Masih pada hari yang sama. Aku kembali ke kasur ku, mencoba memejamkan mata ku berharap bisa tidur sampai menunggu matahari sudah di atas ubun-ubun. Nyata nya tidak sudah hampir 20 menit ku paksakan tak bisa aku memejam kan mata ku.
Aku mencoba berkali-kali memejamkan mataku namun sampai saat ini aku belum juga masuk ke dalam dunia fantasi ku, akhirnya aku memutuskan untuk turun ke bawah.
Matahari telah menampakkan dirinya, aku berjalan ke luar rumah menghirup udara segar. Kicauan burung terdengar di telinga ku. Bau tanah masuk memalui indra penciuman ku akibat dari embun, dan mata ku memperhatikan bunga di taman tersebut. Cantik dan indah.
Kulihat seorang lelaki seusia ayah ku sudah siap dengan baju yang ia kena kan. Siap akan menjalani tugas nya sebagai keamanan rumah.
" Assalamualaikum, Pagi pak." sapa ku kepada nya.
" Waalaikumsalam ,Pagi Non, siapa namanya?" tanyanya dengan ramah.
"Maisya pak, udah sarapan?" tanya ku,
"udah non." jawabnya.
"Udah berapa lama pak kerja disini?" tanya ku sebagai basa basi.
"udah lima tahunan lah non, oh ya kalau boleh tahu siapanya nyonya ya?" tanyanya dengan sedikit penasaran.
"Keponakannya pak."
"Oh pantas baru liat, Non cantik juga ya," ujarnya memuji ku,
"Ah pak, bisa aja." aku malu-malu mendengar penuturannya. "Ya udah pak aku masuk dulu ya...." pamit ku kepadanya.
"Assalamualaikum," salam ku.
"Waalaikumsalam." terdengar suara nya samar-samar karena aku sudah beranjak jauh dari tempatnya.
"Bi, boleh gak biar aku yang siram tanaman?" tanya ku saat aku memerhatikan ia menyiram tanaman
"Tapi itu udah tugas nya bibi, Maisya," ucapnya menolak permintaanku.
"Tapi Bi, Mesya bosan ... " ucap ku dengan malas
"Iya Tapi kan -- " ucapannya terpotong saat Tante Amy memanggil ku.
"Maisya...." panggil nya,
" Iya Tan ada apa?” Aku menoleh ke arahnya.
"Di cari in dari tadi malah main disini." Ucap nya dengan menggeleng geleng kan kepala.
"Habis nya Mesya bosan di dalam, gak ada aktivitas maka nya Mesya di sini," balas ku dengan senyuman.
"Ayo masuk sarapan dulu, om sudah tunggu di meja makan." Aku mengangguk pasrah.
"Hari ini Bibi boleh melakukan kegiatan ini, tapi besok-besok Mesya yang akan lakuin!" sebelum itu aku mengedipkan sebelah mata ku kepadanya, dan menunjukkan senyum devil ku dan alhasil....
“Awww....” pekikku.
Kali ini kepalaku jadi sasaran tembok yang sudah berdiri di sana. Aku memukul kembali tembok karena kesal.
Aku melangkah kan kaki ku ke dalam, menuju ruang makan.
"Assalamualaikum om, " salam ku dengan raut wajah yang sangat senang.
"Waalaikumsalam" jawabnya dengan melihat ke datangan ku. Aku langsung menyalami tangannya.
"Wah sudah besar ya Maisya" ujarnya.
"Iyalah om kan Mesya, makan gak mungkin dung kecil-kecil terus!" jawab ku spontan. Ucapan ku tersebut mendatang kan tawa mereka, aku juga ikut tersenyum.
"Ada-ada aja kamu ini, oh ya kapan masuk sekolahnya?" tanya nya lagi.
"Lusa, soal nya di surat tertera hari Senin," ucap ku.
"Tan, gak ada nasi?" tanya ku mencari-cari benda putih tersebut.
"Oh kamu mau nasi? sebentar lagi di buat in sama bibi." jawab nya.
"belum ada ya, yaudah Gapapa makan roti aja untuk ganjal perut" jawab ku polos
"Oh ya sebentar lagi Tante mau ke butik kamu mau ikut tidak?" tanya nya kepada ku.
"Mau Tan, bosan juga di rumah tak ada kegiatan," ucap ku.
Om berdiri dari bangku nya, "Om berangkat deluan ya, jangan nakal!" ucapnya memperingati.
Aku menyalami tangannya, dan mengangguk mengerti dan kemudian ia tak lupa pula menyalami dan mencium kening sang istri. Aku yang duduk di situ senyum sendiri romantis sekali mereka.
"Jam berapa pulang Mas?" tanya sang istri kepada si suami,
"Lembur sepertinya sayang," jawab si suami terlihat perubahan wajah sang istri.
"Akan aku usaha kan pulang awal." jawabnya lagi untuk menyenang kan hati istrinya tersebut. Setelah itu ia pergi menghilang.
"Tante ke kamar dulu ya, sebentar lagi kita berangkat!" ujarnya meninggal kan ku sendiri di meja makan, aku mengangguk setuju.
"Apa semua orang kaya sarapan nya kayak gini ya, gak kenyang lagi," aku bertanya pada diri ku sendiri. Aku mengambil satu roti lagi ku oles kan selai coklat aku lahap untuk ke dua kali nya, setelah itu aku meminum s**u tersebut.
Aku memberes kan meja tersebut. Meletak kan piring kotor ke tempat nya. "Loh kenapa non yang beresin." ucap Bi saat aku berada di dapur dengan tangan kotor di tangan ku.
"Iya gapapa Bi, kan gak ngerepotin," jawab ku.
"Tapih kan itu udah tugas bibi!" ucap nya lagi.
"Saling membantu tak ada salah nya!" tukas ku, ia tak menjawab apa pun lagi, memang aku ini sedikit keras kepala.
Setelah itu aku berjalan menuju kamar ku, mengganti pakaian ku, hari ini aku mengenakan baju gamis dan hijab besar ku.
Aku melihat diri ku di cermin.
"Lama-lama aku makin jelek kalau setiap hari harus melihat diri ku" ujar ku kesal, banyak yang bilang cantik tapi menurut ku biasa aja. kulihat putih, wajah bersih mata hitam, bulu mata lentik alis tebal dan gigi gingsul serta lesung pipi terlihat saat tersenyum.
Setelah itu aku turun ke bawah untuk menemui Tante Amy.
"Ayo Tan," ucap ku dengan semangat.
ia mencubit pipi ku, "Keponakan tante cantik banget sih" pujinya kepada ku.
"Iya kan udah dari lahir memang cantik tante" jawab ku.
"oh ya Tante mau bilang kita akan pulang malam, lebih baik bawa barang kamu yang di perlu kan" ucapnya.
Aku segera berlari ke kamar. Ku ambil tas kumasukkan baju santai dan tak lupa juga mukena dan sajadah. Setelah itu aku turun lagi.
Mobil pun berjalan menembus satu persatu jalanan yang begitu macet. Gedung tinggi menjulang terlihat sangat indah, Cafe yang tersusun rapi dan segerombolan anak muda yang sedang menikmati kopi nya, terlihat juga beberapa orang pejalan kaki. Walaupun di kampung tak ada pemandangan seperti ini namun masih sangat asri tidak seperti disini, jarang sekali ku temui pepohonan.
Tak lama kemudian kami sampai di sebuah toko butik nya Tante.
Terlihat beberapa hasil rancangan Tante, begitu mewah. Aku masuk memperhatikan sekitar toko tak jarang ku sapa para pekerja tersebut.
"Nyonya sebentar lagi keluarga Adi bakalan datang, katanya mau fiting baju." ucap salah satu pekerja butik tersebut, dia cowok namun dari bahasa dan ucapannya seperti cewek.
Bisa dikata kan ia b*****g. Memang sungguh dunia mau akhir zaman.
"Halo adik cantik," sapanya kepada ku dengan gaya gemulainya.
"Halo om.” balas ku tersenyum kikuk.
"Jangan panggil om panggil ekeh Miss ya!" ucap nya memegang dagu ku.
aku bergidik ngeri saat ia memegang dagu ku, aku cuma senyum agar sopan kepada yang lebih tua.
"Nyonya itu anak siapa dibawa kemari?" tanyanya kepada Tante Amy sesekali melirik ku.
"Keponakan ku dari kampung ia akan sekolah disini makanya dia tinggal bersama ku," ucap Tante Amy kepada cowok yang ingin disebut Miss
Tak berapa lama kemudian datang segerombolan orang katanya yang mau cari baju pengantin. Setelah berbincang-bincang mereka di suruh mencoba baju pengantin nya.
Aku hanya melihat dari jauh.
"Maisya, kesini dulu!" panggil Tante
"Ada apa tante?" tanya ku sedikit malu karena para tamu melihat ke arah ku.
"Bantu pengantinnya pakai baju ya," pinta nya kepada ku , aku menyetujui nya.
Saat masuk ke dalam terlihat seorang wanita muda sedang kesulitan memakai gaun nya.
"Assalamualaikum kak." ucap ku sebelum masuk ke dalam ruang ganti tersebut.
"Waalaikumsalam," jawab nya saat menyadari bahwa aku di belakang nya.
"Mau di bantu kak?" tanya ku lagi, ia mengangguk kan kepalanya berarti dia setuju dengan bantuan ku.
Saat ingin mengancing bajunya, aku tak sampai tak habis akal aku ambil bangku agar sampai.
terlihat aku dan ia di pantulan cermin tersebut.
"Kenapa gak mau di bantu sama Miss aja?" tanya ku.
"Antara geli sama takut sih." jawabnya jujur
aku hanya mengangguk sebenarnya sih aku juga begitu.
"Ada yang perlu di bantu lagi kak ?" tanya ku
"Enggak dek, makasih ya." ucapannya ke pada ku.
setelah itu aku keluar menuju tempat duduk semula. mereka cuma berenam yang mana tiga orang cowok dan tiga orang cewek.
Masih saja mereka menatap ku, aku yang berada di sini terasa mengganggu. Aku berjalan meninggalkan tempat itu. Mencari suasana yang baru.
"Halo kak, nama nya siapa?" sapa ku ramah pada seorang kasir tersebut.
"Hay, Icha, nama kamu siapa?" tanya nya balik
"Maisya kak." jawab ku dengan wajah tersenyum ke arahnya.
“Aa dik, kamu sangat manis. Ada gerangan apa kemari?" tanya nya sedikit bingung.
"Oh ya kamu yang bareng Bu Amy tadi ya?" tanya nya lagi
"Bosan aja kak , maka nya kemari, kenal in kak aku keponakannya Tante Amy." ucap ku menjulur kan tangan ku.
ia membalas uluran tangan ku. "Icha, karyawannya Bu Amy." Jawab nya
Aku sedikit tertawa mendengar nya. Ya iya lah karyawan terus apa pembantu gitu.
"Maisya, ke sini sebentar!" panggil Tante Amy
Aku berjalan menuju tempat nya. Ku lihat pelanggan nya sudah berganti lagi.
"Udah siang sayang, kalau mau makan deluan aja jangan nungguin tante, oh ya ni uang boleh minta beli kan sama Icha!" ucap nya menyodor kan uang seratus ribu ke pada ku.
Aku berjalan menuju kasir lagi. Aku duduk di sampingnya.
"Kak udah makan belum?" tanya ku ber basa-basi
"Belum sih, memang kenapa?" tanya lagi kepada ku
"Maisya lapar kak, Tante Amy menyuruh kakak beli makanan nya, mumpung kakak belum makan gimana kalau kita beli bareng aja," ucap ku kepada nya
"To The poin aja Maisya, gak perlu pake basa basi segala." ucap nya dengan senyum mengejek.
Aku senyum cengengesan. "Mau pesan apa emangnya?" tanyanya saat HP berada di tangannya.
"Uang segini cukup beli nasi berapa?" tanya ku menyerahkan dua lembar uang ratusan tersebut kepadanya.
"5 cukup sekalian ongkir nya," ucapnya sedikit tak paham dengan ucapan nya tapi aku mengangguk
"Yaudah beli aja kak semua nya," ucap ku
"Mau makan semua nya?" tanyanya heran
"Gak lah kak, mana tahu ada karyawan yang belum makan kan boleh bagi-bagi." jawab ku untuk pertanyaannya.
ia mengetik kan sesuatu di atas layar Hp nya, setelah beberapa menit menunggu kenapa ia tak membeli nya.
"Kak beli dimanah?" tanya ku heran karena sampai sekarang ia belum beranjak dari tempat duduk nya, fokus kepada layar HP
"Di Go Foods." jawabnya, memperlihatkan HP nya kepadaku.
"Jauh gak dari sini, kapan kita belinya?" tanya ku lagi.
"Kita pesan Online, sebentar lagi datang kok," jawabnya.
"Pesan Online kak?, memang yang anter makanannya siapa? jatuh dari langit? atau keluar dari HP?" tanya ku masih tidak mengerti dengan Online, karena di kampung ku kalau mau beli nasi ya ke kedai.
" Maisya kita pesan Online, kita tak perlu pergi ke tempat tersebut nanti kurir datang mengantarnya sesuai alamat yang di tuju," jelas nya kepada ku.
Aku mengerti. " Nanti bayar kurir nya lagi kak?" tanya ku lagi.
"Ongkirnya sudah di potong dari aplikasi tersebut, nanti kurir mendapat upah dari perusahaan tersebut," jelasnya lagi.
aku mengangguk sekarang aku sudah mengerti, wah memang canggih ya zaman sekarang tak perlu repot-repot lagi.
Tak berapa lama pesanan kami datang.
"Kak per kerja disini ada berapa orang?" tanya ku, kulihat hanya 5 kotak nasi yang tersedia.
"Banyak sih, soal nya pake sif gitu, kalau pagi sampai siang itu ada 4 doang itu termasuk si Miss." ujar nya mengingat ingat.
“Miss yang berbadan lentur itu?” tanyaku lagi. Kak Icha mengangguk.
"Oh yaudah kak kasi in aja nah nasi nya, masih anget juga entar kalau kelamaan keburu dingin jadinya," ucap ku.
Ia mengangguk paham dengan ucapan ku segera ia berjalan memberi nasi kepada karyawan tersebut. Saat menerima makanan tersebut beberapa karyawan tampak senyum kepada ku. Kemudian ia kembali ke tempatnya.
Aku segera menyantap makanan ku karena memang perut ku sudah terasa kosong, hanya terisi roti. Mungkin karena memang belum. Terbiasa kalau pagi tanpa nasi.
"Kak aku pamit dulu ya, udah azan mau Shalat dulu." ucap ku pamit ketika suara azan telah menggema di telinga ku.
ia mengangguk kan kepala nya, setelah itu aku pergi meninggalkan nya.
"Tante!" panggil ku di sela-sela ia sibuk dengan baju-baju di depan nya.
"Iya ada apa, udah makankan?" tanya nya
Aku mengangguk kan kepala ku bertanda aku telah makan. " Tan, kamar mandi dimanah ya?" tanya ku lagi, karena sedari tadi aku tak tahu di mana keberadaannya
"lurus aja dari sini ada belok kan kanan masuk aja ada ruangan disitu." ucap nya.
Iya memberi ku kunci, sesegera mungkin aku mengambil kunci tersebut kemudian aku mengambil tas yang kubawa tadi yang ku letak di pinggir dinding dekat kamar ganti.
kemudian aku berjalan dengan menelusuri tempat yang telah di beri tahu.
"ceklek"
kubuka pintu tersebut, takjub nuansa putih bercampur emas mengesankan kamar tersebut bersih dan mewah. Tak menyangka bahwa di butik ini juga terdapat kamar desain yang begitu unik, aku meletakkan tas ku dan berganti pakaian. setelah itu aku mengambil wudu dan segera melaksana kan Shalat ku.
Setelah itu aku naik ke ranjang tersebut rasa nya begitu empuk, entah kenapa mata ku rasa nya sangat berat. Akhir nya aku melabuh kan kepala ku kepada bantal tersebut dan sampai akhir nya aku tak sadar kan diri.
Aku terbangun saat seseorang mengelus kepala ku, kulihat Tante Amy sudah di depan ku.
"Eh tante, maaf aku ketiduran," ucap ku lirih dengan masih memupuk seluruh kesadaran ku.
"Tak apa tante juga sudah selesai, jadi kita boleh pulang!" ucapnya tersenyum.
Aku bangun dari tempat tidur dan langsung mencuci wajah ku dan menyiap kan semua barang-barang ku karena kami akan pulang kerumah.