Menemani gadis cantik mabuk cukup berat bagi semua pria, termasuk Jun. Shiera meracau tak jelas, menceritakan hubungannya dengan Raja dan Denis tanpa memberikan keterangan siapa pria yang dimaksud.
Jun juga tidak mau tahu lebih jauh tentang permasalahan Shiera dengan para pria yang menyakitinya.
"Kau, kalau sudah punya istri, tidak boleh selingkuh, tidak boleh ya. Aku sudah merasakan, selalu menjadi simpanan yang disayang dan disembunyikan dari semua orang. Selingkuh itu menyakitkan bagi wanita. Tidak ada yang bahagia diantara keduanya."
"Kau cantik, kau harusnya mendapatkan pria yang single bukan beristri" balas Jun, memperhatikan wajah Shiera yang memerah. Bibirnya yang basah dan terlihat lembut menyentuh gelas. Jun mengulum bibirnya ke dalam, dia jadi ingin mencium istrinya sekarang. Tidak mungkin dia mencium gadis di depannya ini.
"Ssst, kau berisik, pastikan Tuan Denis itu tidak tahu jika kau menginap di sini ya, karena dia bisa cemburu ha-ha-ha"
'Cemburu?'
Kening Jun berkerut menatap Shiera yang masih tertawa. Yang dia tahu, Denis adalah abang Luna karena Denis selalu berkata 'Tolong, jaga adikku, awasi dia jangan lengah'.
"Kenapa dia harus cemburu?"
Lama-lama rasa ingin tahu itu meronta dalam benak Jun. Dia ingin memastikan dia bukanlah orang yang melindungi seseorang yang salah. Jika benar Shiera adalah wanita simpanan maka dia salah melindungi seseorang.
"Karena dia tidak bisa menyentuhku, dia tidak bisa melakukan apa pun seperti pria yang mencintai wanitanya, karena apa, karena dia sedarah denganku, dia abangku. Ohhh ... cintaku, sayang sekali, kenapa dia harus menjadi abangku."
Jelas sudah, kenapa Denis perduli dengan Shiera dan dia bekerja pada orang yang benar. Jun berusaha menghentikan Shiera untuk kembali meneguk minuman.
"Ini sudah malam Nona, seharusnya kau tidur," ucapnya menarik gelas dan botol yang berada di depannya. Ini sudah pukul 12 malam dan dia juga sudah mengantuk tetapi terjaga. Bunyi cicak lewat saja, tangannya langsung meraih pistol di pinggangnya.
Shiera terus memperhatikan Jun dengan mata redup yang hampir terkatup. "Hey, Jun, harusnya kau belum menikah, jadi aku bisa menikah denganmu, agar pria itu tidak lagi meng-gang-gu-ku—"
Luna terlelap dengan kepala yang terbaring di atas meja. Mulut kecilnya menganga, dia sedikit mendengkur. Rasa lelah dan mabuk bersatu membuatnya terlelap panjang.
Jun mendekatinya, pelan-pelan meraih tubuh Shiera yang langsing. Jun berusaha mengangkatnya ala bridal. Leher jenjang Luna terkulai ke belakang halus, mulus dan sangat putih hingga urat lehernya berwarna hijau terlihat transparan.
Jun meneguk saliva, dia semakin rindu dengan istrinya. Masuk ke dalam kamar Shiera dan meletakkan tubuhnya pelan ke atas ranjang, menyelimuti tubuh Shiera ke dalam selimut.
Selesai melakukannya, tak sengaja mata Jun melirik ke arah nakas. Ada satu bingkai foto berukuran sedang. Foto seorang perempuan menggunakan bikini duduk di atas pangkuan lelaki dan mereka berciuman.
Jun pikir itu adalah foto Shiera mungkin dengan mantan kekasihnya. Jun mengambil dan melihat foto tersebut yang tampak dari samping. Alisnya berkerut melihatnya dari dekat.
'Mereka saudara sekandung tetapi se-intim ini?' gumamnya pelan gak percaya. Dilihatnya wajah Shiera yang berkeringat, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Napasnya terlihat ngos-ngosan.
"Tidak, tolong, Mas, Mas Denis, Mas Denis!" racaunya. Kedua tangannya terulur seperti meminta tolong. Dan akhirnya dia bangun, duduk dengan napas terengah-engah. Jun duduk di sampingnya menenangkan.
"Nona—"
"Jun, tolong, tolong aku, tidur di sampingku,"
"Tapi Nona—"
"Tolong—" Shiera merengek, menarik lengan Jun, menatap memohon pada Jun dan akhirnya Jun mau melakukannya. Shiera bergeser dan tak mau lepas memeluk lengan Jun. Tidur kembali dengan nyenyak, sementara Jun seperti robot, kejang di atas ranjang. Dia berusaha tetap terjaga sampai Shiera terbangun, tetapi akhirnya terlelap juga.
***
London
Denis tiba di kantor dan langsung berjalan masuk dengan cepat. Dia ingin segera menelepon Bayu.
"Selamat pagi Tuan White, nona Kate telah menunggu Anda di dalam ruangan beberapa menit yang lalu," ucap sang sekretaris menyambutnya.
"Oh, pagi sekali dia datang," jawab Denis, berjalan cepat menuju ruangannya diikuti sang sekretaris.
"Emile, kau sudah memberikan minum untuknya?"
"Belum Tuan, Anda mau apa pagi ini, cokelat, kopi atau—"
"Aku mau cokelat hangat dua, satu untuknya, sekarang Emile."
"Baik, Tuan White."
Emile berbalik badan, menuruti permintaan Denis. Denis masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintunya. Wanita cantik yang mengenakan pakaian serba seksi itu berdiri menyambut kedatangannya.
"Selamat pagi Tuan White, maaf aku mengganggumu di awal pagi."
"Ya, terlalu awal bagiku, tapi ada apa, silakan duduk."
Mata Denis hanya fokus menatap mata Kate yang cantik, bulu matanya yang lentik, freckles di sekitar batang hidungnya yang tinggi dan bawah mata. Tak melihat senyum manis dari bibir Kate yang berwarna merah menyala.
"Eum, aku ingin memberitahumu masalah perusahaan Chopper yang kemarin adalah mitra kita sekarang dia keluar. Kau ada masalah dengannya?"
Kening Denis berkerut, dan kepalanya menggeleng pelan. Dia belum mendapatkan aduan tentang hal itu. "Tidak, ada apa dengan dia, nanti aku akan menelponnya."
"Tidak, jangan. Karena dia telah menjadi mitra saingan kita. Biarkan saja dia jika ingin bersaing denganmu. Selama ini bukannya kau yang membuat perusahaannya semakin berkembang. Ketika dia mampu dan punya sayap, dia malah pergi. Meskipun saudara tak seharusnya seperti itu, ada adab yang baik untuk memutuskan kerjasama. Apalagi kau tidak tahu tentang keputusannya ini."
Denis tak mengerti jalan pikiran sepupunya itu. Yang dikatakan Kate benar, bahwa tanpa dirinya, Chopper hanya akan jadi perusahaan akuisisi yang tak bisa berpijak sendiri. Ketika semuanya hidup dan berkembang bahkan dia memiliki cabang lagi di beberapa negara bagian, dia malah ingin menjadi pesaing Denis.
"Aku nanti akan bertanya secara pribadi, apa yang salah. Mungkin dia merasa tidak cukup dalam pembagian proyek. Kita bisa bicarakan, terima kasih Emile,"
Emile masuk mengantarkan minuman untuk mereka berdua. Sejenak mereka terdiam sampai Emile keluar dan menutup pintu.
"Jangan, Denis. Aku ingin bertanya lagi padamu tentang masalah pribadi. Apakah kau dan istrimu bermasalah? Karena sepertinya, Etan menggiring opini negatif dirimu pada keluarga Deborah. Kau tahu bahwa keluarga bangsawan itu memiliki andil dalam beberapa proyek yang kita tangani. Jika mereka berpaling, maka kita akan merugi," ucap Kate dengan lugas dan menuntut jawaban.
'Siapa yang menceritakan masalah rumah tanggaku dengannya. Tidak mungkin daddy atau mom, apalagi Deborah, kami jarang bertemu kecuali pada acara keluarga.'
Denis berpikir dari celah mana gosip itu menyeruak. Sangat aneh jika Etan tahu atau bahkan keluarga Deborah tahu permasalahan rumah tangganya. Keduanya saling menatap dan menyesap minuman hangat di depan mereka.
"Aku memang ada masalah sedikit dan salah paham, kami masih baik-baik saja. Mungkin aku harus ketemu dengan Etan kenapa dia menjadi berubah," jelas Denis dan wanita cantik ini tersenyum.
Dia berdiri seraya berkata, "Ya sudah itu saja yang ingin aku katakan padamu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku. Orang terdekat bisa jadi musuh tiba-tiba, waspada."
"Terima kasih informasinya, kita masih perlu mengadakan meeting tertutup untuk masalah yang kemarin, kau lupa," ucap Denis.
Kate menganggukkan pelan kepalanya. "Oh ya, tentu tidak. Karena sabtu dan minggu kau selalu tidak ada, jadi aku bingung mengatur jadwal meeting yang santai tanpa menganggu pekerjaan utama."
"Sabtu ini, aku free," jawab Denis dengan senyuman. Kate lebih lebar tersenyum karena akan bertemu kembali dengan Denis.
"Baiklah Tuan White, aku akan menyiapkan tempatnya, selamat beraktivitas, sampai jumpa nanti," ucapnya dengan senyum yang menawan. Sedikit pun Denis tidak tergoda olehnya.
Padahal semua temannya ingin sekali mengajak kencan wanita ini. Wanita yang dari dulu menyukainya tetapi dia tolak dan hanya ingin menjadi rekan bisnis sejati.
Setelah Kate keluar, Denis menelepon Bayu untuk mendengarkan aduan masalah apa yang terjadi di sana.
"Halo, dok, kau sibuk?" sapanya lebih dulu ketika sambungan telepon aktif.
"Ya, aku sedang sibuk berpikir tentang siapa yang selalu ingin tahu tentang kabar Luna. Kuburan Luna dibongkar dan sepertinya mereka mencari sample tulang belulang yang ada di dalamnya."
Denis kaget dan menyela cepat, "Siapa yang tega melakukan itu? Mungkinkah istrimu masih ingin mencari masalah baru."
"Mas Denis, kau jangan berpikir sempit. Kau hanya menunding satu musuh yang terlihat. Dia sudah menikah denganku dan tidak ada penghalang untuknya mendapatkan aku. Jadi untuk apa dia ingin membongkar masalah Luna."
"Untuk supaya kau dituntut karena pemalsuan kematian lalu dia mengambil alih rumah sakit dan dikuasi oleh dia dan keluarga besarnya. Aku masih tidak bisa percaya dengan istrimu itu."
Keduanya memang sering cekcok dan beda persepsi. Selalu ada saja hal dipertentangkan. Terlebih lagi, si dokter itu sangat arogan dan ketus kalau bicara padanya.
"Oke, tapi apa kau lupa dengan pesaingmu, bukankah dia duda dan dia masih menduda sampai sekarang."
Denis berpikir lagi, apakah Raja yang dimaksud oleh sang adik karena Denis menentang kuat Raja untuk mendekati Luna meskipun dia sudah resmi menduda.
"Pria itu tidak mungkin ke Korea."
"Hahahaha,"
Bayu tertawa ngakak di seberang sana. Dia sudah mendapatkan informasi dari seseorang yang mengecek keberadaan Raja sekarang yang berada di Seoul.
"Kau yakin sekali dia tidak ke sana, mungkin bukan untuk transaksi kejahatan yang dia kelola tetapi dia membawa anaknya untuk bersekolah di sekolah Seni Konglish."
"Apa?!"
'Si b******k itu tidak boleh lagi mendekati Luna! Jun Pyo harus mengawasi Luna sepanjang hari! Tapi, apa Jun bisa profesional karena Luna selalu menggoda pria yang dia suka. Akh sial, kenapa cemburu ini susah dihilangkan! Aku yakin Jun Pyo, tidak akan berani mendekati Luna, apalagi menyentuhnya.'