bagaimana pun ibuk adalah tanggung jawab bapak! Akan bapak lakukan apa saja demi keluarga kita.”
Sungguh ibunya sangat mulia tak ingin sekali pun ia membantah ucapan suami. Dirinya malahan semakin gencar membantu sang suami menaikkan derajat keluarganya bekerja di sawah.
‘”Sudah siap potongan bawang-Nya?” suara Marni mengagetkannya dari melamunnya.
“Eh iya Bi, nih udah selesai kok.” Maisya menyerah potongan bawang kepada Marni.
“Oh ya Bi, kapan tante pulang?” tanya Maisya lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 07.25 WIB.
“Sebentar lagi juga pasti pulang kok! Kamu rindu sekali dengan nyonya ya?”
“Sangat!”
Maisya mengangguk sekarang Amy baginya adalah ibunya sendiri. Maisya sangat berharap dengan segera dapat bertemu Amy. Baru sebentar saja tak jumpa entah kenapa sosok Amy sangat di rindukannya.
“Assalamualaikum.... “
Suara Amy seperti memberi energi sendiri bagi Maisya dengan cepat dia berlari ke pelukan Amy.
“Tante lama sekali. Mesya sedari tadi sudah menunggu tante!”
Amy tertawa kecil mendengar aduan putri kecilnya tersebut. Sangat bahagia di sambut hangat oleh Maisya. Allah masih belum menjawab doanya untuk memberikan momongan terhadap dirinya. Tapi dengan begitu Maisya sedikit mengobati ke terpuruk kan Amy yang selalu mengidam-idamkan seorang anak.
“Sepertinya ada yang merindukan ku nih?” sindir Amy.
“Hayo tebak tante belikan apa buat kamu?”
Maisya berpikir-pikir dalam hatinya apa yang akan di berikan tantenya. Berulang kali dia menebak akhirnya dia menyerah.
“Jeng ... Jeng ... Jeng. Baguskan?”
Maisya sungguh tak menyangka di beri kejutan semewah ini. Telepon yang selalu di inginkannya sedari dulu. Akhirnya sekarang dia mendapatkannya.
“Serius-an ini buat Maisya?” tanya Maisya dengan tak percaya.
“Iya ini untuk Maisya, gunakan lah untuk belajar ya sayang!” Amy mengelus pucuk kepala Aira dengan lembut. Bagi Amy kedatangan Maisya sungguh bahagia tersendiri baginya.
Maisya memeluk erat Amy sebagai ucapan terima kasihnya.
“Terima kasih banyak tante gak menyangka Mesya dapat hadiah seperti ini.”
Setetes air matanya jatuh karena sangat terharu oleh hadiah yang di berikan oleh Amy.
“Ayo makan Bi! Maisya udah siapkan masakan untuk bibi!”
Dengan girang Maisya menarik Amy ke meja makan. Amy tampak terkagum-kagum dengan makanan yang ada di meja. Dirinya sangat senang di beri hadiah seperti ini.
“Ayo Tante di coba! Ini kami berdua dengan bibi yang buat!” Maisya tersenyum dengan semringah
“Bener ini kamu yang masak?” tanya Amy tak percaya setelah mencicipi masakan tersebut.
“Memang kenapa? Gak enak ya tante, maaf!” Maisya menundukkan kepalanya.
“Tentu saja rasanya sangat enak,”
Maisya sangat tak percaya masakannya di puji seperti ini.
“Benarkah tante?”
“Iya!”
“Dia sangat mengkhawatirkan nyonya, sedari tadi terus menanyakan keberadaan nyonya,”
Maisya tersenyum malu saat di pandangi oleh Amy.
“Ayo sini sayang! Kita makan,” ajak Amy kepada Maisya yang masih berdiri.
Ketiganya pun terlarut dalam obrolan hangat mereka.