Turun dari mobil, Shiera masuk ke dalam bangunan tinggi yang menjulang. Dia tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya. Dia bahkan tidak peduli, kemana Jun Pyo. Biasanya pria itu terus mengikutinya sampai di tempat tujuan.
Melenggang masuk ke dalam unitnya tanpa beban. Melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya dan berendam di dalam jazuci yang sudah penuh dengan air hangat.
Matanya terpejam merasakan pijitan lembut riak air yang berada di belakang punggungnya.
Rasa rindunya pada Denis membuatnya berkhayal jika mereka sering menghabiskan waktu berdua di dalam air yang ditaburi kelopak bunga mawar. Meminum jus buah, sembari bercerita. Namun di sela-sela cerita. Denis selalu membelai pahanya, begitu juga dengan dirinya yang selalu membelai d**a Denis dan perut kotak-kotak Denis yang memukau.
Ada kalanya, ketika Denis dalam kondisi tertekan dalam pekerjaan, dia mudah terpancing untuk mencium Shiera lebih dulu. Memberikan jejak merah di bagian leher, bahu dan merambah hingga ke bawah.
Shiera menenggelamkan tubuhnya ke dalam air sejenak, dia rindu sentuhan Denis ditubuhnya dan tetiba wajah Raja yang menyeringai sinis menggantikan memori tentang Denis.
Shiera langsung duduk dan ditepuknya air hingga terciprat ke wajahnya, "Ckk kenapa kau datang lagi! Harusnya kau sudah menikah dengan wanita lain atau, pacaran, atau sesuatu lainnya dan melupakan aku!" racaunya pelan.
Hidupnya pasti berasa dalam nestapa yang berkepanjangan, jika Raja berada di sekelilingnya. Raja tidak bisa disangkal, sekali bukti kebohongan berada ditangannya, maka jangan harap dia akan percaya lagi.
Sialnya sang abang yang begitu ceroboh membuatnya harus kembali terteror cinta yang penuh dengan liku. Keluar dari air dia segera mengambil ponsel untuk menelepon Bayu.
"Halo, kau di mana abangku?"
"Tumben kau menelepon, bukannya kau bilang kau bukan adikku," jawab pria di seberang sana bernada ketus.
"Ya, aku bukan adikmu memang. Sampai kau teledor karena membiarkan seseorang memeriksa dan membongkar makam atas namaku. Dan parahnya—" ucapan terpotong karena pria itu menjedanya.
"Tunggu— aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. To the point kalau bicara! Dan kau tahu adab untuk berbicara dengan seseorang, ini pukul 3 pagi! Aku baru tidur selama 2 jam!" sergah si dokter tampan ini meledak-ledak dari jauh.
Shiera membentuk mulutnya seperti angka O, "Oh, kau lembur?"
"Aku tidak butuh pernyataan itu, cepat katakan siapa yang membongkar makam itu!"
Shiera menarik napas panjang. Dia lupa perbedaan waktu antara Seoul dan Swedia. Tetapi dia butuh bicara dengan Bayu. Memang dengan abangnya yang ini dia tidak bisa bicara secara baik-baik. Kadang dia harus berpikir kritis, benarkah Bayu adalah abang kandungnya? Karena Bayu sangat temperamen jika bicara dengannya. Apalagi kalau tahu siapa yang membongkar makamnya.
"Aku ingin curhat bukan untuk kau bentak! Sudahlah, nanti saja aku cerita tunggu kau lagi normal. Selamat malam dokter arogan!"
Hilang sudah mood Shiera untuk mengadu. Percuma jika dilanjutkan, karena Bayu tetap akan menyalahkan dia dan disuruh pindah lagi ke negara lain. Bukan solusi yang akan diberikan tetapi pasti usulan pindah dan menghindar.
Selama 1 jam dia kembali berendam menghilangkan kemelut dalam pikirannya yang penuh gegara Raja. Shiera keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya dan satu menutupi kepalanya. Berjalan menuju kamarnya, dia dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba berdiri di ujung pintu.
"Maaf Nona, saya terpaksa harus masuk karena takut terjadi apa-apa dengan Anda. Sudah setengah jam saya di luar mengetuk pintu dan bel mungkin tidak berfungsi," ucapnya dengan Kepala tertunduk. Dia merasa malu melihat keadaan Shiera yang masih sangat minim berpakaian. .
Kaki jenjangnya hingga ke paha terbuka bebas. Putih mulus dan tanpa cela. Sedangkan bagian punggungnya juga mulus terlihat.
"Tunggu sebentar, aku pakai pakaian dulu."
Shiera berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Jacuzzi itu terletak di luar kamar dan tempat tersebut khusus dibuat Denis lebih estetik karena bisa sambil melihat keramaian kota dari atas. Pemandangan yang bagus saat malam hari.
Jun Pyo menghela napas ketika dia berlalu dari hadapannya. Dia berdiri dan menunggu Shiera selesai berpakaian.
Tak lama kemudian, Shiera keluar dari kamar dengan pakaian yang sopan tetapi rambutnya masih di simpul dengan handuk. Lehernya yang jenjang dia tutupi dengan shawl. "Apakah ada sesuatu yang mendesak Tuan Jun," tanyanya sopan.
"Ada seseorang yang sangat mencurigakan. Dia menyewa mobil dan supir sebagai sarana berkendara, tadi mengikuti kita. Berdasarkan informasi, dia berasal dari Indonesia. Saya pikir, mungkinkah itu adalah pria yang Anda temui di kantor tadi pagi."
Sebelum Raja bertindak lebih jauh. Jun pyo lebih dulu mendeteksi siapa orang yang berada di dalam mobil yang membuntutinya.
Plat nomor kendaraan sudah dia lacak dan terbukti bahwa mobil tersebut terdaftar sebagai mobil sewaan. Sebelum Raja lebih dulu membuntuti Shiera dan mencari tahu, dia lebih dulu waspada.
"Bisa jadi, dia tipikal orang yang nekad dan mampu untuk melakukan apa saja," jawab Shiera, dan sadar itu pasti Raja.
"Kalau begitu, izinkan saya menginap di sini. Anda adalah tanggung jawab saya. Sesuai dengan perintah dari Tuan Denis, saya tidak akan membiarkan Anda dalam masalah."
"Lalu bagaimana dengan istrimu?" tanya Shiera khawatir. Dia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Semua pria yang punya hubungan dengannya selalu bermasalah dalam rumah tangga. Shiera trauma akan hal itu.
"Itu urusan saya, dia tahu bagaimana menyikapi pekerjaan saya. Saya akan memastikan bahwa pria itu tidak lagi menjadikan Anda sebagai target untuknya."
Shiera berpikir sejenak. Apa yang harus dia lakukan agar Raja berhenti. Tinggal bersama seorang pria tampan yang sudah memiliki istri sangat riskan, apalagi dia memang sedang butuh pria.
"Ya sudah, kau akan tidur—"
"Di sofa saja Nona, saya akan menjaga Anda," ucapnya dengan sorot mata serius dan ekspresi datar. Dalam batinnya pun dia bergejolak, risiko menjadi pengawal seorang gadis cantik seperti Shiera. Demi untuk menjaga hatinya, dia tidak berani menatap Shiera lama-lama. Bibir tipis itu sensual di bagian bawah, jika Shiera bicara, terlihat sangat menggoda. Jun lebih sering menundukkan kepala jika Shiera bicara.
"Baiklah, jika kau lapar, ambil saja makanan di dapur. Semua tersedia. Aku akan mengambilkan selimut dan bantal untukmu."
Shiera berbalik badan meniggalkan aroma parfum dari sabun yang dia pakai. Begitu segar dihirup oleh Jun hingga dia sedikit terbatuk.
Jun berjalan menuju jendela, melihat ke arah luar dan sekitarnya. Jika Raja orang yang sangat berbahaya maka dia akan bisa berhasil menembus pengamanan yang dijaga oleh Jun.
"Tuan Jun, ini bantalnya, selamat malam."
"Selamat malam Nona."
Shiera berjalan menuju kamar, tetiba kakinya berhenti melangkah memperhatikan Jun yang masih memantau di depan jendela. Tubuh tinggi Jun hampir sama dengan Denis, gayanya juga.
Luna mendengus pelan, seandainya saja Jun belum menikah. Mungkinkah—
"Tuan Jun, apa kau bisa menemaniku minum. Udara terasa dingin hari ini. Mungkin karena aku berendam terlalu lama," tukasnya.
"Baik, tetapi saya tidak akan minum. Saya hanya menemani duduk saja," jawab Jun. Denis juga tidak berani minum alkohol jika bersama Shiera.
Akhirnya, Shiera punya teman untuk berbagi cerita. Jika ada Denis, dia pasti tidak dibolehkan meminum minuman yang ada kandungan alkoholnya. Dengan Jun dia akan bebas, sebebas-bebasnya.
***
"Pemiliknya tidak terdata, bisa jadi jika nomor plat itu palsu."
"Palsu, kok bisa?"
Raja terlihat bingung mendengar penjelasan salah seorang suruhannya untuk mencari data mobil yang mengantar Shiera. Bagaimana bisa, Raja mencarinya menggunakan data asli karena plat mobil itu bisa diganti, melalui alat canggih yang diatur langsung dari perangkat di dalam mobil.
"Bisa saja Tuan, jika itu untuk mengelabui polisi. Plat mobil genap dan ganjil tidak bisa dalam satu waktu. Jika ada penertiban lalu lintas mereka yang curang biasanya terjaring."
Raja mengerti, bisa jadi plat itu tipuan untuk mengecoh orang-orang yang ingin menyelidikinya. Dia tidak bisa menganggap enteng pengawal Shiera karena ternyata sangat waspada.
"Kalau begitu, apakah ada cara untuk mengetahui, di mana rumah kepala sekolah seni itu?"
"Saya akan mendekati beberapa orang tua murid yang bisa memberikan informasi."
"Jangan terlalu lama, saya perlu cepat," ucap Raja. Dia tidak ingin Shiera nekad menjalin kerjasama dengan Jun.
Raja sangat mengenal Shiera yang sangat hobi menantang. Shiera bisa berbuat nekad menikah dengan pria lain demi membuatnya cemburu. Seandainya dia tahu, bahwa Jun sudah menikah maka hatinya pasti tidak akan gelisah.
"Beri saya waktu tiga hari,"
Raja menghembuskan asap rokok ke udara. "Terlalu lama, aku butuh 2x24.jam. Jika kau lama aku berhentikan," ucapnya tegas melirik sinis pria bayarannya ini.
Satu tangannya menarik botol minuman yang sudah terbuka. Menuang segelas minuman beralkohol itu, agar bisa membuatnya rilex. Belum pernah dia merasa tertipu seperti ini. Di Indonesia, dia selalu bisa dengan cepat mencari seseorang yang dia butuhkan. Rasa penasaran terus mendesaknya agar bisa cepat mengetahui hasilnya.
"Baik Tuan, saya usahakan 1x24 jam data tersebut di tangan Anda, saya permisi."
Pria itu pergi ketika urusannya sudah selesai dengan Raja. Wajah bengis Raja tak tenang. Dia juga ingin tahu seluk beluk pria itu. Keluarganya dan semua orang yang dilindungi olehnya. Raja akan berusaha mendapatkan Shiera meskipun dengan cara licik.
"Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi jalanku!"