Kau Tidak Akan Pergi!

1145 Words
Rasa hangat dari sentuhan tangan seorang pria membuat Shiera nyenyak tertidur. Dalam seminggu hanya ada Denis dia tertidur nyenyak. Ketakutan akan susana malam yang mencekam, menjadi trauma terbesar di dalam hidupnya. Shiera butuh teman tidur. Tapi belum mendapatkan yang pas. "Iya, Tuan, saya di sini, Nona sedang tidur. Ya, eum saya menemaninya, di dalam kamar. Maaf, tapi—" Sayup-sayup Shiera mendengar pembicaraan seseorang. Matanya berkelip dua kali dan terbuka. Jun sedang berdiri tepat di pinggir ranjang dan dia seperti sedang kebingungan. Saat Shiera bergerak, begitu juga Jun menoleh dan memberikan ponselnya pada Shiera. "Halo, siapa?" "Kenapa kau tidur dengannya?!" tanya Denis menggeram. "Haaa, aku, oh—" "Oh! Kau mabuk 'kan. Aku sudah bilang berkali-kali, jika kau mabuk jangan bawa teman laki-laki! Kenapa kau bertingkah Shiera!" Shiera memberikan ponsel itu pada Jun kembali. Dia tidak mau bicara lagi, tidak mau berdebar yang tak penting. Berjalan cepat ke dalam kamar mandi. Dia tahu, Denis cemburu, Denis tidak rela ada pria lain yang menjadi teman tidur Sang adik tersayang. Entah kenapa, Shiera juga sebenarnya tidak butuh pria lain, dia hanya mau Denis. Apa boleh buat Denis sudah punya keluarga. Anak-anaknya pasti sangat membutuhkan dia. "Maaf, Tuan. Lain kali saya akan melarangnya." Jun Pyo dimarahi habis-habisan oleh Denis. Dia dianggap teledor dan membahayakan. Shiera mempunyai alergi dengan alkohol. "Buang semua minuman yang mengandung alkohol di sana! " "Baik Tuan," Jun buru-buru keluar dari kamar dan mengemasi semua botol minuman yang masih disegel dalam kulkas. Dia yang masih mengantuk karena tertidur hanya berapa jam. Sekarang masih terlihat lemas. Sementara di dalam kamar,.Shiera sudah selesai mandi dan sedang memakai pakaian. Shiera kembali mengabaikan telepon Denis dan beberapa notifikasinya. Shiera juga tidak membuka pesan singkat yang dikirim Denis. Dan yang terakhir, Denis mengirim pesan yang isinya, 'Aku akan datang, besok!' Shiera masih tak peduli. Dia sibuk memoles wajahnya di depan cermin. Warna nude mewarnai bibirnya yang pink. Seolah tidak ada masalah apa pun Shiera keluar dari kamar setelah berjam-jam di depan cermin, menjinjing tas dan siap untuk pergi ke sekolah. *** Denis mengusap kasar wajahnya. Melihat kalender yang berada di depannya. Dia menghitung berapa lama lagi hari natal itu tiba. Jika dia pergi besok, bisakah dia mendepak Raja dari Korea. Berurusan dengan Raja tidak bisa dalam waktu 1x24 jam, pria itu punya akal yang licik dan kriminal. Dia bisa saja menculik Shiera dengan paksa. Seperti adik Raja yang menculik Cahaya. "Jika dia punya taktik maka aku juga harus punya. Berani sekali dia menemui Shiera dan memaksanya, lalu dia jadi ketakutan lagi!" Jun Pyo sudah menceritakan semuanya pada Denis. Dia terdesak, tidak mampu berbohong. Bagaimana pun, Denis yang membayar dirinya bukan Shiera. "Kalau aku pergi hari ini, berarti aku bisa pulang 2 hari sebelum natal." Semua sudah dia perhitungkan. Denis sengaja menunda banyak pekerjaan agar dia bisa pulang cepat dari Alaska. Satu-satunya alasan yang masuk akal. Denis menelpon orang kepercayaannya untuk menyiapkan pesawat dan perizinan terbang menuju Seoul. Rencana keberangkatannya terendus oleh Deborah. Seorang mata-matanya di bandara memberitahu bahwa Denis akan pergi ke Seoul pada siang ini. "Kau yakin, hari ini dia yang pergi?" "Tapi Tuan White selalu pergi ke sana tiap hari Jum'at malam. Pesawat tidak pernah dipakai siapa pun untuk terbang ke Seoul selain beliau Nyonya." Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Deborah putar balik stir. Jarak antara rumah dan bandara cukup jauh. Dia memperhitungkan lama di perjalanannya. Sedangkan Denis masih mengadakan rapat mendadak terkait beberapa kebijakan yang akan dia pending sampai selesai Natal. Setelah ada pemberitahuan bahwa pesawatnya bisa pergi sekarang. Dia segera menyelesaikan rapat dan berkemas. Terkait cuaca, dia tidak bisa menunda keberangkatan, bisa jadi berapa jam lagi ada badai atau salju turun tanpa henti. Mumpung, cuaca sedang bersahabat dia harus cepat pergi atau tidak sama sekali. Deborah yang sedang menyetir menelepon sekretaris Denis untuk mendapatkan informasi yang akurat. "Tuan White baru saja keluar ruangan dan katanya akan pergi sekitar 1 minggu ke depan." "Satu minggu katamu?!" Shock, sudah pasti. Barusan saja Denis berjanji untuk Natal bersama sedangkan 1 minggu perjalanannya sudah dipastikan dia tidak akan ikut Natal. "Iya Nyonya White." Deborah memutuskan panggilan dan kembali fokus mengemudi. 'Kau tidak akan pergi kemana-mana Denis! Aku tidak akan membiarkan anak-anakku kecewa karena Natal tanpamu! Dan membiarkan wanita sialan itu bahagia bersamamu!' Deborah menekan pedal gas lebih dalam. Mobil yang dia kendarai melaju kencang membelah jalan kota London yang tak terlalu ramai. Berpacu dengan waktu untuk sampai lebih dulu. Demikian juga Denis yang meminta Sang supir untuk cepat sampai ke bandara. Lebih cepat berangkat, lebih baik. Urusan akan cepat selesai dan dia akan tenang, semua kembali normal. Sebelum cinta Shiera bersemi kembali dengan Raja maka dia akan mematahkannya lebih dulu. Masalah ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun dia mampu membayar orang untuk bisa membunuh Raja. Dengan membunuh, itu bukanlah cara yang bijaksana. Raja punya anak dan kelak anak itu tentu akan menuntut balas kemudian hari. Denis lelah berhadapan dengan dendam warisan yang tak terbatas, turun menurun. Mobil Denis lebih dulu masuk ke dalam kawasan bandara disusul oleh mobil Deborah dengan kecepatan sedang. Denis tak mempedulikan sekitar. Namun setelah mobilnya mengarah pada landasan pacu dia melihat mobil Deborah berada di belakangnya. 'Mau apa dia kemari?' Denis memutar tubuhnya dan membuka kaca jendela mobil untuk lebih memastikan. "Anda pergi bersama dengan istri Anda, Tuan?" "Tidak, kenapa dia tahu aku di sini. Dia ada meneleponmu?" "Tidak Tuan," Denis bingung, rencana tidak bisa dibatalkan. Tangga pesawat sudah turun dan dia berhenti tepat di depan tangga. Deborah menunggu dengan sabar, apakah Denis akan mendatanginya. Ketika mobil hitam mercedes-benz itu melewatinya. Denis berdiri di ujung tangga menunggu Deborah menghampirinya. Deborah maju perlahan membuka kaca jendela mobil dan Denis merunduk untuk bicara padanya. "Kau mau pergi ke mana, Natal sudah dekat. Anak-anak membutuhkanmu." "Aku tahu, aku hanya sebentar." "Tidak mungkin! Wanita itu pasti ingin menahanmu bukan, huh! Berani kau pergi, aku hancurkan pesawat ini!" ancam Deborah yang melibatkan Palu dan perkakas yang dia punya dari dalam mobil. Dia tidak takut untuk melakukan tindakan seperti ini karena kekesalannya pada Denis yang tak bisa dia tolerir lagi. "Kau jangan berlebihan, aku janji akan pulang cepat." "Tidak! Sekretarismu bilang 1 minggu dan dalam berapa hari ke depan kita sudah mempersiapkan pergi ke Alaska. Kau mau berkilah, huh! Kau tidak bisa membodohi aku terus! Anak-anak atau wanita itu yang penting bagimu!" Deborah menyerangnya dengan kata-kata persuasif. Deborah ingin membuka pikiran positif Denis yang dia kira terpengaruh oleh wanita lain. Namun Denis bergeming, keputusannya sudah bulat. "Anak-anak ada kau, kakek dan neneknya sedangkan dia ... Dia hanya punya aku. Maafkan aku Deborah, kau tidak akan mengerti, tapi kelak kau akan tahu." Denis berbalik badan tak menghiraukan ancaman Deborah. Menaiki satu per satu anak tangga. "Tidak Denis, tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi!" gumam Deborah sembari memundurkan mobil agak jauh. Denis pikir Deborah akan pulang, tapi ternyata, Deborah melajukan mobilnya dan menabrak tangga pesawat dengan sangat keras sehingga tangga tersebut patah. Denis yang berada di tengah tangga jatuh terjungkal jatuh ke belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD