“Duar!” Suara ledakan tersebut mengagetkanku dari tidurku.
Aku segera terbangun dari posisi tersebut. Aku menatap Tante Amy yang sudah di luar mobil. Aku menurunkan kaca mobil secara perlahan.
"Kenapa Tante?" tanyaku kebingungan.
"Turun sayang, mobilnya mengalami masalah!" suruh tante Amy.
Aku segera keluar dari mobil. Memperhatikan Tante Amy.
"Iya Pak, bannya meledak pak, segera datang ke sini ya," ujar tante Amy dengan seseorang di balik telepon.
"Tante bagaimana kita memperbaiki bannya? Sedangkan jalanan sangat sepi," aku bertanya kepada Tante Amy.
"Tenang saja sebentar lagi montir akan datang ke sini, kita duduk dulu cari tempat yang teduh."
Sepuluh melangkah dari posisi tersebut, terlihat warung yang masih buka.
"Assalamualaikum Mbak, mau pesan apa?" ucap ramah sang pemilik warung.
"Air dingin satu ya kak, Aira mau apa?"
"Mau air dingin juga Tante,"
Setengah botol minuman sudah habis ku teguk,
"Dari mana Mbak?" tanya sang pemilik warung.
"Dari sekolahan ponakan saya, tiba-tiba saja ban yang kami mengalami masalah. Montirnya sedang menuju perjalanan kemari!" jelas Tante Amy.
"Saya pikir warga di sini toh, pantesan tak pernah terlihat," ucapnya dengan tersenyum.
Wanita yang di depan kami ini di ketahu-i bernama Sarah,
"Buk, sudah berapa lama jualan di sini?" tanyaku,
"Sudah lama juga, saat pertama nikah langsung ke sini. Ikut suami kerja, tahu sendirilah kalau udah di kota besar kayak gini. Hidup juga susah jadi mau tak mau harus menyicil pekerjaan kayak gini lah," ucapnya tanpa rasa malu.
"Kalau boleh tahu, suami ibuk kerja apa ya?" tanyaku semakin penasaran.
"Suami saya pengangguran sudah dua bulan ini masih duduk di rumah. Jadi saya tulang punggung keluarga yang membiayai untuk hidup anak-anak saya,"
Aku sedikit terharu mendengarnya, sungguh malang tak semua orang di kota besar hidupnya enak. Dulu aku berpikir bahwa orang kota itu orang yang kaya, orang yang sukses, orang yang banyak duit. Namun, kali ini semua terbantahkan oleh kenyataan yang ada. Bahkan di desa lebih mudah hidup dari pada di kota besar ini.
"Maafkan keponakan saya jika menyinggung ya mbak," ucap Tante dengan tersenyum.
Tiba-tiba telepon Tante Amy berdering.
"Waalaikumsalam, oke tunggu ya pak. Saya akan segera ke sana!" jawab Tante Amy dengan seseorang yang di balik telepon.
"Ahh, maaf sekali lagi mbak. Kami harus segera pamit. Mobil kami sudah siap di perbaiki."
"Terima kasih ya Buk, semoga keadaan suami ibu semakin membaik ya," tuturku kepadanya.
"Amiin, terima kasih banyak ya Nak!" ucapnya.
Kami kembali menuju mobil yang masih terparkir di tempat yang sama. Terlihat seseorang berbaju biru sedang berada di mobil kami.
"Bagaimana pak? Apakah ada masalah lain?" tanya Tante Amy kepada sang montir.
"Tidak ada masalah serius sudah memang waktunya untuk ganti yang baru Nona," ujar sang montir.
Tante merogoh uang di kantongnya, memberi kepada sang montir.
"Terima kasih pak." Ucap Tante Amy.
Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan. Aku masih memikirkan wanita di warung tadi.
"Tante kasihan banget ya lihat orang tadi. Suaminya pengangguran dan dia yang menjadi tulang punggung keluarga untuk makan dan membiayai anaknya," ucapku kepada Tante Amy.
"Ya, apa yang terjadi akan terjadi tak ada yang dapat menolaknya. Memang sungguh pada posisi tersebut kita merasa sangat sedih. Tapi kalau kita jalani beban itu pub seakan mengajak kita untuk berusaha lebih giat lagi."
"Tapi Tante Amy, banyak orang yang mengeluh tak banyak dari itu juga sampai rela membuat dirinya menjadi hina!"
"Ya maka sedari itulah kita harus bersyukur, jangan pernah membandingkan apa yang di punya orang lain. Sebab itu lah kita harus bersyukur dari atas ke bawah."
Ucapan Tante Amy menimbul pertanyaan yang tak kupaham.
"Dari atas ke bawah? Maksudnya?" tanyaku lagi.
“Maksudnya seperti ini, alhamdulillah aku udah bisa pakai mobil dari pada naik motor, begitu juga orang yang naik motor. Alhamdulillah dong aku bisa naik motor dari pada dia naik sepeda. Begitu juga orang yang naik sepeda, alhamdulillah dong aku naik sepeda dari pada jalan kaki. Begitu juga sebaliknya yang jalan kaki dari pada yang gak ada kaki. Begitu juga sampai seterusnya. Seandainya kita bersyukur dari bawah ke atas kita tidak akan pernah bersyukur,” Tutur Tante Amy.
“Ah baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin Tan!” ucapku dengan semangat.
Tak lama mobil yang kami tumpangi ‘pun sampai di pekarangan rumah.
“Sayang mandilah! Jangan lupa salat, kalau sudah salat turun lah, kita makan dulu!” perintah Tante Amy.
Aku mengangguk berjalan menuju kamar. Setelah mandi dan salat aku kembali ke bawah menuju tempat makan.
“Assalamualaikum Tante,” salamku,
“Waalaikumsalam, sini sayang duduk!” ajaknya
“Oh ya Tante, kapan om pulang dari Aceh?”
“Minggu depan, soalnya ada beberapa kendala yang harus segera di bereskan,” jawab Tante Amy.
“Iya Tante, aku masuk ke dalam dulu ya.” Pamitku ketika makan ku sudah habis tak bersisa.
Kembali aku membuka buku, membaca kembali buku yang sudah di pelajari tadi. Hari semakin larut mataku semakin terasa mengantuk, ku ambil bantal dan kemudian aku rebahkan diriku.
???
Alarm HP-ku berbunyi bersamaan dengan suara azan berkumandang. Setelah itu aku bersiap untuk melaksanakan salat. Bersamaan dengan beriringnya waktu berjalan tak terasa hari sudah hampir terang aku segera bersiap-siap memakai seragam sekolah ku.
Dengan bersenandung riang aku menyelesaikan diriku.
“Ya Allah semoga hari ini engkau memberiku kemudahan. Cintamu selalu ku nantikan aku selalu menyayangimu. Dengan rasa kasihmu yang maha besar lindungilah ibu dan bapak yang jauh dariku sesungguhnya engkau maha tempat peminta terbaik,” ucapku dengan berbisik, ku usap wajahku dengan kedua tangan sambil berkata “Amiin.”
Tampak tante Amy sudah duduk di meja makan. Dirinya menatapku dengan senyum indahnya tak dapat aku menolak senyumnya aku membalasnya dengan tersenyum pula.
“Selamat pagi, sayang,” sapanya ketika diriku sudah mendekat ke arahnya.
“Pagi Tante, bagaimana tidur tante semalam nyenyakkah?” tanyaku sekedar berbasa-basi.
“Kurang menyenangkan ya?”
“Ye begitulah,”
Aku mengambil beberapa potongan roti dan menaruh selainya ke atas ke permukaan roti. Tak lupa ucapan basmalah aku ucapkan pelan sebelum melahapnya. Sekarang aku sudah harus membiasakan diri untuk pola kehidupan seperti ini, karena aku tak ingin selalu merepotkan Tante yang sudah baik kepadaku.
“Cus berangkat!” ajaknya mendahuluiku, aku hanya mengekor bagaikan anak di belakangnya.
Jalanan masih terlihat begitu lenggang. Mulutku selalu mengucap syukur atas kenikmatan yang selalu di berikan Allah kepada makhluk hidup di dunia ini. Entah sebesar apa untuk mengukurnya masih saja banyak yang sering mengeluh karena merasa tak adil. Mereka itu hanya butuh sabar dalam menghadapinya.
“Oh ya, nanti mau ke butik gak?” tanya tante Amy, membuka obrolan yang tampak sepi.
“Enggak deh tante, kayaknya Mesya di rumah aja. Kalau memang Mesya berubah pikiran nanti Mesya kabari tante aja.”
Setelah sampai di depan sekolah aku langsung terus tak lupa untuk sekedar mencium tangan tante Amy.
“Belajar yang rajin ya sayang!” ucapnya ramah dengan mengelus kepalaku.
Aku berjalan di koridor sekolah tampak para siswa mulai berdatangan.
“Hai Maisya, cantik bener deh. Lagi sendirian aja nih!” goda seorang lelaki dengan wajah yang tirus, rupanya sangat menawan. Aku menatapnya jengah entah apa yang dia pikirkan dengan bodohnya menggodaku di tempat keramaian. Tentu saja kami menjadi tatapan para siswa.
Aku sudah tampak risi dengan tatapan mereka dengan tak sopan aku berucap. “Kak pergilah jangan ganggu aku! Aku bahkan tak mengenalmu!” aku berlalu meninggalkannya berjalan dengan gontai.
“Kau akan mengenalku saat kita sudah berkenalan lebih dekat lagi Maisya. Aku sangat suka cewek yang jutek,” ledek laki-laki tersebut.
Aku sangat geram kepadanya bukannya mengerti ucapanku malah semakin gencar mengejarku.
“Pergilah kak, aku sedang terburu-buru.” Suruhku,
“Aku akan pergi setelah berkenalan dengan mu!” paksanya dengan senyum semringah. Aku yang menatapnya menjadi merinding. Wajah di bilang cukup oke tapi masalah attitude masih sangat jauh di bawah rata-rata.
Aku membalik badan menatapnya, “ Namaku Maisya Az Zahra mungkin kakak sudah tahu kan. Aku kelas sebelas Ipa satu, sudahkan sekarang biarkan aku pergi!” aku berjalan membelakanginya.
“Tunggu dulu!” ia menarik tanganku,
Dengan geram aku menghempaskan tangannya.
“Apakah kau sudah punya pacar?” tanya langsung.
Aku membuang nafas kasar terhadap lelaki tak tahu malu ini.
Fano lebih sopan darimu, ck ck sungguh tak beretika.
Aku sungguh tak suka dengan orang yang terlalu terobsesi dengan masalah pribadiku.
“Aku tak punya pacar dan tak ingin pacaran. Kalau begitu aku pamit dulu. Assalamualaikum.”
Aku berjalan terburu-buru meninggalkannya, sungguh sikapnya sangat menjengkelkan. Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan Intan dan Dinda. Aku menemukannya di sudut paling belakang bersama beberapa teman yang lainnya begitu tampak fokus.
Mereka lagi apa ya? Kayaknya lagi serius banget.
Aku berjalan menghampiri mereka. Seekor burung nuri berwarna merah mencolok sangat memikat hati, kepalanya sedikit bercak berwarna hitam.
Ini burung siapa ya? Kenapa bisa di sini!
Aku sangat bingung siapa yang beraninya membawa burung ke sekolah.
“Assalamualaikum semuanya,”
Mereka menoleh ke arahku dengan kompak menjawab salam ku.
“Lagi lihat apa sih?”
“Lagi lihat atraksi sirkus.” Semuanya tertawa mendengar pernyataan Intan. Aku menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal.
“E-eh maksudnya ini burung apa?” tanyaku mengulang pertanyaanku lagi.
“Burung Fano.” Jawab Dinda.
“Lah memangnya bawa burung sekolah gak kena marah guru nantinya?”
“Bawa gajah ke sekolah ini juga gapapa lagian tak ada larangan toh,” timpal Ketrin yang sedang berada di situ.
Aku tampak terkejut, sekolah ini berarti sangat hebat ya.” Ucapku antusias.
“Hahaha....” mereka semua tertawa. Aku sama sekali tak tahu apa yang mereka tertawakan.
“Ya kali Maisya! Lagian polos amat sih. Ya suka-suka Fano lah orang dia pemilik sekolah ya jadi terserah dia aja!”
“MINGGIR!”
Kami menoleh ternyata yang bersuara adalah Fano. Dia berjalan membelah kerumunan.
“Apa yang kalian lakukan. Menjauhlah dari Lili. Jangan ganggu nanti dia tertular virus yang di badan kalian.”
Aku menatap Fano jengah. Dasar anak ini sungguh semena-mena terhadap sekolah ini.
“Gak jelas banget ih,” gerutuku kesal.
“Balik! Balik! Sana jangan ganggu burungku.” Usirnya kepada kami.
“Lagian burungmu masih di sana kan berarti dia sudah tak apa-apa kan!” Dinda berucap dengan kesal di perhatikan dari wajahnya yang banyak mengalami kerutan.
Semua orang yang ada di situ membubarkan diri tak terkecuali aku. Sebelum masuk kami menyempatkan
“Kalian bisa bantu aku gak?” ucap Dinda dengan memelas.
“Mau bantu apa?” tanya Intan.
“Bentar lagi perayaan ulang tahun Delvan. Kayaknya kali ini aku akan merayakannya. Bisa gak kalian bantu aku mendekorasi ruangannya?” Pinta Dinda dengan sedikit memohon.
“Aku sih fine aja. Tanya sama Maisya nya aja kalau mau mah gapapa. Nanti sepulang sekolah langsung otewe.” Jawab Intan.
“Aku gak bisa janji ya. Soalnya aku harus minta izin sama tante Amy dulu takutnya entar dia ke cari ‘an.”
“Ya gak seru dong. Pleas ya kamu ikut.” Dinda memegang kedua tanganku dengan memohon.
Aku sangat tak tega apabila melihat Dinda begitu. “ Aku ikut tapi aku harus izin dulu ke tante Amy ya!”
Dinda tersenyum lagi ke arahku, “ Okey sepulang sekolah kita langsung berangkat naik mobilku aja. Nanti di antar in sama bang Maman.”
“Oh ya Delvan siapa?” aku bertanya memang tak tahu siapa yang akan ulang tahun.
Mereka berdua tampak menepuk jidatnya.
“Delvan itu adik aku usianya sekarang 13 tahun. Jadi lusa adalah ulang tahunnya. Kali ini aku mau buat surprise untuk adik bungsuku!”
Aku mengangguk paham bahwa Delvan adalah adik kandung Dinda. Tapi yang terpenting bagaimana ya caraku meminta izin dengan tante Amy.
Huh, semoga aja tante Amy izin-in.
Tak lama pelajaran pun di mulai. Pelajaran pertama yaitu biologi tentang kerangka pada tubuh manusia. Beberapa juga di jelaskan tentang bagaimana sistem kerangka bekerja. Pelajaran yang kedua adalah matematika tentang kelanjutan dari algoritma. Pada pelajaran terakhir adalah pelajaran agama guru yang satu ini lebih suka bercerita dari pada mengambil pelajaran yang ada di buku, tetapi tidak jauh dari konsep yang ada. Semua ku lewati tampak menyenangkan tidak ada bagian satu ‘pun yang tak aku sukai.
“Dinda,” panggil Fano datar.
“Apaan?” jawab Dinda malas,
“Kalian mau ke mana aku ikut ya!” tawarnya,
Sontak kami bertiga aku, Dinda dan Intan tertawa terbahak-bahak.
“Ga punya harga diri lagi bang?” sindir Intan,
Fano menatap kami dengan tajam. “Yaudah lah biar in aja dia ikut toh lagian dari pada dia buat macam-macam nantinya,” timpalku dengan menyudahi tawa.
Kami berempat berjalan ke arah depan gerbang. Bagaikan selebriti semua pandangan mengarah ke kami. Aku menatap teman-teman ku yang tampak santai tapi tidak denganku yang sangat risih dengan tatapan mereka. Ada juga yang terang-terangan mengatakan tentang kami.
“Wah mulutnya butuh di sumpal tuh. Ga punya otak apa!” ucap Intan kesal terhadap siswi di belakang kami.
“Woi kalau punya mulut di jaga!” teriak Intan marah.
“Halah, kalian aja yang ganjen dasar murahan.” Ucap wanita yang bertubuh bak bagai gitar Spanyol.
“Udah yuk, malu di lihatin sama orang. Abaikan aja!”
Aku menarik tangan Intan kalau tidak masalah akan menjadi panjang. Sungguh wanita tersebut tak ada sopan santunnya kepada kakak kelas. Huh, beda saat dulu waktu sekolahku. Lihat kakak kelas aja kadang kayak monster bahkan sampai harus rela putar balik supaya tidak ketemu dengan kakak kelas.
Zaman sekarang adap sudah makin berkurang! Ujarku dalam hati.