Bukan Solusi Tapi Masalah

1138 Words
Pukul 7 a.m waktu London, Ponsel Denis berbunyi saat dia sedang menyimpul dasi. Dilihatnya di layar tertera nama Bayu. Setelah dering ketiga kalinya, dasi berhasil dia simpul rapi. Layar ponsel pun dijamah olehnya. Menjawab panggilan telepon dari sang adik. "Ya, ada apa?" "Kau sibuk Mas? Ada hal penting yang rahasia, ingin dibicarakan." Dahi Denis berkerut, matanya melirik ke sembarang arah. Dia tidak mau ada yang mendengar pembicaraannya.Bayu kalau menelepon dirinya pasti ada sesuatu yang penting dan mendesak, terutama masalah keluarga. "Aku masih di rumah. Setengah jam lagi aku di kantor, kau hubungi aku lagi nanti." "Baiklah, bye." "Selalu begitu," gumamnya pelan, memaklumi sifat acuh sang adik. Tanpa berbasa-basi, panggilan telepon terputus. Denis segera keluar dari kamar untuk sarapan bersama keluarga. Ayah dan Ibunya sudah menunggu. Anak-anaknya baru saja keluar dari kamar. "Selamat pagi Daddy," "Selamat pagi my girl, ayo boy kita turun bersama." Denis mengulur tangan menggapai tangan kecil putrinya dan putranya. Denis adalah seorang ayah yang sangat perhatian dengan kedua anaknya. Dia rela melakukan apa saja demi permintaan sang anak. Pelan-pelan dia menuruni tangga bersama keduanya dan berjalan menuju meja makan. "Selamat pagi granpa, granma," "Selamat pagi sayang-sayangku." Kebiasaan yang lumrah. Mereka saling mencium pipi sebelum duduk. Begitu juga dengan Denis. Ibunya selalu berdiri agar bisa memeluknya tubuhnya yang menjulang tinggi dan besar, porsi tubuh yang pas. "Kau tampan sekali pagi ini, jangan biarkan para wanita di kantor berkeliaran menempel padamu" goda sang Ibu. Denis menggeleng pelan, tersenyum dan mencium pipi wanita paruh baya itu. "Kita sudah menentukan bahwa Natal tahun ini Denis. Kita tidak akan merayakannya di sini karena kita akan pergi ke Alaska," ucap pria tua ini yang membuat kedua cucunya bertepuk tangan kesenangan. "Yeay, kita akan main kereta seluncur Sinterklas." Denis tersenyum dan tak banyak bicara. Dia semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh sang adik tadi. "Kau harus ikut, tinggalkan pekerjaan kantor." "Tapi tidak bisa lama," sambung Denis cepat. Karena dia akan mempunyai kesempatan untuk menemui Shiera jika mereka semua pergi ke Alaska. Berdua dengan Shiera saat musim dingin adalah momen terindah untuknya. Mereka akan berpelukan sepanjang waktu di depan api unggun jika berkemah sembari memancing. "Seminggu waktu yang pas," kata sang ayah namun Denis menggeleng. "Terlalu lama bagiku, 3 hari saja kerjaan sudah menumpuk, akhir tahun bukan waktu yang bisa bersantai, kau tahu itu Dad," jelas Denis masuk akal beralasan. Pria tua ini tidak bisa menyangkalnya lagi. Denis adalah pria pekerja keras yang selalu bertanggungjawab atas semua pekerjaan yang dikelolanya. "Mom kita akan ke Alaska," Kedua bocah itu berteriak kesenangan pada Deborag yang baru saja bergabung dan duduk di sebelah Denis. "Wah, bagus itu, kita bisa main kereta salju. Daddy juga ikut 'kan?" tanyanya melirik Denis yang tersenyum. "Tentu," balas Denis santai. Hati Deborah bersorak senang. Dia tidak perlu melakukan apa yang Etan usulkan padanya. Membuat Denis cemburu lagi, rasanya sia-sia. Hari ini dia ada janji untuk bertemu dengan Etan, membahas tentang rencana selanjutnya. Deborah merasa tindakannya kemarin berpengaruh untuk menghalangi Denis pergi menemui selingkuhannya di Korea. Setelah selesai sarapan pagi. Denis pergi ke kantor dan Deborah mengantar anak-anaknya ke sekolah. Dengan tanpa pengawalan agar tak membatasi geraknya dia membawa mobil sendiri. "Kau di mana?" "Aku di apartemen, kau datang saja, aku—" "Tunggu, kenapa harus di apartemen, kita bisa di restoran dan menyewa tempat yang privasi," sanggah Deborah cepat. Karena mereka hanya akan bicara santai. Bukan untuk melakukan sesuatu. "Oke, kalau itu maumu, tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika nanti akan ada salah paham melihatnya dan melaporkannya pada Denis. Kau tahu semua restoran di sini mengenal kau dan Denis. Jika ada salah satu orang mendapatkan foto kita berdua, apa kau siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi." Deborah menghempas napas kasar napasnya. Dia baru saja merasa lega karena Denis akan bersama mereka selama libur Natal di Alaska. Jangan sampai, Denis malah balik menyerang bahwa dirinya yang berselingkuh. "Baik, aku ke sana berikan alamatnya." Deborah menyanggupi permintaan Etan untuk menemuinya. Mobil yang dikendarainya parkir jauh dari lokasi apartemen Etan. Deborah seperti pencuri yang selalu waspada dengan semua orang yang berada di sekelilingnya. Baru kali ini, dia akan menemui seorang pria yang di apartemen pria tersebut, hanya sendirian. Deborah takut dia terpantau dan akan dituding selingkuh. Sebelum masuk ke apartemen, dia mampir ke kedai kopi untuk sesaat, dan keluar dari belakang kedai untuk melanjutkan langkahnya mencapai tujuan. Deborah memakai masker untuk menutupi wajah, berjalan masuk ke gedung apartemen dan menuju unit Etan. Bel dipencet dua kali, Etan langsung gerak cepat menyambut kedatangannya. "Hai, masuklah." Sapa Etan saat membuka pintu lebih lebar lalu menutupnya kembali. Etan yang tampan telah berpakaian lengkap, tanpa dasi. Kancing kemejanya terbuka dua, melihatkan tatto bergambar ular kobra di dadanya. Dia mempersilakan Deborah duduk santai di depan bar pantry tempat dia sarapan. "Maaf masih berantakan, aku baru selesai sarapan. Kau pasti sudah sarapan bukan?" ucapnya seraya duduk dan menyesal kopi, menatap Deborah yang terlihat acuh. Deborah meletakkan tas jinjingnya di atas meja, "Ya, aku ke sini hanya sebentar dan ingin memberitahumu bahwa ... kita tidak perlu menjalin hubungan lebih untuk membuat panas suamiku. Aku rasa itu tidak perlu karena dia bisa melepaskan wanita itu segera," Deborah yakin atas ucapannya itu. Etan menyeringai sinis dan terkekeh pelan. "Kau tidak mengerti watak seorang pria. Apakah dia sudah berjanji tidak akan menemui wanita itu lagi?" Deborah diam tak menjawab karena Denis tidak mengatakan apa-apa, hanya minta pengertian soal hati dan perasaannya yang tidak bisa dia berikan pada Deborah. "Dia tahu sudah terpantau dan pasti tidak akan berani untuk melakukannya lagi." Etan berdehem pelan. "Dan kau menerima apa yang dia lakukan pada wanita itu. Kau tidak masalah jika mereka pernah bercinta dan atau akan melahirkan seorang anak." "Aku tahu suamiku tidak sebodoh itu! Kau tidak bisa menyamakan dia dengan pria lain yang berselingkuh. Aku percaya—" "Bagaimana bisa kau percaya dengan seorang pria yang menginap di dalam penthouse mewah bersama seorang wanita dan mereka seharian tidak keluar dari sana. Apa yang terjadi di dalam sana, kalau tidak—" "Diam kau!" Deborah berteriak hingga menepuk keras bar set. Perdebatan mereka memancing emosi Deborah. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Dia tidak bisa menutupi rasa cemburu dan sakit hatinya. Walaupun dia tidak bertanya apa yang dilakukan sang suami. Kata-kata Denis kemarin sudah jelas bahwa dia memiliki 'Tubuh' tidak 'Hatinya'. Artinya Denis tidak berselingkuh tubuh darinya. "Kau tidak berhak menilai suamiku seperti itu! Dia juga sepupumu dan dia tidak pernah bersikap buruk padamu. Aku menyesal menceritakan masalahku padamu nyatanya kau bukanlah solusi, tapi masalah!" kesal Deborah. Dia turun dari kursi tinggi dan berjalan cepat menuju pintu. Karena kesal, Deborah menutup kasar pintu dengan sangat keras. Etan terkekeh pelan seraya menyesap sedikit demi sedikit kopi digelasnya. "Aku akan menjadi solusi terbaik untukmu Deborah, kau belum menyadarinya. Anak angkat itu, sudah seharusnya kembali pada keluarganya, jika tidak bisa menjaga nama baik keluargaku. Terus saja bertingkah Denis, semua rahasia besarmu akan aku ungkap!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD