Yes, Masuk Sekolah!

2120 Words
Hari berganti begitu cepat tak terasa dua hari telah berlalu. Akhirnya hari yang ku tunggu sekarang tiba juga, pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan seragam sekolah. Aku menyusuri anak tangga satu persatu, melangkahman kaki ku dengan senang. Di meja makan terlihat Tante dan Om sudah hadir di sana, "Assalamualaikum," salamku dengan wajah tersenyum kala telah berada di sekitar meja makan "Waalaikumsalam," jawab mereka kompak. "Wah bahagia banget kayak nya nih, " goda om yang sedari tadi memperhatikan ku. "Ya jelaslah om, sekarang kan hari pertama masuk sekolah ada sedikit rasa takut juga sih" ucap ku, aku meletak kan nasi ke dalam piring ku. Sudah 3 hari aku disini namun belum terbiasa dengan-dengan sarapan roti, aku masih meminta nasi karena memang tak kenyang jika hanya makan roti saja. "Om berangkat dulu ya, nanti di antar sama tante Amy aja." Ucap nya menyodor kan tangan nya, aku menerima uluran tangan nya dan mencium nya. Ia mengelus kepala ku sebelum pergi menjauh dari hadapan ku. "Tante Mesya masih takut...." ucap ku gugup saat diri ku berada di dalam mobil. "Gapapa sayang, ini nama nya pengalaman baru kamu, pakai sabuk nya." Ucap nya setelah itu menyuruh untuk memakai sabuk nya, karena mobil nya akan berjalan. Tak lama kemudian mobil terhenti saat berada di depan gerbang sekolah. Ku lihat sekolah masih tampak sepi di karena kan, aku datang terlalu pagi. Ini akibat aku terlalu bersemangat sekolah. "Tan, Mesya -- " ucap ku masih terpotong tangan ku dingin karena masih takut, aku belum terlalu mengenal lingkungan ini. "Jangan takut untuk mencoba sesuatu, semangat sekolah nya. Nanti kalau sudah pulang telepon saja ya." Ucap nya mengelus pipi ku. Setelah itu ia pergi meninggal kan ku yang masih mematung di sini. "Bismilah semoga lancar," ucap ku yakin. Dengan tubuh bergetar, dengan beraninya aku melangkah kan kaki ku di koridor sekolah, mencari ruangan guru untuk menanyai di mana kelas ku. Walaupun sudah percaya diri tetap saja masih ada keraguan. Sesekali bibirku membentuk senyuman kala orang yang lewat menatap ku. Bangunan ini terlalu besar, kalau tak segera aku bertanya takutnya aku akan tersesat. Tekadku sudah bulat aku berani kan membuka suara. "Assalamualaikum, kak kalau boleh tahu kantor guru di mana ya?" tanya ku pada seorang perempuan yang tengah asyik memain kan ponsel nya. Setelah ia menjelaskan aku menyusuri jalan tersebut. "Naik ke lantai 3 aja kak, kalau ada simpang 4 belok kanan ya!" ujarnya, sebelum pergi aku tak lupa mengucapkan terima kasih. Kayak udah pasar aja pake ada persimpangan segala. Ujarku dalam hati. "Di lantai 3 ada belok kanan," ucap kuberusaha mengingat-ingat ucapan siswi tadi. "Alhamdulillah, udah ketemu!" ucap ku saat berada di depan ruangan tersebut. setelah itu aku bertanya kepada salah satu guru tersebut. " Assalamualaikum, Bu kalau boleh tahu meja Bu Anisa dimanah ya?" tanya ku sopan "Bu Anisa? Oh itu dia yang sedang menulis. Silakan datang aja ke mejanya," tunjuk nya kepada salah satu guru yang fokus pada lembaran buku yang menumpuk di depan nya. Setelah mengucap kan terima kasih, aku menuju ke meja tersebut. "Assalamualaikum Bu, saya Maisya Az Zahra murid yang mendapat beasiswa. " ucap ku saat duduk di depan nya. "Boleh isi dulu formulir ini!" pintanya kepadaku dan memberi selembar kertas, segera aku mengeluar kan pena ku. Setelah itu mengisi satu persatu biodata ku. Setelah selesai aku memulang kan kembali kertas tersebut. "Oh ya Bu kalau boleh tahu kelas saya di mana ya?" tanya ku kepada nya "IPA 1, ada di lantai 4," ujar nya. " Oh ya jam pelajaran pertama mereka Biologi, kamu boleh bareng Bu Nita." ujar nya "Bu Nita yang mana Bu?" tanya ku lagi "Buk Nita, kesini sebentar!" panggil nya, seseorang yang bernama Nita tersebut pun datang memenuhi panggilan nya. "Mau masuk ke 10 IPA satu kan?" tanya nya guru yang ber nama Nita tersebut pun mengangguk. "Ini siswa pindahan yang dapat beasiswa, tolong bawa dia sekalian!" titah nya kepada guru tersebut. Tak ada percakapan selama di jalan, hanya langkah kaki yang terdengar. Setelah itu ia masuk ke ruangan tersebut. "Pagi anak-anak!" semua siswa duduk ke bangku nya masing-masing. "Pagi Buk, ... " jawab mereka kompak. "Buk, bawa bidadari dari mana tuh." "Cantik banget." "MasyaAllah idaman banget." "Dih norak lu pada!" "Biasa aja tuh!" Sontak seluruh kelas menjadi riuh. Kaki ku bergetar kala guru tersebut meminta ku untuk memperkenalkan diri. "Hay semua nya, Assalamualaikum, nama ku Maisya Az Zahra kalian boleh apa saja, salken ya semua nya," ucap dengan sedikit bergetar. "Waalaikumsalam, salken juga Maisya." "Boleh duduk di samping Fano, yang di paling belakang." tunjuk Nya kepada siswa yang sedang tidur. "Kok bareng Fano si Bu!" "Ya jangan sama Fano lah Bu!" "Sini sama Abang aja," Gerutu para siswi perempuan tak suka. "Kalian guru atau saya!" tanya Bu Nita dengan meninggikan suara. "Ya tapi kan-" protes siswa tersebut terpotong. "Diam. Jangan memerintah saya! Atau saya akan menjemur kalian di luar!" Tegas Bu Nita. Aku tersenyum sedikit canggung. "Makasih Bu," ucapku berjalan menuju meja tersebut. "Oke anak-anak buka buku kalian, untuk kenalannya nanti aja pas istirahat!" tegas guru tersebut. Aneh selama pelajaran Fano tak memperhatikan namun aneh guru tersebut malah membiarkannya. Aku sedikit bingung, mungkin ia orang yang berkepentingan di sekolah ini. Setelah pelajaran berakhir banyak siswa laki-laki yang mendatangi ku, penuh ada yang minta no. Hp, what App, i********: ,tele dan lain-lain. "Bisa diam gak kalian?!" bentak laki-laki yang duduk dengan ku, sedikit terkejut. Semua yang ada disitu membubar kan diri. Aku lihat wajah nya Begitu tampan terlihat mata nya masih merah dan garis-garis di wajahnya karena mungkin tidur terlalu lama. "Maaf ya, karena aku tidur mu terganggu," ucap ku dengan meminta maaf. Ia tak bergeming lalu meninggal kan ku tanpa mengucap kan sepatah kata pun. Hanya aku yang tertinggal di kelas, aku membuka bekal yang kubawa, asyik menikmati makanan sambil melihat lihat interior sekolah begitu megah dan mewah. Dua siswa perempuan datang menuju ke arah ku, "Hai Maisya." sapa mereka. "Hai juga ... " jawab ku, aku menyimpan bekal ku ke laci meja tak enak ada orang yang ingin berkenalan. "Santai aja, kamu makan aja gapapa." ucap salah satu nya "Oh ya kenal in nama aku Dinda dan itu Intan," ia mengulur kan tangan nya dan aku membalas uluran tangan tersebut. , "Aku Maisya," jawab ku membalas uluran tangan nya. "Oh ya udah berapa lama tinggal di sini?” tanya kepadaku, "Barusan sih, terus kalian datang." jawabku kepada mereka, mendengar jawabanku membuat alis mereka berkerut. “Yah maksud nya pindah ke Jakarta kapan?” ucap Dinda dengan memperhatikanku sangat dalam. “Ah maaf, aku tak memperhatikan kalian ya baru tiga hari yang lalu sih,” ucapku dengan cengengesan. "Kalau mau aman jangan dekat-dekat deh sama teman samping lu itu bahaya!" ucap Intan memperingatiku. "Kenapa?" tanyaku dengan bahasa isyarat yaitu menaikkan ke dua belah bahuku. "Ya, kata nya sih dia tuh badboy banget orang nya hati-hati aja takut nya lu jadi sasaran nya." timpal si Dinda. Aku mengangguk meng iya kan ucapan mereka, setiap manusia punya baik buruk nya jadi mereka tak sepenuh nya salah tapi aku juga tak membenar kan nya. "Ya menurut gua sih lu sebaik nya jaga diri soal -- " ucapan Intan terhenti, saat aku mengisyaratkan untuk berhenti ngomong karena orang nya udah datang. Mereka segera membubarkan diri duduk ke tempat nya masing-masing. Aku tak melirik nya masih ada rasa waswas ketika di dekat nya. "Ga usah dingeri omongan orang, cukup Tuhan aja yang nilai manusia, manusia jangan!" ucap nya dingin dengan tatapan fokus ke Hp. Aku tak menjawab. sedikit rasa cemas ia bisa membaca pikiran seseorang. "Gua gak makan orang, jadi santai aja," ucap nya lagi, aku melihat ke arah nya sama sekali tak ada ekspresi dengan mata fokus ke Hp. Lagi-lagi ia tahu pikiran ku, wah seperti nya ia seorang. Aku meremas rokku. "Sebelum mau lanjut in pemikiran kotor tentang aku, lebih baik kau tenang. Dan gua bukan peramal!" ucap nya tegas. Wah benar-benar hebat seorang Fano bisa membaca pemikiran seseorang, seperti nya aku harus banyak belajar nih. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi menandakan semua siswa akan segera memulai pelajaran nya lagi. Ku lihat ia sedang asyik memain kan game di ponsel nya. Aku mau tegur tapi aku urungkan guru aja gak berani tegur apa lagi aku yang bukan siapa-siapa. Pelajaran demi pelajaran telah di lewati, bel pulang akan berbunyi. Guru telah meninggal kan kelas, akhir nya kelas ku kembali mulai riuh beda dengan seseorang yang di samping ku masih asyik memain kan benda pipih tersebut. "Minta nomor wa lu!" ucapnya dengan memaksa. "Aku gak punya HP, jadi Ngga ada no wa9" ucap ku seadanya. "zaman sekarang manusia gak ada hp gak mungkin aja!" ucap nya melirik tajam ke padaku. "Yaudah kalau tak percaya, aku juga tak meminta buat percaya!" ucap ku acuh. memang sedari tadi ia tak mengerti dengan teman satu bangku nya ini, sikap sesuka hati. Saat pelajaran main Hp terus buat apa datang ke sekolah umpat ku dalam hati "Udah jangan menyumpahi gua terus, bel udah bunyi tuh balik lu sana" usir nya diri ku saat bel sekolah telah berbunyi. Ih kok dia makin nyebelin ya, kenapa ia tahu kalau aku sedang mengumpat nya. Aku berjalan keluar menuruni satu per satu anak tangga setelah di halaman sekolah, kulihat siswa masih ramai berbondong-bondong meninggal kan aula sekolah. "Yaudah aku telepon tante dulu" ucap ku seraya mengambil Hp di dalam tas ku. "Assalamualaikum Tan, ini Mesya sekarang udah pulang sekolah tante lagi dimana?" tanya ku pada seseorang di seberang sana yang ribut dengan para tamu nya. "Nanti di jemput sama sopir aja ya, soal nya Tante lagi di butik rame banyak tamu" ucap nya dari seberang sana. Setelah itu aku mengucap salam sebelum sambungan telepon tersebut benar terputus. Sudah tiga puluh menit aku menunggu di sini, yang ku tunggu tak kunjung datang. Matahari sudah condong sekitar 40 derajat jam menunjukkan pukul setengah tiga. Aku sendirian disini tanpa seseorang pun yang menemani. Masih larut dalam lamunan ku sesaat kemudian klakson motor mengejut kan ku. Ia membuka kaca helm nya, menampakkan bola matanya. "Mau pulang bareng gak?" teriak nya dari jalanan tersebut, aku tak memedulikannya. aku pikir ia tak berbicara pada ku. "Hey, mau pulang bareng gak?" tanya nya lagi dengan sedikit keras. Aku menunjuk kan diri ku menggunakan tangan. "Ya iya lah kau siapa lagi, memang ada manusia disitu selain kau?" teriak nya dengan begitu kesal ia menggunakan tangan nya menutup kepala nya karena cahaya matahari benar-benar menusuk ke kulit rasa nya sangat panas lebih tepat nya tersengat sih. Baru saja aku mau menjawab, klakson mobil mengalih kan tatapan ku. Akhir nya yang ku tunggu-tunggu datang juga. Aku menunjuk mobil dengan kata lain " Aku bareng mobil ini" sedetik kemudian ia menutup helm nya dan meninggal kan ku dengan kecepatan penuh dalam hitungan ke tiga sudah tak terlihat punggung nya lagi. Aku masuk ke mobil ingin rasa nya aku mengumpat setengah jam lebih aku duduk menunggu nya. "Maaf Non, mobil nya tadi bocor jadi harus nambal dulu" ucap nya dengan perasaan bersalah. Tak enak juga rasa nya aku memarahi lagian ini tak semua salah nya, akhir nya u*****n yang sudah kusiap kan tersebut ku telan sampai tak satu pun kata keluar dari mulut ku. Jalanan sudah begitu ramai, cuaca yang terik membuat pengendara motor merasa ke hausan. Kulihat dari dalam kaca mobil sampai ada yang sudah basah. Aku merasa bersyukur masih bisa naik mobil yang menutup ku dari pancaran cahaya matahari. Gedung-gedung yang menjulang tinggi menambah keindahan kota ini, setelah beberapa menit di perjalanan akhir nya kami sampai juga ke rumah, aku segera masuk ke dalam kamar. Perut yang sudah lapar, aku mengempas kan diri ku ke kasur sejenak membuang penat. Setelah itu merasa dingin aku langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegar kan diri ku, setelah bersemayam cukup lama akhir nya aku keluar dari tempat tersebut setelah memakai baju aku kembali lagi ke tempat itu untuk mengambil air wudu, karena jam nya sudah lewat aku tak menyia-nyia kan waktu lagi, takut nya kalau banyak menunda akan berujung malas, alangkah sebaik nya Shalat jangan pernah di tunda. Setelah Shalat aku turun ke bawah, untuk memasukkan sesuatu ke lambung perut ku yang sedari tadi cacing pada demo terus. Makanan memang tak tersaji di meja makan, namun ada stok di dalam kulkas. Aku memanas kan kuah tersebut dengan cepat kilat aku langsung melahap nya walaupun sedikit terasa panas di lidah ku tak ku peduli kan memang perut sudah sangat kelaparan. Setelah itu aku mencuci piring bekas makan ku kemudian meletakkan nya dengan rapi bersama kawan-kawan nya setelah itu aku berjalan ialah kalau gak Napak kan hantu, satu persatu anak tangga sampai ia membawa ku ke depan pintu kamar ku, aku langsung membuka nya dan langsung menutup nya tak lupa juga aku kunci. Aku menutup mata ku, tak lama kemudian aku terlelap tak tahu apa yang terjadi selanjut nya semua nya menjadi gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD